Tampilkan postingan dengan label Renungan dan Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan dan Inspirasi. Tampilkan semua postingan

20/02/20

Lagi-lagi, Nasihat Terpenting Itu...

Kemarin, seIndonesia dikejutkan dengan meninggalnya suami dari seorang pesohor negeri ini. Suami dari BCL, yaitu Ashraf Sinclair, yang juga pesohor. Jujur agak kaget karena setahuku, BCL dan Ashraf baru aja berfoto ria di New York. Aku ngga  follow IG mereka berdua, dan ngga terlalu ngikutin berita mereka juga. Tapi sempat tahu kabar sekilas dari media online. Yang menambah kaget juga, karena BCL bukannya malam sebelumnya masih hadir di Indonesian Idol? Sekepo itu aku, sampai kubuka IG BCL dan masih terlihat Instastorynya diposting malam menjelang subuh. Belakangan muncul keterangan bahwa Ashraf dinyatakan sudah meninggal juga beberapa menit menjelang subuh. Segitu mendadaknya, segitu tak terduganya.


Innalillahi wa Inna ilaihi roojiuun. Sungguh usia itu misteri. Dekat dan jauhnya hanya Sang Pemberi Waktu yang tahu. Hatiku seketika ikut pedih. Ikut berempati dengan BCL sebagai ibu muda dengan anak yang masih kecil. Pedih karena membayangkan perasaan anaknya yang harus ditinggal ayahnya secepat itu, saat usianya masih muda, 10 tahun. 


Langsung teringat dengan seorang teman yang juga mengalami hal yang sama persis. Yaitu teman Zhafi waktu sekolah dasar yang juga anak tunggal. Ayahnya meninggal tiba-tiba tanpa ada sakit atau penanda apapun sebelumnya. Juga ditinggalkan saat usia yang kurang lebih sama, 10 atau 11 tahun.


Mendengar kedua berita itu, rasa sedihnya sama. Sedih karena membayangkan kepedihan mereka ditinggal orang yang dicintai, apalagi di saat-saat masih benar-benar membutuhkannya. 


Tapi kemudian banyak hikmah yang sampai kepadaku, yang sedang berusaha kupelajari. 


Hidup hanya sekali, cintai dan jaga orang-orang terdekatmu, yang selalu ada untukmu. 


Hidup hanya sementara, usia tak pernah bisa kita duga. Gunakan sisa waktu sebaik yang kita bisa, seolah kematian itu sudah di depan mata. Untuk persiapkan bekal terbaik di perjalanan ke alam berikutnya.


Tidak ada kehidupan yang sempurna. Selalu ada cobaan dan ujian, ada kekurangan dan kelemahan. Setiap orang menjalani ujian yang berbeda. Setiap orang memiliki hal yang kurang. Jadi untuk apa mengeluhkan kehidupan sendiri dan mengidamkan bisa menjalani kehidupan orang lain yang (tampak) sempurna. Allah tahu kemampuan kita, dan tahu ujian apa yang sesuai untuk kita lewati. 

Dan satu lagi... 

Melihat banyaknya pemberitaan tentang Ashraf, alhamdulillah positif semua. Dia dikenal sebagai orang yang ramah, memberi pengaruh positif ke orang-orang di sekitarnya, suportif, passionate, dermawan, dan sosok suami dan ayah yang baik. Lalu, aku ingin dikenang sebagai orang yang baik? Tanyaku pada diri ini, kebaikan apa yang sudah kuperbuat untuk sesama? Untuk keluargaku? Untuk teman dan sahabatku? Untuk lingkunganku? Untuk agamaku? Untuk negeri ini? Untuk bumi ini? 

Semoga Allah beri aku taufik dan hidayah untuk selalu mengamalkan ilmu dan beramal sholih sebanyak-banyaknya, dan kekuatan untuk menjauh dari segala sesuatu yang tak diridhoinya.


23/12/18

Kematian, Rahasia Ilahi

Sore ini buka FB kembali, setelah udah lama ngga buka FB. Dan terbacalah status seorang senior di kampusku dulu.
Status yang mengabarkan berita duka, meninggalnya istri dan anaknya.

Hati kaya teriris-iris rasanya, ikut sedih banget membayangkan kehilangan istri dan anaknya sekaligus. Kehilangan pasangan saja atau kehilangan anak saja pastinya udah sedih banget. Dan ketika harus kehilangan keduanya, bagaimana rasa sedihnya. Subhanallah....

Penasaran dengan kabar itu, aku buka akun seniorku ini. Ada kabar berita apa sebelumnya? Apa karena sakit? Atau kecelakaan kah, yang membuat keduanya sekaligus berpulang ke Rahmatullah.

Ternyata baru seminggu lalu istrinya posting foto dan ucapan hari ulang tahun pernikahan mereka. Istrinya dalam keadaan hamil, terlihat cantik dan berwajah cerah di foto itu. Mereka sedang menunggu kelahiran si bayi yang tinggal hitungan hari.

Seminggu kemudian, hari yang ditunggu tiba. Hari saat bayinya akan lahir. Namun ternyata hari itu ditunggu bukan untuk menyambut kehadiran anggota keluarga baru, tapi justru mengantarkan dua anggota keluarga sekaligus ke peraduan terakhir. Qodarullah sehari setelah melahirkan, istrinya berpulang ke Rahmatullah, setelah sebelumnya bayi yang lahir meninggal dunia.

Semoga Allah mengampuni dosa dosa almarhumah, dan menempatkan mereka berdua di tempat terbaik di sisi Allah. Dan semoga semua keluarga yang ditinggalkan dikuatkan.

Rahasia Allah. Kematian. Ngga ada yang menyangka kapan maut menjemput. Ngga harus sakit dulu, ngga harus tua dulu.

Semoga, ketika saat giliran ku tiba, aku mohon agar aku tetap dalam keadaan Islam, beriman, dan Husnul khatimah.... Aamiin. 

11/06/18

Status FBku Hari Ini 5 Tahun Lalu



Ngga mudah mengubah sikap dan sifat negatif, yang sudah bertahun-tahun lamanya menjadi bagian dari diri seseorang.

Tapi saya kok sekarang percaya, semakin sering orang mendapatkan masukan yang baik, motivasi, pola pikir yang baik, dorongan positif, energi positif, informasi positif, akan membantu orang itu mengarah pada perubahan yang positif juga.

Bukan perubahan yang mendadak sontak  seperti di sinetron-sinetron. Karena proses setiap orang berbeda, mungkin naik turun juga. Kalaupun kita merasa hanya sesaat aja tergerak oleh motivasi positif misalnya, mungkin memang belum cukup, karena ngga sebanding dengan masukan negatif yang selama ini membentuk sifat negatif itu.

Makanya, pernah dengar dalam 1 kelas parenting yang saya ikuti di sekolah anak saya, dikatakan ...ketika anak mendapat 1 masukan negatif, idealnya diimbangi dengan 14 masukan positif. hm... #sekedar sharing

04/05/18

Al Qur'an Adalah As Syifa - Sharing Pengalaman

Ada sedikit memori di akhir 2017 kemarin. Sedikit cerita pengalaman tentang Al Qur'an dan doa sebagai penyembuh (As Syifa).

Beberapa waktu lalu, Hanan kena cacar air. Di hari ke 9, sakitnya bersambung dengan batuk pilek. Sebelum batuk pilek, sempat demam tinggi. Sempat muntah dan diare juga. Penyakit-penyakit yang umum terjadi sama anak-anak. Tapi,  kalau demam tinggi tanpa asupan cairan yang cukup, resikonya dehidrasi. Dan itu pernah terjadi dulu yang berujung dirawat di ICU (Intensive Care Unit). 🙁

Sejak Rabu malam, suhu tubuhnya panas tinggi. Beberapa kali terbangun dari tidur, mungkin akibat rasa nyeri dan pusing yang menyertai demamnya. Si Ayah mengkompres dengan air hangat terus menerus. Saya bujuk minum air putih tapi hanya beberapa teguk air saja yang mau diminumnya. Saya bujuk untuk minum obat penurun panas, dijawabnya dengan gelengan kepala dan mulut yang ditutup rapat. 

Setelah mencoba terjaga untuk mengompres dan memantau kondisinya, juga karena dia terbangun beberapa kali, akhirnya obat dipaksa masuk. Baru bisa tidur akhirnya. 

Keesokan harinya, sepanjang pagi hanya mau tidur saja. Sesekali berceloteh tapi matanya sayu dan tubuhnya lemas bikin saya khawatir. Berkali-kali saya bujuk untuk minum lebih banyak dan minum obat penurun panas. Tapi kuat sekali penolakannya. Untungnya, ia masih mau makan walau hanya beberapa suap. Sekali minum lumayan banyak, dan obat berhasil masuk, tidak lama kemudian dimuntahkannya bersama makanan. 

Saya bawa untuk cek darah dan konsul dokter. Dokter menyatakan hasil tes baik, menandakan hanya infeksi virus saja. Suhu tubuhnya saat itu 38 dersel. Menurut dokter, ia mulai dehidrasi ringan. Memang waktu malam, suhu tubuhnya lebih tinggi. Mungkin banyak kehilangan cairan saat itu. Lalu memberi resep cairan pengganti elektrolit yg hilang. Seperti sudah diduga, ia tidak mau meminumnya bahkan sedikitpun. Ia kelihatan tambah lesu hingga tertidur. Sore itu, saya mulai panik. Istighfar ngga berhenti dalam hati dan dengan lisan. Saya putuskan akan membawanya ke rumah sakit karena kondisi yang sudah mulai mengkhawatirkan. Saya telpon suami untuk segera pulang. 

Sambil menunggu, saya hubungi teman yang juga guru Bahasa Arab saya, bunda Nia Firnie, mohon supaya beliau mendoakan. Saya sungguh butuh saran apa yang harus saya lakukan dengan kondisi seperti itu. Olehnya, saya diingatkan untuk bermuhasabah, berpasrah, sambil membuatkan air ruqyah untuk Hanan. Dalam kondisi yang masih panik, saya jalankan nasihatnya sambil mencoba untuk berpasrah dan terus berdoa.

Alhamdulillah, Hanan mau minum walau sedikit-sedikit. 

Ketika di perjalanan menuju RS, saya raba leher dan keningnya, suhu tubuhnya sepertinya turun. Tapi mobil kami tetap menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan apapun. Sesampainya di UGD, seorang perawat memeriksa suhu tubuhnya, dan angka menunjukkan 36.5 dersel. Dokter bertanya ada keluhan apa. 

Lalu berceritalah saya kepada dokter. Tentang demam tingginya tadi malam, tentang dokter klinik yang menyatakan Hanan mulai dehidrasi, tentang lesunya sepanjang hari ini, tentang kurangnya asupan minuman yang masuk, dan obat yang sulit masuk. Lalu dokter meminta hasil cek darah yang memang hasilnya normal. Alasan kami membawanya ke RS adalah khawatir akan dehidrasi. 

Lalu dokter mengatakan, "Ibu, suhunya normal, hasil cek darah juga baik, jadi tidak ada indikasi harus dirawat."
"Tapi dokter, tadi dokter klinik bilang sudah mulai dehidrasi."
"Iya, bu. Kalau gitu kita lihat 2 hari lagi, ya. Karena kalau sekarang ngga ada alasan anak ibu harus dirawat."

Perasaan saya saat itu bercampur antara bingung tapi juga lega. Sewaktu berangkat Hanan dalam keadaan tidur, ketika perjalanan pulang dia berceloteh seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. 

Dalam hati saya membatin... 
 "Ini semua kuasa Allah, menyembuhkanmu melalui Al Qur'an dan doa guruku yang shalihah."

Rukyah itu sebenernya berkaitan dengan Tazkiyatun nafs, atau mensucikan  diri.
Merukyah diri berarti meminta perlindungan kepada Allah dari segala hal negatif.

31/12/17

Minta Dikukuhkan Hidayah

Kemarin di rumah Ibu, ngga sengaja nonton sebuah film Indonesia, di sebuah channel TV kabel. Nontonnya pas filmnya udah main 15 menitan kali ya, jadi ga tau pembukaannya.

Salah satu tokohnya, Sofi, yang entah gimana awalnya bisa ikut pesantren kilat. Sejak pulang dari sanlat, penampilannya yg tadinya serba terbuka mendadak serba menutup aurat dengan jilbab yang panjang. Perubahan yang membuat heran keluarganya.

Digambarkan, hijrahnya ngga mulus. Pastinya ada tantangan baik dari keluarga maupun dari diri mereka sendiri.

Ibunya Sofi awalnya menentang, walau akhirnya menerima. Tantangan dari dirinya sendiri justru lebih sulit. Sofi ini yang tadinya hobi selfi, berusaha mengurangi hobinya itu. Ketika ada produsen busana muslim yang minta  endorse produknya, dia malah bertanya, apa itu akan bikin saya masuk surga. Sesimpel itu pertimbangannya, tapi sulit untuk istiqomah.

Jadi ngomongin film hihi

Mungkin pesannya,  mendapat hidayah adalah sesuatu yang belum tentu bisa didapatkan semua orang.  Dan ketika hijrah, pasti banyak tantangannya. Yang paling sulit adalah dari diri sendiri. Hati manusia itu memang yang paling sibuk, bisa bergejolak. Bisa aja hari ini merasa ingin dekaaat sama Allah sampai bela-belain sholat semalam suntuk, tapi besok malemnya mau sholat Isya aja berat banget.

Setiap orang bisa beda tantangannya, bisa beda cobaannya. Tapi mau besar mau kecil pasti ada. Ada yang hari ini muslim tapi ketika akhir hidupnya melepas aqidahnya. Na'udzubillahimindzalik (semoga kita terhindar dari hal yang demikian).

Itulah perlunya seorang muslim berdoa dan terus meminta kepada Yang Memiliki dan Menguasai Hati. Berdoa memohon diberi ketetapan hati untuk terus istiqomah di jalan Allah. Salah satu caranya, berkumpul dengan teman-teman yang mengajak kita ke jalan yang sama-sama ingin kita tuju untuk bisa saling mengingatkan.

Ini curhat aja, betapa bersyukurnya bisa bertemu dengan teman-teman yang selalu saling mengingatkan. Termasuk mengingatkan saya dan teman-teman lainnya untuk membaca doa ini.

Saya masih banyak banget kekurangannya. Masih jauh dari sempurna, dengan segala keterbatasan yang masih berusaha untuk diatasi. Tapi ingin jadi baik. Sesuai fitrah manusia, yang baik dan menginginkan kebaikan.

11/10/17

Iri, Tanda Hati Tak Suci

Iri itu...
Bisa karena apa saja.
Iri karena tak mampu atau iri tanda tak punya tapi pengen, itu biasanya penyebabnya.

Aku... Masih belum bisa sepenuhnya terbebas dari rasa iri.

Melihat postingan tertentu di sosial media bisa jadi timbul rasa iri, walau tak terucap.

Tapi... Sejenak berusaha mengingat kembali bahwasanya iri itu sudah termasuk salah satu hasutan dan musuh sejati manusia, syaithon.

Iri menjauhkan diri ini dari rasa tawakal, dan qonaah. Intinya, iri itu menjauhkan diri ini dari Sang Maha Cinta. Pemilik alam semesta dan seisinya. Pemilik jiwa ini. Yang Maha Menentukan. 

Kalau hati ini diselimuti rasa iri, adalah tanda diri ini tidak suka dengan ketentuan Sang Maha Pengatur. Padahal, apalah diri ini, hanyalah makhluk ciptaanNya. Sudah sewajarnya diri ini mengikuti saja skenario yang Dia buat untuk hidup Sang Diri. Kalau mengikuti skenarioNya, walau dengan penuh tantangan yang bisa menyakitkan, insyaallah akhirnya happy ending.

Tapi, itulah manusia.  Tempatnya lupa, tempatnya dosa. Suka lupa kalau Allah Maha Menentukan. Kalau dikasih musibah bertanya, 'Kenapa harus aku?!'
Giliran diberi nikmat, jangankan tanya seperti itu, malah lupa bersyukur. Alhamdulillah cuma di bibir saja.

Yaa Rabbii... Ya Kuddus

Sucikanlah hati ini... Sucikanlah jiwa ini...


Sumber Gambar: yufid.com

27/10/16

Ketetapan Hati

Hari ini Allah menunjukkanku banyak peristiwa yang membuatku mengambil hikmah.

Kejadian yang menimpa sahabat sekaligus guruku, Bunda Nia, sungguh suatu tamparan besar buatku. Kejadian yang menguatkan kebenaran suatu ayat yang kurang lebih isinya: bahwa tidak akan seseorang memperoleh surga tanpa melewati ujian demi ujian.

Allah sedang menguji Bunda Nia dengan ujian yang sesuai dengan tingkatnya. Menguji keikhlasannya meniti jalan dakwah.

Dan aku? Awalnya aku merasa kecil, malu, bahwa apa yang kualami ini ngga ada sepersekiannya dari yang dialami Bunda Nia

Tapi kemudian seorang sahabat, Ambu Firda, punya pendapat lain. Tiap orang mendapatkan ujiannya masing masing. Dan inilah ujianku. Pola interaksiku dengan suami yang masih belum bisa saling memahami. Juga kondisi pribadi yang masih belum selesai urusannya. Karena bawaan kami yang memang sulit terbuka satu sama lain.

Dan sepanjang sore, dorongan untuk menyampaikan apa yang selama ini kupendam sudah mencapai titik tak tertahankan lagi. Aku sebenarnya tidak tega melihat dia yang kecapekan dan ngantuk. Tapi masalah ini harus selesai. Kalau tidak, bagaimana aku nanti menjalankan peranku? Pastinya berpengaruh kepada interaksiku dengan anak anak. Dan lebih parah lagi, kesalahpahaman semakin berdampak buruk kepada interaksiku dengan suami.

Alhamdulillah... Kami sudah bicara dari hati ke hati. Mengungkapkan apa yang selama ini terpendam. Mempertanyakan apa yang selama ini jadi pertanyaan yang hanya tersimpan.

Aku bersyukur ada kesempatan bicara. Jadi aku bisa lebih memahami kondisi dan kemampuannya. Dan aku bisa legowo untuk tidak menuntut harapan yang selama ini kusimpan.

Bismillah... Semakin menguatkan niatku, untuk menjalani peranku sebagai istri dan ibu dengan lebih optimal lagi.

Karena, tanpa aku sadari, apa yang selama ini dilakukan suamiku adalah sesuatu yang luar biasa besar nilai pengorbanannya demi keluarga.

Ia memang tidak mengungkapkan secara verbal dan non verbal. Tapi menunaikannya dalam bentuk tanggung jawab. Dan itu semakin kupahami setelah pembicaraan malam ini.

Setelah malam ini, dengan segala daya upaya yang hanya dariNya, aku kuatkan niat untuk menemaninya, melayaninya, menentramkannya, mendukungnya, dan membantunya mewujudkan apa yang menjadi impian dan harapannya. Tidak untuk mengharap balasan darinya. Semata-mata karena mengharap ridho Allah. Cukup itu saja tujuannya. RidhoNya.

Semoga Allah kuatkan aku.
Semoga istiqomah.
Semoga Allah selalu tuntun niatku supaya tetap lurus adanya.

26/10/16

Luapan Rindu

Ketika Allah menciptakan Hawa, Adam bertanya pada Hawa,
"Untuk apa kamu diciptakan?"
Hawa menjawab, "aku diciptakan untuk menemanimu."

Saat Fathimah bercanda dengan Ali, ada candaan Fathimah yanh membuat Ali marah. Menyadari itu, Fathimah meminta maaf kepada Ali, dan Ali memaafkan. Namun Fathimah masih merasa tidak tenang. Keesokan harinya, Fathimah mendatangi Sang Ayah, Rasulullah SAW, dengan wajah panik.

Seketika itu, Rasulullah bertanya dengan khawatir kepada Fathimah, putri yang dicintainya.
"Ada apa, Fathimah?"
"Ayah, semalam aku bercanda dengan Ali, dan rupanya Ali merasa tersinggung dengan candaanku. Aku meminta maaf dan dia sudah memaafkanku. Tapi aku masih merasa gelisah. Bagaimana ayah?"

Menanggapi penuturan putri tercintanya, Rasulullah menjawab dengan tegas,
"Seandainya Ali belum ridho terhadapmu, aku tidak mau melihatmu."

Saat ini aku melepas semua egoku. Tidak terbayangkan rasanya Rasululullah memalingkan wajahnya dariku karena aku membuat suamiku tidak ridho padaku.
Tak terbayangkan seperti apa jika Ia dan semua malaikatNya melaknatku satu malam itu.

Tidak lagi aku memikirkan tujuan pribadiku, karena sesungguhnya tujuanku adalah ingin bertemu dengan junjunganku seorang, Nabi Tercinta.
Tak lagi aku hirau mengharap pamrih dan cinta siapapun, karena yang kukejar adalah cintaNya.

Dan suamiku, dia adalah orang yang karena Dia, aku menaatinya.
Karena Dia, aku menemaninya.
Karena Dia, aku mencintainya.

-menahanrindu-

07/10/16

Shalih Itu Bukan Sekedar Rajin Sholat dan Pintar Mengaji

shalih/shalihah itu...
bukan sekedar rajin sholat, rajin ngaji, punya banyak hapalan surat. bukaaan
bukan sekedar patuh pada orangtua dan guru. bukaaan

shalih/shalihah itu...
memiliki iman dan aqidah kepada Allah, sehingga apapun yang dilakukannya itu karena Allah. karena mengejar ridho dan cintanya Allah. sholat, ngaji, menghapal bukan karena ingin dipuji manusia tapi karena ingin dicintai Allah.
menghapal tidak sekedar menghapal tapi memahami dan mengamalkan Alqur'an. dan semuaaa yang ada di alQur'an itu adalah hukum bagi semua manusia. termasuk bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia dan lingkungan.
apalagi disertai dengan menjalankan sunnah Rasulullah. menjadikan Rasulullah panutan karena kita tahu Rasulullah memiliki pribadi yang luar biasa mulia, sehingga dicintai umatnya, lisan dan sikapnya mencerminkan kecerdasan hati yang tinggi.

dan menjadi shalih/shalihah itu adalah menjadi pribadi yang mengejar cinta Allah dan mencintai Rasulnya.
tau bagaiman rasanya dan apa yang dilakukan ketika jatuh cinta dan mengejar cinta seseorang?
pasti jadi jaga image kalau ketemu. hanya melakukan hal-hal yang disukai orang itu. lalu ikut-ikutan melakukan apa yang dilakukan orang itu.
jadi jaga image sama Allah saja. Allah pasti melihat kita. jangan sampai Allah melihat kita melakukan hal-hal yang ngga disukaiNya, apalagi yang membuat Dia murka.
meniru apa yang dilakukan Rasulullah. dalam beribadah, berinteraksi dengan manusia dan lingkungannya, dalam berorganisasi, dalam berdagang.

kalau rajin sholat dan pintar ngajinya tidak membuat perilakunya dalam keseharian menjadi mulia dan tidak memberi manfaat bagi sesama, belum bisa dibilang shalih.
shalih itu, adalah mengejar cinta Allah, dan mencintai Rasulullah. sehingga apapun yang dikatakan dan dilakukannya, adalah karena dua hal tersebut.

kejar cinta Allah dengan benar, cintai Rasulullah dengan benar. caranya... dalami ilmunya. pelajari dengan benar. jangan pernah merasa cukup dengan ilmu tentang agama, dalam hal ini Islam.

#pengingat untuk diri sendiri
#semoga diberikan keturunan yang shalih/shalihah

Referensi tentang makna shalih bisa dilihat di http://buletinmi.com/shalih-menurut-al-quran-edisi-39/


26/11/14

Mohon Tuntun Lisan dan Lakuku



Ya Rabb …

Tuntunlah lisan dan laku ini
Agar tidak menjadi pisau yang melukai hati anak-anak ku
Agar tidak menjadi pembunuh kebahagiaan anak-anak ku
Agar tidak menjadi penghancur masa depan anak-anak ku

Ya Rabb ...
 
Tuntunlah lisan dan laku ini
Agar dapat berbuat dan berucap penuh kasih sayang pada anak-anak ku
Agar dapat berbuat dan berucap yang menumbuhkan rasa kasih sayang kepada anak-anak ku
Agar dapat berbuat dan berucap hal-hal yang menjadi teladan baik bagi anak-anak ku
Agar dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak ku menemukan kebahagiaan menjadi dirinya sendiri
Agar anak-anak menemukan banyak hal yang dapat disyukuri setiap hari

12/11/14

10 Hal Yang Paling Aku Syukuri Hari Ini Day #2



Ini hari kedua.
  • Bangun pagi dalam keadaan sehat, segar, dan bisa beraktifitas seperti biasanya. Alhamdulilllah .. ini nikmat harus bener-benerrr disyukuri. Setiap hari. Coba kalau satu itu hilang, kita ngga bisa ngapa-ngapain, di tempat tidur. Ngga enak kaaaan. Makanya, selagi sehat, kuat, syukuri, syukuri, syukuri !
  • Berhasil menuntaskan janji bikin pepes ikan kembung hari ini. Dengan segala kerempongan di sela-sela bikin pepes yang uh… gitu deh, ditambah adek yang bolak-balik minta ini itu, padahal tangan lagi belopotan bumbu pepes dan bau amis. Tapi alhamdulilllah berhasil dieksekusi. Dapet 5 bungkus. Rasanya sih masih kurang mantep. Baru belajar, jadi dimaafkan. Eh tapi, untuk bikin pepes ikan lagi dalam waktu dekat ngga dulu deh. Haduhh… besok aja di rumah ibu, biar bareng-bareng sama Dek Vivi dan Ibu sambil ngobrol-ngobrol. Adek banyak yang jagain. Ada Pakdenya, Eyangkungnya, Ayahnya. Hihihi….
  • Sebelum tidur, ayah nawarin untuk mijetin punggung yang emang pegel. Makasih, Sayang …
  • Hari ini aku lihat Zhafi semangat banget menuntaskan hafalan surat-surat di juz’amma. Katanya, “Asyik, udah sampai As-Syams. Besok Al-Insyiroh!” Lalu dia terlihat asyik membuka-buka dan membaca juz amma dan terjemahannya. Lalu mencatat-catat di selembar kertas, lalu dimasukkan ke tas sekolahnya. Masha Allah, Zhafi, semoga kamu kelak jadi hafidz Qur’an yang shaleh, ya. Tidak hanya hafal, tapi juga mengamalkan. Aamiin. Sayang ibu untuk Mas Zhafi, semoga Allah semakin sayang dan semakin memberikan nikmat Islam dan Iman buat Mas Zhafi.
  • Bikin plecing kangkung, sambel plecingnya uenaaakkk. Dan Suami juga suka. Makasih tabloid Saji … #eh. Makasih mamanya Alex yang dengan Cuma-Cuma memberika tabloidnya buat akuh.
  • Kemarin sore, lagi-lagi Zhafi memandikan Hanan. Juga memakaikan baju. Ah, Mas Zhafi, kamu kakak yang keren!
  • Pakaian yang dijemur kering semua, karena hari ini panas terik.
  • Walau ban mobil bagian kiri depan rada bocor, Alhamdulillah masih ngga papa buat jalan
  • Bersyukur memiliki suami yang berhati lembut, sholeh, dan bertanggung jawab. Oh ya, dan ngga merokok!.Ngga akaan pernah hilang rasa syukur akan hal itu.
  • Hanan semakin banyak maunya. Di satu sisi kadang bikin kepalaku bertanduk, di sisi lain, bersyukur banget itu tandanya dia sedang mengembangkan sikap inisiatif nya.

Alhamdulilllaaahh….

11/11/14

Tantangan Menulis 10 Hal Yang Paling Disyukuri Setiap Hari Day #1

Bersyukur. Kadang mudah diucapkan, tapi belum tentu dipraktikkan. Seringkali kita tau bahwa kita perlu bersyukur. Tapi seringkali pula mudah lupa untuk mensyukuri nikmat yang sudah kita terima.

Nah ceritanya, kemarin-kemarin diingetin lagi nih sama seorang teman untuk bersyukur. Dia kasih semacam 'grateful chalenge' dengan cara nulisin status di Facebook tentang hal-hal yang paling disyukuri hari itu. Ngga banyak, cukup 3 aja.

Terus, kemarin liat you tube nya Just Alvin yang bintang tamunya Dian Sastro. Dia selalu terlihat beruntung menurut Alvin. Dian cerita, setiap hari dia selalu menuliskan 10 hal yang paling disyukuri setiap bangun pagi dan setiap akan tidur,

Dan aku pun terinspirasi membuat list grateful things ini. Semoga bisa konsisten aku tuliskan setiap hari di blog.




10 Hal Yang Aku Syukuri Hari Ini

  • Ngeliat senyum, tawa, dan cerianya Hanan itu surga dunia. Aku bersyukur banget bisa mendengar tawanya yang renyah, ketika kugelitiki, kuajak nari-nari. Ngeliat dia petakilan kesana kemari mana bisa aku marah, terlebih ingat ketika dulu aku harus menunggu dia berusia 1,5 tahun untuk bisa melihat dia merangkak.
  • Di saat aku diburu waktu, dikejar deadline selesaikan pesanan kebab dari teman-teman kantor suami, bersamaan dengan itu harus siapin sarapan juga bekal suami dan Zhafi, eh Zhafi bantu memandikan Hanan. My Boy!
  • Bisa ngobrol asyik dan bercanda sama sesama emak-emak sekolahan, di sela-sela rapat komite.
  • Suami dapat tambahan honor. Alhamdulillah
  • Pesanan kebab laku semua. Alhamdulillah
  • Hari ini hujaaan
  • Pulang sekolah, Zhafi excited banget bercerita kegiatan sekolahnya hari ini. Dia cerita dengan detil, tanpa diminta lho! Seneng dengernya J
  • Aku dikasih kesehatan untuk mengerjakan aktivitasku hari ini
  • Anak-anak sehat
  • Suamiku sehat





24/10/14

Momen Untuk Berhijrah



Jumat ini, ada perayaan Tahun Baru Hijriah di Sekolah Zhafi. Saya dan beberapa orangtua membantu menyiapkan goodybag untuk anak-anak sejumlah 135 anak. Karena perayaan di sekolah akan cukup meriah. Ada perlombaan adzan, tausiah, dan beberapa pertunjukan kecil oleh anak-anak dan guru-guru. Lapangan parkir sekolah disulap menjadi area panggung. Ada balon dan bendera menyemarakkan suasana. Guru-guru pun berpakaian sesuai dresscode. Yaitu berwarna ungu.

Sejak awal Minggu, yaitu hari Senin, saya dan beberapa teman komite sekolah sudah diworo-woro oleh ketuanya, untuk gotong royong menyediakan goodybag ini. Ada yang bantu memasak macaroni skotel, memesankan cheese stick, membuatkan puding susu, membelikan susu UHT, dan mengemas bareng-bareng semuanya dalam 1 kemasan plastik, sejumlah 135 bungkus.

Gotong royong yang manis dan menyenangkan. Sejauh ini, menjadi pengurus di Komite cukup menyenangkan karena menambah persaudaraan lagi dan semakin akrab dengan orangtua murid lainnya.

Anyway, karena ada kegiatan itu, saya jadi diingatkan. Hey… mumpung tahun baru hijriah, gunakan moment itu untuk melakukan perubahan yang lebih baik untuk diri sendiri dan keluarga.

Jadi mau cerita. Sudah berkali-kali, saya tuh pengen bisa konsisten untuk 2 hal. Hmm 3 hal sebenarnya. Konsisten menerapkan Food Combining tanpa cheating. Konsisten menjalankan sholat fardhu di awal waktu ditambah sholat tahajud dan dhuha. Terakhir, konsisten untuk menulis. Menulis 1 artikel setiap harinya.

Bagaimana saya mewujudkan keinginan itu? Hmm.. belum pernah bisa bertahan lama. Paling lama hanya bertahan 3 hari saja menerapkan FC. Untuk masalah sholat, baru bertahan sekitar seminggu saja. Sedangkan menulis, berat terasa. Selain karena harus berbagi waktu dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak. Ini sebagiannya lagi alasan ngga jelas. Hehe

Tapi, saya tidak ingin seperti itu terus. Kenapa saya ingin konsisten FC? Karena ingin sehat. Sudah macam-macam saja keluhan kesehatan yang saya alami. Saya ingin sehat. Itu saja.

Sekarang, jelang tahun baru hijriah, saya bertekad, untuk benar-benar teguh melakukan niatan ini, untuk mencapai tujuan. Sehat, semakin meningkat iman dan taqwa kepada Tuhanku, dan ahli dalam menulis supaya tercapai impian jadi penulis dan blogger professional.
Akan saya mulai dengan melakukan tantangan 10 hari untuk ketiga hal itu:

  • Berfood combining tanpa cheating
  • Sholat fardhu di awal waktu dan sholat sunnah tahajud dan dhuha
  • Menulis minimal 1 hari 1 artikel

Bismillah … semoga Allah senantiasa menguatkan saya, agar istiqomah sampai akhir hayat.

Dapat Insight untuk My Life Project

Life Project itu adalah berkebun.  Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...