28/10/16

Barakallahu Fiik, Hanan Sayang


Hari ini, dibuat takjub dan bersyukur lebih dan lebih lagi.

Hanan ituu...
Tarik tarik ibunya belajar a ba ta...
Diajak sholat ngga usah berkali kali. Bahkan saat dia udah ngantuk dan ketiduran di kursi, ketika melihat aku berwudhu, dia langsung bangkit dari tempat duduknya dan bilang mau wudhu. Isya ini, kukira dia bakal bablas ketiduran ngga sholat, alhamdulillah dia sholat!

Adab malam seperti menutup pint jendela, menebah kasur juga sudah dilaksanakannya.

Semoga, kelak dirimu benar jadi anak sholeh. Sholeh dalam arti yang sebenar-benarnya.

27/10/16

Ketetapan Hati


Hari ini Allah menunjukkanku banyak peristiwa yang membuatku mengambil hikmah.

Kejadian yang menimpa sahabat sekaligus guruku, Bunda Nia, sungguh suatu tamparan besar buatku. Kejadian yang menguatkan kebenaran suatu ayat yang kurang lebih isinya: bahwa tidak akan seseorang memperoleh surga tanpa melewati ujian demi ujian.

Allah sedang menguji Bunda Nia dengan ujian yang sesuai dengan tingkatnya. Menguji keikhlasannya meniti jalan dakwah.

Dan aku? Awalnya aku merasa kecil, malu, bahwa apa yang kualami ini ngga ada sepersekiannya dari yang dialami Bunda Nia

Tapi kemudian seorang sahabat, Ambu Firda, punya pendapat lain. Tiap orang mendapatkan ujiannya masing masing. Dan inilah ujianku. Pola interaksiku dengan suami yang masih belum bisa saling memahami. Juga kondisi pribadi yang masih belum selesai urusannya. Karena bawaan kami yang memang sulit terbuka satu sama lain.

Dan sepanjang sore, dorongan untuk menyampaikan apa yang selama ini kupendam sudah mencapai titik tak tertahankan lagi. Aku sebenarnya tidak tega melihat dia yang kecapekan dan ngantuk. Tapi masalah ini harus selesai. Kalau tidak, bagaimana aku nanti menjalankan peranku? Pastinya berpengaruh kepada interaksiku dengan anak anak. Dan lebih parah lagi, kesalahpahaman semakin berdampak buruk kepada interaksiku dengan suami.

Alhamdulillah... Kami sudah bicara dari hati ke hati. Mengungkapkan apa yang selama ini terpendam. Mempertanyakan apa yang selama ini jadi pertanyaan yang hanya tersimpan.

Aku bersyukur ada kesempatan bicara. Jadi aku bisa lebih memahami kondisi dan kemampuannya. Dan aku bisa legowo untuk tidak menuntut harapan yang selama ini kusimpan.

Bismillah... Semakin menguatkan niatku, untuk menjalani peranku sebagai istri dan ibu dengan lebih optimal lagi.

Karena, tanpa aku sadari, apa yang selama ini dilakukan suamiku adalah sesuatu yang luar biasa besar nilai pengorbanannya demi keluarga.

Ia memang tidak mengungkapkan secara verbal dan non verbal. Tapi menunaikannya dalam bentuk tanggung jawab. Dan itu semakin kupahami setelah pembicaraan malam ini.

Setelah malam ini, dengan segala daya upaya yang hanya dariNya, aku kuatkan niat untuk menemaninya, melayaninya, menentramkannya, mendukungnya, dan membantunya mewujudkan apa yang menjadi impian dan harapannya. Tidak untuk mengharap balasan darinya. Semata-mata karena mengharap ridho Allah. Cukup itu saja tujuannya. RidhoNya.

Semoga Allah kuatkan aku.
Semoga istiqomah.
Semoga Allah selalu tuntun niatku supaya tetap lurus adanya.

Nice Homework #2, Done


NHW #2 kali ini, adalah membuat checklist Indikator profesionalisme perempuan.
Gunanya, supaya kita melakukan perubahan secara terstruktur yang akan meningkatkan kemampuan kita sebagai individu, sebagai istri, dan sebagai ibu.
Untuk itu, saya mencoba membuat beberapa indikator. Yang dibantu oleh suami dan anak. Supaya saya mendapatkan gambaran apa yang mereka harapkan dari saya sebagai istri dan sebagai ibu.
A. Sebagai pribadi
- melaksanakan sholat lail setiap malam selama 30 hari tanpa putus  dan dilanjutkan seterusnya (kecuali saat haid)
- melaksanakan sholat dhuha setiap pagi selama 30 hari tanpa putus  dan dilanjutkan seterusnya (kecuali saat haid)
- membaca 1 buku dalam 1 bulan dan membuat resumenya.
- tilawah minimal 1 lembar (2 halaman) perhari dengan artinya, dst.
B. Sebagai istri
- selalu mengambilkan minum setiap kali suami pulang dari kerja/kampus, atau bepergian.
- menyiapkan jus sayur setiap sore/ malam
- menyiapkan pakaian yang sudah diseterika
- menyambutnya dengan senyum tulus setiap kali pulang kerja/kuliah, dst.
C. Sebagai ibu
- menyiapkan makanan kecil yang aman, halal, thoyib untuk anak-anak setiap harinya (bisa belajar resep baru, atau pesan ke teman)
- menyediakan waktu 30-60 menit setiap harinya untuk ngobrol, bercanda, atau apapun, untuk memberikan rasa nyaman kepada mereka
- membimbing anak ketika belajar dan bermain
- dst.
Checklist di atas akan dilakukan secara konsisten mulai tanggal 16 November 2016. Kemudian akan dievaluasi setiap 1 bulan. Jadi, evaluasi pertama yaitu tanggal 15 Desembar 2016



26/10/16

Luapan Rindu


Ketika Allah menciptakan Hawa, Adam bertanya pada Hawa,
"Untuk apa kamu diciptakan?"
Hawa menjawab, "aku diciptakan untuk menemanimu."

Saat Fathimah bercanda dengan Ali, ada candaan Fathimah yanh membuat Ali marah. Menyadari itu, Fathimah meminta maaf kepada Ali, dan Ali memaafkan. Namun Fathimah masih merasa tidak tenang. Keesokan harinya, Fathimah mendatangi Sang Ayah, Rasulullah SAW, dengan wajah panik.

Seketika itu, Rasulullah bertanya dengan khawatir kepada Fathimah, putri yang dicintainya.
"Ada apa, Fathimah?"
"Ayah, semalam aku bercanda dengan Ali, dan rupanya Ali merasa tersinggung dengan candaanku. Aku meminta maaf dan dia sudah memaafkanku. Tapi aku masih merasa gelisah. Bagaimana ayah?"

Menanggapi penuturan putri tercintanya, Rasulullah menjawab dengan tegas,
"Seandainya Ali belum ridho terhadapmu, aku tidak mau melihatmu."

Saat ini aku melepas semua egoku. Tidak terbayangkan rasanya Rasululullah memalingkan wajahnya dariku karena aku membuat suamiku tidak ridho padaku.
Tak terbayangkan seperti apa jika Ia dan semua malaikatNya melaknatku satu malam itu.

Tidak lagi aku memikirkan tujuan pribadiku, karena sesungguhnya tujuanku adalah ingin bertemu dengan junjunganku seorang, Nabi Tercinta.
Tak lagi aku hirau mengharap pamrih dan cinta siapapun, karena yang kukejar adalah cintaNya.

Dan suamiku, dia adalah orang yang karena Dia, aku menaatinya.
Karena Dia, aku menemaninya.
Karena Dia, aku mencintainya.

-menahanrindu-

24/10/16

Mengejar Sarwana


Mengejar Sarwana

Nama Sarwana menjadi populer beberapa tahun belakangan ini. Desa yang terletak di Propinsi Banten ini dikenal memiliki tempat wisata pantai yang indah dan disebut-sebut sebagai the "Hidden Paradise".

Terbesitlah keinginan saya untuk bisa mengunjunginya. Tapi pada waktu pertama kali mendengar kawasan Sawarna itu, konon untuk mencapai ke sana aksesnya tidak mudah. Untuk mencapai kota terdekat dengan Sawarna saja harus menempuh perjalanan 5 jam dari Jakarta. Dan untuk mencapai desa Sawarna, membutuhkan waktu 1 jam lagi. Sampai di Sawarna, memasuki kawasan pantai yang indah belum ada akses langsung, tapi harus menggunakan jasa ojeg. Karena jalanan yang sempit dan terkadang masih terjal.

Beberapa kali, Zhafir pun minta kami mengajaknya ke pantai. Bukan pantai Ancol tapinya, karena sudah pasti bosan. Akhirnya, awal bulan Mei kemarin, kami punya kesempatan untuk pergi ke kawasan Sawarna.

Setelah mendapatkan informasi melalui internet dan dari beberapa teman yang sudah pernah ke sana, kami pun membuat rencana perjalanan.

Hari Jumat tanggal 6 Mei, saya sekeluarga, mengajak kakak sekeluarga dan adik untuk piknik ke sana. Berangkat dari Jakarta sekitar jam 7.30. Tujuan pertama kami adalah Kota Malingping. Kota ini juga memiliki pantai pasir putih yang cukup menarik, yaitu Pantai Bagedur.

Kami tiba di Malingping sekitar jam 1 siang. Setelah mengisi perut dengan sajian nasi padang dan mendapatkan tempat untuk menginap, kami langsung pergi ke Pantai Bagedur.

Pantainya tidak jauh, hanya 15 menit dari pusat kota Malingping. Pantai yang masih cukup alami dan belum ramai pengunjung. Saat itu sekitar jam 3 sore waktu kami tiba di sana.

Zhafir senang bukan main. Akhirnya setelah berkali-kali mengajak ke pantai, kesampaian juga. Adiknya juga luar biasa senangnya. Aku, anak-anak, dan ayahnya anak-anak membiarkan baju kami basah terkena sapuan ombak pantai... Hmmm asiikk.

Jam 4, kami cabut dari situ. Penasaran dengan nama Pantai Binuangeun, pergilah kami ke sana. Tapi kami agak kecewa karena pantai yang merupakan pantai nelayan itu ternyata kotor. Untungnya, di situ kami bisa bawa pulang rumah kerang cantik yang sudah kosong. Juga beberapa karang yang sudah mati.

Kami kembali ke penginapan di Malingping untuk beristirahat. Karena kami berencana untuk ke Sawarna besok subuh. Menurut beberapa warga, kalau ke Sawarna sebaiknya pagi atau subuh. Supaya terhindar macet.

Keesokan paginya setelah sholat subuh, kami chek out dr pebginapan dan langsung menuju tempat tujuan. Perjalanan berbekal nasi uduk untuk sarapan ini menyenangkan, karena disuguhi pemandangan pantai yang wow keren. Memang pantai sepanjang Malingping-Bayah ini indah banget.

Sekitar 1,5 jam perjalanan, kami akhirnya tiba di kawasan wisata Sawarna. Mobil kami parkir di taman parkir yang sudah disediakan. Beberapa tukang ojeg langsung menghampiri kami dan menawarkan jasa. Ternyata ada banyak situs wisata menarik di kawasan itu yang tidak bisa dicapai dengan mobil. Disitulah rejeki Si Tukang Ojeg. Mereka menawarkan jasa paket wisata, yang rutenya Pantai Tanjung Layar (iconnya Sawarna), Pantai Legon Pari, dan beberapa Goa yang saya lupa namanya. Paketnya dihargai Rp 150.000 pulang pergi. Tukang ojegnya pun bersedia menunggui kita di sana bermain sampai puas.

Tapi kita juga bisa kok kalau hanya memilih diantar sampai Pantai Tanjung Layar. Cukup hanya membayar Rp 10.000 saja, bukan PP. Jangan khawatir, di Pantai Tanjung Layar ada banyak tukang ojeg yang mangkal, yang siap mengantarkan kita kembali ke taman parkir dengan biaya yang sama.

Lalu kami pilih perjalanan ke mana nih? Kami putuskan menikmati dulu pantai yang terdekat dengan taman parkir. Orang-orang menyebutnya Pantai Pasir Putih. Hanya butuh berjalan kaki 5 menit untuk sampai di Pantai itu. Pemandangan dan ombaknya cantik juga, kok. Zhafir langsung berbasah-basahan di sana.

Dari situ kami sudah bisa melihat dimana Pantai Tanjung Layar. Disebut Tanjung Layar karena di pantai itu terdapat batu karang besar yang berbentuk seperti layar. Dan batu karang itulah yang terlihat dari tempat kami. Jaraknya 1,5 km.

Kami lalu mencoba berjalan menyusuri pantai ke batu karang itu. Kesannya jauh ya? Haha, memang jauh. Tapi bagi saya ngga terasa karena sambil menikmati ombak dan pemandangan yang cantik.

Kami malah menemukan titik titik tempat yang cantik untuk difoto atau untuk ber-selfy ria.

Akhirnya sampai juga di Pantai Tanjung layar. Waw... Cantiknya. Pantainya berkarang dan banyak ikan ikan kecil yang berenang renang di antara karang itu. Selain batu karang besar berbentuk layar, hal unik lainnya adalah, batu karang yang bentuknya seperti persegi, dan ketika ombak pecah menabrak batu itu, jatuhan air ombaknya terlihat seperti air terjun. Ih... Keren deh.

Saat itu masih sekitar jam 10 pagi. Si ayah menemani anak anak bermain di pantai karang itu. Sementara saya dan yang lainnya duduk di saung menikmati pemandangan. Sesekali ikut juga nyemplung.

Semakin siang, air laut di antara karang karang itu semakin surut. Semua yang pada berenang tadi berbilas bilas. Lalu kami kembali ke taman parkir dengan jasa tukang ojeg.

Kami langsung berencana pulang. Tidak seperti perjalanan berangkat yang relatif lancar dari rumah sampai Malingping, perjalanan pulang dari setelah Malingping sampai Jakarta padat dan macet.

Dan... Sampai di rumah sudah jam 12 malam. Alhamdulillahh...

Rumah Kami, 25 Mei 2016

22/10/16

Nice HomeWork #1, Done


Saya beruntung tergabung di grup ibu-ibu hebat Institut Ibu Profesional.
Kali ini saya sedang mengikuti perkuliahan singkat yang diselenggarakan oleh IIP, yaitu program Matrikulasi IIP, yang tujuannya untuk meningkatkan ilmu dan keterampilan sebagai ibu agar menjadi ibu yang profesional. Karena menjadi seorang ibu itu adalah tugas besar dan menbutuhkan ilmu.
Tentunya saya masih jauh dari sosok ibu yang profesional. Tapi semoga langkah-langkah kecil yang saya lakukan, ikhtiar saya ini yang in syaa Allah tidak akan berhenti, bisa menjadi pemberat timbangan amal saya kelak. Aamiinn.
Perkuliahan sesi pertama sudah dimulai. Ada tugas yang harus dikerjakan setelah mengikuti setiap sesinya. Tugas atau yang di sini dinamakan nice homework pada sesi pertama ini adalah menjawab 4 pertanyaan yang saya tuliskan dengan cetak tebal miring di bawah ini. Dan jawaban dari masing-masing pertanyaan sudah saya tuliskan.
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Ilmu yang akan saya tekuni dalam universitas kehidupan ini adalah ilmu parenting.
2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
Saya memandang Ilmu parenting, khususnya yang sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW, adalah ilmu yang tidak hanya bicara mengenai mendidik anak dalam arti sempit, yaitu bersikap terhadap anak. Namun, bagaimana menjadi pribadi yang shalih yang akan menjadi teladan bagi anak. Karena tujuan kami adalah melahirkan dan membentuk keturunan yang shalih dan shalihah.
Bagaimana bersikap sebagai manusia dengan banyak peran yang dimilikinya, sebagai ibu/ayah, sebagai istri/suami, sebagai anak, dan sebagai hamba Allah. Bagaimana kami sebagai orangtua, -khususnya saya sebagai ibu- menjalankan peran-peran itulah yang akan diteladani anak. Dan untuk bisa menjadi teladan yang benar, selayaknya kita meneladani sosok yang layak, yaitu Nabi Muhammad Saw.
Kami sebagai orangtua mengharapkan memiliki keluarga dengan akidah yang kuat dan memperoleh  keturunan yang shalih/shalihah, sebagaimana yang dimiliki Nabi SAW.
Sehingga meneladani Nabi SAW dalam setiap aspek kehidupan adalah ikhtiar kami sebagai orangtua dalam mendidik anak. Untuk menjadi teladan bagi mereka.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
a. Menghadiri kajian ilmu al quran dan hadits, untuk memperdalam ilmu agama sebagai landasan penting dalam mendidik anak
b. Memperbanyak membaca literatur dan menghadiri kajian parenting, terutama parenting nabawiyah.
c. Mempelajari hadits-hadits dan siroh nabawi, untuk mendapatkan gambaran bagaimana keseharian Nabi SAW, dengan bimbingan guru yang kompeten.
d. Lebih disiplin dan konsisten menjalankan kewajiban dan sunnah sebagai muslim, dan meninggalkan larangan Allah SWT. Misal sholat tepat waktu, menjalankan rukun Islam, memperbanyak dan merutinkan ibadah-ibadah sunnah.
e. Menjalin komunikasi yang produktif dengan suami supaya bisa berjalan sinergis menjalani peran sebagai orangtua.
f. Disiplin dan konsisten untuk menyegerakan beramal sholih setelah memiliki ilmunya yang sesuai tuntunan Al Quran dan Hadits. Karena ilmu menjadi berkah jika bermanfaat untuk orang di sekitar.
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
a. Bersikap ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari pikiran buruk,
b. Bersikap rendah hati dalam menerima ilmu,
c. Mencari guru/mentor/pembimbing yang kompeten dalam mendalami ilmu parenting,
d.  Meningkatkan sikap disiplin dan istiqomah untuk terus belajar, lalu mengikat ilmu dengan menuliskan resumenya dan mengamalkannya.
Semoga diteguhkan hati ini untuk terus melakukan yang terbaik.

09/10/16

Bahagia Itu...


Bahagia itu...
Ketika Hanan sudah mau melaksanakan sholat 5 waktu. Walau yang dimaksud 'sholat' baru sebatas melakukan gerakan sholat dan membaca Al Fatihah, di waktu waktu sholat. Belum dengan konsisten berwudhu. Masih belum konsisten untuk mau memakai sarung atau celana panjang.

Bahagia itu...
Ketika Hanan mau menjalankan 1 kebiasaan adab malam. Yaitu menggibaskan tempat tidur sebelum tidur. Bahkan ditambah dengan merapihkan bantal guling.

Bahagia itu...
Ketika Hanan memelukku dan mengatakan, "sayang ibu"

07/10/16

Shalih Itu Bukan Sekedar Rajin Sholat dan Pintar Mengaji


shalih/shalihah itu...
bukan sekedar rajin sholat, rajin ngaji, punya banyak hapalan surat. bukaaan
bukan sekedar patuh pada orangtua dan guru. bukaaan

shalih/shalihah itu...
memiliki iman dan aqidah kepada Allah, sehingga apapun yang dilakukannya itu karena Allah. karena mengejar ridho dan cintanya Allah. sholat, ngaji, menghapal bukan karena ingin dipuji manusia tapi karena ingin dicintai Allah.
menghapal tidak sekedar menghapal tapi memahami dan mengamalkan Alqur'an. dan semuaaa yang ada di alQur'an itu adalah hukum bagi semua manusia. termasuk bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia dan lingkungan.
apalagi disertai dengan menjalankan sunnah Rasulullah. menjadikan Rasulullah panutan karena kita tahu Rasulullah memiliki pribadi yang luar biasa mulia, sehingga dicintai umatnya, lisan dan sikapnya mencerminkan kecerdasan hati yang tinggi.

dan menjadi shalih/shalihah itu adalah menjadi pribadi yang mengejar cinta Allah dan mencintai Rasulnya.
tau bagaiman rasanya dan apa yang dilakukan ketika jatuh cinta dan mengejar cinta seseorang?
pasti jadi jaga image kalau ketemu. hanya melakukan hal-hal yang disukai orang itu. lalu ikut-ikutan melakukan apa yang dilakukan orang itu.
jadi jaga image sama Allah saja. Allah pasti melihat kita. jangan sampai Allah melihat kita melakukan hal-hal yang ngga disukaiNya, apalagi yang membuat Dia murka.
meniru apa yang dilakukan Rasulullah. dalam beribadah, berinteraksi dengan manusia dan lingkungannya, dalam berorganisasi, dalam berdagang.

kalau rajin sholat dan pintar ngajinya tidak membuat perilakunya dalam keseharian menjadi mulia dan tidak memberi manfaat bagi sesama, belum bisa dibilang shalih.
shalih itu, adalah mengejar cinta Allah, dan mencintai Rasulullah. sehingga apapun yang dikatakan dan dilakukannya, adalah karena dua hal tersebut.

kejar cinta Allah dengan benar, cintai Rasulullah dengan benar. caranya... dalami ilmunya. pelajari dengan benar. jangan pernah merasa cukup dengan ilmu tentang agama, dalam hal ini Islam.

#pengingat untuk diri sendiri
#semoga diberikan keturunan yang shalih/shalihah

Referensi tentang makna shalih bisa dilihat di http://buletinmi.com/shalih-menurut-al-quran-edisi-39/


Bersekolah


berkumpul bersama sahabat dan teman yang shalih itu nikmat yang luar biasa
itu yang kurasakan saat ini.
menunggui Hanan belajar mengaji di Lembaga Tahfidz Qur'an, bersama ibu-ibu yang lain, dilakukan sambil berbagi kisah, berbagi ilmu.
begitupun ketika berkumpul dengan sesama emak orangtua siswa Sekolah Alam Tangerang di beberapa pertemuan, seperti kelas bahasa arab, kepengurusan komite sekolah, dsb.
kadang sekedar ngobrol biasa, kadang belajar ilmu agama yang selama ini belum kita tahu, kadang belajar merajut, kadang berbagi makanan.
rasanya nikmat mana lagi yang kamu dustakan, Rie.


nikmat ini berawal dari keinginan aku dan suami memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak. rezeki kami bisa menyekolahkan anak-anak di lembaga pendidikan yang baik.

di LTQ, kami belajar bahwa perlu tumbuhkan iman dulu sebelum al qur'an, dan adab dulu sebelum ilmu. tumbuhkan kecintaan dan keyakinan kepada yang ada dalam rukun iman, baru belajar Al Qur'an. tanamkan adab dulu baru belajar pengetahuan.
di SAT, kami pandang bisa memberikan pendidikan yang baik buat Zhafi karena aku tidak ingin anakku terjejali dengan hal-hal yang sangat akademis tapi menumpulkan hati, nurani, adab, dan moralnya.

sering aku dengarkan curhatan dari emak lainnya yang kebetulan bersekolah di sekolah negeri, swasta lain, atau umum. anak sejak kelas 1 sudah harus menanggung beban berat pelajaran sekolah. tidak hanya membebani otaknya, tapi juga membebani tubuhnya karena harus membawa banyak buku setiap hari pergi dan pulang sekolah.
sementara sekolah tidak memberi tempat bagi berkembangnya aspek pribadi lain dari anak. moral, adab seakan nomor sekian dibanding target pencapaian akademis.


sedih. prihatin.

lihatlah, banyak orang 'bersekolah' tapi tak miliki adab yang baik. di jalan raya, lampu lalin dan rambu cuma jadi pajangan. hanya berfungsi kalau ada polisi. jalan, taman, sungai, dan ruang publik seakan disediakan sebagai tempat sampah besar bagi semua orang.

jadi, ketika menemui sekolah atau lembaga pendidikan yang baik bukan dinilai dari sisi akademis saja. dan alhamdulillah, kami beruntung menikmatinya. tidak hanya anak kami yang bersekolah. kami orangtua, khususnya ibu mendapatkan pendidikan juga. baik dari program parenting yang didapat dari sekolah, juga dari pergaulan dengan sesama emak yang juga shalihah.


doa kami, semoga kelak sekolah di manapun di Indonesia, lebih memperhatikan pencapaian anak dari aspek pembentukan karakter yang positif., tidak hanya sekedar akademis.

Cari Blog Ini

Google+ Followers

 

Life Of A Mom and A Wife Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez