22/07/17

Math Adventure Day #1


"Dek,  kita hitung, yuk ada berapa kotak di lantai ini yang kita injak dari sini ke sana."

Ibu dan Hanan lalu menginjak sembari melangkahkan kaki di atas kotak-kotak keramik secara berurutan, sambil berhitung.

"Satu..., dua..., tiga..., empat..., lima..., enam..., tujuh..., delapan..., sembilaan!"

"Ayok hitung lagi, bu...!" teriak Hanan sambil menggandeng tangan Ibu.

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

10/07/17

Catatan Liburan Lebaran 2017


Catatan Liburan Lebaran  2017

Sabtu, 24 Juni
Malam Idul Fitri yang syahdu, terasa penyesalan begitu Ramadhan semakin mendekati akhir.  Di sayup-sayup gema takdir, air mata tak terbendung. Apakah Ramadhan kali ini sudah kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya? Akankah masih bertemu dengan Ramadhan berikutnya?

Malam Idul Fitri ini,  kami berangkat ke rumah Bapak Ibu di Rawasari, untuk menyambut zed idul fitri bersama esok hari.

Minggu,  25 Juni
Taqabalallahu minna wa minkum.
Selamat Idul Fitri 1438 H.
Kami awali Idul Fitri dengan sholat ied bersama di lapangan Arsisi,  Cempaka Putih. Lalu bersalaman dan bermaafan dengan Bapak,  Ibu,  dan semuanya.
Lalu kami menerima kedatangan keluarga besar Mangundiwiryo.

Senin,  26 Juni
Keesokan harinya, Zulkarnain's Family siap ke Pasuruan. Dari rumah menuju ke bandara Sukarno Hatta jam 3 malam. Take off dengan maskapai Air Asia ke Surabaya. Dari Surabaya,  memakai armada Grab Car ke Bangil. Kami bertemu keluarga adik-adik Ayah,  lalu keliling silaturahim keluarga almarhum Mbahkung Syafii dan almarhumah Uti Yayuk yang tinggal di Bangil. Setelah maghrib,  kami 'pulang' ke rumah jujugan,  di Pasuruan, dan tidur di sana.

Selasa, 27 Juni
Besok harinya, setelah takziyah ke makam Mbahkung, Uti, dan mbah buyut, kami melanjutkan keliling silaturahim keluarga di Bangil dan Pasuruan. Malam harinya, Zulkarnain's Family berangkat ke Solo.  Dari rumah Pasuruan jam 9, ke Terminal Bungur Asih Surabaya.  Dari terminal,  bis Eka berangkat jam 23.00. Berhenti untuk tukar kupon makan di rumah makan di Ngawi,  dan perjalanan berlanjut hingga tiba di Solo sebelum subuh.

Rabu, 28 Juni
Terminal Tirtonadi Solo bagai bandara.  Bersih,  nyaman,  luas. Ayah dan anak-anak sholat di Mesjid Hidayah yang terletak di dalam terminal. Mesjidnya pun bersih dan nyaman.  Setelah duduk-duduk santai menunggu terang,  kami lalu naik taksi ke rumah Om dan Tante di di Keprabon. 

Rumah Keprabon ini tadinya adalah rumah mbah kakung Abdul Madjid dan mbah putri.  Kami hampir selalu habiskan liburan di rumah ini.  Rumah aslinya berbentuk joglo dengan pembagian ruangan yang khas.  Lalu setelah keduanya meninggal,  rumah ini dibeli oleh salah seorang anak Mbah Abdul Madjid, yang hasil penjualannya dibagikan kembali ke anak-anaknya.  Alhamdulillaah rumah ini tetap dapat menjadi rumah jujugan keluarga besar Abdul Madjid setiap ke Solo. 

Acara di Solo adalah halal bi halal keluarga besar Abu Kasan, di rumah adik Bapak yang lainnya  di Mojosongo. Keluarga Abu Kasan itu orangtua dari Mbah Putri. Jadii di generasi saya panggilnya Mbah Buyut.

Selesai acara di Mojosongo, berangkatlah kami ke Tawangmangu. Di sinilah pertemuan khusus keluarga besar Abdul Madjid. Kami menginap di kawasan agrowisata Amanah. Ini kawasan wisata yang terbilang lengkap. Penginapan, agrowisata, arena outbond, kolam renang dan waterboom, challenge-challenge unik, berkuda,  arena bermain wahana, dan lainnya. Kami menikmati makan malam sambil beranjangsana,  bertukar kabar,  dan mendengarkan musik.

Kamis, 29 Juni
Selepas subuh,  kami tracking dan jalan-jalan di area agrowisata dan outbond. Setelah sarapan,  kami bebas eksplorasi menikmati fasilitas yang ada. Anak-anak memilih berenang di waterboom. Kami check out jam 12.00  lanjut menikmati makan siang di resto Kemuning, baru kemudian kembali ke Solo.

Di Solo,  Zulkarnain's dan Kamal's check in di Grand Orchid Hotel. Makan malamnya nasi liwet,  dan beli oleh-oleh kue artis - yang ngakunya khasp  Solo: Solo Fluffy. 

Jumat, 30 Juni
Acara diawali takziah ke makam Mbah kakung dan Mbah Putri, lalu sarapan di warung Sate Buntel Man Gullit. Kehabisan sate buntelnya,  sih.  Tapi sate,  tongseng,  dan apa satu lagi yaa... Yang serba kambing,  enaak.  Selesai sarapan,  The Zulkarnain's pamit-pamitan mau ke Jogja.

Di Jogja,  transit di rumah orangtua teman kantor Ayah,  di Kasihab,  Bantul. Ayah, dan para cowok sholat Jumat di Mesjid yang lagi viral, yaitu Jogokaryan. Selepas itu,  makan siang di lesehan dekat situ.

Lalu kami pamit mau silaturahim. Tujuan pertama keluarga almarhumah Bude Sri di Green Garden, Godean.  Sayang,  pas kami kesana, rumah kosong. Lalu kami ke Piyungan,  Bantul.  Ketemuan sama Mila dan Kumi. Lalu,  kami ke penginapan Awangga Residence untuk istirahat. Tapi,  sebelumnya kami main dan silaturahim dulu ke rumah keluarga almarhum Pakde Yusman dan ketemu sama Mbak Sari n family yang ada di seberang penginapan.

Sabtu, 1 Juli
Hari ini,  agenda kami ke rumah keluarga Almarhum Pakde Sumar. Alhamdulillaah bisa ketemu Mas Danan, Mas Sur n family,  Mas Bas n family, juga Mbak Bening n family.

Lalu,  The Zulkarnain's check out dan cari oleh-oleh. Lanjut  main ke rumah keluarga Maminya Mora di daerah Jembatan Kewek. Nengokin Mora yang baru saja khitan.

Dari situ,  kami ke Mangunan. Mau main ke kawasan wisata hutan pinusnya. Jelang maghrib,  kami kembali masuk Jogja, makan Gudeg Basah Mbok Mandheg di jalan Parang Tritis. Yummy tuh. Setelah itu,  kami mampir sowan ke rumah dosen kami dulu di Psiko UGM, Bu Indati. Ngobrol santai dan numpang selonjoran. Jam 22.30 kami jalan keluar Jogja.

Minggu,  2 Juli
Jam 00.00, kami berhenti untuk istirahat di Purworejo. Sejam kemudian jalan lagi dan berhenti di sebuah Mesjid di Ajibarang. Waktu itu sekitar jam 3.30am. Kami mandi-mandi di mesjid itu,  karena kemarinnya kami ngga mandi sore.  Hihi...

Setelah subuh,  kami jalan lagi dan berhenti beberapa kali di beberapa tempat. Alhamdulillaah, jelang maghrib, kami sudah sampai di rumah Tangerang.

Selesailah liburan part 1. Eh... Emang masih ada part 2? 😅

25/06/17

Tantangan Membaca Hari Ke 10


Literasi hari ke 10

Memasuki hari ke 10, Ibu mulai makin tidak konsentrasi mendokumentasikan kegiatan baca anak-anak. 

Hari ini,  rencananya kami mau ke Glodok untuk hunting perlengkapan eksperimen kapal remote control.  Rencananya,  Ayah mau pulang lebih awal dan menenami pergi hunting.  Tapi apa daya,  situasi ngga memungkinkan Ayah pulang cepat.  Sehingga rencana hunting harus ditunda.  Untung Zhafir bisa mengerti. 

Dan seharian ini,  dia menunggu sambil membaca buku komik tentang Dinosaurus,  dan beberapa buku komik lainnya. 

Tantangan Membaca Hari Ke 9


Literasi Hari Ke 9

Hari ini,  kegiatan utama Zhafi adalah merakit kapal uap.  Kegiatan utama Hanan,  bermain konstruksi jalan mobil dan jalur kereta.  Di sela-sela itu,  Zhafi kembali menekuni membaca buku ensiklopedianya.  Sedangkan Hanan,  minta dibacakan. 

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst
#day9

21/06/17

Ensiklopedia 'Warisan'


Bangun tidur setelah sahur, Zhafir langsung mandi dan sudah siap pergi.

"Ayo, Buk, kita cari bahan-bahan."
"Iya, tunggu bentar ya, ibu mau cari lagi kunci motornya."

Singkat cerita, kunci motor akhirnya ketemu, bahan bakar motor sudah diisikan, dan motor sudah bisa dipakai setelah sebelumnya diengkol berpuluh kali. Maklum motor tua, dan sempat seminggu ngga dipakai jadi ngadat.

Pergilah kita cari bahan-bahan yang  dibutuhkan. Bahan-bahan untuk kapal uap sudah lengkap. Sedangkan untuk perahu remote control, masih harus cari tokonya. Masalahnya bahan-bahan seperti itu banyak di Glodok.. Kan jaaauuh yaa?

Akhirnya tertunda melanjutkan projectnya.

Zhafir Hanan pun isi waktu sesiangan ini dengan membaca buku ensiklopedia. Buku Ensiklopedia Disney jadul yang dulu jadi bacaan masa kecil Ibu, Pakde, dan Tantenya Zhafir dan Hanan. Iya, dulu Yangkung belikan 1 set buku ensiklopedi ini buat anak-anaknya. Alhamdulillah, sampai sekarang kondisinya masih mulus dan bisa dibaca cucu-cucunya.

Dari buku ensiklopedia, Zhafi mulai mengenal tentang keberadaan Nazi. Dia bertanya, Nazi itu apa? Hitler itu siapa. Rasis itu apa. Dan kami sama-sama menarik pelajaran bahwa, semua manusia harusnya saling menghargai dan tidak membeda-bedakan berdasarkan ras atau jenis kulitnya. Tidak bersikap sombong atau arogan, hanya karena merasa bangsanya yang paling tinggi kedudukannya.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst
#day8

-Selasa, 20 Juni 2017-

'Membaca' dari Eksperimen


Si Sulung, Zhafi, mulai bosan liburan ini. Ngajakin pergi ke tempat wisata macam Jungleland dan sejenisnya. Lalu kami beri pengertian tentang keistimewaan bulan Ramadhan, dan bagaimana kita seharusnya mengisi dan memanfaatkannya. Apa kerugian kalau kita ngga memanfaatkan sebaik mungkin kehadiran bulan Ramadhan ini.

Masih dengan wajah manyun, dia mengeluh bosen. Ibu nawarin ide  untuk coba i'tikaf. Karena kami sekeluarga memang belum pernah. Selain itu, untuk mengisi waktu, bisa cari video yang berisi membuat kreasi apa saja, dari bahan bekas.

Tampaknya, Zhafir mulai tertarik dengan ide itu. Siangnya, dia mulai buka-buka video tutorial. Sampai aku ketiduran dan bangun lagi dia masih nonton video. Ibu sempat curiga, jangan-jangan video Boboiboy lagi yang ditonton :D. Oh... Ternyata dia nonton sambil mencatat sesuatu. Ketika ditanya, nyatet apa itu?

Jawabnya, "Ini bahan-bahan yang dibutuhin. Mau bikin perahu uap sama perahu remote control."

Yakali, Ibunya ngga kepikiran juga kalau bakalan harus cariin bahan-bahan berupa komponen alat-alat listrik, macem motor, rechargeable battery, dan sebagainya. Dikira, cuma butuh kardus bekas, botol plastik bekas, dan bekas-bekas lainnya. Seperti yang biasanya dia pernah bikin.

Ternyata Zhafir juga bosenlah dengan kreasi macam gitu. Tampaknya butuh tantangan baru.

Untuk kreasi perahu uap, bahan-bahannya sebagian besar ada di rumah. Ngga lama kemudian, dia sudah asyik gunting tempel dan rakit kardus, styrofoam, dan plastik. Jadilah body perahu.

Untuk jadi kapal uap yang bisa berjalan di air, butuh bahan-bahan yang harus beli dulu. Terpaksa harus ditunda karena tidak ada kendaraan yang bisa dipakai. Mobil habis ketabrak dan bumpernya miring, sementara motor kuncinya hilang (ehhm). #curcol

Terkait dengan tantangan 10 hari membaca buku, kegiatan di atas memang ngga secara langsung terlihat sebagai aktivitas literasi. Tapi, dengan dia mengamati video tutorial, menuliskan bahan-bahan yang dibutuhkan, membuat Zhafir pun 'membaca'. Membaca dari pengalaman ketika mencoba sesuatu dengan ini tidak berhasil, lalu ternyata dengan itu berhasil. Dan membaca fenomena fisika tentang bagaimana benda bisa mengapung di air, atau bagaimana kapal bergerak.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst
#day7

-Senin, 19 Juni 2017-


Ke Bengkel? Tetap Baca Buku



Pagi ini, Ayah akan ke bengkel untuk servis mobil. Zhafi dan Hanan ikut. Karena bakalan lama, bawa beberapa 'obat' penghilang bosan, seperti buku dan mainan.

Benar aja kan, berangkat pagi jam 8 kurang, baru balik sampai rumah jam 5 sore. Yaaa... Selain karena tempatnya jauh, servisnya pun tergolong berat. Belum lagi ketika pulang, ada kejadian insidental.

Ketika ditanya, selama nunggu mobil diservis, pada ngapain aja? Ini jawabnya:
Nyari telolet
Main
Sholat
Baca buku.

Nyari telolet bakal dibahas nanti-nanti aja kali ya :D. Gitu deh kalau ayah sama anak laki-laki hang out, hahaha.

Buku yang dibawa Hanan masih tentang alat transportasi. Sedangkan buku yang dipilih Zhafi untuk dibawa adalah buku berbahasa Inggris berjudul "Inventions". Walaupun belum lancar bahasa Inggris, tapi sudah paham sedikit-sedikit maknanya. Apalagi di buku itu banyak memuat gambar fotonya.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst
#day6

-Minggu, 18 Juni 2017-

19/06/17

Asyik Membaca


Setelah sholat subuh pagi itu,  Zhafir  memurojaah hapalan jus 30 nya. Kemudian Ibu meneruskan qiroah Al Qur'an surah Al Maidah.

Seselesai Ibu qiro'ah, ternyata Zhafir masih kelihatan asyik membaca-baca dan membolak-balik halaman Al Qur'an miliknya.

Al Qur'an yang dibacanya itu ada index tema. Misalnya, tema 'iman' ada pada surah ke sekian ayat sekian. Index ini bikin Zhafir tertarik membacanya berdasarkan tema yang sedang diminati atau sedang dicari.

Adiknya, Hanan, pun sama asyiknya. Bedanya, Hanan asyik menggunting dan menempel di buku barunya yang bertema transportasi. Ketrampilan menggunting memang masih belum trampil, dan perlu banya pembiasaan. Untungnya Hanan enjoy dengan aktivitas itu.

Di buku itu, Hanan pun jadi belajar bermacam-macam alat transportasi selain dari yang sudah dikenalnya.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst
#day5

16/06/17

Membacalah! Walau Hanya 30 Menit


Kemarin tidak banyak kegiatan baca membaca. Karena kemarin ibu ajak Zhafir dan Hanan belanja ke supermarket, lalu menata dapur dan bersihkan kulkas. Terakhir memasak makan malam dan menyiapkan makanan pembuka puasa. Baru pada malam hari setelah tarawih, Ibu melanjutkan membaca Happy Little Soul.

Zhafir tetap membaca beberapa buku, tapi ngga sebanyak biasanya. Lagi memilih untuk main lego sepertinya.

Hanan membuka-buka buku aktivitasnya dan mewarnai beberapa gambar.

Ayah, pulang kerja lebih cepat, dan lanjut mengerjakan tugas kuliahnya.

Kami ingin jadikan membaca sebagai kebiasaan yang kalau ditinggalkan sehariii saja, kami merasa rugi. Jadi, kami masing-masing menetapkan selalu ada aktivitas membaca buku di sela-sela kegiatan rutin harian, walau 30 menit/perhari.

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst
#day4

Serunya Baca Buku ;)


#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst
#day3

Hari ini, ibu membaca buku asyik tulisannya Retno Hening. Si Ibuk instagrammer yang hits karena postingan-postingan tentang anaknya yang lucu, pintar, dan menggemaskan. Si Kirana.

Membaca buku ini bikin Ibu meresapi rasa syukur atas kehadiran anak-anak. Si Ibuk Kirana, berbagi kebahagiaan ketika mengetahui dirinya hamil, lalu melahirkannya. Lalu pada Si Ibuk Kirana ini ada perasaan dibutuhkan dan perasaan berharga karena ada makhluk kecil yang bergantung padanya yang menumbuhsuburkan rasa syukurnya dan membuatnya selalu bahagia membersamai, mengasuh, merawat Kirana. Walau seperti ibu lainnya, harus mengalami perjuangan dan pengorbanan, tapi yang dia inginkan adalah anaknya tumbuh bahagia dan dipenuhi rasa syukur atas nikmat Tuhannya.

Baca buku ini, juga mengikuti instagramnya, membantu mengubah cara pandang Ibu tentang menjadi ibu, tentang anak-anak, tentang rasa syukur.

Hmmm, jadi buku ini lah yang sedang menemani Ibu untuk beberapa hari ini.

Sedangkan Zhafir, lagi asyik mengikuti petualangan Si Tintin. Yang sedang dibacanya berjudul "Di Kuil Matahari". Malamnya sehabis sholat maghrib dan makan malam, dia buka-buka lagi buku komik Tintinnya. Ibu tanya, jadi ceritanya gimana? 

Zhafir itu kalau ditanya atau diajak ngobrol suka pendek-pendek jawabannya. Awalnya gitu. Ibu ngajuin beberapa pertanyaan dengan jawaban singkat-singkat, tapi begitu dapet pertanyaan yang klik, akhirnya ceritalah dia resume buku Tintin yang sudah dibacanya.

Menarik kalau dengar anak ceritain bukunya. Kadang muncul kesimpulan atau celetukan yang 'out of the box'. Serunyaaa membersamai anak, dan serunyaaa baca buku ;).

15/06/17

Pohon Literasi yang Rimbun Daunnya


#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst
#day2

Di tengah hari, anak-anak lagi main, dan ibu juga sudah selesai pekerjaan domestiknya, saatnya membuat pohon literasi.

Pohon literasi? Apakah ituh?

Kaaan, itu termasuk sarana yang dipakai untuk memuluskan tantangan 10 hari ini. Ada 3 'tugas' dalam tantangan 10 hari materi kelima ini:
1. Jadi ibu teladan. Rajin membaca dan membaca bersama anak-anak, dengan menyesuaikan tahap perkembangan di usianya.
2. Mendokumentasikan aktivitas membaca
3. Menuliskan judul-judul buku yang sudah dibaca di pohon literasi.

Pohon literasi yang kami buat memanfaatkan kardus bekas yang digambari pohon. Lalu judul buku yang sudah dibaca dituliskan di 'daun-daun' pohon yang memakai lembar-lembar 'post-it'. Kami membuat satu pohon literasi, dengan 4 dahan. Dahan ayah, dahan ibu, dahan Zhafir, dan dahan Hanan.

Dahan siapa yang terimbun daunnya?

Zhafir! Yaa, dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, memang banyak jumlah buku yang dibacanya. Ibunya? Hmmm... Lebih banyak baca wa dan FB ketimbang baca buku. Huks, malu.

Jadilah, tantangan 10 hari materi 'membaca' ini membuat ibu tertampar dan harus memaksa diri kembali membaca buku. Bersyukur, si anak pertama tampak cinta banget untuk membaca buku. Anak kedua, suka minta dibacakan buku kalau mau tidur. Semoga, semakin tumbuh subur rasa cinta membaca ini di keluarga kami, hingga kelak menghasilkan karya.

13/06/17

Happy with Books


#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst
#day1

Senangnyaa.... Kuliah kelas Bunda Sayang sudah dimulai lagi. Ceritanya, kemarin sempat ada liburan catur wulan pertama. Hmmm terasa seperti kuliah betulan.

Sekarang, kelas Bunda Sayang sudah masuk ke  materi yang kelima. Temanya asyiiik banget. Tentang "Menstimulasi Anak Suka Membaca". Waahhh... Seru doong, secaraaaa (hehe), kami keluarga yang suka membaca. Alhamdulillahh, anak pertama kami juga keranjingan membaca. Sudah lebih dari belasan buku yang dibacanya. Itu baru menghitung buku yang dimiliki sendiri. Belum termasuk buku-buku yang dipinjam dari perpustakaan. Mungkin sudah puluhan.

Hari ini, setelah mengembalikan buku ke perpustakaan daerah di Taman Ismail Marzuki, ibu ajak Zhafir dan Hanan ke toko buku. Zhafir sudah lama belum beli buku lagi.

Di toko buku, seperti biasa, dia membaca-baca buku yang diminatinya. Buku yang disukainya kebanyakan berupa komik. Komik cerita petualangan Tintin, komik pengetahuan, komik sejarah.

Kemarin buku yang dibelinya adalah Tintin. Si Adik juga minta dibelikan buku cerita bergambar yang di dalamnya ada aktivitas. Ibu tambahkan juga buku mewarnai dan aktivitas gunting tempel. Sedangkan Ibu memilih membeli buku Happy Little Soul tulisannya Retno Hening, ibuk nya Kirana.

Hmmm... Pada happy semua nih punya buku baru. Apalagi Zhafir, langsung dilahap deh Tintinnya.

We all are happy with books. Bahkan, sepupu kecil mereka, ikutan asyik membaca buku.

25/05/17

Greeting Ramadhan


#komunikasiproduktif
#melatihkemandirian
#melakukanprojectkeluarga
#memahamigayabelajar

Hari ini, menyiapkan project sederhana untuk menyambut Ramadhan. Zhafi dan Hanan, ibu ajak untuk membuat dekorasi rumah supaya suasana Ramadhan lebih ceria tahun ini.

Menanggapi ide ini, awalnya baik zhafi maupun Hanan sama- sama ngga antusias. Yang Z lagi asik gegoleran sambil baca, yang H asik dengan mainannya sehari-hari yaitu kereta-keretaan.

Ibu pantang menyerah. Tapi juga ga mau ngotot. Woles aja lah.

Pertama, ibu colek si Z. Kalau ngga mau bikin ngga papa, tapi kasih ide aja deh butuh apa aja yaa, kalau mau bikin dekorasi.

Dengan wajah ngga semangat, Z bilang begini, "Dirancang dulu mau kaya apa."

Wah iya, bener juga!

"Iya, ya... Ada ide ngga, rancangan yang buat dekorasinya?"
"Ihh, masa Mas Zhafi sih. Kan ibu yang mau bikin..."
"Yaa... Siapa tau mas Zhafi ada ide..."
"Ya udah, ibu dulu habis iti mas Zhafi."
"Ohh... Oke deh, ibu coba bikin dulu yaa."

Setelah rancangan sederhana bikinan ibu selesai, giliran Zhafi yang bikin coretan desainnya. Lengkap dengan daftar bahannya.

"Lha, bagus tuh. Oke kita pake ini aja."
"Tapi mas Zhafi ga mau bikin, ya. Ga mau belanja juga. Lagian buat apa juga, sih. Kan yang liat kita sendiri..." Hihi... Masih protes aja. Ya si Ibu maklum aja. Orang ini juga baru pertama kalinya bikin2 dekorasi menyambut Ramadhan.

"Iya, yang belanja nanti ibu, yang bikin juga ibu. Mungkin nanti Adek mau ikut bantu bikin.
Ibu ada ide bikin dekorasi Ramadhan ini biar Adek nanti ikut seneng, ikut semangat ibadah Ramadhan."

Ibu langsung belanja bahan-bahannya. Setelah semua bahan terkumpul, begitu sampai rumah, Ibu langsung memulai kerajinan tangan ini. Awalnya ibu sendiri gunting-gunting. Karena Hanan main di luar dan Zhafi lebih tertarik bantu si Ayah menata ulang letak mesin cuci.

Tapi... Lama -kelamaan tanpa diminta, baik Z maupun H udah pengen ikutan gunting dan ngelem. Malah mereka semangat berebutan. Alhamdulillah.

Dan akhirnya dekorasi menyambut Ramadhan pun jadi. Setidaknya untuk tahap 1. Masih sederhan soalnya. Jadi pengen bikin yang lebih seru lagi, insyaaAllah.

Hikmah dari project ini:
1. Zhafi suka terlibat asalkan tidak berupa paksaan. Ketika melihat ibu asyik menggambar, menggunting, menempel, tampaknya Zhafir pun jadi tertarik.
2. Zhafi agaknya merasa karya rancangannya dihargai dan diapresiasi, karena begitu bikin rancangannya, sang Ibu langsung eksekusi.
3. Ibu harus pandai-pandai melihat moment- moment anak. Ketika not in a good mood, ya ikhlas aja. Tetep ceria, tetap semangat. Tunjukkan antusiasme tanpa dibuat-buat.

22/05/17

Liburan di Perpustakaan


Zhafir lagi dalam suasana libur UN.

Hari pertama liburan, diisi dengan kunjungan ke perpustakaan daerah di Taman Ismail Marzuki. Setelah Hanan pulang dari rumah tahfidz, kami berangkat.

Berangkat naik moda transportasi kereta. Dari Batuceper, berpindah kereta 2 kali yaitu di stasiun Duri dan Stasiun Manggarai, dan turun di stasiun Cikini. Dari sana, kami naik ojek ke TIM.

Sampai di dalam perpustakaan, sudah masuk wakti dhuhur. Di dalam perpustakaan di lantai 1 disediakan tempat sholat yang cukup nyaman.

Usai sholat, zhafir langsung melahap buku-buku itu dengan khusyuk. Hanan lebih tertarik bermain mainan kayu edukatif di area bermain. Setelah puas main, Hanan pun ikutan memilih buku. Buku yang di pilihnya tidak jauh dari tema tranportasi yang disukainya, yaitu tentang keselamatan di jalan. Ibu menunggui sambil merajut.

Setelah 3 jam 'ngadem' di dalam perpustakaan, kami keluar dari perpustakaan dan langsung menuju stasiun cikini naik kopaja. Kami mampir untuk beli makan siang di mini market.

Setelah mendapat tiket, tidak lama, kereta sudah datang. Kebetulan hari itu, kami ngga perlu lama menunggu kereta datang, sejak dari stasiun pertama maupun di dua stasiun tempat kami transit. Sampai rumah masih jam 16.30. Alhamdulillah.

22 Mei 2017

23/04/17

23 April 2017


Kebaikan anak
1. Zhafi menyetrika pakaiannya sendiri dan pakaian hanan
2. Hanan mengambilkan bantal utk yangti yang lagi tiduran di lantai ruang tivi

30/03/17

Project Itu Tidak Harus Ribet


#day2
#merencanakan project

Ketika berdiskusi ingin membuat project apa, Zhafir terpikir membuat buku. Ibu mencoba menggali idenya dengan membuat mind map.

Akhir cerita, diskusi kemarin sudah menghasilkan perencanaan tentang  alat dan bahan apa saja yang diperlukan, tema dan judul buku, teknis mengerjakannya, dan berapa lama waktunya. Juga dibicarakan pembagian tugasnya.

Perkembangannya hari ini, zhafir kelihatan kurang bersemangat mengerjakan projectnya sendiri. Malah si Ibuk yang bolak balik menanyakan. Akhirnya, Ibuk mengkonfirmasi, apa bener Zhafir suka dengan project buku ini?

Karena, keliatannya, kalau dengar kata project, zhafir berpikir harus sesuatu yang lain dari yang biasa.

Akhirnya saya sampaikan lagi (di diskusi kemarin juga sempat saya sampaikan), bahwa project bisa sesuatu yang biasa zhafir lakukan. Misal membaca buku, bikin video (zhafir suka iseng merekam apa saja), atau cuci mobil.

Akhirnya, setelah membahas lebih lanjut, kami putuskan menunda project bukunya, dan melakukan project harian. Untuk hari ini, kami menjalankan project mencuci mobil.

Setelah ngbrol singkat, diputuskan Zhafir menjadi ketua project. Dia membagi tugas sbb:
Zhafir yang menyabuni dan membilas mobil, adik Hanan yang mengeringkan denga lap kanebo,
Ibu yang membersihkan lantai carport setelah cuci mobil dibantu Zhafir.

Alhamdulillah, project hari ini telah selesai.

29/03/17

Diskusi dan Mengkonsep Project Keluarga Kami


#day1
#membuatproject

Hari ini, adalah hari pertama kami memulai project keluarga. Kami memulainya dengan diskusi.
Yang menjadi project officeer adalah Zhafir. Kami mendukung zhafir untuk membuat project menulis buku.
Temanya yang dipilih cukup unik. Yaitu tema jenaka. Berjudul Terbalik.
Kami membuat konsep dengan mind map. Ayah yang menyiapkan tinta printer dan mensettingnya. Ibu yang menyiapkan alat dan bahan. Zhafir yang menulis bukunya. Ibu juga memberikan beberapa masukan referensi yg bisa dipakai.
Project akan berlangsung selama 1 minggu.
Sudah dibagi tahap tahap pengerjaannya per hari.

05/03/17

Hari Ke 10 Berlatih Mandiri


#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day10

Sabtu 4 Maret 2017

Setelah seharian kemarin memuaskan diri berleyeh-leyeh menghilangkan rasa capek selepas camping, hari ini Zhafir membereskan semua perlengkapan campingnya. Dia mengeluarkan semua pakaian kotor dari daypacknya. Mencuci dan menjemur pakaian, jaket, handuk, matras, dan sepatunya sendiri.

Hari Ke 9 Berlatih Mandiri


#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day9

Jumat 3 Maret 2017

Hanan masih berlatih mandi sendiri berikut handukan, dan berpakaian sendiri. Sebenarnya sudah bisa, hanya saja fokusnya masih perlu dilatih. Sering sekali kalau dibiarkan sendiri untuk berpakaian, hingga 15 menit belum juga selesai. Karena mudah terdistraksi dengan hal lain.

Zhafir masih belum banyak aktivitas. Alasannya masih perlu istirahat menghilangkan sisa capeknya. -_-

Hari Ke 8 Berlatih Mandiri


#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day8

Rabu 1 Maret 2017

Masih berkutat dengan Hanan yang belajar mandi sendiri. Perlu kesabaran memintanya untuk fokus meyabuni dan menggosok badannya secara merata. Masih ada yang bagian tubuh yang terlewat.

Namun alhamdulillah tetap semangat.

Zhafir memasuki hari kedua camping. Belum ada kabar dari guru yang mendampingi anak anak camping. Semoga lancar dan berjalan baik.

Hari Ke 7 Berlatih Mandiri


#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day7

Rabu 1 Maret 2017

Masih berkutat dengan Hanan yang belajar mandi sendiri. Perlu kesabaran memintanya untuk fokus meyabuni dan menggosok badannya secara merata. Masih ada yang bagian tubuh yang terlewat.

Namun alhamdulillah tetap semangat.

Zhafir memasuki hari kedua camping. Belum ada kabar dari guru yang mendampingi anak anak camping. Semoga lancar dan berjalan baik.

03/03/17

Assalamualaikum, Mujahidku


Zhafir pulang camping kemarin sore dengan selamat, alhamdulillah. Saking lelahnya, belum dapat cerita apapun dari Zhafi karena begitu pulang langsung tidur pulas. Hanya bangun sebentar untuk sholat dan makan.

Mendadak terharu ketika malam harinya ada pesan masuk di grup kelas. Pesan dari mentor kelas Zhafir, yang menuliskan dengan amat mengesankan keseruan  camping anak anak kelas.

"A'udzu bikalimatillahittammati min syarri maa khalaq."

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya.”
------------------
Selasa 28 Februari 2017, menjelang maghrib di bawah pohon mahoni, yang tumbuh tinggi menjulang.

Ditengah pohon pohon yang daunnya saling menyentuh sehingga  gelap lebih cepat terasa meski matahari senja masih ada.

23 naturalist baru saja selesai membangun bivak. Sebuah tempat berlindung sangat sederhana untuk mereka tempati malam ini.

Sepi suasana saat itu. Tidak banyak bicara. Tidak lagi ada bercanda satu sama lain.

Tidak ada lagi tawar menawar. Hanya doa diatas yang terus menerus dilafalkan berulang ulang, bersama sama.
---------
Malam menjelang, makan malam dihidangkan. Jumlah yang sama dengan makan siang. Tapi banyak tersisa. Nafsu makan hilang.

Banyak laporan masuk, tiba-tiba merasakan mual, pusing, dada sakit, gigi sakit, pinggang encok, pening.

Sekali lagi suasana sepi.
-----

Pukul 22.00 langit Carita cerah, bintang bermunculan.

Waktunya tiba. Naturalist akan masuk kedalam hutan, menempati bivak yang sore tadi mereka bangun. Berbaring di dalamnya, sendiri.

Dzikir petang dan doa diatas kembali diulang.

Senter dinyalakan, sambil mengingat ingat jalan, menemukan tempat tidur malam ini.
-------

00.17 hujan turun dengan derasnya. Seluruh Naturalist ditarik kembali, dikumpulkan menjadi satu dari 23 titik berbeda

Singkat memang waktu dalam bivak, di hutan dan kegelapan malam. Namun demikan dalam dua jam tersebut banyak hikmah dan pelajaran berharga didalamnya.

Setia atap ponco menjadi saksi ujian keberanian, kesabaran, dan kepercayaan ananda akan kuasa perlindungan, penjagaan Allah sebagai sebaik baik penjaga, sebaik baik pemberi pertolongan,sebagai pemelihara bagi diri mereka.

--------
Kegiatan tersebut diatas hanya satu dari beragam kegiatan pembelajaran yanga ada di kegiatan kemping 3 hari ini.

Cerita lengkapnya Ayah Bunda bisa langsung tanyakan ke ananda :))
--------

Selamat beristirahat duhai Naturalist, anak anak soleh yang tinggkat kepercayaannya pada Allah SWT sungguh luar biasa.

01/03/17

Hari Ke 6 Berlatih Mandiri


#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day6

Selasa 28 Februari 2017

Hari ini adalah hari Zhafi berangkat camping bersama sekolah. Dia tampak cukup siap. Saya hanya sedikit memberi pesan. Selama di camping, mungkin akan ada banyak hal yang ngga sesuai harapan. Siapkan hati untuk tetap semangat. Semangat untuk cari solusi, semangat berdoa karena Allah pasti mendengat doa anak sholeh.

Sedangkan Hanan kembali menjalankan latihan mandi sendiri.  Alhamdulillah, kembali berkomitmen untuk menjalankan latihan kemandirian ini hingga benar-benar trampil.

Ibu, Jaga Suasana Hatimu


#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day5

Senin, 27 Februari 2017

Hari ini mood Si Ibu sedang kurang baik. Baik Zhafi maupun Hanan sedang tidak antuasias menjalankan tugas kemandirian masing-masing. Dan si Ibu pun sedang tidak mendorong mereka melakukannya.

Pelajaran yang diambil hari ini, suasana hati Ibu akan dirasakan pula oleh anak-anak. Ketika ibu tidak semangat, itu pulalah yang dirasakan anak-anak.

Bismillah, besok harus lebih baik!

27/02/17

Semangat Zha Han!


#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day4

Zhafir
Seharian ini, Zhafir masih dengan persiapan campingnya. Paginya, dia bersama teman-teman berjualan makanan untuk menambah uang saku selama camping.

Siangnya, Zhafi melakukan packing hingga selesai dan siap dibawa (final check). Karena ransel daypacknya sudah harus dikumpulkan di sekolah hari Senin. Camping sendiri berlangsung hari Selasa, Rabu, Kamis.

Ada hal menarik ketika saya berniat membantu untuk mengecek ulang kelengkapan bawaannya. Saya melihat kertas daftar barang yang dibawa. Di setiap poin barangnya ada 3 tanda checklist (VVV). Ketika saya tanyakan apa maksudnya, ini penjelasannya. Checklist pertama untuk menandai barang yang sudah ada di rumah, checklist kedua untuk menandai barang yang sudah disiapkan tapi belum dimasukkan ke daypack, checlist ketiga untuk menandai barang yang sudah masuk ke daypacknya.
Ketika saya tanya, diajari siapa cara itu. Jawabnya, mas Zhafi sendiri.

Hal kecil seperti itu saya sampaikan apresiasi untuknya. Itu adalah hasil dia belajar untuk 'aware' dengan keperluan-keperluannya sendiri.

Semangat Zhafi

Hanan
Masih dengan perjuangan untuk bisa mandi sendiri. Kadang si Ibu masih suka ngga yakin sudah bersih belum. Terutama bagian-bagian lipatan, dubur, dan kemaluan. Disitulah tantangannya, untuk bisa menahan diri. Menahan diri untuk ngga mengintervensi proses mandi sendiri. Apalagi Hanan menikmati proses belajarnya. Semakin aware dengan anggota-anggota tubuhnya yang selama ini belum hapal namanya.

Semangat Hanan!

Catatan Latihan Kemandirian


#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#day3

Catatan latihan kemandirian hari ini:

Zhafir
Hari hari menjelang camping bersama sekolah membuat Zhafir makin semangat melakukan persiapan-persiapan. Bisa dibilang, 75% persen dari keseluruhan persiapan dilakukannya sendiri. Dari mulai mempersiapkan barang-barang yang akan dipacking sesuai daftar, sampai memasukkannya ke dalam ransel daypacknya.

Termasuk menyiapkan uang saku sendiri dengan berjualan makanan. Memang dari sekolah, bagi kelas 4, uang snack dan uang saku untuk camping haruslah dicari sendiri dengan cara berjualan.

Ayah hanya perlu membantu mencarikan atau mengantarkannya mencari barang yang belum ada. Ibu membantu menyiapkan makanan untuk Zhafi berjualan.

Hari ini, Sabtu, dia pun berinisiatif menyeterika pakaiannya sendiri. Suatu kali, jauh sebelum hari ini, pernah terjadi percakapan ini:
Ibu: Mas, mau belajar nyetrika?
Zhafi: Aku udah tau kok caranya nyetrika. Kan udah pernah.
Hm... Mulailah si Ibu ceramah (duh...), bahwa keterampilan apa aja termasuk menyeterika dipelajari ngga sampai sebatas aku tahu. Untuk terampil, harus latihan dan dilakukan berulang-ulang.
Dan yaah... Namanya cuma diceramahi, Zhafi hanya menjawab, "Iyaa."
Oke, dia belum ada kebutuhan untuk belajar menyetrika tampaknya. Mungkin masih merasa menyeterika itu mudah.

Ketika Zhafi hari ini mulai menyetrika pakaiannya sendiri, tampak dia mulai paham bahwa walaupun hanya menyeterika, untuk bisa menghasilkan setrikaan pakaian yang rapi itu perlu belajar trik-triknya.

Hanan:
Masih dengan latihan keterampilan dasar: mandi sendiri.
Masih terus semangat untuk mandi sendiri. Ketika si Ibu agak gregetan ingin 'membetulkan' cara mandi, Hanan protes. Pokonya mandi sendiri. Hihihi...

Tapi alhamdulillah, cara dia menyabuni dan menggosok badan sudah lebih urut. Yang masih agak sulit adalah ketika mengeringkan badan. Dan seringnyabketika mulai memakai baju, fokusnya mudah teralih ke hal hal lain. Jadi sering sekali dia sudah berlarian ke sana kemari dengan baju masih belum terpakai.

Soal fokus dan konsentrasi ini memang PR buat Si Ibu dan Hanan.

25/02/17

Menumbuhkan Kemandirian Sikap


#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#day2

Mas Zhafir, 10 tahun, akan berangkat camping bersama sekolahnya. Dalam hal packing kebutuhannya, dia sudah bisa mandiri. Dia juga bisa diandalkan untuk bertanggung jawab terhadap barang-barang miliknya.

Sebenarnya, Zhafir sudah pernah mencuci baju sendiri, menjemur, dan menyetrika. Tapi masih sulit memintanya melakukan secara rutin. Paling memungkinkan adalah seminggu sekali.

Keterampilan yang sifatnya praktis sudah bisa dilakukannya. Konsistensinya yang perlu ditumbuhkan. Kemandirian dalam bersikap dan mengendalikan emosi juga perlu ditumbuhkan.

Jadi harapannya, Zhafir bisa tumbuh kesadarannya untuk konsisten.

Hari ini Zhafir tanpa dipinta sudah menyeterika pakaiannya sendiri. Karena jarang menyeterika, hasilnya masih kurang rapi. Tapi apapun hasilnya, itu adalah hal yang saya apresiasi. Sesekali dia mengeluh, hasil setrikanya kurang rapi. Saya sampaikan, menyeterika itu juga salah sati keterampilan. Perlu belajar dan melakukannya rutin untuk bisa serapi yang kita inginkan.

23/02/17

Melatih Kemandirian Day#1


#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Mengajarkan kemandirian untuk anak anak memang butuh ketelatenan dan rasa tega.

Hanan di usianya yang menginjak 6,5 tahun, sudah bisa:
1. Makan sendiri, dari mulai mengambil piring dan gelas, lalu menaruh makanan di piring, menggunakan sendok atau tangan, makan dan tidak menyisakan makanan di piring, sampai menaruhnya di tempat cuci piring.
2. Buang air kecil sendiri di rumah. Kalau di tempat umum belum benar benar dilatih. Karena kalau di tempat umum, ibunya masih belum tega.
3. Merapikan mainanannya sendiri. Tapi ini pun sebetulnya masih kadi pekerjaan rumah. Saya masih harus tarik urat untuk meminta Hanan membereskan mainannya. Karena sering kali dia kekeuh menolak.

Ada beberapa poin latihan kemandirian yang ingin dilatihkan ke Hanan:
1. Mandi sendiri. Dari mulai melepas baju kaos/kemeja berkancing, celana (ini sudah bisa), mengguyur air ke badan, menyabuni dan menggosok, membilas tubuh, dan mengeringkan tubuh dengan handuk. Termasuk juga melatih adab-adab di kamar mandi, dam doa doanya.

2. Melatih BAK mandiri di tempat umum. Melepas celana tanpa terkena lantai, menggunakan air di kamar mandi umum (terkait higinitas), termasuk juga doa dan adabnya

3. Membereskan mainannya secara mandiri tanpa diingatkan atau diinstruksikan.

4. Melatih BAB mandiri. Seperti BAK, plus membersihkan dubur dengan sabun.

Ini hari pertama Hanan berlatih mandi sendiri.
Alhamdulillah, Hanan pun sepertinya memang siap untuk melakukannya. Dia sudah bisa melepaskan baju kemeja berkancing dengan sedikit sekali bantuan. Hanan sedikit kesulitan melepas kancing paling atas yang dekat leher.
Untuk adab dan doa, masih terus diingatkan.
Untuk menyabuni dan menggosok tubuh sudah berusaha dilakukan sendiri. Hanya sedikit bantuan di bagian punggung dan leher.
Ketika mengeringkan tubuh masih perlu banyak arahan.

Semangat terus yaa Hanan. Yes, You Can. Yes, We Can!

19/02/17

Keran Komunikasi Kami...?


Anak anak udah pada tidur. Lagi berduaan aja dengan suami. Tapiii... Suami lagi pegang hp, saya pun lagi ngelanjutin rajutan. Tetiba pengeeennn banget ngobrol berkualitas.

Jiaah... Selama ini ngobrol memang ga berkualitas?

Yaa... Gimana ya? Ngobrolnya lebih sering sambil lalu. Nanya hal yang teknis-teknis. Jarang bicara dari hati ke hati. Entahlah, saya itu perempuan, tapi tipe yang ngga banyak ngomong.
Kadang memang males ngomong, kadang memang ga bisa ngungkapinnya.

Akhirnya, lagi-lagi berusaha dengan keras memberanikan diri memulai pembicaraan.
"Pengen ngobrool".
"Iya, ada apaa?"

Sebenernya banyak yang ingin diobrolin. Tapi ada beberapa topik pembicaraan yang saya belum berani menyampaikannya.

Nah loo... Semoga hubungan pernikahan kami ngga dibilang aneh yaa karena hal itu. Tapi..  Setiap orang bebas aja sih menilai.

Iya... Keran komunikasi di antara kami memang ngga selancar yang kuharapkan. Kendalanya... Sebagian besar mungkin dari saya. Saya ngga biasa cerita, ngga biasa ngobrol, masiih juga sering sulit bagaimana mengekspresikan dengan baik apa yang saya rasakan dan pikirkan. Khawatir salah cara saya menyampaikan.

Dari kecil, saya memang orangnya pendiam dan pemalu. Cenderung ngga percaya diri. Baru lumayan bisa teratasi waktu kelas 3 SMU, berkat teman perempuan sebangku saya, dan beberapa teman segeng. Hiks... jadi kangen pengen ketemuan.

Walaupun begitu, sifat asli saya yang masih ngga pedean dan ngga bisa banyak ngomong ini masih melekat. Masih sering canggung ketika berhadapan dengan orang orang tertentu.

Singkat cerita, obrolan dengan suami tadi curhat tentang keinginan mengembangkan diri dengan keterampilan crafting yang baru kupelajari plus kegiatan berkebun. Butuh dana, ambil dari pos mana. Karena saya belum punya penghasilan sendiri. Hanya kadang kadang saja dapat komisi dari menjualkan produk orang lain.

Kesimpulannya, suami akan siapin dananya, harapannya bisa dijadikan modal, dan keterampilannya juga bisa memberikan pendapatan.

Alhamdulillah... Lega karena dua hal. Satu, karena sudah tersampaikan kebutuhan untuk ngobrol. Dua, karena suami mau siapkan dananya (baca: modal).

Tinggal tantangan lain nih: konsisten!

14/02/17

Tantangan Mendidik


#komunikasiproduktif
#bundasayang
#berusahakonsiten

"Mengajak Hanan murojaah itu tantangan tersendiri buatku"
Aku membuka pillow talk dengan suami.

Ya... Mendidik anak adalah tantangan seorang ibu (dan ayah) selama usia mereka masih di bawah tanggung jawab orangtua.

Untuk kasus Hanan, tantangan kesabarannya adalah, menerima dengan ikhlas bahwa Hanan memiliki kecepatan belajar yang berbeda dengan anak-anak lain pada umunnya.

Perlu ada tambahan perlakuan dan terapi. Bukannya kami tidak pernah mengusahakannya. Hanya saja, kami masih mencari terus mana yang terbaik.

Dan setelah menyampaikan ke suami, mengenai tantangan tantangan yang kuhadapi selama membimbing Hanan dengan belajar mengajinya, lega hati ini karena beban sudah terkurangi.

10/02/17

Kesadaran


Menyadari bahwa aku telah banyak berbuat dosa ke anak anak selama ini. Aku bertekad mengubah diri.

Bonding yang selama ini alpa kujalin dengan anak-anak, komunikasi yang selama ini cenderung satu arah dan otoriter, kemalasanku dan ketidak sabaranku menjalani perankubsebagai ibu, ketidakbersadaranku menjalani tanggung jawabku.
Betapa akubsudah menjadi ibu yang buruk selama ini.

Terlalu malas, terlalu cuek, terlalu abai.

Lihatlah Hanan sekarang... Di usianya yang ke 6 ini, fitrah keimanannya belum terbentuk. Lihatlah Zhafi, di usia yang ke 10 ini, aku masih harua menghadapi sikap tidak dewasa.

Yaa... Bahkan sampai usia ku yanh ke 34, aku masih seperti anak-anak. Masih belum dewasa.

Bertekad, untuk semakin mendekat kepada Allah. Berazam, untuk menjalankan peranku dengan penuh kesadaran. Bahwa menjadi ibu memang berpeluh. Tak perlu cari enaknya di dunia. Karena lelah yang kucoba nikmati sebagai ibu, ins yaa Allah menjadi jalanku ke surga. Harapanku.

Ikhlas... Sekali lagi ikhlas. Segala kebaikan yang kulakukan kelak menjadi sedekahku. Bismillah ...
Bismillah...
Kuazamkan, untuk menjalani lelah sebagai ibu hanya untuk mendapatkan rahmatmu.

Tolong jangan cabut kesadaran ini dariku lagi ya Allah!

07/02/17

Harta Karun Rahasia Mas Zhafi


Selama seminggu ke depan, dari tanggal 6-10 Februari, sekolah Mas Zhafi, Sekolah Alam Tangerang mengadakan pekan literasi. Salah satu kegiatannya adalah belajar menulis puisi.

Kemarin dapat laporan dari guru wali kelas Mas Zhafi. Ada 2 karya puisi dari 2 siswa kelas 4 yang menarik perhatian pemandunya.  Salah satunya adalah puisi karya Mas Zhafi.

Puisinya berjudul "Gag". Gaya penulisannya jenaka dan jujur, begitu komentar Kak Rahma, yang memandu mereka berkarya menghasilkan puisi.

Saya, ibuknya, jujur suka terkaget sendiri. Beberapa kali saya mendorong dia untuk menulis. Menuliskan apa saja. Resume buku, atau resume film atau video yang dia tonton, atau pengalaman dia sehari hari. Tapi tampaknya Mas Zhafi belum minat menulis. Sesekali saya sedikit memaksa dia menulis sesuatu. Apa saja. Karena hanya sekedar ajakan, dorongan, tampaknya dia belum tergerak. Tapi memaksa pun juga khawatir jadi kontraproduktif.

Dia sukaa sekali membaca. Apa saja di baca. Dan alhamdulillah yanh dibaca bukan buku komik jepang lho. Tapi cerita anak, sejarah nabi, komik klasik seperti Tintin, pengetahuan umum, dan novel. Gurunya bilang, kesukaannya membaca bisa jadi dasar mengembangkan diri menjadi penulis. Harapan besar buat kami. Hanya saja, kami masih belum menemukan cara bagaimana menumbuhkan minat menulisnya.

Di kelas 4 ini, seluruh siswa didorong untuk banyak menulis. Salah satu challenge nya adalah, setiap anak harus memiliki buku harian dan jurnal. Di rumah, setiap sore atau malam, atau pagi sebelum berangkat sekolah, mas Zhafi tampak asyik menulis jurnal kegiatannya.

Dan projectnya minggu ini adalah mengirim email ke "kakak inspiratif" di luar negeri.

Semoga,  semoga, ini memantik potensi dan motivasi Mas Zhafi dalam bidang tulis menulis.

Saya dan Ayahnya juga berharap, Mas Zhafi bisa jauh lebih semangat berkarya yang lebih banyak dan lebih baik lagi.

03/02/17

3 Februari 2017


Tantangan bunda sayang
#day11
Sabtu, 3 Februari 2017

Besok hari Sabtu. Kami berkumpul di meja makan, membicarakan agenda masing-masing. Ayah mau merapihkan tanah kosong dibelakang rumah, ibu berencana ingin ikut workshop menjahit, tapi tidak jadi karena sudah penuh kelasnya. Akhirnya ibu berencana menghadiri pertemua orangtua dengan guru sekolah adik Hanan. Setelahnya, membereskan rumah. Mas Zhafi akan memulai lagi latihan wushunya. Setelah 2 bulan sebelumnya istirahat dulu.
Setelah itu, sorenya kami semua berangkat ke rumah Eyangti ke Rawasari.

28/01/17

Merencanakan Kegiatan Akhir Pekan


#tulisan ini untuk memenuhi challenge Sesi 1 Kelas Bunda Sayang IIP
#familyforum day #4

Malam hari ini, 27 Januari 2016, akhirnya bisa juga bikin family forum dengan anggota tim lengkap. Ayah yang biasanya kuliah malam hari ini libur. Hanan juga tidur siang, jadi belum terlalu ngantuk.

Kami berempat membahas agenda hari Sabtu. Ibu ada 2 acara yg ingin dihadiri, tapi waktunya bersamaan.  Ayah mengajak Mas Zhafi ke lapangan panahan, untuk lihat latihan dan tanya-tanya informasi tentang perlengkapan memanah. Adik pasti ikut Ayah.

Kami juga sempat menyinggung beberapa agenda kegiatan kelas di sekolah.

Sayang, Mas Zhafi yang ngga tidur siang sudah ngantuk berat. Jadi, pertemuan keluarga pun harus selesai.

27/01/17

Tentang Menyekutukan Allah


#tulisan ini untuk memenuhi challenge Sesi 1 Kelas Bunda Sayang IIP
#familyforum day #3

Hari Kamis, 26 Januari 2016, kembali kami melakukan family forum. Lagi-lagi tidak lengkap full team, karena Ayah pulang bakda maghrib.

Kami diskusi tentang kegiatan di sekolah hari ini. Zhafir bercerita project kelasnya menanam tanaman sayur di sekolah. Hanan bercerita tentang teman-teman dan ustadzahnya.

Lalu pembicaraan berlanjut tentang teman dan sahabat.  Ketika Hanan ditanya, Hanan siapa sahabatnya, jawabnya, "Allah."

Masya Allah.

Lalu si Kakak menimpali, "Berarti menyekutukan Allah, dong. Kan dosa."

Kami lalu membahas sekalian tentang hal-hal apa saja yang disebut menyekutukan Allah, dan bagaimana supaya kita semua bisa menghindarinya. Karena syirik adalah dosa yang besar.

Semoga, pembahasan ini bisa menjadi bekal bagi Zhafi dan Hanan untuk memperkuat keimanan mereka.

25/01/17

Tentang Bersikap Pemaaf


*tulisan ini untuk memenuhi challenge Sesi 1 Kelas Bunda Sayang IIP
*familyforum day #1

Hari Selasa 24 Januari, sempat berdiskusi dengan Zhafir tentang menghadapi ejekan orang lain. Diskusi hari ini melibatkan kami berdua saja, ayahnya belum bisa bergabung karena pulang malam.

Kami mereview kejadian sore harinya, ketika ada seorang anak tetangga (sebut aja Dudun) yang lebih kecil dari Zhafi tapi suka memanggilnya dengan nama ejekan. Zhafi tau kalau menghadapi hal seperti itu yang pertama dilakukan adalah mengabaikan. Tapi karena tampaknya hal itu ngga berhasil, Zhafi mulai terganggu dan ngga terima. Akhirnya terjadilah 'sentuhan fisik', yang membuat si Dudun menangis.

Saya bertanya ke Zhafi ada masalah apa. Juga konfirmasi ke Dudun apa benar seperti itu masalahnya. Dudun ngga banyak membantah. Jadi aku sampaikan ke Dudun, nama itu adalah doa yang baik. Jangan diubah-ubah. Lalu setelahnya Dudun diajarkan untuk meminta maaf. Saling meminta maaf.

Kejadian itu menjadi moment buat kami untuk belajar memaafkan. Kami merecall kisah Nabi Muhammad ketika beliau diludahi oleh seorang ibu-ibu, setiap kali Rasullah SAW lewat jalan depan rumahnya. Nabi Muhammad tidak pernah marah, apalagi balas meludahi. Sampai suatu hari, Rasulullah bertanya-tanya kemana gerangan ibu-ibu itu. Kenapa sudah beberapa hari tidak terlihat melakukakan kebiasaan paginya, yaitu mengumpat dan meludahi Nabi. Ternyata, Si Ibu jatuh sakit. Apa yang Rasulullah lakukan. Tanpa rasa dendam sedikitpun Beliau berkunjung ke rumah Si Ibu, membawakan makanan.

Kami mencoba sama sama mengambil hikmah dari kisah itu. Bahwa Nabi yang kekasih Allah sangat bersih hatinya, tidak pendendam, bahkan sangat mencintai sesama termasuk pembenci Beliau.

Kesimpulannya, kita mungkin tidak bisa memiliki akhlak sesempurna beliau, tapi dengan selalu mengingat bagaimana Rasulullah bersikap pemaaf, setidaknya kita umatnya berusaha meneladani dan mencontoh sikap beliau.

24/01/17

Perlu Belajar Komunikasi Produktif... Bismillah


Pagi tadi, aku mengajak diskusi zhafi. Tentang tugas yang diberikan oleh gurunya. Home challenge nya adalah, mencuci pakaian sendiri, dari mulai merendam hingga menyetrika. Ada juga tugas yg dikerjakan bersama orangtua, yaitu menanam pohon buah dari biji buah yg dimakan sendiri.

Tampaknya, zhafi lagi ngga terlalu suka (atau belum) dengan aktivitas berkebun. Selama seminggu ini aktivitas di sekolah memang berkebun. Dan dia merasa berat melakukan aktivitas berkebun juga di rumah. Semacam, "Yah, lagi lagi berkebun. Berkebun lagi berkebun lagi". Gitu deh.

Zhafi sampai sedikit tinggi emosi marahnya. Aku berusaha menanggapinya dengan tenang, meski harus sedikit emosi menanggapi argumennya. Akhirnya aku sampaikan, tidak apa kalau memang tidak mau. Tapi sudah siap dengan konskuensinya. Karena ini tugas sekolah, akan ada laporannya. Kalau tidak kumpulkan laporan, apa kira kira konsekuensi dari gurunya.

Aku lanjutkan kegiatanku. Sempat ditegur suami, kenapa hal seperti ini aja berdebat.

Aku mungkin salah cara menyampaikannya. Lalu aku minta maaf ke Zhafi.

Yaah... Kemampuan komunikasiku memang banyak sekali yang perlu diperbaiki.

Bukannya ngga mau berusaha. Sulit. Sulit karena sudah jadi karakter yang terbentuk sejak kecil.

Laa haula wala quwwata illa billah. Terus belajar, dan memohon pertolongan kepada Allah supaya diilhamkan kepada diri ini, hati dan lisan yang lembut dan menyejukkan, namun tegas dan bijaksana.

Cari Blog Ini

Google+ Followers

 

Life Of A Mom and A Wife Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez