27/02/17

Semangat Zha Han!


#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day4

Zhafir
Seharian ini, Zhafir masih dengan persiapan campingnya. Paginya, dia bersama teman-teman berjualan makanan untuk menambah uang saku selama camping.

Siangnya, Zhafi melakukan packing hingga selesai dan siap dibawa (final check). Karena ransel daypacknya sudah harus dikumpulkan di sekolah hari Senin. Camping sendiri berlangsung hari Selasa, Rabu, Kamis.

Ada hal menarik ketika saya berniat membantu untuk mengecek ulang kelengkapan bawaannya. Saya melihat kertas daftar barang yang dibawa. Di setiap poin barangnya ada 3 tanda checklist (VVV). Ketika saya tanyakan apa maksudnya, ini penjelasannya. Checklist pertama untuk menandai barang yang sudah ada di rumah, checklist kedua untuk menandai barang yang sudah disiapkan tapi belum dimasukkan ke daypack, checlist ketiga untuk menandai barang yang sudah masuk ke daypacknya.
Ketika saya tanya, diajari siapa cara itu. Jawabnya, mas Zhafi sendiri.

Hal kecil seperti itu saya sampaikan apresiasi untuknya. Itu adalah hasil dia belajar untuk 'aware' dengan keperluan-keperluannya sendiri.

Semangat Zhafi

Hanan
Masih dengan perjuangan untuk bisa mandi sendiri. Kadang si Ibu masih suka ngga yakin sudah bersih belum. Terutama bagian-bagian lipatan, dubur, dan kemaluan. Disitulah tantangannya, untuk bisa menahan diri. Menahan diri untuk ngga mengintervensi proses mandi sendiri. Apalagi Hanan menikmati proses belajarnya. Semakin aware dengan anggota-anggota tubuhnya yang selama ini belum hapal namanya.

Semangat Hanan!

Catatan Latihan Kemandirian


#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#day3

Catatan latihan kemandirian hari ini:

Zhafir
Hari hari menjelang camping bersama sekolah membuat Zhafir makin semangat melakukan persiapan-persiapan. Bisa dibilang, 75% persen dari keseluruhan persiapan dilakukannya sendiri. Dari mulai mempersiapkan barang-barang yang akan dipacking sesuai daftar, sampai memasukkannya ke dalam ransel daypacknya.

Termasuk menyiapkan uang saku sendiri dengan berjualan makanan. Memang dari sekolah, bagi kelas 4, uang snack dan uang saku untuk camping haruslah dicari sendiri dengan cara berjualan.

Ayah hanya perlu membantu mencarikan atau mengantarkannya mencari barang yang belum ada. Ibu membantu menyiapkan makanan untuk Zhafi berjualan.

Hari ini, Sabtu, dia pun berinisiatif menyeterika pakaiannya sendiri. Suatu kali, jauh sebelum hari ini, pernah terjadi percakapan ini:
Ibu: Mas, mau belajar nyetrika?
Zhafi: Aku udah tau kok caranya nyetrika. Kan udah pernah.
Hm... Mulailah si Ibu ceramah (duh...), bahwa keterampilan apa aja termasuk menyeterika dipelajari ngga sampai sebatas aku tahu. Untuk terampil, harus latihan dan dilakukan berulang-ulang.
Dan yaah... Namanya cuma diceramahi, Zhafi hanya menjawab, "Iyaa."
Oke, dia belum ada kebutuhan untuk belajar menyetrika tampaknya. Mungkin masih merasa menyeterika itu mudah.

Ketika Zhafi hari ini mulai menyetrika pakaiannya sendiri, tampak dia mulai paham bahwa walaupun hanya menyeterika, untuk bisa menghasilkan setrikaan pakaian yang rapi itu perlu belajar trik-triknya.

Hanan:
Masih dengan latihan keterampilan dasar: mandi sendiri.
Masih terus semangat untuk mandi sendiri. Ketika si Ibu agak gregetan ingin 'membetulkan' cara mandi, Hanan protes. Pokonya mandi sendiri. Hihihi...

Tapi alhamdulillah, cara dia menyabuni dan menggosok badan sudah lebih urut. Yang masih agak sulit adalah ketika mengeringkan badan. Dan seringnyabketika mulai memakai baju, fokusnya mudah teralih ke hal hal lain. Jadi sering sekali dia sudah berlarian ke sana kemari dengan baju masih belum terpakai.

Soal fokus dan konsentrasi ini memang PR buat Si Ibu dan Hanan.

25/02/17

Menumbuhkan Kemandirian Sikap


#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#day2

Mas Zhafir, 10 tahun, akan berangkat camping bersama sekolahnya. Dalam hal packing kebutuhannya, dia sudah bisa mandiri. Dia juga bisa diandalkan untuk bertanggung jawab terhadap barang-barang miliknya.

Sebenarnya, Zhafir sudah pernah mencuci baju sendiri, menjemur, dan menyetrika. Tapi masih sulit memintanya melakukan secara rutin. Paling memungkinkan adalah seminggu sekali.

Keterampilan yang sifatnya praktis sudah bisa dilakukannya. Konsistensinya yang perlu ditumbuhkan. Kemandirian dalam bersikap dan mengendalikan emosi juga perlu ditumbuhkan.

Jadi harapannya, Zhafir bisa tumbuh kesadarannya untuk konsisten.

Hari ini Zhafir tanpa dipinta sudah menyeterika pakaiannya sendiri. Karena jarang menyeterika, hasilnya masih kurang rapi. Tapi apapun hasilnya, itu adalah hal yang saya apresiasi. Sesekali dia mengeluh, hasil setrikanya kurang rapi. Saya sampaikan, menyeterika itu juga salah sati keterampilan. Perlu belajar dan melakukannya rutin untuk bisa serapi yang kita inginkan.

23/02/17

Melatih Kemandirian Day#1


#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Mengajarkan kemandirian untuk anak anak memang butuh ketelatenan dan rasa tega.

Hanan di usianya yang menginjak 6,5 tahun, sudah bisa:
1. Makan sendiri, dari mulai mengambil piring dan gelas, lalu menaruh makanan di piring, menggunakan sendok atau tangan, makan dan tidak menyisakan makanan di piring, sampai menaruhnya di tempat cuci piring.
2. Buang air kecil sendiri di rumah. Kalau di tempat umum belum benar benar dilatih. Karena kalau di tempat umum, ibunya masih belum tega.
3. Merapikan mainanannya sendiri. Tapi ini pun sebetulnya masih kadi pekerjaan rumah. Saya masih harus tarik urat untuk meminta Hanan membereskan mainannya. Karena sering kali dia kekeuh menolak.

Ada beberapa poin latihan kemandirian yang ingin dilatihkan ke Hanan:
1. Mandi sendiri. Dari mulai melepas baju kaos/kemeja berkancing, celana (ini sudah bisa), mengguyur air ke badan, menyabuni dan menggosok, membilas tubuh, dan mengeringkan tubuh dengan handuk. Termasuk juga melatih adab-adab di kamar mandi, dam doa doanya.

2. Melatih BAK mandiri di tempat umum. Melepas celana tanpa terkena lantai, menggunakan air di kamar mandi umum (terkait higinitas), termasuk juga doa dan adabnya

3. Membereskan mainannya secara mandiri tanpa diingatkan atau diinstruksikan.

4. Melatih BAB mandiri. Seperti BAK, plus membersihkan dubur dengan sabun.

Ini hari pertama Hanan berlatih mandi sendiri.
Alhamdulillah, Hanan pun sepertinya memang siap untuk melakukannya. Dia sudah bisa melepaskan baju kemeja berkancing dengan sedikit sekali bantuan. Hanan sedikit kesulitan melepas kancing paling atas yang dekat leher.
Untuk adab dan doa, masih terus diingatkan.
Untuk menyabuni dan menggosok tubuh sudah berusaha dilakukan sendiri. Hanya sedikit bantuan di bagian punggung dan leher.
Ketika mengeringkan tubuh masih perlu banyak arahan.

Semangat terus yaa Hanan. Yes, You Can. Yes, We Can!

19/02/17

Keran Komunikasi Kami...?


Anak anak udah pada tidur. Lagi berduaan aja dengan suami. Tapiii... Suami lagi pegang hp, saya pun lagi ngelanjutin rajutan. Tetiba pengeeennn banget ngobrol berkualitas.

Jiaah... Selama ini ngobrol memang ga berkualitas?

Yaa... Gimana ya? Ngobrolnya lebih sering sambil lalu. Nanya hal yang teknis-teknis. Jarang bicara dari hati ke hati. Entahlah, saya itu perempuan, tapi tipe yang ngga banyak ngomong.
Kadang memang males ngomong, kadang memang ga bisa ngungkapinnya.

Akhirnya, lagi-lagi berusaha dengan keras memberanikan diri memulai pembicaraan.
"Pengen ngobrool".
"Iya, ada apaa?"

Sebenernya banyak yang ingin diobrolin. Tapi ada beberapa topik pembicaraan yang saya belum berani menyampaikannya.

Nah loo... Semoga hubungan pernikahan kami ngga dibilang aneh yaa karena hal itu. Tapi..  Setiap orang bebas aja sih menilai.

Iya... Keran komunikasi di antara kami memang ngga selancar yang kuharapkan. Kendalanya... Sebagian besar mungkin dari saya. Saya ngga biasa cerita, ngga biasa ngobrol, masiih juga sering sulit bagaimana mengekspresikan dengan baik apa yang saya rasakan dan pikirkan. Khawatir salah cara saya menyampaikan.

Dari kecil, saya memang orangnya pendiam dan pemalu. Cenderung ngga percaya diri. Baru lumayan bisa teratasi waktu kelas 3 SMU, berkat teman perempuan sebangku saya, dan beberapa teman segeng. Hiks... jadi kangen pengen ketemuan.

Walaupun begitu, sifat asli saya yang masih ngga pedean dan ngga bisa banyak ngomong ini masih melekat. Masih sering canggung ketika berhadapan dengan orang orang tertentu.

Singkat cerita, obrolan dengan suami tadi curhat tentang keinginan mengembangkan diri dengan keterampilan crafting yang baru kupelajari plus kegiatan berkebun. Butuh dana, ambil dari pos mana. Karena saya belum punya penghasilan sendiri. Hanya kadang kadang saja dapat komisi dari menjualkan produk orang lain.

Kesimpulannya, suami akan siapin dananya, harapannya bisa dijadikan modal, dan keterampilannya juga bisa memberikan pendapatan.

Alhamdulillah... Lega karena dua hal. Satu, karena sudah tersampaikan kebutuhan untuk ngobrol. Dua, karena suami mau siapkan dananya (baca: modal).

Tinggal tantangan lain nih: konsisten!

14/02/17

Tantangan Mendidik


#komunikasiproduktif
#bundasayang
#berusahakonsiten

"Mengajak Hanan murojaah itu tantangan tersendiri buatku"
Aku membuka pillow talk dengan suami.

Ya... Mendidik anak adalah tantangan seorang ibu (dan ayah) selama usia mereka masih di bawah tanggung jawab orangtua.

Untuk kasus Hanan, tantangan kesabarannya adalah, menerima dengan ikhlas bahwa Hanan memiliki kecepatan belajar yang berbeda dengan anak-anak lain pada umunnya.

Perlu ada tambahan perlakuan dan terapi. Bukannya kami tidak pernah mengusahakannya. Hanya saja, kami masih mencari terus mana yang terbaik.

Dan setelah menyampaikan ke suami, mengenai tantangan tantangan yang kuhadapi selama membimbing Hanan dengan belajar mengajinya, lega hati ini karena beban sudah terkurangi.

10/02/17

Kesadaran


Menyadari bahwa aku telah banyak berbuat dosa ke anak anak selama ini. Aku bertekad mengubah diri.

Bonding yang selama ini alpa kujalin dengan anak-anak, komunikasi yang selama ini cenderung satu arah dan otoriter, kemalasanku dan ketidak sabaranku menjalani perankubsebagai ibu, ketidakbersadaranku menjalani tanggung jawabku.
Betapa akubsudah menjadi ibu yang buruk selama ini.

Terlalu malas, terlalu cuek, terlalu abai.

Lihatlah Hanan sekarang... Di usianya yang ke 6 ini, fitrah keimanannya belum terbentuk. Lihatlah Zhafi, di usia yang ke 10 ini, aku masih harua menghadapi sikap tidak dewasa.

Yaa... Bahkan sampai usia ku yanh ke 34, aku masih seperti anak-anak. Masih belum dewasa.

Bertekad, untuk semakin mendekat kepada Allah. Berazam, untuk menjalankan peranku dengan penuh kesadaran. Bahwa menjadi ibu memang berpeluh. Tak perlu cari enaknya di dunia. Karena lelah yang kucoba nikmati sebagai ibu, ins yaa Allah menjadi jalanku ke surga. Harapanku.

Ikhlas... Sekali lagi ikhlas. Segala kebaikan yang kulakukan kelak menjadi sedekahku. Bismillah ...
Bismillah...
Kuazamkan, untuk menjalani lelah sebagai ibu hanya untuk mendapatkan rahmatmu.

Tolong jangan cabut kesadaran ini dariku lagi ya Allah!

07/02/17

Harta Karun Rahasia Mas Zhafi


Selama seminggu ke depan, dari tanggal 6-10 Februari, sekolah Mas Zhafi, Sekolah Alam Tangerang mengadakan pekan literasi. Salah satu kegiatannya adalah belajar menulis puisi.

Kemarin dapat laporan dari guru wali kelas Mas Zhafi. Ada 2 karya puisi dari 2 siswa kelas 4 yang menarik perhatian pemandunya.  Salah satunya adalah puisi karya Mas Zhafi.

Puisinya berjudul "Gag". Gaya penulisannya jenaka dan jujur, begitu komentar Kak Rahma, yang memandu mereka berkarya menghasilkan puisi.

Saya, ibuknya, jujur suka terkaget sendiri. Beberapa kali saya mendorong dia untuk menulis. Menuliskan apa saja. Resume buku, atau resume film atau video yang dia tonton, atau pengalaman dia sehari hari. Tapi tampaknya Mas Zhafi belum minat menulis. Sesekali saya sedikit memaksa dia menulis sesuatu. Apa saja. Karena hanya sekedar ajakan, dorongan, tampaknya dia belum tergerak. Tapi memaksa pun juga khawatir jadi kontraproduktif.

Dia sukaa sekali membaca. Apa saja di baca. Dan alhamdulillah yanh dibaca bukan buku komik jepang lho. Tapi cerita anak, sejarah nabi, komik klasik seperti Tintin, pengetahuan umum, dan novel. Gurunya bilang, kesukaannya membaca bisa jadi dasar mengembangkan diri menjadi penulis. Harapan besar buat kami. Hanya saja, kami masih belum menemukan cara bagaimana menumbuhkan minat menulisnya.

Di kelas 4 ini, seluruh siswa didorong untuk banyak menulis. Salah satu challenge nya adalah, setiap anak harus memiliki buku harian dan jurnal. Di rumah, setiap sore atau malam, atau pagi sebelum berangkat sekolah, mas Zhafi tampak asyik menulis jurnal kegiatannya.

Dan projectnya minggu ini adalah mengirim email ke "kakak inspiratif" di luar negeri.

Semoga,  semoga, ini memantik potensi dan motivasi Mas Zhafi dalam bidang tulis menulis.

Saya dan Ayahnya juga berharap, Mas Zhafi bisa jauh lebih semangat berkarya yang lebih banyak dan lebih baik lagi.

03/02/17

3 Februari 2017


Tantangan bunda sayang
#day11
Sabtu, 3 Februari 2017

Besok hari Sabtu. Kami berkumpul di meja makan, membicarakan agenda masing-masing. Ayah mau merapihkan tanah kosong dibelakang rumah, ibu berencana ingin ikut workshop menjahit, tapi tidak jadi karena sudah penuh kelasnya. Akhirnya ibu berencana menghadiri pertemua orangtua dengan guru sekolah adik Hanan. Setelahnya, membereskan rumah. Mas Zhafi akan memulai lagi latihan wushunya. Setelah 2 bulan sebelumnya istirahat dulu.
Setelah itu, sorenya kami semua berangkat ke rumah Eyangti ke Rawasari.

Cari Blog Ini

Google+ Followers

 

Life Of A Mom and A Wife Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez