Jujur, saya tuh ngga suka masak. Hmm. tepatnya, memasak itu, walaupun aku punya impian pingin bisa jadi ibu yang pinter masak enak, tapi kegiatan memasak sendiri itu bener-bener dilandaskan pada mood. Masalahnya, mood untuk memasak ituu... suka susah munculnya...
Jadi, ketika Zhafi sekarang harus diatur bener-bener makannya, sebisa mungkin ngga makan jajanan dari luar. Karena lagi eksperimen mencari makanan pencetus alerginya ituh, mau ngga mau deh, niatkan diri untuk turun ke dapur, ngga sekedar 1- 2 jam, tapi mungkin 3 atau 4 atau 5 jam, total. :P
Pagi masak untuk sarapan dan bekal makan siang. Dulu, makan siang mengandalkan katering sekolah, sekarang.. ya bawa sendiri alias mbontot. Siang masak lagi, kalau lauknya habis, tapi kadang ngga masak juga, karena hanya berdua sama Hanan. Baru deh... sore berkutat lagi dengan bumbu dapur, sotil, ulekan, dan teman-temannya. Ngga cuma masak untuk makan besar aja, tapi juga buat cemilannya. Karena cemilan buat Zhafi kan jadi terbatas, kasian juga ngeliat dia iseng buka-buka kulkas tapi ngga nemu apa-apa yang bisa dia makan.
You know what.. untuk menumbuhkan niat dan mood memasak ini, saya khusus berdoa untuk itu. Iya, berdoaaa.... Jangan pernaahh deh remehkan kekuatan doa. Subhanallah yaa, memasak itu sekarang berasa lebih enteng dan asik. Walau harus ngulek berkali-kali ya hayuk aja. Alhamdulillah..
Jadii jadii... apa aja sih.... yang saya masak semingguan kemarin??
Senin
Tahu tempe kuning dan sayur
Cemilannya masih beli jajan pasar
Sayuran Sop
Selasa
Ikan Patin bumbu kuning
Cemilan bubur sumsum (masih bolak-balik liat resep)
Sayuran Capcay
Rabu
Ikan Gurame Goreng
Cemilan kue tepung beras isi gula merah (thanks to mbah Google untuk resepnyah)
Sayuran capcay lagi (hakks)
Kamis
Tempe dan Tahu goreng (haisshh... standar banged deh)
Cemilan bubur kacang hijau
Sayuran sop
Jumat
Ikan bawal bakar (nyontek resep duluu)
Cemilan bubur sumsum dan bubur kacang hijau
Sayuran cah sawi putih
Nah... nah...
Masih standar yaa... aslinya masak sedina yo mung pisanan alias sekali buat sehari. Hiahahah...
Tapi cukup puas juga sih, bagi orang yang ngga begitu suka masak seperti sayah... walau soal rasa... tampaknya suami dan anak-anak harus berbesar hati menerima cita rasa yang masih standar.... Tapiiiii.... masih tetap berusaha untuk bikin masakan sehat dan enak bin mak nyus. Biar anak selalu kangen sama masakan ibunyaa... ;)
22/02/14
21/02/14
Alergi oh Alergi....
Zhafi punya bakat alergi. Manifestasinya cukup kompleks,
rinitis (hidung meler sampai mampet dan kadang bikin nafas sesak), kulit gatal
(bruntusan dan eksim basah), mata berair.
Alergi apa?
Yang jelas, setiap kena udara dingin, hidungnya mulai
berair, lalu mampet akhirnya mau berbaring pun ngga nyaman, karena hidung
bumpet. Mata ikutan berair. Kasihan banget. Kalau dingin banget, sampai
bersin-bersin. Dan kalau kondisinya lagi ngga fit, didomplengi sama virus yang
bikin dia berlanjut ke batuk dan nafas yang sesak. Kalau sudah begitu,
inhalasi. Kadang sampai demam juga.
Mungkin juga alergi debu.
Nah yang bikin kulit dia bruntusan dan gatal-gatal nih yang
ngga tau apa pencetusnya. Makanan yang sepertinya (ini baru sepertinya, masih
ngga konstan juga) mencetuskan gatalnya adalah ikan tuna dan kue tart.
So, karena Zhafi pernah sakit yang lumayan serius bulan lalu
(GNAPS), yang kemungkinan bisa bermula dari infeksi di kulit ataupun saluran
pernafasan atas, kayanya alergi ini makin ngga bisa diabaikan. Memang ngga
bersebab akibat secara langsung, tapi, kalau melihat siklusnya... bisa aja...
yang tadinya Cuma alergi, lalu karena kondisi badan yang ngga fit kemudia didomplengi
virus atau bakteri. Seperti impetigo kemarin.
Jadi, aku bertekat untuk mencari tau nih, makanan apa sih
yang mencetuskan alerginya.
Jadi, berbekal penjelasan dan juklan dari dokter anak di
RSCM, aku memulai petualangan ini. konsekuensinya, aku harus rajin masak.
Selama 2 minggu ini, aku usahakan makanan Zhafi seputar
nasi, sayur, lauk tempe tahu dan ikan sungai. Cemilan pun ngga terigu dulu. Banyakan
dari tepung beras, pisang, atau kacang ijo. Dan yeay... berhasil selama
seminggu ini cemilan Zhafi bubur sumsum, kolak pisang, pisang bakar, bubur
kacang ijo, dan kue tepun beras beli di luar.
Dan makan besarnya, sayur, tempe, tahu, dan ikan sungai. Sebenernya
ngga boleh di goreng, tapi kok susah ya masak ikan sungai ngga digoreng, yang
ada amis aja. Hiks.
Hasilnya?
MASIH sodara-sodara!
Rinitisnya masih
Eksim dan bruntusannya juga masih, malah garuk-garuk sampe
berdarah.
Hiks...
Ini apa yang salah? Cemilannya? Ikan yang digoreng? Atau apa?
Pengennya tes alergi aja langsung. Tapi ngga
kebayang nangisnya bakalan kaya apa -_-
Sampai sekarang, masih berusaha browsing resep untuk menu
makan besar dan cemilannya. Semoga berhasil!
Dan... tentunya sambil terus menerapkan terapi SEFT
Dan... tentunya sambil terus menerapkan terapi SEFT
14/02/14
RSCM - Rawasari, 5 Kali dalam Seminggu
Mas Zhafi sedang masa pemulihan dari sakitnya. Dua minggu
pertama sudah 5 kali bolak balik ke RSCM, untuk kontrol ke poli anak bagian
nefrologi. Selain itu ke poli repirologi anak untuk eksplorasi tentang masalah
batuk pilek yang sering Mas Zhafilaminya setahun terakhir ini.
Pemeriksaan yang
dijalani Mas Zhafi selain melihat berat badan, tinggi badan, dan tekanan
darahnya, juga memeriksa fungsi uji paru, tes urin, dan ronsen thorax lateral.
Sempat konsul ke poli gizi anak, karena berat badannya yang kurang. Sempat
dicurigai TB, sehingga harus menjalani tes mantoux yang bikin Mas Zhafi nangis
kejer. Dari semua pemeriksaan itu, alhamdulillah, puji syukur Ya Allah.
GNAPSnya pelan-pelan bisa sembuh, dan juga tidak terbukti TB. Diagnosis yang
didapat untuk sekarang ni adalah rinitis allergica.
PR nya sekarang adalah, benar-benar mencari makanan pencetus
alergi. Jangan sampai tidak ketahuan sama sekali. Dan itu PR yang butuh
kesabaran, konsistensi, dan kemauan. Alhamdulillah anaknya juga sudah bisa
mengerti dan bisa bekerjasama. Mas Zhafi tidak lagi merengek minta roti putih,
atau makanan dari tepung terigu, tapi minta snack dari tepung beras. Bukannya
ngga boleh, tapi lagi mau dicoba dulu, terigu apakah termasuk salah satu
pencetus alerginya.
Oh ya, kemarin gigi kedua Mas Zhafi pun tanggal. Yeayy...
31/01/14
Perkenalan dengan Glomerolunefritis Akut (GNA)
Minggu pertama adalah masa-masa terakhir liburan. Minggu
kedua, masuk sekolah kembali, dan hanya berselang 3 hari setelah itu, Mas Zhafi
terpaksa libur kembali. Mas Zhafi sakit. Diawali dengan keluhan sakit
perut, yang kukira maag. Kuperhatikan juga, dua malam terakhir tidurnya selalu
ngorok keras sekali. Kukira karena batuk pileknya. Malam jumat, tanggal 10,
tidurnya gelisah, dan paginya suhu badannya 38 dersel. Yang paling
mengkhawatirkan, wajahnya terlihat lebih bulat dari biasanya. Perasaanku nggak
enak. Entah kenapa samar-sama Ibu merasa
khawatir ada yang ngga beres dengan ginjalnya. Mungkin karena Ibu pernah baca artikel-artikel kesehatan dan
informasi tentang penyakit, tentang apa yang bisa menyebabkan seseorang
terlihat bengkak. Tapi waktu itu Ibu masih menepis jauh-jauh pikiran itu. Karena
bengkaknya masih sekitaran wajah, Ibu berharap itu hanya gondongan. Tapi Ibu ngga mau menebak-nebak. Pagi itu juga, Ibu dan suami membawanya ke IGD RS Umum Daerah Tangerang.
Diagnose awal, gondongan. Dan karena ada keluhan
sesak, dilIbu kan foto ronsen thorax. Karena keluhan sesak itu juga yang
membuat dokter memutuskan menginapkan Mas Zhafi di RS. Baiklah. Cukup lama
proses masuk IGD itu sampai akhirnya masuk ke kamar inap. Pendaftaran, jaminan,
dan lain sebagainya. Malam itu, Ibu menunggui Mas Zhafi di RS sampai keesokan
harinya.
Kekhawatiranku tentang penyakit yang agak serius semakin
kuat setelah melihat tubuh Mas Zhafi yang diinfus malah menjadi bengkak. Tidak
hanya di wajah, tapi juga seluruh tubuh. Mas Zhafi jadi terlihat gemuk dan
chubby. Seperti bukan Mas Zhafi. Ibu akan senang melihat itu kalau perubahan itu
tidak terjadi dalam waktu satu malam, tapi ini...? Segera Ibu menanyakan dokter jaga (kebetulan saat itu
hari Sabtu Minggu, dan dokter anak tidak visite pada hari tersebut), Ibu kejar dengan pertanyaan-pertanyaan. Penyakit
apa saja yang memungkinkan tubuh mengalami pembengkakan seperti itu. Dokter
lalu mengatakan, bisa apa saja bu, bisa dari ginjal,... Deg...! Kalau begitu,
dok, pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk memastikannya? Dokter
mengatakan perlu memeriksa albumin dari tes darah. Oke Dok, tolong lakukan.
Hari ketiga di RS, tanggal 12, dari hasil pemeriksaan darah,
ditemukan albuminnya rendah melebihi batas rujukan. Dokter jaga mengatakan ada
masalah pada ginjalnya, tapi untuk memastikan apa masalahnya, masih perlu pemeriksaan
lanjutan, yaitu tes darah untuk fungsi ginjal dan tes urin. Hari itu juga,
infus dilepas, karena dalam tubuh Mas Zhafi cairannya terperangkap tidak bisa
keluar akibat fungsi ginjal yang sedang tidak bekerja dengan baik memproses cairan. Sehingga justru cairan harus dibantu untuk keluar. Obat-obatan yang masuk
dalam tubuh Mas Zhafi masih antibiotik suntik, obat antivirus (yang Ibu sendiri ngga yakin ini perlu atau tidak).
Hari keempat, tanggal 13, dokter anak visite dan memberi
kabar yang mengkhawatirkan. Hasil pemeriksaan tidak begitu bagus. Ibu diminta untuk menampung air kencingnya untuk
menghitung berapa banyak urin yang keluar. Ibu masih belum tau diagnosenya, karena
dokternya juga kurang komunikatif. Tapi dokter segera memberikan resep beberapa
obat yang berupa antibiotik, obat diuretik, dan obat penurun tekanan darah.
Masalah ginjal erat kaitannya dengan kenaikan tekanan darah. Dan memang,
setelah diukur, tekanan darah Mas Zhafi tinggi, 135/sekian. Hari itu, Ibu mengabari Bunda Gurunya, kalau Mas Zhafi
dirawat. Dan sorenya, subhanallah, dapat kunjungan dari Bunda Yunita dan
Suaminya, membawakan buah tangan yang sangat berguna. Terima kasih Bun..
Hari kelima, adalah hari libur nasional, tanggal 14. Imlek
ya? Lagi-lagi dokter anak pun ikut libur, tidak ada visite. Tapi prosedur tetap
dijalankan oleh para perawat. Ibu merasa
lebih lega, karena pemeriksaanya lebih tersasar, jadi Ibu mulai yakin penanganannya pun lebih tepat
sasaran, tidak seperti hari Sabtu Minggu lalu yang diagnosenya belum
pasti karena pemeriksaannya belum optimal.
Hari keenam, Rabu tanggal 15, ulang tahun Mas Zhafi. Duh,
Nak... maaf ya menginjak usia ke 7 Mas Mas Zhafi malah harus menginap di kamar
yang sayangnya bukan hotel. Ketika visite, Ibu tidak ada, sedang aplusan sama ayahnya.
Kebetulan adiknya Hanan juga sakit jadi Ibu harus di rumah. Menurut ayahnya, setelah
mencecar dokter anak dengan banyak pertanyaan, kami mendapatkan diagnosenya,
GNA, yang awalnya disebutkan dokter itu GNP. Dengan bantuan Mbah Google, Ibu tau nama penyakitnya adalah Glomerolunefritis akut. Menurut situs mayoclinic, GNA adalah penyakit infeksi pada ginjal yang
merupakan infeksi paska streptokokus. Jadi sebelumnya pasti ada infeksi kuman
ini entah di saluran pernafasan atas yang namanya Strep Throat, atau infeksi di
kulit yang namanya Impetigo. Oke.... Mas Zhafi memang sering batuk pilek,
kadang sampai sesak dan demam. Mungkin itu. Tapi impetigo, apa itu? Dan betul
ternyata, infeksi kulit Mas Zhafi 2 minggu sebelumnya, yang seperti bisul-bisul
itu sama dengan foto impetigo di internet. Saat itu Ibu merasa sangattt bersalah. Hari ini, bengkaknya
sudah mulai berkurang, hanya perutnya masih buncit dan penisnya masih keras.
Hari ketujuh, Kamis tanggal 16. Dapet kabar dari Ayah di RS,
kalau tekanan darah Mas Zhafi 170/140. Inilah deg-degan Ibu yang paling tinggi.
Obat penurun tekanan darah dinaikkan dosisnya dari 3 kali setengah tablet jadi
3 kali 1 tablet. Sigh...
Hari kedelapan, Jumat tanggal 17. Berat badannya mulai
normal. Tapi tensi masih belum stabil. Dan pengeluaran cairan masih bergantung
obat diuretik suntik.
Hari kesembilan, Sabtu dan Minggu tanggal 18-19. Perbaikan
semakin terlihat. Kami sepakat tidak perlu memanggil dokter jaga. Karena toh
penanganannya selama ini sudah sesuai dengan yang kubaca di Mayoclinic. Dan
perbaikannya sudah terlihat betul. Kami optimis hari Senin sudah bisa pulang.
![]() |
| Menunggu saat pulang karena teman sekamar udah duluan pulang |
Hari kesepuluh Senin tanggal 20. Alhmamdulillah, hasil membaik, tensi
stabil 2 x 24 jam, kencing lancar. Dokter pun membolehkan untuk pulang, masih
membekali resep amoxyclav dan captopril (antibiotik dan pengontrol tekanan
darah). Dan juga surat kontrol. Tapi kami juga sepakat, untuk melanjutkan
kontrol dan rawat jalan dengan bimbingan dokter anak langganan kami, dr.
Armelia di RS Sari Asih.
Selasa, kamin ikut saran Pakde Tomo, Ibu, dan Bapak untuk
pemeriksaan kultur urin di Prodia Kramat. Walaupun terakhir kami tau,
ternyata selain dokter Tomo, ngga ada dokter lain yang menyarankan itu,
termasuk dokter-dokter di RSCM yang jadi tempat kami kontrol kemudian.
Tapi baiklah, kami ikuti saja.
Kamis, tanggal 23,
cuaca dingin. Rinitis Mas Zhafi kambuh lumayan parah. Pilek, mampet, berlanjut
batuk keesokan harinya. Belum cukup, berlanjut sesak malam harinya. Sesaknya
mengkhawatirkan, ada demam juga. Ibu pikir, asmanya kambuh lagi, tapi sempat
khawatir jangan-jangan ada infeksi kuman lain. Tapi rasanya ngga mungkin,
karena masih dalam terapi antibiotik.
Sabtu pagi tanggal 25, ketika BAK di pagi hari, Ibu kaget, kenapa kencingnya coklat kemerahan. Hal
itu membuatku memutuskan untuk ke IGD RSCM. Toh, Pakde Tomo dan Ibu juga sudah menyarankan
dari beberapa hari lalu untuk melanjutkan perawatan/kontrol ke RSCM. Di IGD,
ditangani oleh dokter spesialis anak masih muda yang baik hati dan sangat ramah
penuh senyum, dr. Angga (eh apa sihh...). Setelah memeriksa Mas Zhafi, Ibu agak tenang, karena sesaknya bukan infeksi
kuman tapi serangan asma ringan. Dan memang langsung hilang setelah di
inhalasi. Kami pulang dibekali resep obat dan surat kontrol ke poli nefro RSCM
hari Selasa berikutnya.
Senin tanggal 27, sempat kontrol lagi ke dr. Armelia untuk
mengkonsulkan hasil tes urin hari ini yang mengkhawatirkan sekaligus minta
surat untuk dirujuk ke poli nefrologi RSCM. Pemeriksaan urin hari ini hasilnya
lebih buruk dari hasil tes urin ketika keluar dari RS. Penuturan dr. Armelia
membuat hatiku mencelos. Sebaiknya Mas Zhafi bed rest, benar-benar di atas
tempat tidur. Tidak makan cemilan apapun, terutama yang mengandung garam dan
gurih. Otomatis, Ibu benar-benar ngga
ngasih cemilan apapun sejak itu.
Selasanya, tanggal 28 kontrol pertama ke poli nefrologi. Dokter
meminta tes darah dan urin ulang yang kami lakukan pada esok harinya tanggal
29.
Kamis, tanggal 30, kami kembali lagi untuk mengkonsulkan
hasil pemeriksaan lab. Alhamdulillah, hasil urinnya membaik. Curigation deh,
sama lab tempat Ibu tes urin sebelumya,
memang ngga bonafid sih. Sehingga optimislah untuk bisa sembuh seperti semula. Bahkan
dokter pun membolehkan untuk sekolah asal tidak beraktivitas terlalu berat.
Cemilan juga bisa dibilang bebas, asal bukan garam dan MSG aja. Hmmm... tapi
untuk selanjutnya diminta kontrol ke respirologi karena ada keluhan batuk yang
lumayan lama.
That’s all. Oh ya, hal menarik yang terjadi bulan ini
adalah, pertama kalinya gigi Mas Zhafi tanggal.
30/12/13
Camping Pertama Zhafi
25/12/13
Sakit di Kala Liburan Semester
Di liburan semesternya ini, Zhafi harus kena infeksi kulit,
yang belakangan kutahu namanya impetigo. Awalnya memang dimulai dari aku. Lalu
menular ke ayahnya, dan terakhir Zhafi. Kasihan, sekitar 2 minggu dia harus
menahan sakit karena bisul-bisul bertumbuhan di kakinya. Sempat ada episode dia
demam, lalu sempat juga susah berjalan saking banyaknya bisulnya itu.
Belum cukup juga, ngga lama kemudian bisul tumbuh juga di
pelipis kanan dan di bawah mulutnya. Kami sampai konsul ke dokter di RMC tiga
kali. Terakhir diresepkan salep
antibiotik dan antibiotik minum. Dan sepertinya di situlah kesalahanku. Aku tidak menebus
antibiotik minumnya, yang kemungkinan bisa menghindarkan Zhafi dari GNAPS. Tapi sungguh, bukan tanpa alasan aku tidak menebusnya. Karena aku pernah membaca bahwa terlalu banyak antibiotik hanya akan membuat anak mudah sakit dan khawatir mengakibatkan resistensi antibiotik. Selain itu, infeksi di kulit bisa disembuhkan secara topikal.
Jadi, apa yang aku lakukan pun demi kebaikan Zhafi juga. Tapi mungkin aku perlu lebih teliti lagi, mana yang sebaiknya tanpa antibitik, dan mana yang memerlukan antibiotik. Dan ini akan jadi pembelajaran besar buatku.... Alhamdulillah sekarang sudah pulih, dan semoga tidak ada lagi sakit
yang mengkhawatirkan seperti itu lagi, kumohon Ya Allah.
02/12/13
Perlukah Bagi-Bagi Kondom
Tadi malam aku baru tahu kalau sekarang
Indonesia (atau dunia?) sedang ‘memperingati’ pekan kondom sedunia. Aku
mengetahuinya dari postingan Ustad Felix di Fan
Pagenya. Dia menyesalkan kenapa harus ada acara bagi-bagi kondom gratis?
Seolah-olah ingin melegalkan perzinahan dengan bersembunyi di balik istilah safe sex. Safe sex itu bukan berzina dengan kondom. Safe sex itu adalah berhubungan hanya dengan pasangan yang sudah
dinikahi!
Aku sepakat! Tidak perlu menuduh orang munafik
jika ada orang punya pendapat bahwa bagi-bagi kondom itu seperti melegalkan
perzinahan.
“Ya
Rabb.... jauhkanlah keluarga kami dari perbuatan keji itu Ya Rabb...
lindungilah kami, lindungi anak-anakku ya Allah dari perbuatan yang Kau murkai.
Ya Rabb.... mampukan kami sebagai orangtua untuk membimbing mereka menjadi
generasi Rabbani. Menjadi pribadi yang mencintai Engkau, takut pada Engkau, dan
berani menegakkan kebenaran dengan cara penuh kasih.”
Mengurangi penyebaran penyakit kelamin adalah
dengan cara menghindari free sex atau
seks pranikah. Monogami, dan setia pada pasangan. Kalaupun sudah terlanjur ada
yang terkena, baru memakai kondom supaya tidak menularkan pasangannya. Bukan
menjadikan kondom sebagai benteng pertama!
Memang menghindari zina tidak cukup hanya
dengan dibekali iman. Karena dalam keadaan tertentu ketika semua situasi mendukung,
zina bisa saja terjadi sealim apapun orangnya. Karena saat itu, dorongan nafsu
sudah tak bisa dibendung lagi oleh keimanan. Yang perlu dilakukan adalah... sedari
awal menjauhkan diri dari perbuatan yang mendekatkan kita pada zina. Mending
langsung menikah. Masih terlalu kecil? Kalau gitu yang perlu ditingkatkan
adalah pembinaan supaya anak bisa baligh sekaligus aqil secara bersamaan.
Yang terjadi sekarang ini, masa baligh terlalu
cepat, tapi pencapaian aqil terlambat. Sehingga muncul ‘makhluk-makhluk’
bernama remaja. Seharusnya remaja tidak perlu ada, seharusnya kalaupun ada,
tidak perlu rentang usianya terlalu lama. Remaja adalah masa galau. Seharusnya,
dari anak-anak langsung menjadi dewasa. Bagaimana caranya?
Menyiapkan keterampilan hidup sejak usia
anak-anak (usia sekolah dasar). Keterampilan seperti: kemampuan mengambil
keputusan, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan menganalisis masalah,
termasuk kemampuan berwirausaha. Jangan memanjakan anak dengan fasilitas.
Ketika anak sudah terbekali dengan semua
keterampilan itu, pemikirannya akan lebih matang. Anak akan selalu berpikir
mencari kegiatan yang bermanfaat dan berguna. Ketika memasuki masa Baligh pun
mereka akan lebih bisa mengambil sikap
yang tepat. Kalaupun menikah dini, mereka sudah siap baik secara sosial,
seksual, maupun finansial.
Solusi dari penyebaran penyakit kelamin adalah
menghindari zina. Cara menghindari zina adalah tidak pacaran, atau menikah dini
bagi yang sudah siap.
Yang paling sedih, kondom dibagikan di kampus
UGM dengan memakai bis bergambar Ju Pe???
Malu jadi almamater UGM!
Menulis ini terus terang menjadi beban buat
saya. Saya ibu dari 2 anak lelaki. Mengingat seks bebas sekarang bisa dilakukan
oleh siapa saja, bahkan pelajar SMP sekalipun, membuat saya punya kekhawatiran
tersendiri. Tapi tetap bagi saya membekali anak yang belum menikah dengan
kondom ketika mereka sudah sexually
active bukan jadi pilihan bagi saya. Lebih baik bagi saya untuk berusaha
sebaik mungkin memberikan bimbingan berkelanjutan sejak dini hingga mereka
berusia baligh. Bimbingan, keakraban, dialog-dialog, rasa percaya.
Selebihnya... saya meyakini kekuatan doa.
Al Azhom, Tangerang
2 Desember 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
Dapat Insight untuk My Life Project
Life Project itu adalah berkebun. Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...
-
Gambar dari health.detik.com Sore ini, ada kejadian yang cukup mengusik pikiran saya. Bermula ketika saya sedang menemani anak-ana...
-
ibuk adalah Khuri, atau Rie ibu dari seorang anak yang berpendirian kuat, Zhafir ibu dari seorang anak yang bagai mentari yang selalu ter...
-
Kemarin sore aku bermaksud ke dokter gigi. Jarak klinik yang agak jauh, dan harus membawa serta Hanan ngga memungkinkan kami jalan kaki...
