03/09/09

Sekolah Untuk Zhafi

Aku sebenernya ngga begitu berniat masukin Zhafi ke pre school di usianya yang belum genap 3 tahun. Masih yakin bisa ku handle sendiri untuk tumbuh kembangnya paling tidak sampai usianya 3 atau 4 ta hun.

Tapi, khawatir juga dengan perkembangan sosialnya. Secara ngga gitu banyak temen sebaya. Adanya anak usia 6-7 tahunan. Ngga masalah memang. Tapi pengen juga membiasakan Zhafi berteman dengan anak sebaya. Apalagi ayahnya juga yangti-yangkungnya udah nanyain terus, mau dimasukin ke sekolah mana.

Yah...begitulah, akhirnya kita (aku, Zhafi, dan ayahnya) memulai perjalanan mencari tempat yang tepat untuknya mengembangkan kemampuan sosialisai, emosional, kreativitasnya. Bagiku ketiga hal itu penting.

Pilihan pertama jatuh pada Sanggar Kreativitas Bona. Suka dengan tampilan luarnya, dengan outdoor playground yang cukup asik. Tapi...sedari awal, Zhafi kok ngga nyaman ya. Setiap kali diajak masuk, ngga mau. Dia maunya main di luar, di playgroundnya. Sampai kunjungan keempat pun di ngga enjoy, walau akhirnya masuk juga setelah dibujuk pake mainan kesukaannya, mobil2an.

Tiga kunjungan pertama itu untuk membiasakan dirinya dengan lingkungan SKB, sebelum mengikuti trial di kunjungan keempat. Pas Trial, dia baru mau masuk setelah paruh waktu kedua. Ya...lumayan kesempatan untuk melihat bagaimana situasi dalam kelas. Hmm...aku ngga begitu sreg dengan cara gurunya berinteraksi dengan anak-anak. Tapi waktu itu kami belum punya alternatif lain.

Tapi dari obrol-obrol dengan salah satu wali murid, kami punya alternatif kedua, yaitu Tumble Tots. Ini juga hasil dari browsing. Selain itu ada juga TK Mini Pak Kasur. Hari Sabtu 22, nyoba ke Tumble Tots, kebetulan bisa langsung trial. Kegiatanyya dimulai dengan circle time. Selama circle time, para aunty memimpin dan mengajak anak-anak ikut bernyanyi dan mengikuti gerakan. Kadang berinteraksi dengan menanyakan hal-hal sederhana. Tapi Zhafi belum enjoy, belum ngerti apalah pake bahasa inggris. Jadi diapun ngga mau gerak, dan ditanya pun ga mau ngomong.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan motorik kasar. Anak-anak berbaris lalu satu demi satu melewati alat-alat permainan seperti balok titian, matras jungkir balik, tempat lempar bola, prosotan kecil, dsb yang disetting seperti semacam halan rinrtang. Zhafi suka banget nih...pas kegiatan ini. Malah minta lagi padahal waktunya udah habis.

Sekilas Zhafi cocok di sini. Tapi aku dan ayahnya melihat selama program itu, ngga ada kesempatan anak berinteraksi satu sama lain. Padat kegiatan, padat instruksi, dan tiap anak masih ditemani orangtuanya. Untuk hal sosialisasi, di SKB memang lebih memungkinkan dari pada di TT. Tapi...Masih belum sreg.

Akhirnya seminggu kemudian, nyoba trial di TK Mini di Cikini. Kegiatannya selama satu jam, (TT juga 1 jam). paruh waktu pertama di luar kelas, membuat lingkaran besar, dengan jumlah anak 20, dan semua guru ikut turun. Lingkaran besar dipimpin oleh satu guru yang berinteraksi secara aktif kepada anak. Bernyanyi, gerak, hampir sama seperti di TT, tapi di TK MINI, lebih komunikatif dan interaktif, dan hangat. Zhafi pun senang mengikuti instruksi dan nyanyiannya. Selama aktivitas lingkaran besar itu, ada kesempatan Zhafi berinteraksi dengan temen disampingnya. Guru-guru pun kadang mendekati setiap anak untuk sekedar menyemangati bernyanyi.

Paruh waktu kedua, anak bermain bebas di dalam ruangan yang udah disediain mainan-mainan motorik kasar, ataupun motorik halus. Gue suka di sini. Zhafi pun begitu keliatannya. Jadi...aku dan ayahnya langsung aja mutusin daftar Zhafi di sini. Bismillah. Semoga ini pilihan tepat.

Oya, untuk info biaya:
SKB :
Pendaftaran Rp 2.750.000
Biaya Alat Rp 500.000
SPP Rp 250/bulan

Tumble Tots:
Pendaftaran RP 200.000
Membercard Rp 750.000 (untuk selamanya)
Perbulan RP 300.000 - Rp 500.000 (tergantung frekuensi masuknya dalam seminggu, apakah 1x, 2x, atau 3x seminggu)

TK Mini Pak Kasur:
Pendaftaran: RP 1.950.000
SPP : Rp 130.000
Komite OrTU: Rp 50.000
Formulir : RP 50.000

Tidak ada komentar:

Menuju Cerdas Finansial

Mendapatkan badge Cerdas Finansial ini bukan lantas Ibuk memang punya kecerdasan finansial yang tinggi. Masih sangat jauuh dari itu. Masih b...