12/09/14

Selalu Ada Celah Untuk Bersyukur



Kemarin sore aku bermaksud ke dokter gigi. Jarak klinik yang agak jauh, dan harus membawa serta Hanan ngga memungkinkan kami jalan kaki atau naik sepeda. Kendaraan yang ada di rumah adalah mobil. Ketika mobil kujalankan beberapa meter, mobil itu mengeluarkan bunyi ‘klontang-klontang’ yang sepertinya berasal dari sebelah kiri depan. Aku berhenti tidak jauh dari rumah. Lalu menelpon suami, menanyakan sudah sampai di mana. Setelah tau kalau dia sudah dekat sampai rumah, aku putuskan untuk menunggunya, dan pergi berobat gigi mengendarai motor yang dipakai suami. 

Aku lalu memutar balik mobil, untuk kembali ke rumah. Jalanan sebenarnya cukup untuk 2 mobil, tapi untuk memutar balik butuh upaya lebih. Karena merasa sudah biasa, aku lanjutkan putar balik. Sebenarnya bisa aja. Putar balik baru setengahnya, lalu aku merasa menabrak (tepatnya roda mobil kiri depan yang menabrak) sesuatu dan tak lama terdengar bunyi “pssss….”. Aku merasa mukaku pias. Perasaanku mengatakan, bannya bocor parah, sangat parah.

Dan ternyata benar. Aku menabrak tiang cor-coran semen yang tergelatak di pinggir jalan itu. di tiang itu  ada kawat besar yang mencuat. Nah… kawat itulah yang menusuk ban roda depan dan membuatnya kempes.  

Muka panikku mungkin sangat terbaca. Aku ngga tau apa reaksi suamiku nanti. Yang pasti tidak senang. Dan memang, dia marah. Ngga habis pikir bagaimana bisa kejadian. Tapi marahya bukanlah marah yang meledak-ledak. Marahnya cukup dengan ekspresi yang aku baca dan beberapa patah kata aja.

Duh… aku mending dimarahin deh…. Biar ga makin merasa bersalah….

Setelah selesai dengan urusan ban, malamnya ketika akan mengambil smartphone di atas rak, hp itu terjatuh. Kurasa jatuhnya tidak terlalu keras. Tapi ternyata setelah kunyalakan, ketahuan LCDnya rusak. Patah hatiku jadinya. Aku baru saja memilikinya kurang dari 3 minggu. Sebelumnya, selama tiga bulan ngga pake HP sama sekali setelah HP jadul yang menemaniku sejak tahun 2009 akhirnya mati.

Akhir tahun 2012 pernah dibelikan BB, hanya bertahan 2 bulan lalu rusak. Setahun berikutnya dibelikan Samsung Galaxy, kecopetan di commline hanya 2 bulan setelahnya. Dan sekarang....?

Pecahlah tangisku.

Dengan kedua kejadian yang tidak menyenangkan kemarin, kok aku merasa dihukum. Atau mungkin ditegur. Mungkin aku terlalu sering lalai sejak kehadiran smartphone ku itu.,  
Dan aku cuma bisa ngeluh, tapi sering lupa bersyukur ...

Tapi keesokan harinya aku diperlihatkan kejadian yang membuatku merasa jauh lebih bersyukur, meski ‘kesialan’ baru menimpa.

Bibi yang jadi ART  datang dengan muka suntuk. Kerja pun seperti berangasan. Nyapu ngepel bunyi dag dug dag dug. Sapu dilempar. Hah… ada apa ini si Bibi. Ngga  lama terdengar dia bergumam-gumam sendiri, tapi cukup terdengar suaranya olehku. Aku datangi beliau dan bertanya, "Ada apa, Bi…?"

Rupanya dia sedang kesal dengan suami. Suaminya yang penghasilannya sebagai tukang ojek tidak sampai 100ribu perminggu, nekat minjam uang untuk membeli televisi. Uang yang dipinjam sebanyak 500.000. sementara gaji tetap sumbernya hanya dari si Bibi sendiri yang bekerja di rumahku. Si Bibi pun meluapkan kekesalannya sambil menangis. Dia kesal karena suaminya ngga bisa diandalkan untuk mencari nafkah. Sekalinya dapat uang dipakai untuk beli rokok dan kesenangannya saja. Lalu tanpa bicara dulu, seenaknya meminjam uang ke orang lain untuk beli televisi.

Si Bibi merasa terbebani, karena beban hutang mau tidak mau dia yang  tanggung. Padahal rumahnya hamper rubuh belum diperbaiki.

Duh Gusti…. Ampuni aku yang sering alpa dalam bersyukur… Kejadian tidak menyenangkan yang kualami tidaklah sebanding dengan kesusahan yang dialami si Bibi. Aku punya suami yang sangat baik, bertanggung jawab, dan sholeh. Sangat berbeda dengan suami si Bibi, yang tidak pernah sholat, sering alpa memberi nafkah, dan sering merusak perabot bila marah.

Think Creative! #6

Day 6 Pagi ini, Ibuk sudah siapkan sarapan berupa nasi putih, lengkap dengan lauk dan sayur. Tetiba, Adik Hanan keluar dari kamar, minta d...