07/02/17

Harta Karun Rahasia Mas Zhafi

Selama seminggu ke depan, dari tanggal 6-10 Februari, sekolah Mas Zhafi, Sekolah Alam Tangerang mengadakan pekan literasi. Salah satu kegiatannya adalah belajar menulis puisi.

Kemarin dapat laporan dari guru wali kelas Mas Zhafi. Ada 2 karya puisi dari 2 siswa kelas 4 yang menarik perhatian pemandunya.  Salah satunya adalah puisi karya Mas Zhafi.

Puisinya berjudul "Gag". Gaya penulisannya jenaka dan jujur, begitu komentar Kak Rahma, yang memandu mereka berkarya menghasilkan puisi.

Saya, ibuknya, jujur suka terkaget sendiri. Beberapa kali saya mendorong dia untuk menulis. Menuliskan apa saja. Resume buku, atau resume film atau video yang dia tonton, atau pengalaman dia sehari hari. Tapi tampaknya Mas Zhafi belum minat menulis. Sesekali saya sedikit memaksa dia menulis sesuatu. Apa saja. Karena hanya sekedar ajakan, dorongan, tampaknya dia belum tergerak. Tapi memaksa pun juga khawatir jadi kontraproduktif.

Dia sukaa sekali membaca. Apa saja di baca. Dan alhamdulillah yanh dibaca bukan buku komik jepang lho. Tapi cerita anak, sejarah nabi, komik klasik seperti Tintin, pengetahuan umum, dan novel. Gurunya bilang, kesukaannya membaca bisa jadi dasar mengembangkan diri menjadi penulis. Harapan besar buat kami. Hanya saja, kami masih belum menemukan cara bagaimana menumbuhkan minat menulisnya.

Di kelas 4 ini, seluruh siswa didorong untuk banyak menulis. Salah satu challenge nya adalah, setiap anak harus memiliki buku harian dan jurnal. Di rumah, setiap sore atau malam, atau pagi sebelum berangkat sekolah, mas Zhafi tampak asyik menulis jurnal kegiatannya.

Dan projectnya minggu ini adalah mengirim email ke "kakak inspiratif" di luar negeri.

Semoga,  semoga, ini memantik potensi dan motivasi Mas Zhafi dalam bidang tulis menulis.

Saya dan Ayahnya juga berharap, Mas Zhafi bisa jauh lebih semangat berkarya yang lebih banyak dan lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Menuju Cerdas Finansial

Mendapatkan badge Cerdas Finansial ini bukan lantas Ibuk memang punya kecerdasan finansial yang tinggi. Masih sangat jauuh dari itu. Masih b...