Mas Zhafi,
bangganya ibu melihat Mas Zhafi sekarang,
yang lebih perhatian sama orang tua
yang sudah mandiri
Mas Zhafi
jangan pernah takut ya mencoba hal yang baru,
berteman dengan teman baru
pergi ke tempat yang baru
karena hal baru itu akan membuat Mas Zhafi lebih kaya
Mas Zhafi
bicara ya, kalau mas Zhafi merasa tidak nyaman
bicarakan dengan ibu ayah
karena bicara akan membuat hatimu lebih ringan
Mas Zhafi
walaupun mas Zhafi boleh berteman dengan siapa saja,
tapi hati-hatilah memilih teman baik
karena teman baik adalah yang bisa kamu percaya, dan tidak akan menjerumuskanmu
Mas Zhafi
maafkan orang lain yang mas Zhafi anggap salah ya...
sampaikan ketidaknyamanan Mas Zhafi pada orang itu, dan maafkan dengan tulus
karena memaafkan akan membersihkan hati dan jiwamu
Mas Zhafi
selalu ingat bahwa Allah menjaga dan mengawasi mas Zhafi ya
dengan begitu Mas Zhafi akan selalu jujur,
Mas Zhafi akan selalu merasa tenang
Mas Zhafi
apapun yang mas Zhafi ingin lakukan, selama itu baik,
lakukan yang terbaik ya, buang rasa malas dan enggan
karena ketika kita memberikan yang terbaik, kita akan mendapatkan yang terbaik pula dariNya
Itu janji Allah.
Harapan ibu untuk Mas Zhafi
Mas Zhafi kelak tumbuh menjadi orang,
yang selalu bersyukur dan berbahagia menjadi diri sendiri
yang juga mampu memberi kebahagiaan bagi orang lain
Mas Zhafi kelak tumbuh menjadi pribadi,
yang mandiri, terampil, dan cerdas,
yang juga bisa memberi manfaat buat orang lain,
karena kita khalifah di bumi yang diutus menjadi rahmat bagi alam dan bumi
Satu yang terpenting, ibu selalu berdoa
Mas Zhafi kelak tumbuh menjadi hamba Allah,
yang berani menghadapi tantangan apapun,
karena ketakutanmu hanya kepada DIA
28/03/14
21/03/14
Jangan Menyuruh Anak Belikan Rokok
![]() |
| Gambar dari health.detik.com |
Sore ini, ada kejadian yang cukup mengusik pikiran saya.
Bermula ketika saya sedang menemani anak-anak bermain di sekitar rumah. Si Sulung, Zhafi sedang asyik keliling dengan sepedanya, dan saya sedang melatih Si Bungsu mengayuh sepeda roda empatnya sambil menyapa dan ngobrol ringan dengan tetangga.
Saya baru menyadari Si Sulung, Zhafi, sedang berhenti di depan sebuah rumah setelah sebelumnya saya sekilas melihatnya sedang dipanggil oleh bapak si pemilik rumah tersebut. Tidak lama Si Sulung pergi dengan sepedanya dan kembali beberapa menit kemudian membawa sesuatu. Saya baru menyadari yang dibawanya itu adalah dua bungkus rokok! Iya, rokok. Ternyata bapak itu menyuruhnya membelikan rokok. Tidak berhenti sampai di situ, ternyata rokok yang dibelikannya ngga sesuai selera si Bapak. Si Bapak meminta Zhafi menukarkan rokok itu dengan merek lain, sambil membekali dengan catatan kecil yang mungkin berisi nama rokok yang dimaksud.
Keluarga dari pihak saya tidak ada yang merokok, dan saya menikahi pria yang juga bukan perokok (walaupun dari keluarganya ada juga yang merokok). Saya dan suami pun sama-sama tidak menyukai rokok, asap rokok, dan perilaku orang yang sedang merokok (bukan membenci orangnya). Kami prihatin dengan sikap orangtua yang menyuruh anaknya membelikan rokok, itu artinya mengajarkan anaknya sendiri untuk merokok. Kami tahu bagaimana peran rokok yang sudah sedemikian merugikan dan kami pun berbuat sejauh yang kami bisa untuk menjauhkan kami dan orang lain dari cekikan asap rokok. Salah satunya dengan menegur orang yang merokok di tempat umum, apalagi yang jelas-jelas ada tanda dilarang merokok.
Ketika mendapati kejadian sore tadi, bisakah dibayangkan bagaimana perasaan saya? Mangkel? Lebih dari itu. Saya merasa kecolongan, dan saya jengkel luar biasa. Ingin saya tegur saat itu juga. Tapi, tidak semudah itu. Kami hidup bertetangga, dan perlu sikap yang tepat untuk menghadapinya. Terlebih bapak tersebut cukup berpengaruh di lingkungan rumah kami. Akhirnya yang bisa keluar dari mulut saya adalah candaan. Wah, Zhafi beliin rokok, lain kali jangan mau ya, Zha. Hehe...." Entah bagaimana si Bapak itu menangkap makna candaan saya. Mungkin candaan itu sudah seperti sindiran. Atau bapak itu menangkap makna yang berbeda, misalnya "masa anak bantuin orang yang lebih tua dilarang". Yah... saya belum pandai berdiplomasi atau menyusun kata -_-.
Apapun itu, terserahlah. Yang terpenting, saya harus menjelaskan sesuatu kepada Zhafi. Saya katakan betapa saya senang Zhafi mau memberikan bantuan ringan kepada orang lain, saya memuji niat baiknya. Lalu saya sampaikan, kalau dia boleh sekali membantu jika diminta tolong untuk membelikan sesuatu, asal itu hal yang baik, seperti makanan atau minuman yang baik. Tapi, kalau ada yang meminta dibelikan rokok, Zhafi harus berkata tidak. Zhafi sampaikan ke orang itu, "aku ngga mau ah beliin rokok, tapi kalo mau minta dibeliin makanan, ayok sini uangnya, aku beliin". Saya belum punya moment untuk menjelaskan alasan kenapa harus bersikap begitu, karena khawatir Zhafi merasa down dan menyurutkan motivasinya untuk memberi bantuan kepada orang lain. Tapi saya, berjanji ketika sudah tepat saatnya, saya akan mengajaknya diskusi tentang hal itu, dalam suasana yang santai tentunya.
Masalah selesai? Tidak. Saya benar-benar terusik dengan kejadian tadi sore. Dalam pikiran saya, berkali-kali terngiang kalimat seperti, "Ayahnya aja ngga pernah nyuruh Zhafi belikan rokok (ya iyalahh... wong merokok juga enggak :D alhamdulillah), tapi orang lain berani-beraninya nyuruh anak orang lain, anak saya, untuk beli rokok!".
Entah hikmah apa yang bisa saya ambil dari kejadian tadi. Yang pasti, setiap kejadian adalah suatu pembelajaran bagi saya, dan dalam hal ini juga pembelajaran bagi Zhafi. Saya belajar bagaimana menguasai hati saya yang mangkel dengan kejadian itu dan menyikapinya dengan sepositif mungkin. Zhafi (saya harapkan) juga bisa belajar bahwa tidak semua permintaan bantuan itu bisa diloloskan.
Satu hal lagi yang saya dapatkan dari kejadian ini. Dari mbah Google saya jadi tahu ada peraturan yang melarang siapapun menyuruh anak di bawah 18 tahun untuk MEMBELI rokok. Peraturan tersebut ada dalam Peraturan Pemerintah No. 109 Tahun 2012 tentang Pengamann Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.
Pasal 46 dalam peraturan tersebut berbunyi, "Setiap orang dilarang menyuruh anak di bawah usia 18 (depalan belas) tahun untuk menjual, membeli, atau mengonsumsi Produk Tembakau". Larangan ini terdapat di bagian keempat tentang Perlindungan Khusus Bagi Anak dan Perempuan Hamil.
Pasal 46 dalam peraturan tersebut berbunyi, "Setiap orang dilarang menyuruh anak di bawah usia 18 (depalan belas) tahun untuk menjual, membeli, atau mengonsumsi Produk Tembakau". Larangan ini terdapat di bagian keempat tentang Perlindungan Khusus Bagi Anak dan Perempuan Hamil.
19/03/14
Belajar Berjualan di Business Day
Hari ini, di sekolah giliran kelas 1
yang menggelar Business Day. Mas Zhafir dan teman-teman kelas 1 lainnya
akan berjualan produk-produk makanan dan minuman ringan yang harganya
antara Rp 2.000 - Rp 3.000 per porsi. Hmm.... asiknya.
Karena
tidak ditentukan jenis kuenya alias bebas, jadi kami berdua beberapa
hari yang lalu membicarakan apa kira-kira yang mau dijual. Ibu usul,
bagaimana kalau minuman seperti es buah, sedangkan Mas Zhafir lagi suka
kue mangkok. Dia usul, ibu bikin deh kue mangkoknya, tapi ukurannya yang
kecil. Hihi... oke deh.
Ndilalah...
1 hari sebelum hari H, Ibu dijadwalkan harus sudah cabut gigi dan harus
menginap semalam sebelumnya di RS (maklum, prosedur untuk BPJS), dan
baru kembali ke rumah menjelang maghrib dengan gigi nynut-nyutan.
Alhasil acara membuat kue mangkok pun tidak bisa terlaksana. Ibu pun
akhirnya menelepon penjual kue jajan pasar langganan dan memesan kue
mangkok.
Keesokan
harinya, Mas Zhafir tampak bersemangat dengan Business Day ini.
Alhamdulillah, gigi Ibu sudah baikan, dan bisa membantu menyiapkan
jualannya (baca: mengambil kue pesanan dan membawanya ke sekolah).
Acara
jualannya berjalan seru, selain kakak-kakak kelas, Bapak dan Bunda
Guru, juga beberapa bundanya teman-teman SD juga ikut membeli jualannya
teman-teman kelas 1 (mumpung murah meriah). Hehe... Alhamdulillah, semua
jualan laris manis, termasuk kue mangkoknya Mas Zhafir. Dia senang
sekali, walau bukan bikin sendiri ya, Nak (hehe, lain kali kita bikin
sendiri ya).
Ketika pulang, selama perjalanan pulang dalam mobil, kami mengobrol ringan.
Ibu : Gimana rasanya berjualan tadi.
Zhafir : Seru, Bu. Mas Zhafir dapat uang sejuta! Hehe...
(tertawa bareng)
Ibu : Kayanya banyak tadi banyak ya yang beli kue mas Zhafir?
Zhafir : Iya, pak Ruslan beli 5, trus tadi ada yang beli 2. Bentar mau itung dulu.
(lalu dia menghitung uangnya, dimulai dari uang 2.000-an, lalu 1.000-an, 100-an, 200-an)
Zhafir : Bu... gimana cara bikin 1000 dari uang Rp 100.
Ibu : 100nya harus ada 10 supaya jadi seribu.
Zhafir : Kalau uang Rp 200?
Ibu : Berarti harus ada 5 koin 200-an.
(Kembali menghitung)
Zhafir : Sudah bu, Aku dapat Rp 50.000,-
Ibu : Mau ngga kalau jualan lagi, minggu-minggu di pasar. Kita jualan es buah atau es coklat?
Zhafir : Mau... mau....
Semoga, pengalaman ini semakin mengayakan dirimu ya, Nak. Bukan sekedar belajar berhitung, tapi juga keberanian berusaha.
22/02/14
Marii Masak Setiap Hari.... Yeah!
Jujur, saya tuh ngga suka masak. Hmm. tepatnya, memasak itu, walaupun aku punya impian pingin bisa jadi ibu yang pinter masak enak, tapi kegiatan memasak sendiri itu bener-bener dilandaskan pada mood. Masalahnya, mood untuk memasak ituu... suka susah munculnya...
Jadi, ketika Zhafi sekarang harus diatur bener-bener makannya, sebisa mungkin ngga makan jajanan dari luar. Karena lagi eksperimen mencari makanan pencetus alerginya ituh, mau ngga mau deh, niatkan diri untuk turun ke dapur, ngga sekedar 1- 2 jam, tapi mungkin 3 atau 4 atau 5 jam, total. :P
Pagi masak untuk sarapan dan bekal makan siang. Dulu, makan siang mengandalkan katering sekolah, sekarang.. ya bawa sendiri alias mbontot. Siang masak lagi, kalau lauknya habis, tapi kadang ngga masak juga, karena hanya berdua sama Hanan. Baru deh... sore berkutat lagi dengan bumbu dapur, sotil, ulekan, dan teman-temannya. Ngga cuma masak untuk makan besar aja, tapi juga buat cemilannya. Karena cemilan buat Zhafi kan jadi terbatas, kasian juga ngeliat dia iseng buka-buka kulkas tapi ngga nemu apa-apa yang bisa dia makan.
You know what.. untuk menumbuhkan niat dan mood memasak ini, saya khusus berdoa untuk itu. Iya, berdoaaa.... Jangan pernaahh deh remehkan kekuatan doa. Subhanallah yaa, memasak itu sekarang berasa lebih enteng dan asik. Walau harus ngulek berkali-kali ya hayuk aja. Alhamdulillah..
Jadii jadii... apa aja sih.... yang saya masak semingguan kemarin??
Senin
Tahu tempe kuning dan sayur
Cemilannya masih beli jajan pasar
Sayuran Sop
Selasa
Ikan Patin bumbu kuning
Cemilan bubur sumsum (masih bolak-balik liat resep)
Sayuran Capcay
Rabu
Ikan Gurame Goreng
Cemilan kue tepung beras isi gula merah (thanks to mbah Google untuk resepnyah)
Sayuran capcay lagi (hakks)
Kamis
Tempe dan Tahu goreng (haisshh... standar banged deh)
Cemilan bubur kacang hijau
Sayuran sop
Jumat
Ikan bawal bakar (nyontek resep duluu)
Cemilan bubur sumsum dan bubur kacang hijau
Sayuran cah sawi putih
Nah... nah...
Masih standar yaa... aslinya masak sedina yo mung pisanan alias sekali buat sehari. Hiahahah...
Tapi cukup puas juga sih, bagi orang yang ngga begitu suka masak seperti sayah... walau soal rasa... tampaknya suami dan anak-anak harus berbesar hati menerima cita rasa yang masih standar.... Tapiiiii.... masih tetap berusaha untuk bikin masakan sehat dan enak bin mak nyus. Biar anak selalu kangen sama masakan ibunyaa... ;)
Jadi, ketika Zhafi sekarang harus diatur bener-bener makannya, sebisa mungkin ngga makan jajanan dari luar. Karena lagi eksperimen mencari makanan pencetus alerginya ituh, mau ngga mau deh, niatkan diri untuk turun ke dapur, ngga sekedar 1- 2 jam, tapi mungkin 3 atau 4 atau 5 jam, total. :P
Pagi masak untuk sarapan dan bekal makan siang. Dulu, makan siang mengandalkan katering sekolah, sekarang.. ya bawa sendiri alias mbontot. Siang masak lagi, kalau lauknya habis, tapi kadang ngga masak juga, karena hanya berdua sama Hanan. Baru deh... sore berkutat lagi dengan bumbu dapur, sotil, ulekan, dan teman-temannya. Ngga cuma masak untuk makan besar aja, tapi juga buat cemilannya. Karena cemilan buat Zhafi kan jadi terbatas, kasian juga ngeliat dia iseng buka-buka kulkas tapi ngga nemu apa-apa yang bisa dia makan.
You know what.. untuk menumbuhkan niat dan mood memasak ini, saya khusus berdoa untuk itu. Iya, berdoaaa.... Jangan pernaahh deh remehkan kekuatan doa. Subhanallah yaa, memasak itu sekarang berasa lebih enteng dan asik. Walau harus ngulek berkali-kali ya hayuk aja. Alhamdulillah..
Jadii jadii... apa aja sih.... yang saya masak semingguan kemarin??
Senin
Tahu tempe kuning dan sayur
Cemilannya masih beli jajan pasar
Sayuran Sop
Selasa
Ikan Patin bumbu kuning
Cemilan bubur sumsum (masih bolak-balik liat resep)
Sayuran Capcay
Rabu
Ikan Gurame Goreng
Cemilan kue tepung beras isi gula merah (thanks to mbah Google untuk resepnyah)
Sayuran capcay lagi (hakks)
Kamis
Tempe dan Tahu goreng (haisshh... standar banged deh)
Cemilan bubur kacang hijau
Sayuran sop
Jumat
Ikan bawal bakar (nyontek resep duluu)
Cemilan bubur sumsum dan bubur kacang hijau
Sayuran cah sawi putih
Nah... nah...
Masih standar yaa... aslinya masak sedina yo mung pisanan alias sekali buat sehari. Hiahahah...
Tapi cukup puas juga sih, bagi orang yang ngga begitu suka masak seperti sayah... walau soal rasa... tampaknya suami dan anak-anak harus berbesar hati menerima cita rasa yang masih standar.... Tapiiiii.... masih tetap berusaha untuk bikin masakan sehat dan enak bin mak nyus. Biar anak selalu kangen sama masakan ibunyaa... ;)
21/02/14
Alergi oh Alergi....
Zhafi punya bakat alergi. Manifestasinya cukup kompleks,
rinitis (hidung meler sampai mampet dan kadang bikin nafas sesak), kulit gatal
(bruntusan dan eksim basah), mata berair.
Alergi apa?
Yang jelas, setiap kena udara dingin, hidungnya mulai
berair, lalu mampet akhirnya mau berbaring pun ngga nyaman, karena hidung
bumpet. Mata ikutan berair. Kasihan banget. Kalau dingin banget, sampai
bersin-bersin. Dan kalau kondisinya lagi ngga fit, didomplengi sama virus yang
bikin dia berlanjut ke batuk dan nafas yang sesak. Kalau sudah begitu,
inhalasi. Kadang sampai demam juga.
Mungkin juga alergi debu.
Nah yang bikin kulit dia bruntusan dan gatal-gatal nih yang
ngga tau apa pencetusnya. Makanan yang sepertinya (ini baru sepertinya, masih
ngga konstan juga) mencetuskan gatalnya adalah ikan tuna dan kue tart.
So, karena Zhafi pernah sakit yang lumayan serius bulan lalu
(GNAPS), yang kemungkinan bisa bermula dari infeksi di kulit ataupun saluran
pernafasan atas, kayanya alergi ini makin ngga bisa diabaikan. Memang ngga
bersebab akibat secara langsung, tapi, kalau melihat siklusnya... bisa aja...
yang tadinya Cuma alergi, lalu karena kondisi badan yang ngga fit kemudia didomplengi
virus atau bakteri. Seperti impetigo kemarin.
Jadi, aku bertekat untuk mencari tau nih, makanan apa sih
yang mencetuskan alerginya.
Jadi, berbekal penjelasan dan juklan dari dokter anak di
RSCM, aku memulai petualangan ini. konsekuensinya, aku harus rajin masak.
Selama 2 minggu ini, aku usahakan makanan Zhafi seputar
nasi, sayur, lauk tempe tahu dan ikan sungai. Cemilan pun ngga terigu dulu. Banyakan
dari tepung beras, pisang, atau kacang ijo. Dan yeay... berhasil selama
seminggu ini cemilan Zhafi bubur sumsum, kolak pisang, pisang bakar, bubur
kacang ijo, dan kue tepun beras beli di luar.
Dan makan besarnya, sayur, tempe, tahu, dan ikan sungai. Sebenernya
ngga boleh di goreng, tapi kok susah ya masak ikan sungai ngga digoreng, yang
ada amis aja. Hiks.
Hasilnya?
MASIH sodara-sodara!
Rinitisnya masih
Eksim dan bruntusannya juga masih, malah garuk-garuk sampe
berdarah.
Hiks...
Ini apa yang salah? Cemilannya? Ikan yang digoreng? Atau apa?
Pengennya tes alergi aja langsung. Tapi ngga
kebayang nangisnya bakalan kaya apa -_-
Sampai sekarang, masih berusaha browsing resep untuk menu
makan besar dan cemilannya. Semoga berhasil!
Dan... tentunya sambil terus menerapkan terapi SEFT
Dan... tentunya sambil terus menerapkan terapi SEFT
14/02/14
RSCM - Rawasari, 5 Kali dalam Seminggu
Mas Zhafi sedang masa pemulihan dari sakitnya. Dua minggu
pertama sudah 5 kali bolak balik ke RSCM, untuk kontrol ke poli anak bagian
nefrologi. Selain itu ke poli repirologi anak untuk eksplorasi tentang masalah
batuk pilek yang sering Mas Zhafilaminya setahun terakhir ini.
Pemeriksaan yang
dijalani Mas Zhafi selain melihat berat badan, tinggi badan, dan tekanan
darahnya, juga memeriksa fungsi uji paru, tes urin, dan ronsen thorax lateral.
Sempat konsul ke poli gizi anak, karena berat badannya yang kurang. Sempat
dicurigai TB, sehingga harus menjalani tes mantoux yang bikin Mas Zhafi nangis
kejer. Dari semua pemeriksaan itu, alhamdulillah, puji syukur Ya Allah.
GNAPSnya pelan-pelan bisa sembuh, dan juga tidak terbukti TB. Diagnosis yang
didapat untuk sekarang ni adalah rinitis allergica.
PR nya sekarang adalah, benar-benar mencari makanan pencetus
alergi. Jangan sampai tidak ketahuan sama sekali. Dan itu PR yang butuh
kesabaran, konsistensi, dan kemauan. Alhamdulillah anaknya juga sudah bisa
mengerti dan bisa bekerjasama. Mas Zhafi tidak lagi merengek minta roti putih,
atau makanan dari tepung terigu, tapi minta snack dari tepung beras. Bukannya
ngga boleh, tapi lagi mau dicoba dulu, terigu apakah termasuk salah satu
pencetus alerginya.
Oh ya, kemarin gigi kedua Mas Zhafi pun tanggal. Yeayy...
31/01/14
Perkenalan dengan Glomerolunefritis Akut (GNA)
Minggu pertama adalah masa-masa terakhir liburan. Minggu
kedua, masuk sekolah kembali, dan hanya berselang 3 hari setelah itu, Mas Zhafi
terpaksa libur kembali. Mas Zhafi sakit. Diawali dengan keluhan sakit
perut, yang kukira maag. Kuperhatikan juga, dua malam terakhir tidurnya selalu
ngorok keras sekali. Kukira karena batuk pileknya. Malam jumat, tanggal 10,
tidurnya gelisah, dan paginya suhu badannya 38 dersel. Yang paling
mengkhawatirkan, wajahnya terlihat lebih bulat dari biasanya. Perasaanku nggak
enak. Entah kenapa samar-sama Ibu merasa
khawatir ada yang ngga beres dengan ginjalnya. Mungkin karena Ibu pernah baca artikel-artikel kesehatan dan
informasi tentang penyakit, tentang apa yang bisa menyebabkan seseorang
terlihat bengkak. Tapi waktu itu Ibu masih menepis jauh-jauh pikiran itu. Karena
bengkaknya masih sekitaran wajah, Ibu berharap itu hanya gondongan. Tapi Ibu ngga mau menebak-nebak. Pagi itu juga, Ibu dan suami membawanya ke IGD RS Umum Daerah Tangerang.
Diagnose awal, gondongan. Dan karena ada keluhan
sesak, dilIbu kan foto ronsen thorax. Karena keluhan sesak itu juga yang
membuat dokter memutuskan menginapkan Mas Zhafi di RS. Baiklah. Cukup lama
proses masuk IGD itu sampai akhirnya masuk ke kamar inap. Pendaftaran, jaminan,
dan lain sebagainya. Malam itu, Ibu menunggui Mas Zhafi di RS sampai keesokan
harinya.
Kekhawatiranku tentang penyakit yang agak serius semakin
kuat setelah melihat tubuh Mas Zhafi yang diinfus malah menjadi bengkak. Tidak
hanya di wajah, tapi juga seluruh tubuh. Mas Zhafi jadi terlihat gemuk dan
chubby. Seperti bukan Mas Zhafi. Ibu akan senang melihat itu kalau perubahan itu
tidak terjadi dalam waktu satu malam, tapi ini...? Segera Ibu menanyakan dokter jaga (kebetulan saat itu
hari Sabtu Minggu, dan dokter anak tidak visite pada hari tersebut), Ibu kejar dengan pertanyaan-pertanyaan. Penyakit
apa saja yang memungkinkan tubuh mengalami pembengkakan seperti itu. Dokter
lalu mengatakan, bisa apa saja bu, bisa dari ginjal,... Deg...! Kalau begitu,
dok, pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk memastikannya? Dokter
mengatakan perlu memeriksa albumin dari tes darah. Oke Dok, tolong lakukan.
Hari ketiga di RS, tanggal 12, dari hasil pemeriksaan darah,
ditemukan albuminnya rendah melebihi batas rujukan. Dokter jaga mengatakan ada
masalah pada ginjalnya, tapi untuk memastikan apa masalahnya, masih perlu pemeriksaan
lanjutan, yaitu tes darah untuk fungsi ginjal dan tes urin. Hari itu juga,
infus dilepas, karena dalam tubuh Mas Zhafi cairannya terperangkap tidak bisa
keluar akibat fungsi ginjal yang sedang tidak bekerja dengan baik memproses cairan. Sehingga justru cairan harus dibantu untuk keluar. Obat-obatan yang masuk
dalam tubuh Mas Zhafi masih antibiotik suntik, obat antivirus (yang Ibu sendiri ngga yakin ini perlu atau tidak).
Hari keempat, tanggal 13, dokter anak visite dan memberi
kabar yang mengkhawatirkan. Hasil pemeriksaan tidak begitu bagus. Ibu diminta untuk menampung air kencingnya untuk
menghitung berapa banyak urin yang keluar. Ibu masih belum tau diagnosenya, karena
dokternya juga kurang komunikatif. Tapi dokter segera memberikan resep beberapa
obat yang berupa antibiotik, obat diuretik, dan obat penurun tekanan darah.
Masalah ginjal erat kaitannya dengan kenaikan tekanan darah. Dan memang,
setelah diukur, tekanan darah Mas Zhafi tinggi, 135/sekian. Hari itu, Ibu mengabari Bunda Gurunya, kalau Mas Zhafi
dirawat. Dan sorenya, subhanallah, dapat kunjungan dari Bunda Yunita dan
Suaminya, membawakan buah tangan yang sangat berguna. Terima kasih Bun..
Hari kelima, adalah hari libur nasional, tanggal 14. Imlek
ya? Lagi-lagi dokter anak pun ikut libur, tidak ada visite. Tapi prosedur tetap
dijalankan oleh para perawat. Ibu merasa
lebih lega, karena pemeriksaanya lebih tersasar, jadi Ibu mulai yakin penanganannya pun lebih tepat
sasaran, tidak seperti hari Sabtu Minggu lalu yang diagnosenya belum
pasti karena pemeriksaannya belum optimal.
Hari keenam, Rabu tanggal 15, ulang tahun Mas Zhafi. Duh,
Nak... maaf ya menginjak usia ke 7 Mas Mas Zhafi malah harus menginap di kamar
yang sayangnya bukan hotel. Ketika visite, Ibu tidak ada, sedang aplusan sama ayahnya.
Kebetulan adiknya Hanan juga sakit jadi Ibu harus di rumah. Menurut ayahnya, setelah
mencecar dokter anak dengan banyak pertanyaan, kami mendapatkan diagnosenya,
GNA, yang awalnya disebutkan dokter itu GNP. Dengan bantuan Mbah Google, Ibu tau nama penyakitnya adalah Glomerolunefritis akut. Menurut situs mayoclinic, GNA adalah penyakit infeksi pada ginjal yang
merupakan infeksi paska streptokokus. Jadi sebelumnya pasti ada infeksi kuman
ini entah di saluran pernafasan atas yang namanya Strep Throat, atau infeksi di
kulit yang namanya Impetigo. Oke.... Mas Zhafi memang sering batuk pilek,
kadang sampai sesak dan demam. Mungkin itu. Tapi impetigo, apa itu? Dan betul
ternyata, infeksi kulit Mas Zhafi 2 minggu sebelumnya, yang seperti bisul-bisul
itu sama dengan foto impetigo di internet. Saat itu Ibu merasa sangattt bersalah. Hari ini, bengkaknya
sudah mulai berkurang, hanya perutnya masih buncit dan penisnya masih keras.
Hari ketujuh, Kamis tanggal 16. Dapet kabar dari Ayah di RS,
kalau tekanan darah Mas Zhafi 170/140. Inilah deg-degan Ibu yang paling tinggi.
Obat penurun tekanan darah dinaikkan dosisnya dari 3 kali setengah tablet jadi
3 kali 1 tablet. Sigh...
Hari kedelapan, Jumat tanggal 17. Berat badannya mulai
normal. Tapi tensi masih belum stabil. Dan pengeluaran cairan masih bergantung
obat diuretik suntik.
Hari kesembilan, Sabtu dan Minggu tanggal 18-19. Perbaikan
semakin terlihat. Kami sepakat tidak perlu memanggil dokter jaga. Karena toh
penanganannya selama ini sudah sesuai dengan yang kubaca di Mayoclinic. Dan
perbaikannya sudah terlihat betul. Kami optimis hari Senin sudah bisa pulang.
![]() |
| Menunggu saat pulang karena teman sekamar udah duluan pulang |
Hari kesepuluh Senin tanggal 20. Alhmamdulillah, hasil membaik, tensi
stabil 2 x 24 jam, kencing lancar. Dokter pun membolehkan untuk pulang, masih
membekali resep amoxyclav dan captopril (antibiotik dan pengontrol tekanan
darah). Dan juga surat kontrol. Tapi kami juga sepakat, untuk melanjutkan
kontrol dan rawat jalan dengan bimbingan dokter anak langganan kami, dr.
Armelia di RS Sari Asih.
Selasa, kamin ikut saran Pakde Tomo, Ibu, dan Bapak untuk
pemeriksaan kultur urin di Prodia Kramat. Walaupun terakhir kami tau,
ternyata selain dokter Tomo, ngga ada dokter lain yang menyarankan itu,
termasuk dokter-dokter di RSCM yang jadi tempat kami kontrol kemudian.
Tapi baiklah, kami ikuti saja.
Kamis, tanggal 23,
cuaca dingin. Rinitis Mas Zhafi kambuh lumayan parah. Pilek, mampet, berlanjut
batuk keesokan harinya. Belum cukup, berlanjut sesak malam harinya. Sesaknya
mengkhawatirkan, ada demam juga. Ibu pikir, asmanya kambuh lagi, tapi sempat
khawatir jangan-jangan ada infeksi kuman lain. Tapi rasanya ngga mungkin,
karena masih dalam terapi antibiotik.
Sabtu pagi tanggal 25, ketika BAK di pagi hari, Ibu kaget, kenapa kencingnya coklat kemerahan. Hal
itu membuatku memutuskan untuk ke IGD RSCM. Toh, Pakde Tomo dan Ibu juga sudah menyarankan
dari beberapa hari lalu untuk melanjutkan perawatan/kontrol ke RSCM. Di IGD,
ditangani oleh dokter spesialis anak masih muda yang baik hati dan sangat ramah
penuh senyum, dr. Angga (eh apa sihh...). Setelah memeriksa Mas Zhafi, Ibu agak tenang, karena sesaknya bukan infeksi
kuman tapi serangan asma ringan. Dan memang langsung hilang setelah di
inhalasi. Kami pulang dibekali resep obat dan surat kontrol ke poli nefro RSCM
hari Selasa berikutnya.
Senin tanggal 27, sempat kontrol lagi ke dr. Armelia untuk
mengkonsulkan hasil tes urin hari ini yang mengkhawatirkan sekaligus minta
surat untuk dirujuk ke poli nefrologi RSCM. Pemeriksaan urin hari ini hasilnya
lebih buruk dari hasil tes urin ketika keluar dari RS. Penuturan dr. Armelia
membuat hatiku mencelos. Sebaiknya Mas Zhafi bed rest, benar-benar di atas
tempat tidur. Tidak makan cemilan apapun, terutama yang mengandung garam dan
gurih. Otomatis, Ibu benar-benar ngga
ngasih cemilan apapun sejak itu.
Selasanya, tanggal 28 kontrol pertama ke poli nefrologi. Dokter
meminta tes darah dan urin ulang yang kami lakukan pada esok harinya tanggal
29.
Kamis, tanggal 30, kami kembali lagi untuk mengkonsulkan
hasil pemeriksaan lab. Alhamdulillah, hasil urinnya membaik. Curigation deh,
sama lab tempat Ibu tes urin sebelumya,
memang ngga bonafid sih. Sehingga optimislah untuk bisa sembuh seperti semula. Bahkan
dokter pun membolehkan untuk sekolah asal tidak beraktivitas terlalu berat.
Cemilan juga bisa dibilang bebas, asal bukan garam dan MSG aja. Hmmm... tapi
untuk selanjutnya diminta kontrol ke respirologi karena ada keluhan batuk yang
lumayan lama.
That’s all. Oh ya, hal menarik yang terjadi bulan ini
adalah, pertama kalinya gigi Mas Zhafi tanggal.
Langganan:
Postingan (Atom)
Dapat Insight untuk My Life Project
Life Project itu adalah berkebun. Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...
-
Liburan sudah hampir selesai. Adek sudah harus masuk sebenarnya, tapi sejak kemarin demam jadi izin dulu. Si Mas masih minggu depan masuknya...
-
Jumat lalu, akhirnya Zhafi kembali nyantri. Jangan tanya gimana rasanya. Sedih, khawatir tapi juga merasa tenang. Khawatir karen...
-
Iya, tahun 2024 ini adalah tahun kemunduran terparah bagi perkembangan kepribadianku. Begini ceritanya. Aku memang aslinya orang yang introv...

