Tampilkan postingan dengan label Cerita Hanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hanan. Tampilkan semua postingan

30/12/24

Dua Minggu yang Melelahkan

Dua minggu terakhir ini melelahkan jiwa. Dimulai dari ibu yang dirawat di RS, sikap suami yang ngga sesuai harapan, sikap Hanan yang juga semakin membuat lelah, dan terakhir perasaan negatif yang muncul karena ada kesan anak perempuanku seolah 'dinomorduakan' oleh kakak sepupunya. Wow, terkesan menyedihkan sekali ya.... Tapi sebenarnya aku menulis ini bukan untuk memojokkan siapa pun. Aku hanya mencoba menyalurkan ekspresi emosiku, mencoba untuk memahani diriku dengan jalan menulis. Pada akhirnya, aku mendapatkan pelajaran juga dari semua pengalaman ini. 

Jadi begini ceritanya... 

Dua minggu yang lalu, sekitar tanggal 13 Desember, dapat kabar kalau Ibu sakit. Awalnya kupikir batuk dan flu biasa. Tapi waktu video call, aku lihat wajah ibu kok bengkak. Mulai deg-degan. Singkat cerita benar aja, hari Sabtu pagi ibu lemas dan demam, dan dibawa ke UGD. Ternyata saturasinya rendah dan harus pakai oksigen. Ya Allah, rasa khawatir langsung mengaliri tubuhku. 

Kondisi ibu masih ngga stabil sampai hari Kamis (19 Desember) dan belum ketahuan apa sebenarnya penyakit Ibu. Malah di hari Rabunya (18 Desember), Ibu sempat ngedrop banget kondisinya, karena rasa lemas dan sesak yang intens. Ibu sampai nitipin amanah untuk menyerahkan uang tabungan alumni SMA nya yang selama ini dipegang Ibu, untuk diserahkan ke temannya. Aku iyakan saja, dan aku selesaikan amanah itu supaya Ibu juga ga kepikiran hal lain yang mengganggu. Alhamdulillah mulai hari Jumat, setelah Ibu mendapat fisioterapi, yaitu latihan mengembangkan paru-paru, kondisi Ibu kelihatan lebih segar dan stabil. Walau kadang masih lemas dan belum sepenuhnya lepas oksigen, tapi kelihatan lebih segar. Di hari itu, mulai ada diagnosa yang jelas tentang penyakit Ibu. Ibu kena Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Hari Sabtunya, dokter spesialis penyakit dalam sudah kasih ijin Ibu untuk pulang, tapi dokter spesialis Paru masih harus mengurangi dosis obat ibu secara bertahap, jadi Ibu baru bisa pulang hari Senin. 

Selain Ibu yang sedang sakit, ada beberapa kejadian yang cukup membuat kondisi emosiku kurang oke selama sekitar 2 minggu ini.

Jadi mulai Rabu (18 Desember), aku menunggui Ibu di pagi sampai sore hari, bergantian dengan mba Sania yang menunggui Ibu di malam hari. Ngga ada masalah dengan ini, karena suami udah oke, dan alhamdulillah Fariha juga sudah bisa diberi pengertian (ya dengan sedikit reward mainan juga, sih). Adikku, Dek Vivi, juga mau berbaik hati dititipkan untuk mengurus anak-anak, terutama Fariha. Kondisi suami sebenarnya ngga fit. Ya... entahlah... kondisinya sering kurang sehat, memang. Mungkin karena sudah tiga tahun ini harus bolak-balik kantor rumah dengan jarak waktu tempuh kurang lebih 3 jam dengan sepeda motor setiap harinya. 

Aku sempat mengalami hal yang tidak aku harapkan. Pada hari Jumat, suami lagi pusing sepulang dari kerja, dan setelah makan dia sudah rebahan dan tidur. Fariha awalnya masih asyik main, nyemil, dan minum susu di ruang keluarga. Tahu-tahu di rewel dan langsung nangis dan teriak. Ya kubawa ke kamar. Aku tahu ayahnya lagi pusing, jadi aku berusaha menenangkan dia dengan lembut, sambil aku bawa ke kamar mandi untuk pipis. Di kamar mandi Fariha masih teriak-teriak, dan tiba-tiba pintu kamar terbuka, ada suara bentakan, "Ibu!". Aku pikir itu Hanan. Teriakan dan tangisan Fariha masih ngga mau berhenti. Aku mulai agak jengkel dan khawatir Ayahnya semakin terganggu dengan tangisan dan teriakan Fariha, ditambah 'Hanan' yang kupikir tadi keluar manggil aku. Aku mulai lebih keras ke Fariha. Tapi bukan ngebentak keras, cuma aku turunin aja dari gendongan, dan aku akan gendong asal diam. Tapi Fariha masih aja nangis dan berteriak. Pintu terbuka lagi, dan kali ini suamiku memanggil aku dengan suara keras, memarahi aku karena aku dianggap bikin Fariha nangis sampai teriak. Aku langsung ngga terima. Justru aku tuh khawatir ayah keganggu dan berusaha menenangkan Fariha, malah aku yang kena bentak! Aku ngga terima sikap kaya gitu. Dan ternyata, yang kupikir tadi Hanan bentak aku itu ternyata suamiku. Makin kesel dan ngga terima aku. Fariha akhirnya diem sendiri karena aku dan ayahnya berdebat. Ngga lama sih berdebatnya. Sampai akhir malam, ngga ada kata maaf keluar dari mulutnya. Ya udah aku berusaha ikhlas aja. Berusaha paham dia lagi pusing dan karena pusing jadi mudah terpicu emosi.

Keesokan harinya, hari Sabtu, ketika aku bangun, sebenarnya aku ngga ngerasa marah walaupun inget kejadian tadi malam, malah aku ambilin minum buat suami. Tapi ngga tau kenapa, aku tuh masih berharap, setidaknya minta maaf ya tadi malam ngebentak aku. Aku tuh ngelihat Hanan susaah banget minta maaf kalau dia buat salah. Aku tuh pengen gitu dia lihat contoh kalau minta maaf itu ngga papa. Ngga usah gengsi. Ngga usah ngerasa jadi lebih rendah derajatnya. Malah itu bentuk kebesaran hati. Aku berharap Ayahnya bisa contohin itu. Tapi sampai aku mau berangkat ke RS, ngga ada juga dia minta maaf. Jengkel, kesel, marah muncul lagi ngga terbendung, sampai aku nyanyi keras-keras di kamar mandi. Selama di RS aku merenung, berusaha memulihkan hati, menenangkan diri, memulihkan perasaan. Ya berkurang sih marahku. Tapi, ngerasa kayanya suamiku kaya ga terima dengan sikap marahku. Ya silakan aja sih. Siapa saja berhak marah. Yang jelas perasaan negatif ini kurasakan sampai hari Sabtu, sampai aku nulis status WA yang hanya bisa dibaca dia aja. Dan kayanya dia baca besoknya. Tetap aja ngga ada maaf, malah mungkin kesel kali dia karena aku bikin status begitu. Ya maaf ya,,, aku juga belum hilang keselnya. Aku baper banget ngga sih? Tapi besok Minggunya aku udah sembuh, sih. Hanya saja pas nulis jurnal ini tadi sempet berasa lagi intensitas emosinya dan sekarang udah normal lagi. 

Nah, di hari Senin, ada kejadian lain, Hanan mengalami kecelakaan di kamar mandi. Hari itu aku ngga ke RS. Karena: pertama, Ibu akan pulang, tapi belum tau jam berapanya. Kedua, aku mau antar Hanan ke klinik juga, karena dia udah 2 hari ini ngga enak badan. Harusnya hari minggu kemarinnya, dia sama ayahnya periksa, eh ayahnya lemes, ngga jadi berangkat periksa. Jadi aku antar Hanan hari ini, sementara adikku, dek Vivi gantian yang ke RS bareng Bapak. Gantian aku bantu ngurus anak-anaknya Dek Vivi, karena Babanya WFH. Di situlah aku perhatikan sikap Hanan yang negatif, dan aku mulai pusing dengan sikap Hanan yang aneh ke Mba Puput (ART rumah). Sebenernya aku tau Hanan sekarang-sekarang ini sensitif dan gampang terganggu dengan kegiatan si ART ini. Ngga cuma ke mba Puput, ke Bu Tati di rumah kan juga gitu. Cuma kali ini kaya lebih intens aja, dan aku takut dia bisa tiba-tiba ngga terkendali. Dan terjadilah kecelakaan. Hanan mau mandi, lalu dia membawa sendiri panci berisi air panas yang tutupnya beling. Aku ngga tau itu, sampai terdengarlah ribut-ribut teriakan Hanan di kamar mandi. Rupanya dia jatuh, lalu tersiram air panas, dan tutup pancinya pecah kecil-kecil. Dan aku langsung tau itu bisa terjadi karena dia ngga fokus. Jadi aku bantu dia duduk, bersihin beling-beling, sambil memberi tahu dia dengan agak emosional, supaya lebih fokus kalau melakukan sesuatu. Setelah dia mandi, baru ketahuan kalau ada luka bakar di punggung kaki dan di pantatnya. Selain itu, ada luka-luka kecil di telapak kakinya karena ngga sengaja menginjak pecahan kaca. Aku ke apotik dan baru kasih obat salepnya setelah 1 jam dari kejadian, jadi sudah mulai mlendung luka bakarnya. Begitulah kejadian hari itu. Alhamdulillah, malam hari itu juga Ibu Akhirnya sudah pulang ke rumah. 

Hari Selasa, ada kejadian yang sempat bikin aku sedih. Awalnya karena beranteman anak-anak yang endingnya Gara nangis. Beberapa waktu kemudian, baru aku sadari, si Kakak Alesha ini, kayanya lagi deket dan sayangnya sama Gara dan Gendis, jadi dia kesal sama Hanan dan (anehnya) ke Fariha juga. Dia seolah-seolah bersikap menjauhi dan memusuhi Hanan dan Fariha. Dan kalau aku ajak ngomong juga bete mukanya. Aku ngga mau berlama-lama deh melihat Fariha dicuekin dan diabaikan sama Alesha, jadi aku bilang maaf yang kalau tadi Hanan atau Fariha atau Bulik ada kesalahan. Setelah itu, situasi menjadi cair kembali. 

Hari Rabu, terjadi sesuatu yang bikin deg-degan. Di awali dengan paginya Hanan lagi-lagi rungsing karena rasa terganggunya itu ke ART. Alhamdulillah, Dek Vivi ngajak jalan-jalan ke TMII. Di TMII, awalnya cukup menyenangkan walau sedikit hujan. Tapi tiba-tiba setelah makan siang, Gendis mendadak kejang demam. Itu bikin kita semua lumayan panik. Langsung kita ke klinik dan setelah menunggu sebentar, akhirnya diputuskan Dek Vivi, Tondi, dan Gendis ke RS, sementara aku dan anak-anak tetap melanjutkan jalan-jalan karena tiket sudah dibeli. Sampai perjalanan pulang semua lancar alhamdulillah. 

Hari Kamis, aku sedih lagi, karena aku lihat banget, gimana Fariha dinomorduakan lagi oleh si Kakak di beberapa kali kejadian. Ngga salah si Kakaknya. Aku juga ngga marah ke Si Kakak. Wajar aja kan seseorang cenderung lebih sayang dengan satu orang dibanding lainnya. Ngga bisa dipaksain juga. Memang masalahnya di aku. Ada sedikit rasa sakit di hati, karena aku punya trauma waktu kecil, aku sering jadi orang yang dinomorduakan atau bahkan dianggap ngga ada di dalam pergaulan. Ditinggalkan. Rasanya sedih dan sakit. Jadi aku sedih kalau Fariha harus merasakan itu juga, walaupun kalau kuperhatikan dia belum terlalu mengerti dan merasakan itu. Ya paling ada satu moment, dia nangis karena pengen ikut Kakak Alesha, sementara Si Kakak pergi ikut Gara dan Babanya naik motor beli makan siang. Babanya sempat menawarkan naik mobil aja supaya bisa ikut semua. Aku hargai itu, api aku merasa ngga perlu, toh Garanya pengennya naik motor. Fariha akhirnya berhenti nangis setelah aku bujuk dia untuk makan sambil nonton youtube. Aku cuma bisa mencoba melegowokan hati. Alhamdulillah, hari ini waktunya aku pulang, jadi aku bisa memulihkan kelelahanku sejenak. Selama perjalanan, di mobil dari rumah ibu ke Tangerang, aku meditasi dipandu oleh video di youtube. Aku merasa lebih ringan dan mindful.

Tapi sampai rumah, ketika Hanan diajak ayahnya merakit lego, Ayahnya shock dan kehilangan kesabaran dengan Hanan yang sesulit itu bekerja sama untuk merakit lego. Sampai dia ngomong, ngga usah lagi ke rumah Rawasari kalau Hanan jadi ngga kekontrol kegiatannya. Aku berusaha tenang. Alhamdulillah kebantu dengan meditasi di mobil tadi. Kalau ngga, mungkin aku akan bersikap defensif. Tapi saat itu aku merasa berkesadaran penuh untuk mengambil jarak dari permasalahan, dan berusaha bersikap rasional menghadapi kemarahan ayahnya Hanan dan menenangkan Hanan. Dan sebelum tidur aku sempat ngobrol dengan tenang ke Ayahnya. 

Hari Jumat siang, Fariha demam. Suhunya 38,7 dercel. Padahal besoknya ada rencana mau antar Hanan pesantren kilat di Bandung. Sempat minum obat parasetamol siang dan malam hari mau tidur.

Hari Sabtu, alhamdulillah sepertinya Fariha ngga demam lagi. Tapi Hanan dan Ayah kurang sehat, jadi tetap gagal ke Bandung. Akhirnya mereka berdua merakit lego di rumah. 

Alhamdulillah semua itu sudah kulalui. Walau masih ada perasaan-perasaan negatih tersisa yang intensitasnya kecil. 

Kesimpulan dari seluruh pengalaman itu semua tadi apa? Kesimpulannya adalah.... ya aku memang masih punya luka batin. Luka batin ini bikin aku rapuh, mudah tercetus emosi, mudah merasa sakit hati, dan sulit move on. Tapi sebenarnya mungkin aku bisa menghindari perasaan-perasaan itu kalau aku konsisten melakukan kebiasaan-kebiasaan baik seperti meditasi dan jurnaling. Kebiasaan itu memberi kesempatan aku untuk menarik napas panjang, lebih mudah mengambil jarak dari permasalahan, mereframing ulang pikiran, supaya bisa lebih punya pandangan yang netral dan tidak mudah terbawa pikiran negatif. 

Ayo deh, Rie, jangan berhenti berdzikir, bermeditasi, benerin sholat, dan journaling!







11/12/24

Akhirnya Sholat Jumat Lagi Setelah Absen Dua Tahun

Ini bukan kisah inspiratif. Pengalaman parentingku memang ngga bagus-bagus amat, bukan yang ideal, mungkin kurang bagus malah, bukan yang bisa dibanggakan gitu. Kuakui, sebagai ibu yang juga punya isu kesehatan mental yang kurang baik, penerapan parentingku banyak sekali yang ngga sesuai dengan parenting yang baik. Walaupun belajar parenting, tapi ternyata aku lupa untuk menyelesaikan urusanku sendiri. Jadi ilmu parentingnya agak sulit aku terapkan. Halah, jadi curhat...

Balik lagi ke topik dan judul. Jadi ini cerita tentang anak keduaku. Hanan. Sebagai muslim, tentunya kami ajarkan tentang sholat kepada anak-anak sesuai dengan kemampuan kami. Hanan mulai ikut sholat Jumat umur 8 tahun, itu sejak dia masuk sekolah dasar. Kenapa dia masuk SD usia 8 nanti akan aku ceritakan di postingan tersendiri. Usia 9 tahun (kelas 2), itu tahun 2019-2020, Hanan sholat Jumat di sekolah. Kalau tidak sedang sekolah, Hanan sholat Jumat bareng temannya atau ayahnya kalau pas bisa nemenin.

Datanglah pandemi di tahun 2020. Waktu itu diberlakukan lock down (waktu itu namanya PPKM) sepenuhnya. Pembelajaran dilakukan di rumah. Ibadah juga harus di rumah, termasuk sholat Jumat. Kantor ayahnya juga memberlakukan work from home. Jadi setiap hari Jumat, sholat Jumatnya di rumah sama ayahnya. 

Selama pandemi, ada masanya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) alias lock down dilonggarkan. Ayah balik kerja di kantor, masjid juga mulai mengadakan sholat Jumat dengan menjaga jarak, sekolah mulai mengadakan lagi pembelajaran tatap muka (PTM) bagi yang mau. Buat Hanan, aku masih belum berani untuk membiarkan ikut PTM, jadi masih lanjut belajar di rumah. Nah sholat Jumatnya ini, dia masih di rumah. Sepertinya kelamaan berlangsung seperti itu, yang lain sudah mulai sholat Jumat di masjid, Hanan sering terkendala mau Jumatan ngga ada barengannya. Akhirnya, menjadi kebiasaan buruk. Setiap Jumat ngga sholat Jumat, walaupun saat itu ada Ayahnya yang lagi ngga ngantor dan bisa nemenin. Waktu liburan lebaran, saatnya sholat Jumat, sepupu-sepupunya pada berangkat, Hanan ngga berangkat. Di rumah setiap aku bilang mau antarin dia sholat Jumat dia ngga mau dan malah berpura-pura tidur. Itu berlangsung sampai sekitar bulan Mei 2023. 

Di waktu-waktu ini, lagi booimg banget warung es krim Mixue. Hanan kayanya penasaran banget, dan berkali-kali minta diajak nyobain es krim di situ. Aku dari awal sama sekali ngga minat dan ngga mau ajak anak-anak ke sana. Karena apa ya? Ya pertama, dia jualan es krim dan minuman manis aja. Kedua, Mixue ini retail tenant dari China, kaya males aja mau nyobain. Jadi waktu Hanan berkali-kali bilang pengen ke sana, aku dengan tegas jawab NGGA dengan menjelaskan alasannya yang berkaitan dengan kesehatan. 

Tapi...entah dapat wangsit dari mana, aku kepikiran ide ini. 

"Hanan, ibu mau ngajak ke Mixue, hari Jumat habis sholat Jumat. Gimana?"

Waktu itu respon Hanan ya ngga setuju. Tapi aku ngomong seperti itu terus setiap kali dia ngomongin pengen ke Mixue. 

Akhirnya di sekitar pertengahan bulan Mei 2023, dia (dengan berat hati hihi...) mau ambil tantangan itu. Tapi waktu itu dia ngga mau sholat di mesjid dekat rumah. Sekalian aku tawarkan sholat di mesjid yang dekat dengan warung Mixue terdekat, dan itu ada di lokasi yang letaknya sekitar 10 menit perjalanan naik mobil dari rumah. Di hari H-nya, aku antarkan dia naik angkot, sembil gendong Fariha panas-panasan ke mesjid yang dimaksud. Namanya Masjid Haji Na'im, di daerah sekitar Pasar Curug. di seberangnya ada warung Mixuenya. 

Sholat Jumat pertama, aku tungguin dia di depan masjid sambil gendong Fariha yang ketiduran. Oh ya, sambil nunggu, aku makan di warung padang depan masjid. Setelah selesai sholat, sesuai janji, aku ajak dia beli es krim di Mixue. Alhamdulillah... akhirnya anakku lanang mau sholat Jumat lagi. 

Jadi, agenda mingguanku setiap Jumat adalah nganterin Hanan sholat Jumat dan traktir es krim Mixue. Cuma ya itu, masih harus sesuaikan dengan kemauan dia juga yang masih belum mau sholat di masjid dekat rumah. Bahkan sempat beberapa bulan aku harus nge-grab car ke Citra Raya dan menempuh perjalanan selama kurang lebih 25 menit untuk sekedar untuk antar Hanan sholat Jumat di mesjid daerah sana plus traktir es krim Mixue. Tetapi... perlahan-lahan, lama kelamaan, Hanan udah mau sholat Jumat di mesjid dekat rumah dan ngga harus traktir Mixue. Mixuenya diganti jus buah, kadang malah ngga sama sekali. 

Alhamdulillah aku bersyukur atas semua yang terjadi. Mungkin caraku kurang tepat, tapi itulah yang bisa aku upayakan. 

Untuk Hanan.... Ibu ridho pada Hanan. Semoga Allah limpahkan ridhoNya, taufik dan hidayahNya untuk Hanan, dan selalu menunjukkan jalan yang lurus untuk Hanan, dan semoga Allah lembutkan hati Hanan menerima nasihat baik dan menjalankannya. Aamiin...


09/12/24

Perjalanan ke Bandung

Tanggal 7 dan 8 Desember kemarin, kami sekeluarga ke Bandung. Tujuan utamanya adalah survey pesantren yang direferensikan oleh Babanya Ajib, tetangga kami dulu waktu tinggal di Taman Royal 3. Kalau dari cerita yang bersangkutan, pesantren ini ramah anak berkebutuhan khusus. Oke, layak ni didatangi langsung untuk cari info lebih jelas. 

Kami berangkat dengan Travel DayTrans di hari Sabtu 7 Desember jam 6 pagi. Alhamdulillah, persiapan di pagi hari berjalan lancar, dan kita bisa tiba di tempat penjemputan sebelum jam 6. Berangkat tepat waktu, perjalanan lancar ngga ada macet, dan tiba pun tepat waktu. Kami turun di Pasteur, menunaikan hajat ke toilet umum, dan isi perut yang lapar. 

Setelah merasa cukup, Ayah pesan taksi online untuk mengantar ke Pesantren yang kami tuju. Alhamdulillah, dapat kendaraan dan sampailah kami di pesantren itu. Namanya Kampung Qur'an Cendikia (KQC). 

Survey Kampung Qur'an
Selama di sana, kami bertanya banyak hal. Dari mulai hal umum sampai yang khusus, terutama berkaitan dengan isu yang dialami Faiq Hanan. Penjelasan-penjelasan yang mereka berikan cukup memberikan rasa optimis kalau ini sepertinya cukup pas untuk Hanan. Ini catatan-catatan kami:

1. Penerimaan santri dalam jumlah yang sedikit (sekitar 20-30 santri), sehingga santri terpantau betul oleh para pengasuh dan ustadznya. 
2. Musyrif dan ustadz tinggal di kawasan pesantren. Bahkan kamar musyrifnya ada di sebelah kamar santri. 
3. Pendekatan personal sesuai karakter anak ketika ada masalah. 
4. Sudah ada pengalaman-pengalaman menghadapi anak dengan kebutuhan khusus, termasuk ketika anak tantrum.
5. Ketika memberi jawaban tentang poin nomor 4, ustadz bicara apa adanya, ngga menjanjikan hal yang berlebihan, tapi cukup meyakinkan kami mereka punya dedikasi dalam mendidik anak dengan kondisi apapun. 
6. Tempatnya sangat homey, dan sesuai dengan Hanan yang suka eksplorasi. Semi alami, berbukit-bukit, dan sejuk.

Singkat cerita, aku dan suami melihat, tempat ini memungkinkan jadi tempat belajar yang sesuai kebutuhan Hanan. Semoga. 

Liburaaan
Selesai dari KQC, kami jalan ke Minimart Yomart. Belanja bekal cemilan buat di hotel. Karena hotel tempat nginap kami jauh dari mana-mana hahaha. Di situ ada mainan odong-odong, seneng banget deh si Fariha. Selesai belanja dan main, baru deh kita ke penginapan, di Dago Highland. Kita naik Gocar ke sana. Wuih asli, menuju ke sana naik turunnya lumayan curam. Tapi begitu sampai di sana, lumayan bagus sih pemandangannya. 

Setelah check in, Fariha ngga sabar pengen berenang. Setelah makan modal pop mi dan ngegrab food, ayah dan anak-anak pada berenang. Ibunya ngga dulu. Yang pertama karena lagi haid, yang kedua, aku ngga bisa berenang di tempat dingin. Kupingku bakal kerasa sakit banget, plus seluruh badan kaya kebas gitu. 

Dan Hari itu ditutup dengan makan malam Kebab pesan via gofood. Kebabnya enak. 

Besok harinya, jam 3 aku udah bangun langsung mandi. Rencana hari ini mau lihat sunrise di Tebing Keraton, di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda. Rencana mau berangkat jam 4.30, ayah dan anak-anak ngga usah mandi, ganti baju aja. Baru dapat taksi online jam 5 am. Ya sudahlah berangkat. Sampai gerbang kawasan Tahura Taksi ngga boleh masuk lagi karena dikuasai ojek panggilan. Jadinya kita naik ojek untuk bisa sampai di Pos 5 Tahura. Sampai di Pos 5, eh pintu nya belum dibuka. Petugasnya terlambat datang nih. Mataharinya udah keluar. Ya gagal deh lihat sunrise. Masuk ke sini bayar tiket 17ribu per orang. Asiknya jalan-jalan di hutan pagi-pagi. Udaranya... sejuk. Dan sampailah kita di Tebing Keraton... 

Maasya Allah Tabarakallah.... ngga papa ngga dapat sunrise, tanpa itu pemandangan di sini udah maasya Allah cakep sekaliiiii.... sampai mau nangis! 

Bagus banget. Sayang ketemu sekelompok orang ngerokok asapnya mengganggu banget. Tapi beneran bagus banget. Kaya ngga pengen pergi. Tapi akhirnya kita selesai di situ dan jalan-jalan menyelusuri kawasan di pos 5. Melihat camping ground, dan balik lagi keluar pintu pos 5. Dapat udara segar alhamdulillah. 

Dari situ kita naik ojek yang tadi lagi, dipanggil via wa. Kita naik ojek langsung sampai penginapan. Sempat ada drama ban motor kempes dan (kayanya) bocor, padahal jalanan naik turun. Alhamdulillah selamat sampai penginapan. Sampai penginapan kita sarapan di resto, lanjut berenang lagi Fariha dan Ayah. Kita check out jam 11an, dan langsung naik taksi online ke travel DayTrans di Dipati Ukur. 

Sempat bingung beli oleh-oleh di mana. Untungnya di sekitar situ Ayah nemu tempat jualan oleh-oleh nyempil dekat masjid. Misi beli oleh-oleh terselesaikan. Alhamdulillah liburan singkat yang cukup berhasil lah.... Kita bisa pulang ke Jakarta dengan tenang, walau ngalamin macet pas keluar Bandung. Sekitar pukul 5 sore kami sampai di Rawasari. 




25/07/23

Hari-hari Bersama OAT

Sudah sejak bulan Mei aku akrab dengan OAT alias obat anti tuberkulosis. Sejak Fariha divonis positif TB, rutinitas bertambah setiap pagi. Setiap Fariha bangun tidur, setelah kuajak ke kamar mandi, lalu aku ajak minum air dan minum obat. Awalnya dia masih mau tanpa dipaksa. Obatnya berupa 2 tablet yang hancur ketika diberi air.

Berjalan sebulan, Fariha agak sedikit menolak sekarang ketika waktunya minum obat. Tapi ya apa boleh buat. 

Sebulan kemudian, Hanan juga menyusul divonis TB. Diapun harus minum obat anti TB juga dengan dosis yang berbeda. Perjuangan ngajak Hanan minum obat dari dulu ngga pernah mudah. Penuh drama, tensi tinggi. Pusing kepala pegel hati. 

Tapi alhamdulilah sekitar sepuluh hari terakhir ini ada juga cara menyenangkan supaya Hanan mau minum obat tanpa drama. Minta bantuan Fariha untuk nyuapin obatnya ke mulut Hanan. Selama ini Fariha suka kalau diminta nyuapin suplemen ke aku atau ayahnya. Ternyata ke Hanan juga sama. Dan Hanan juga suka kalau adiknya yang nemenin minum obat. Terjadilah simbiosis mutualisme yang indah. Hihi.

Kabar baiknya, BB Fariha sekarang mencapai angka 10 kg. Alhamdulillah. Semoga naik terus dan ngga seret lagi, dan bisa sembuh tuntas TB nya. 

20/02/23

Hari-hari Bersama Hanan

Hanan memang istimewa. 

Menjalani hari bersama Hanan adalah pelajaran tersulitku dalam hidup.

Ibuk berkali-kali gagal ujian kesabaran. Gagal ujian komunikasi. Tapi jadi banyak introspeksi diri. Jadi sadar oh mungkin selama ini aku begini. Oh ternyata aku selama ini begini. 

Ibuk jadi belajar untuk tidak banyak menuntut, tapi di sisi lain belajar untuk konsisten menjalankan sesuatu hal yang penting.

Ibuk mencoba untuk menekan ego yang masih juga sulit ditundukkan.

Di usianya yang sudah jelang 13 tahun ini, ibuk semakin merasakan lebih besar tantangan yang harus dihadapi.

Kadang pernah merasa frustrasi tapi kadang juga ada rasa optimis kalau ingat rahmat Allah ngga akan putus untuk hambaNya.

Kegiatan Hanan sekarang adalah mengikuti sesi terapi ABA dengan terapis yang home visit. Kenapa home visit? Di postingan lain insya Allah Ibuk mau cerita tentang riwayat pendidikan Hanan selama 4 tahun terakhir. 

13/11/21

Apresiasi Pencapaian Iqro'

Belajar membaca huruf Al Qur'an adalah salah satu perjuangan belajarnya Hanan. Hanan memulai belajar membaca huruf Al Qur'an sejak umur 5 tahun di kelompok bermain. Awalnya ibuk tuh ngga berekspektasi Hanan bisa mempelajari huruf Al Quran karena kemampuan memorinya yang  kurang. 

Umur 6 tahun Hanan dimasukkan ke rumah tahfidz. Hikmahnya Hanan belajar di situ adalah dapat guru yang sabar dan sangat suportif. Ustadzahnya walaupun masih muda tapi positive vibesnya bikin Hanan lebih semangat belajar ngajinya. Ibuk juga lebih semangat  nemenin Hanan belajar. Ibuk juga jadi dapat insight gimana caranya membuat Hanan hapal nama-nama warna, huruf, dan angka. Dengan terus mengulang-ulang pakai metode Iqro itu sangat membantu.

Balik lagi ke soal belajar ngajinya Hanan. Jadi karena Hanan punya kecepatan belajar yang beda dibanding anak-anak lain, ya ganti  buku Iqro nya memang lama, dari 1 ke 2, 2 ke 3. Sekarang di buku Iqro 3 sudah sampai halaman EBTA

Nah, ceritanya kemarin tanggal 5 November, sepupunya, Alesha, ulang tahun. Ada acara tiup lilin dan kasih kado. Aku kepikiran untuk kasih apresiasi ke Hanan berbarengan dengan ultah Alesha. Juga untuk menjaga mood nya supaya dia juga ikutan happy kalau Alesha menerima kado. Kusiapkanlah kado-kado untuk Hanan. Kado-kado itu rencananya dari Yangkung, Pakde, tante Vivi dan ibuk ayah. 

Hari yang dinanti tiba. Walaupun ngga sesuai dengan rencana karena Gara-nya tante Vivi sakit dan dirawat di RS, tapi acara kasih kejutan kadonya berjalan cukup menyenangkan. Semuanya happy. Alesha happy karena ulang tahunnya dia dan dapat kado lagi, Hanan juga happy dan mungkin agak ngga menyangka kalau dia juga akan dapat kado untuk usahanya yang sudah hampir menyelesaikan Iqro' 3. 

Harapannya Hanan mau lebih semangat untuk belajar terutama belajar ngajinya. Dan tau kalau ibuk ayah dan semua keluarga sayang Hanan. Dan punya insight kalau berusaha melakukan hal baik akan berbuah kebaikan juga. 

29/09/21

Bisakah Kami Memperbaikinya?

Anak nomor duaku sungguh menjadikan aku bercermin dan belajar. 

Sejak awal tahun-tahun kehidupannya sungguh bikin aku belajar. Umm... tapi ada banyak waktu yang kubuang sia-sia yang membuat aku semakin ngerasain akibat buruknya.

Karena kebodohanku, aku melewatkan banyak periode emas untuk mengoptimalkan potensi dan kualitas dirinya yang mungkin masih bisa diasah. Sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa H kemudian harus struggle dengan ketertinggalannya. Dan aku juga harus bersabar untuk dampingi dia. Semua ini membuat aku sering frustrasi. 

Aku dengan bodohnya berekspektasi H akan bisa tumbuh dan berkembang normal layaknya anak seusia dia. Padahal aku tau dari sejak awal bahwa dia alami keterlambatan dalam tumbuh dan kembangnya, tapi kami ngga segera memberi intervensi yang dibutuhkannya.

Ekspektasi kami ngga dibarengi dengan usaha yang maksimal. Iya memang H udah terapi, tapi ngga tuntas dan sedikit terlambat. Ekspektasi itu bertemu dengan kenyataan kalau H butuh bantuan dan kesabaran ekstra untuk mengejar ketertinggalannya. Padahal, kesabaran itu adalah hal yang mewah buatku. Lengkap sudah...

Ekspektasi tinggi, ketidaksabaranku, kemampuan belajarnya yang ngga secepat anak seusianya, tritmen yang salah, terapi yang ngga adekuat, kombinasi dari semuanya kemudian membuat H di usia 11 tahun ini jadi anak yang masih rendah kemauan belajarnya, takut mencoba hal baru, ngga percaya diri, sensitif, mudah meledak emosinya sehingga sering marah-marah yang bisa bikin kaget dan bahkan pernah bikin marah dan nangis orang-orang di rumah. 

Aku sampai nangis merindukan tingkah H yang lucu, polos, dan penyayang pada waktu usia 2-9 tahun dulu. Iya, emosinya yang meledak-ledak dan sikapnya yang semakin membuat senewen itu mulai kelihatan sejak usia 10 tahun, berbarengan dengan beberapa bulan setelah pandemi dimulai dan sekolah dilakukan di rumah.

Kombinasi dari usianya yang masuk pubertas, lalu belajar di rumah yang itu berarti aku yang setiap hari mengajarinya, dan keterbatasan untuk bisa eksplorasi dunia luar karena pandemi, mungkin membuat kondisi psikologis dan emosionalnya kurang berkembang dengan baik. 

Beberapa minggu terakhir ini... cukup membuat lelah menghadapi ledakan emosi Hanan. Hal-hal kecil dan remeh secara ngga terduga bisa bikin H marah-marah atau mengamuk dan membuat aku sendiri takut. Takut ledakan emosinya itu membahayakan eyang-eyangnya atau sepupu-sepupunya yang masih kecil-kecil. Tapi aku sadar itu semua buah dari pengasuhanku sendiri yang memang banyak lalai dan abai. Dosaku sendiri. 

Tapi oke... ngga ada gunanya kan nyalahin diri sendiri terus-terusan. Aku bener-bener harus-harus membayar semuanya. Mudah-mudahan dengan ijin, ridho, dan pertolongan Allah, H dan aku juga ayahnya bisa sama-sama memperbaiki ini semua. Sebenarnya ... aku ingin melibatkan psikolog secara profesional untuk bantu kami menemukan akar masalah dan memandu langkah-langkah perbaikannya. Tapi... tampaknya ayahnya belum sreg dengan ide itu karena alasan tertentu. Jadi aku dan ayahnya kudu belajar dan berbuat ekstra untuk memperbaiki ini. 

Dan yang terutama adalah kelola emosiku sendiri. Kelola pikiranku sendiri. 



17/07/21

Pindah Sekolah (Lagi)

Mulai tahun ajaran ini, Hanan pindah sekolah... lagi. Lagi? Iya. Haha. Hanan punya banyak rapot sekolah. Dari sejak PG hingga SD kelas 4 ini udah nyobain 4 sekolah. Dan tahun ajaran ini adalah sekolah kelimanya. Kenapa pindah-pindah sekolah sih? Kebetulan hari kelahiran Hanan bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru, jadi aku mau cerita kronologi kepindahan Hanan berdasarkan usianya sekalian. 
Umur 5 tahun masuk PG di sebuah TKIT yang menerapkan metode ranah. Di sini semuanya cukup baik. Ngga terlalu ada masalah sebenernya mengenai sekolahnya. Gurunya perhatian dan sabar. Hanan juga cukup berani ditinggal sendiri di sekolah. Jadi aku ngga harus nungguin sepanjang sekolah. Cuma sifatnya pemalu, ngga berani tampil dan bicara, dan itu masih belum bisa teratasi hingga akhir tahun ajaran. Pas waktunya tampil di pentas akhir tahun, Hanan ngga mau. Sebenarnya bukan itu juga alasannya pindah ke lembaga pendidikan berikutnya, yaitu di rumah tahfidz. 

 Usia 6 tahun aku masukkan ke sebuah rumah tahfidz. Alasannya karena ingin Hanan bisa belajar ngaji. Sebenarnya bisa aja pagi sekolah sorenya di rumah tahfidz. Tapi aku khawatir dia merasa berat harus pergi ke dua sekolah. Di sini positifnya aku merasa lega Hanan bisa juga menghafal huruf hijaiyah dan belajar iqro'. Ustadzah-ustadzahnya walau masih muda tapi sangat sabar dan yakin Hanan pasti bisa. Aku juga jadi tercerahkan tentang bagaimana pengulangan dalam metode Iqro' itu bisa diterapkan untuk belajar mengenalkan angka, huruf, dan warna. Karena kemampuan memorinya yang kurang, sampai usia ini warna juga masih belum hapal. 

 Usia 7 tahun aku mencoba homeschooling dibantu dengan les membaca di sebuah lembaga. Kami putuskan tunda masuk SD karena secara akademik dan secara sosial dia belum siap. Awalnya aku sendiri yang berusaha mengajarkan Hanan membaca dan mengenal warna. Cukup terkendali di awal. Tapi ketika pertengahan aku terkendala kehabisan energi. Hiks... Betapa lemahnya aku... Akhirnya aku mendaftarkan Hanan di bimbingan baca. 

Usia 8 tahun Hanan masuk kelas 1 SD di sebuah SD swasta umum. Sebenarnya masih belum sreg sejak awal suami menunjukkan sekolah ini. Karena sepertinya sekolah ini ngga menjanjikan pembelajaran yang cocok untuk Hanan. Malah mengingatkan aku kepada pengalaman belajar di sekolah dulu yang ... ngga menyenangkan. Benar saja. Beban pembelajaran di sana dan metodenya ngga menyenangkan. Text book banget. Banyak menulis. Membosankan. Banyak. 

Usia 9 dan 10 tahun, kelas 2 - 3 SD di sebuah SDIT. Kebetulan ketemu dengan guru TK Zhafi dulu di Tunas Rabbani, tanya-tanya tentang sekolah yang metodenya kurang lebih hampir seperti sekolah alamnya Zhafi dulu tapi masih terjangkau di kantong kami. Beliau mereferensikan sekolah SDIT yang letaknya ternyata deket banget dengan rumah kami. Sebetulnya juga sudah pernah ke sana tahun sebelumnya waktu mencarikan sekolah SD untuk Hanan. Cuma mungkin karena bertepatan dengan acara lomba besar dan ramai, kami melihat banyak sekali sampah berserakan. Jadi kami udah ilfil. Lagipula pas ketemu seorang guru yang kami tanya-tanya, jawabannya so so aja. Nah tahun berikutnya setelah direferensikan guru TKnya Zhafi (Bunda Hera), dan pas aku datangi ketemu langsung dengan kepala sekolahnya. Obrolan dengan beliau menyenangkan dan gambaran metode belajar yang disampaikan cukup kurasa cocok buat Hanan Benar saja. 

Hari pertama kelas 2 nya di SDIT ini Hanan kelihatan gembira. Pulang sekolah dengan senangnya dia cerita ke teman sebelah rumah, "Eh, Apin... aku tadi habis sekolah. Besok aku sekolah lagi." Lega, dong, hatiku. Pembelajaran selama di sekolah cukup mengakomodasi kebutuhan Hanan. Walau sebenernya kalau dibandingin dengan Sekolah Alam-nya Zhafi dulu dari segi pendekatan dan kapasitas guru serta metode pembelajaran masih lebih bagus di SA. Hanya sayangnya secara ekonomi kami ngga sanggup. Sayang... kemudian si kopid menerjang. Belum selesai semester akhir, Hanan harus belajar di rumah. 

Kelas 3, karena masih kopid, pembelajaran masih harus di rumah. Awalnya. Dan mulai kelas 3, mulailah pakai buku paket tematik. Seperti dulu Hanan di SD yang lama. Entah karena situasi covid atau memang kalau kelas 3 mulai belajar pakai buku paket. Lah kan jadi sama aja yak dengan SD lama.4 Lalu sebagian besar orangtua siswa pengen anaknya sekolah aja. Akhirnya sekolah dan komite sepakat untuk menyelenggarakan tatap muka dengan membagi satu kelas menjadi 2 kelompok, dan masing-masing kelompok hanya 1,5 jam durasinya. Itu bagi orangtua yang mau anaknya ikut pembelajaran tatap muka. 

Aku merasa sekolah kok kurang aware ya dengan situasi covid ini. Protokol kesehatannya kurang. Bahkan ternyata kepala sekolahnya pun sama sekali ga pakai masker waktu aku datang terima rapot. Jadi aku merasa ga aman kalau Hanan ikut tatap muka. Memilih untuk belajar di rumah pun ternyata sangat jauh dari harapan. Karena sistem belajarnya jadi ngga menyenangkan sama sekali buat Hanan. Modelnya hanya memberi tugas di WA halaman berapa saja yang harus dibaca dan dikerjakan soalnya. Plus ada catatan pula. Tuh kan... makin ngga asik. Hanan makin ga enjoy. Mamak pun apalagi. Yang ada tarik urat terus. Pandemi pun makin ngga ketahuan kapan ujungnya. 

Usia 11 tahun, kelas 4 SD ini gabung di Sekolah Murid Merdeka (SMM). SMM itu memadukan sekolah belajar tatap muka dengan e-learning. Tatap mukanya bisa online atau offline. Tapi karena masih pandemi pastinya untuk saat ini tatap muka lewat zoom. E-learning berarti menggunakan platform belajar macam ruangguru.com. Nah tapi SMM platform belajarnya sekolah.mu. Akhirnya... dicobalah sekolah ini. Belum tau nih akan gimana. Sekolahnya baru mulai 21 Juli. Tapi aku udah mulai ajak Hanan ngelakuin aktivitas tambahan dari platform sekolah.mu. Semoga Hanan enjoy belajar di sini. Mengenai usia Hanan yang tidak seperti lazimnya anak kelas 4 ya memang begitu adanya. Kalau dilihat memang sejak awal masuk PG dan SD memang sudah telat ya. Kami mencoba memastikan kesiapan Hanan mengikuti pembelajaran. Karena Hanan ada riwayat keterlambatan tumbuh kembang dan memang harus kami terima bahwa Hanan berkebutuhan khusus.

05/08/20

Hanan

Bismillah... 

Udah lama banget ngga nulis jurnal. 

Padahal banyak moment yang seharusnya aku bisa tulis buat pengingat di masa depan. 

Misalnya aja, nulis soal Hanan dan perkembangannya sampai sekarang umurnya 10 tahun. 

Hanan sekarang... Baiklah dari mana aku bisa ceritainnya ya. 

Dimulai dari rasa syukurku, menjelang ulang tahunnya yang ke 10, Hanan sudah dikhitan. Sounding tentang khitan udah lama. Bahkan kalo ngga salah ayahnya udah sounding sejak bulan-bulan akhir di tahun 2019.

20/02/20

'Kejutan' Hanan

Saat itu, Hanan pulang sekolah, kuperhatikan air mukanya lesu. Sepanjang perjalanan pulang, mulutnya tak bersuara.  Kalau sudah begini, pasti ada sesuatu di sekolah. Kucoba membuka obrolan.

Ibu: Halo... kok diem aja, nih? 
Hanan: Pusing kepalanya, tadi teriak-teriak terus.

19/12/18

Kebiasaan dan Rutinitas Hanan

Beberapa hari terakhir ini bahagia hatiku, karena perkembangan perilaku Hanan. Masyaa Allah.

Pola rutinitas mulai kebentuk dan sejauh ini dia bisa mengikuti. Cukup baik lah dan menunjukkan kemajuan yang cukup baik menurutku, untuk ukuran Hanan.

Rutinitas Harian Hanan
Berikut ini rutinitasnya Hanan:

Pagi
Sholat subuh di musholla, lanjut main sepeda, mandi, dan Bersiap ke sekolah. Berhubung ini udah masuk musim liburan jadi agak santai. Sehabis mandi dan sarapan bisa main lagi. 

Siang 
Pulang sekolah, Hanan belajar di rumah atau les Bimba kalau pas lagi jadwalnya. Kalau pas libur gini, bisa ikut sholat dhuhur di musholla atau di mesjid. 

Sore
Sholat Ashar di musholla, mandi trus main. Atau kebalikannya. Kalau ngga ya, aku ajak aktivitas lagi di rumah. Menjelang Maghrib udah kuajak untuk makan malam. 

Malam
Sehabis sholat Maghrib, kuajak ngaji setelah itu belajar. Ngerjain PR Bimba atau PR sekolah, atau ngerjain lembar printable. Setelah sholat isya, kalau masih seger belum ngantuk, lanjut belajar. Kalau udah ngantuk, persiapan tidur dimulai. Sikat gigi, BAK, lalu berdoa sebelum tidur. 

Tentang sholat, ngaji, dan belajar, memang ngga selalu lancar tiap hari. Ada masanya gampang untuk diajak, ada masanya dibujuk dulu, ada masanya mogok tapi pada akhirnya aku upayakan untuk tetap dilakukan. Supaya terbangun jadi kebiasaan baik, dan ngga terbiasa mogok kalau lagi ngga mood. 

Nah ini PR ibunya juga untuk tetap konsisten dan Istiqomah. 

Sholat Subuh di Musholla
Alhamdulillah, 2 hari ini Hanan berangkat sendiri dengan kemauan sendiri untuk sholat subuh di musholla. Padahal aku bangunin Zhafir, yang bangun duluan Hanan. 

Yang bikin hati bahagia itu, untuk sholat Maghrib dan Isya, Hanan sudah ngga terlalu sulit lagi untuk diajak sholat. Malah beberapa hari yang lalu, Hanan yang ngajak duluan. Masyaa Allah... 

Cuci Tangan Sebelum Makan
Bentuk kebiasaan lain yang bikin hati adem karena sepertinya udah terbentuk adalah kebiasaan cuci tangan sebelum makan. Kalau ingat dulu mencoba bangun kebiasaan ini lumayan bikin tarik urat. Alhamdulillah sekarang tinggal diingatkan sekali aja. Malah kadang-kadang udah dilakukannya dengan kesadaran sendiri. Begitu juga kebiasaan membaca basmallah setiap mau minum dan makan. 

Yang masih on progress adalah membiasakan berdoa sebelum tidur, keluar rumah, dan masuk kamar mandi. Hanan udah tahu harus berdoa sebelum tidur, tapi masih banyakan lupanya. 

Hingga hari ini, aku sangat bersyukur atas semua itu. Semua terjadi atas kehendak Allah... Semoga semakin hari semakin banyak lagi kebiasaan baik yang tertanam di dirinya. 

19/08/18

Selamat Belajar, Yah...

Ayahnya anak-anak memulai pengalaman belajar di negeri orang untuk kedua kalinya. Setelah dulu di Singapura selama 1 bulan, sekarang di Swedia untuk selama 4 bulan. 

Belajar di Swedia ini adalah follow up dari kelas internasional yang diikutinya untuk program kuliah master di UGM. 

Pergi diantar aku, anak-anak, dan temen-temennya yang juga tetangga rumah. Aku dalam hati rada bingung gimana ya ngejalaninnya tanpa ada suami selama 4 bulan. Yah tapi jalanin aja bismillah. 

Hanan yang paling sedih ditinggal Ayahnya. Sampai pulang ke rumah dia masih mewek sampai ketiduran. Aku cuma bisa kasian lihat dia dan menenangkannya. Sementar kakaknya, udah asyik lihat pembukaan Asian Games 2018 di TV. Ya memang bertepatan dengan event Asian Games. 

Keesokannya Hanan bangun juga masih mellow sambil lihat foto ayahnya diusap-usap. Udah macam di sinetron. 😅 Antara lucu, tapi juga ikutan sedih. 



04/05/18

Al Qur'an Adalah As Syifa - Sharing Pengalaman

Ada sedikit memori di akhir 2017 kemarin. Sedikit cerita pengalaman tentang Al Qur'an dan doa sebagai penyembuh (As Syifa).

Beberapa waktu lalu, Hanan kena cacar air. Di hari ke 9, sakitnya bersambung dengan batuk pilek. Sebelum batuk pilek, sempat demam tinggi. Sempat muntah dan diare juga. Penyakit-penyakit yang umum terjadi sama anak-anak. Tapi,  kalau demam tinggi tanpa asupan cairan yang cukup, resikonya dehidrasi. Dan itu pernah terjadi dulu yang berujung dirawat di ICU (Intensive Care Unit). 🙁

Sejak Rabu malam, suhu tubuhnya panas tinggi. Beberapa kali terbangun dari tidur, mungkin akibat rasa nyeri dan pusing yang menyertai demamnya. Si Ayah mengkompres dengan air hangat terus menerus. Saya bujuk minum air putih tapi hanya beberapa teguk air saja yang mau diminumnya. Saya bujuk untuk minum obat penurun panas, dijawabnya dengan gelengan kepala dan mulut yang ditutup rapat. 

Setelah mencoba terjaga untuk mengompres dan memantau kondisinya, juga karena dia terbangun beberapa kali, akhirnya obat dipaksa masuk. Baru bisa tidur akhirnya. 

Keesokan harinya, sepanjang pagi hanya mau tidur saja. Sesekali berceloteh tapi matanya sayu dan tubuhnya lemas bikin saya khawatir. Berkali-kali saya bujuk untuk minum lebih banyak dan minum obat penurun panas. Tapi kuat sekali penolakannya. Untungnya, ia masih mau makan walau hanya beberapa suap. Sekali minum lumayan banyak, dan obat berhasil masuk, tidak lama kemudian dimuntahkannya bersama makanan. 

Saya bawa untuk cek darah dan konsul dokter. Dokter menyatakan hasil tes baik, menandakan hanya infeksi virus saja. Suhu tubuhnya saat itu 38 dersel. Menurut dokter, ia mulai dehidrasi ringan. Memang waktu malam, suhu tubuhnya lebih tinggi. Mungkin banyak kehilangan cairan saat itu. Lalu memberi resep cairan pengganti elektrolit yg hilang. Seperti sudah diduga, ia tidak mau meminumnya bahkan sedikitpun. Ia kelihatan tambah lesu hingga tertidur. Sore itu, saya mulai panik. Istighfar ngga berhenti dalam hati dan dengan lisan. Saya putuskan akan membawanya ke rumah sakit karena kondisi yang sudah mulai mengkhawatirkan. Saya telpon suami untuk segera pulang. 

Sambil menunggu, saya hubungi teman yang juga guru Bahasa Arab saya, bunda Nia Firnie, mohon supaya beliau mendoakan. Saya sungguh butuh saran apa yang harus saya lakukan dengan kondisi seperti itu. Olehnya, saya diingatkan untuk bermuhasabah, berpasrah, sambil membuatkan air ruqyah untuk Hanan. Dalam kondisi yang masih panik, saya jalankan nasihatnya sambil mencoba untuk berpasrah dan terus berdoa.

Alhamdulillah, Hanan mau minum walau sedikit-sedikit. 

Ketika di perjalanan menuju RS, saya raba leher dan keningnya, suhu tubuhnya sepertinya turun. Tapi mobil kami tetap menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan apapun. Sesampainya di UGD, seorang perawat memeriksa suhu tubuhnya, dan angka menunjukkan 36.5 dersel. Dokter bertanya ada keluhan apa. 

Lalu berceritalah saya kepada dokter. Tentang demam tingginya tadi malam, tentang dokter klinik yang menyatakan Hanan mulai dehidrasi, tentang lesunya sepanjang hari ini, tentang kurangnya asupan minuman yang masuk, dan obat yang sulit masuk. Lalu dokter meminta hasil cek darah yang memang hasilnya normal. Alasan kami membawanya ke RS adalah khawatir akan dehidrasi. 

Lalu dokter mengatakan, "Ibu, suhunya normal, hasil cek darah juga baik, jadi tidak ada indikasi harus dirawat."
"Tapi dokter, tadi dokter klinik bilang sudah mulai dehidrasi."
"Iya, bu. Kalau gitu kita lihat 2 hari lagi, ya. Karena kalau sekarang ngga ada alasan anak ibu harus dirawat."

Perasaan saya saat itu bercampur antara bingung tapi juga lega. Sewaktu berangkat Hanan dalam keadaan tidur, ketika perjalanan pulang dia berceloteh seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. 

Dalam hati saya membatin... 
 "Ini semua kuasa Allah, menyembuhkanmu melalui Al Qur'an dan doa guruku yang shalihah."

Rukyah itu sebenernya berkaitan dengan Tazkiyatun nafs, atau mensucikan  diri.
Merukyah diri berarti meminta perlindungan kepada Allah dari segala hal negatif.

06/02/18

Tahapan Hanan Belajar Mandi Sendiri

Tahapan Hanan Belajar Mandi Sendiri

Mengajarkan Hanan untuk mandi sungguh suatu hal yang sangaat menantang. Sejak 1,5 tahun lalu Ibuk sudah mengajak Hanan untuk belajar mandi sendiri. Tantangannya adalah pada fokusnya. Masuk kamar mandi ada saja yang dimainkan. Air dicipratin kemana-mana, berlama-lama di kamar mandi, yah... Instruksi dan cara-cara mandi harus berulang-ulang kali disampaikan. Dan sebagainya lah.

Ada fase, Ibuk ngga sabar dengan ketidakfokusannya dan menyerah. Ibuk mandikan lagi, Ibuk sabuni, menggosokkan badannya...

Tapi, setelah itu kami insyaf, kembali lagi menetapkan Hanan harus segera bisa mandi sendiri. Sekarang ini, alhamdulillah, walau masih sering tidak fokus, tapi sudah mulai terpola. Masih belum benar-benar mandiri, tapi paling tidak langkah dan cara mandi yang disampaikan sudah terekam dengan baik dan dilakukan dengan lebih baik.

Semoga bulan depan, Hanan sudah benar-benar bisa mandi sendiri tanpa dibantu.

Buang air kecil sudah bisa sendiri, sekarang sedang belajar prosedur buang air besar. InsyaaAllah bulan berikutnya sudah tidak dibantu lagi.

Tahapan Hanan Belajar Sikat Gigi

Tahap Hanan Belajar Sikat Gigi

Bayi, dibersihkan dengan washlap. Tapi suka menolak tidak mau dibersihkan.

Beranjak balita, susah sekali diajak sikat gigi. Dengan lagu, dengan cerita, sama saja. Akhirnya Ibuk membujuk Hanan dengan cara menyikat gigi sambil screen time. Screen time itu, bisa main game atau nonton video. Ini berlangsung cukup lama. Menyikat giginya ngga di kamar mandi, tapi di ruang tamu atau di kamar. Ibuk bawa sikat gigi dan gelas berisi air matang. Lalu sambil Hanan pegang hape, Ibuk sikat giginya. Dan itu wajib setiap malam sebelum tidur.

Perlahan-lahan, ketika mandi, ibu ajak sikat gigi bareng. Awalnya ya dimainin aja itu sikat. Dilempar-lempar, dipakai untuk mengocok-ngocok air. Ibuk tetep aka sikat gigi di depan Hanan. Perlahan, Hanan mau masukin sikat ke mulutnya. Ngga buat sikatin gigi, malah diemut. Lalu pelan-pelan mulai sikat dikit-dikit walau masih ngasal. Nah selama periode ini setiap mandi ini, sikat gigi malamnsambil screen time masih dilakukan. Karena, memastikan sisa makanan yang tertinggal benar-benar dibersihkan sebelum tidur masih harus disikat Ibuk.

Kakaknya, eyangnya, sudah komplen, masak sikat gigi sambil nonton thoo... Sampai kapan. Beberapa waktu lalu, ayahnya belikan pasta gigi enzim anak. Dicobakanlah untuk sikat gigi ketika mandi. Alhamdulillah, dengan berjalannya waktu, sekarang sikat gigi Hanan sudah jauh lebih baik. Sudah bisa kumur dan membuang air kumur, menyikat gigi sampai ke gigi-gigi belakang, dan sudah suka dengan pasta giginya. Good Job, Hanan.... Semoga selalu rajin sikat gigi, minimal 2 kali sehari ya, Hanan Sholih

06/08/17

Math Adventure Day #8

"Hanan, yuk bereskan mobil-mobilannya."
Kami berdua memasukkan mobil-mobilan ke dalam tempatnya.

"Hanan punya berapa mobilnya?"

"1, 2, 3, 4, ..., 12!" sambil menunjuk satu persatu mobil-mobilannya. 

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

03/08/17

Math Adventure Day #7

Math 01.08
Asiknya bermain puzzle. Bermain puzzle membantu Hanan melatih kemampuan kognitif dan logikanya dengan belajar tentang bentuk, dan ukuran.

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs



Math Adventure Day #6

Math 31. 07

Hanan masih senang dengan permainan barunya,  yaitu menyusun pola.  Kalau kemarin polanya hanya disusun di atas lantai,  hari ini polanya dibuat menjadi rangkaian dengan menggunakan tali. 

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

30/07/17

Math Adventure Day #5

Math 30-07
Mengenal pola
Berbekal kertas origami, Hanan belajar tentang pola dan mendalami bentuk geometri dan warna.

Ibu menggunting kertas origami berbagai warna,  yaitu merah,  biru,  kuning,  hijau.  Merah berbentuk segitiga, biru dibentuk persegi, hijau dibentuk lingkaran, dan kuning dibentuk persegi panjang.

Ibu susun lingkaran hijau, persegi panjang kuning, persegi biru, dan segitiga merah. Lalu Hanan diminta mengikuti pola tersebut,  sambil recalling bentuk dan warnanya. 

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

23/07/17

Math Adventure Day #4

Hari ini di rumah Yangti.

Hanan sedang menemani sepupunya bermain dengan mainan donat plastik.

"Hanan, Ibu mau beli dong donatnya..."
"Beli berapa?"
"2, yaaa."
"1..., 2...," hitungnya.

"Yangti juga mau beli,  beli 4!"
"Oke."
"1..., 2..., 3..., 4...."

"Yangkung 3, yaaa."
"Siap!"
"1..., 2..., 3...."

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Dapat Insight untuk My Life Project

Life Project itu adalah berkebun.  Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...