Tampilkan postingan dengan label Level 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Level 10. Tampilkan semua postingan

16/12/17

Grab Your Imagination #10

Zafir ingin ikut program tahfidz untuk mengisi liburan. Ibuk meminta Mas Zafir untuk memperhatikan kembali adab menuntut ilmu. Kalau kita diberikan kemudahan menghapal Qur'an, bukan menjadikan kita sombong. Karena ketika sombong, ilmu yang kita miliki pun tidak bermanfaat. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong. 


Ketika sudah mendapatkan ilmu, harusnya membuat orang semakin merendahkan diri di hadapan Allah, dan semakin menyadari ilmu kita masih sangat jauuh... Jauhhh sekali dari semua ilmu yang Allah miliki. Sekali kita merasa sombong, itu akan membawa kita kepada keburukan. 

Maka terbitlah kisah ini. 

👳👳👳👳👳👳👳👳👳👳👳👳👳

Dudung pulang sekolah bersama kedua temannya, Didi dan Dede. Mereka mengobrol tentang ulangan IPA besok .

“Duh, besok ada ulangan IPA nih. Aku ngga bisa kayanya. Belajar ngga masuk-masuk ke otak,” Didi kebingungan.

“Yah, ulangan IPA doang mah, keciilll! Gampang banget!” sahut Dudung.

Didi dan Dede berpandangan.

“Iya, deh. Kamu memang jago di IPA. Tapi ga usah sombong gitu dong.” Didi menyahut kesal.

“Lho, tapi memang IPA itu gampang banget. Ngga usah belajar juga bisa.” Dudung menjawab seolah tidak peduli.

Didi mendengus kesal. Dede hanya geleng kepala.

Sampai rumah, Didi berusaha mempersiapkan ulangan besok dengan sebaik mungkin. Dia membuka buku, mempelajarinya dengan seksama.

Sementara Dudung di rumah malah asyik bermain game play station hingga tiba waktu sore.

Keesokan harinya, ulangan dimulai. Kertas soal ulangan dibagikan, dan setiap murid pun mulai mengerjakan soal. Didi tampak tenang mengerjakan soal. Dia tidak menyangka soal-soal yang dihadapinya kali ini bisa dijawabnya dengan mudah. Wajahnya terus menampakkan senyum karena kelegaan mendapati pengalaman betapa mudahnya ulangan hari itu.

Sementara Dudung sebaliknya. Mungkin dia terlalu lama bermain play station, wajahnya tampak kusut dan lelah. Dudung juga terkejut karena soal-soal yang dihadapinya kali ini tampak sulit sekali. Tidak ada yang bisa dijawabnya dengan baik.

Waktu ulangan pun berakhir. Semua murid mengumpulkan kertas ulangannya. Didi menghampiri Dudung.

“Dung, kamu benar. Ulangan IPA nya sulit." kata Dudung sebelum Didi sempat bicara. 

"Lho... Aku justru mau bilang sama kamu, Dung. Ulangan IPA nya mudah, " sahut Didi. 

"Ehhm..  Iya maksudku, sulit awalnya, tapi akhirnya g...g..ampang kkook..," sambung Dudung gelagapan karena gengsi. 


Pesan moralnya :

Hendaklah kita menjauhi sifat sombong. Karena  Allah tidak menyukainya. 



15/12/17

Grab Your Imagination #9


Di suatu desa di daerah perbukitan, ada daerah yang sangat kering. Penduduk desa itu sulit mendapatkan air karena air tidak terserap sempurna ke dalam tanah. Penduduk desa itu mencari nafkah dari bertanam pohon cengkih. Hasil dari bertanam cengkih memang menguntungkan. Tapi pohon cengkih tidak membantu menyerap air dengan sempurna.

Di antara penduduk desa itu, ada seorang bapak bernama Pak Pardi. Pak Pardi tentu merasakan kekeringan di desa itu. Merasakan sulitnya mendapatkan air yang cukup. Pak Pardi lalu mendapati penyebab kenapa desanya sulit teraliri air. Pak Pardi menemukan solusi untuk mengatasi kekeringan di desanya. Dengan penghasilannya dari bertani, dibelinya ratusan bibit pohon banyan. Pohon banyan ini mampu menyimpan cadangan air tanah. 

Ditanamnya bibit-bibit pohon itu di perbukitan. Orang-orang di desanya mencemooh apa yang dilakukan pak Pardi. Pak Pardi dianggap rugi karena menanam pohon yang tidak memberikan penghasilan.

Tahun demi tahun berganti. Puluhan tahun sudah terlewati. Desa yang tadinya sulit mendapatkan air, kini berbahagia dengan berlimpahnya air yang tersedia di desa mereka. Ternyata, keberadaan pohon banyan memperbaiki kondisi desa mereka. Penduduk desa yang semula meremehkan usaha Pak Pardi, kini berbalik mengapresiasi dan berterima kasih atas pengorbanan dan kerja keras Pak Pardi. Pak Pardi telah menyelamatkan desa itu dari kekeringan dan kelaparan.

Pesan moralnya: 
1. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik dibutuhkan usaha dan perjuangan, 
2. Jangan pantang menyerah melakukan sesuatu yang positif selama kita sdh memiliki ilmu dan keyakinan terhadap apa yang dilakukannya adalah benar.
3. Jangan mementingkan diri sendiri, tapi berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang 




12/12/17

Grab Your Imagination #8

Cerita ini dibuat terinspirasi dari kisah Hanan, Lukman, dan sahabat-sahabatnya. Bahagianya Hanan punya sahabat-sahabat yang baik.

👦👧👦👧👦👧👦👧👦👧👦👧👦👧

Sudah dua minggu Hans sakit. Di hari pertama Hans sakit, Luki, sahabatnya, menghampiri Hans untuk berangkat mengaji bersama. Tapi ternyata, Mami Hans bilang, Hans tidak bisa berangkat karena sedang sakit.

Selama dua minggu, Hans hanya bisa bermain di dalam rumah. Seringkali Hans bercerita tentang teman-temannya dan kegiatan mengajinya kepada Mami. Sesekali Luki datang, ingin ajak main Hans kalau sudah sembuh. Tapi karena Hans masih sakit, jadi belum diijinkan keluar.

Di hari lain, teman Hans yang lain, Hani, datang membawakan kado istimewa untuk Hans. Hans mengucapkan terima kasih, lalu Hani berpamitan pulang.

"Hans pengen cepet-cepet ketemu teman-teman dan berangkat ngaji, ya?" tanya Mami.
"Iya, Mi. Hans juga pengen sepedaan sama temen-temen," jawab Hans.

Akhirnya, setelah dua minggu, Hans sudah kembali sehat. Luki dan Alvin datang berkunjung. Keduanya berteriak memanggil Hanan. Ketika bertemu mereka semua berpelukan.

"Haaans! Kangen sama Hans."
Hans hanya tersenyum malu.
"Eh, aku ada kado buat Hans. Tapi lupa aku bawa. Nanti deh, aku ambil. Kita main dulu, yuk! " kata Luki ceria.
"Aku juga ada kado, " kata Alvin tidak mau kalah.

Kemudian mereka bermain bersama di rumah Hans. Rumah Hans kembali ramai karena tawa canda teman-temannya.

11/12/17

Grab Your Imagination #7

Di sudut lantai sebuah rumah, ada sebuah mobil-mobilan berwarna hijau sedang menangis.
"Huuuhuuhuu..., Huuuhuuhuu... "

Di sudut yang lain, si Tomas juga sedang berputar-putar kebingungan.
"Di mana yaa..., Di mana yaa...?"

Di sudut yang lain lagi,  sebuah bis merah gelisah.
"Duuhh...., Duuhh...!"

Kenapa ya mereka semua?

Sepasukan semut yang sedang mengendus-endus bau remahan meises pun kemudian heran mendengar suara tangis si Mobi, mobil-mobilan berwarna hijau.

Kapten Mut, si pemimpin pasukan semut menegur pemilik suara itu.
"Lho, lho, lho, kenapa kok nangis?"
"Huhuhu... Aku tadi habis diajak main sama Jojo. Tapi terus dia berhenti main sama aku. Dia nonton tivi. Kalau udah selesai biasanya dia masukin aku ke kotak. Jadi aku bisa istirahat. Tapi hari ini, dia ngga masukin aku ke kotak. Padahal kalo dia udah ngga main sama aku, aku pengen pulang ke kotakku."
Kapten Mut manggut-manggut, "Oo begitu. Sabar yaaa."

Pasukan semut berjalan lagi, mencoba mencari asal bau manis remahan kue dan mesis. Lalu dia mendengar suara kebingungan si Tomas.
Kapten Mut bertanya ke pemilik suara
" Lho, lho, lho, kenapa kok seperti kereta bingung?"
"Tadi, Jojo main sama aku. Tapi terus udah lama banget kok ngga main lagi. Kalau memang udah selesai main sama aku, biasanya aku dimasukin ke dalam kotak mainan, jadi aku bisa tidur. Tapi ini aku lama sekali menunggu. Aku bingung dimana kotakku."
Kapten Mut pun manggut-manggut, "Oo begituu. Sabar yaa."

Pasukan semut pun berjalan lagi, masih mencari sumber bau manis remahan kue. Lalu mereka mendengar suara Si Bis Merah yang gelisah. Kapten Mut pun bertanya ke pemilik suara.
"Lho, lho, lho. Kenapa kok gelisah?"
"Aku pengen pulang ke kotakku. Tapi di mana kotakku. Aku tidak tau di mana. Biasanya Jojo yang memasukkan aku ke dalam kotak setiap selesai main sama aku."
Kaptem Mut lalu manggut-manggut, "Oo begitu. Sabar yaa..."

Pasukan Semut terus berjalan, dan mendapati remahan kue dan meisis di kaki kursi. Kursi itu diduduki Jojo, anak pemilik mainan.

Pasukan Semut segera mengerubungi remahan kue dan meisis. Sementara sebagian anak buahnya masih sibuk mengangkuti remahan-remahan kue, Kapten Mut dan sebagian anak buah lainnya naik ke kursi, lalu menggigit kaki Jojo yang sedang asyik menonton televisi sambil melahap kue bolu meises.

"Aduh! " teriak Jojo. Melihat semut yang sudah bergerombol di dekatnya, Jojo kaget bukan main.
"Duuh kok jadi banyak semut, sih!" Jojo yang  bergegas berdiri, lalu tidak sengaja kaki kanannya menginjak rel kereta mainan, kaki kirinya menginjak balok. Dan Jojo pun jatuh terpeleset.
Buk!!!
"Aduuh...! "

Ibu Jojo yang sedang sibuk membuat pesanan kue di dapur, bergegas datang untuk melihat apa yang terjadi.
"Jojo, kenapa? Lho... Kenapa mainannya berantakan dan tivinya menyala? Dan coba lihat, ada banyak semut di situ?" Ibu menolong Jojo berdiri sambil bertanya.

"Emh..." Jojo tidak berani menjawab, hanya bisa menunduk sambil mengelus kakinya yang sakit.

Ibu mengambilkan minyak obat, dan mengoleskan ke bagian yang sakit sambil berkata, "Jojo bereskan mainannya ya, kalau sudah selesai bermain. Baru boleh nonton atau melakukan kegiatan yang lain. Kalau berantakan begini, kamu juga jadi ngga nyaman kan.

"Iya, Bu. Maaf."
"Ya sudah, tidak apa. Yang penting kamu tidak sampai luka serius. Dan tolong lakukan tanggung jawab Jojo membereskan mainan, ya.
"Siap, Bu."
Jojo segera mengambil kotak mainannya dan memasukkan semua mainan ke dalamnya. Mobi, Tomas, Bis Merah, dan teman-teman lega bisa kembali ke kotaknya.

🚔🚕🚑🚔🚒🚖🚖🚗

Hari ini, Hanan tidak mau membereskan mainannya. Akhirnya muncul ide cerita ini.

Grab Your Imagination #6

Ibuk berharap, Zafir dan Hanan bisa punya tanggung jawab dengan kebersihan dan kenyamanan di rumah. Yaitu dengan ikut melakukan pekerjaan rumah tangga sesuai dengan kemampuan masing-masing. Maka, muncullah kisah ini.

🏎️🏍️🚘🛵🚕🚚🚚🚌

Pagi yang cerah di hari Minggu. Kakak Caca dan Adik Cici sedang asyik berjalan-jalan pagi. Kemudian, mereka ambil sepeda dan bersepeda keliling kompleks.

Terdengar suara Ibu memanggil Kakak Caca.
"Cacaa..."
"Ya, Buu... "
"Bisa bantu Ibu dulu, Nak?"
"Bantu apa, Bu?" sahut Caca enggan.
"Bantu Ibu menyapu halaman depan. Ibu sedang menyiapkan makanan untuk arisan nanti siang."

Caca masih tidak mau beranjak dari sepedanya. Dia sebal sekali, Ibu selalu saja menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.

"Cacaa... " panggil Ibu lagi.
"Ibu, ini kan hari Minggu. Caca mau main-main dulu. Pergi dulu ya, Bu! Assalamualaikum!" Caca cepat-cepat mengayuh sepedanya supaya Ibu tidak memanggilnya lagi.

Ibu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Caca lalu main ke rumah Dini, tetangganya di ujung kompleks. Caca ingin ajak Dini keliling naik sepeda. Tapi rupanya, Dini tidak bisa keluar hari ini.

"Maaf, Ca. Aku harus bantu Mama karena Mama sedang sakit. Tapi kamu bisa main sama aku di sini kalau mau. Yuk!"

Caca sebenarnya kecewa. Tapi ia masuk juga ke rumah Dini. Diperhatikannya apa saja yang dilakukan Dini.

Menyapu, mencuci piring, memasak nasi, dan juga membawakan makan ke kamar ibunya.

Caca bertanya pada Dini, "Kamu ngga capek ngerjain pekerjaan - pekerjaan ini?"
"Capek sih, Ca. Jadi ngebayangin, Mama melakukan ini setiap hari sendirian, karena Papa kerja dan kami ke sekolah. Tapi Mama ngga pernah ngeluh. Makanya, pas Mama sakit begini, aku ingin bantu Mama."

Dini tercenung mendengar penjelasan Caca. Seketika Caca merasa menyesal karena sudah bersikap buruk pada Ibu. Caca segera pamit pulang kepada Dini dan mamanya.

Sesampai di rumah, ia minta maaf dan mencium pipi Ibu. Lalu menawarkan bantuan apa yang dibutuhkan Ibu.

10/12/17

Grab Your Imagination #5

Di sore hari yang terik, Miku Si Kucing pulang dari bermain di taman. Dilihatnya Kasut Si Sepatu tampak sedih.

"Kenapa, Kasut? Kok kelihatan sedih?"
"Aku kegerahan nih, gatal-gatal, Miku. Udah berapa lama aku ngga dicuci sama majikanku."
"Oh iya yaa. Tapi sebenarnya kamu ngga terlihat kotor kok."
"Iya, tapi kan bagian dalamku pengap. Lalu ada sedikit cipratan lumpur nih, di bagian tumit."
"Sabar, ya... Mungkin sebentar lagi."

Tidak lama kemudian Dudi si Pemilik sepatu keluar. Dia baru saja akan memakai sepatu ketika dilihatnya noda lumpur di bagian belakang.

"Yaah, kotor," katanya.

Dudi tidak jadi memakai sepatunya. Diambilnya sikat dan sabun, kemudian mengisi ember dengan air. Lalu mulailah Dudi menyikat Si Kasut dengan teliti.
Setelah dibilas, dijemurnya Si Kasut.

Setelah kering dan kembali ke rak sepatu. Miku melihat temannya sudah gembira kembali.

"Wah, keren sekali kamu. Sudah kelihatan bersih."
"Haha, iya. Dudi tadi membersihkan aku."
"Syukurlah."

👟👞👟👞👟👞👟👞👟👞👟👞👟👞

Suatu siang, Ibuk mendapati sepatu Zafir yang kotor. Muncullah ide cerita ini.

08/12/17

Grab Your Imagination #4

Dua mobil pemadam kebakaran yang berteman saling mengucapkan salam ketika bertemu di markas pemadam kebakaran.

"Assalamualaikum, Damdam. "
"Wa'alaikumussalam, Damkar. "
"Hari ini kita ada tugas apa, ya?"
"Belum ada panggilan tugas, kayanya."
"Kalau gitu, kita perlu mandi, nih. Yuk kita ke tempat pencucian."
"Ha, ide bagus."
"Kedua mobil pemadam kebakaran berjalan menuju salah satu sisi halaman markas. Di sana ada petugas yang bersiap untuk membersihkan mobil pemadam."
"Nah, kita berdoa dulu sebelum dimandikan yuk, Damkar."
"Oh yaa..."
"Allahumma inni a'uudzubika minal. Khubutsi wal khabaits."

Setelah selesai dibersihkan, tak lama terdengar sirine tanda panggilan tugas.
Iii... Uuu... Iii... Uuu... Iii... Uuu...

"Damdam, kita ada panggilan nih. Yuk bersiap."
"Baik, Damkar, kita menunggu Kapten dan teman-teman lainnya naik."

Setelah semua petugas pemadam kebakaran naik, Damdam, Damkar, dan semua petugas berdoa keluar markas

"Bismillahi tawakaltu alallaahi, laa haula aa laa quwwata illa billah."

Lalu mereka segera melesat menuju lokasi yang membutuhkan bantuan mereka.

Setibanya di sana, segera petugas melakukan pemadaman api.
Setelah beberapa lama, api akhirnya padam.

"Alhamdulillah. Api sudah padam," kata Damkar.
"Iya, Damdam, alhamdulillah semua atas izin Allah."

Lalu mereka semua kembali ke markas.

🚒🚒🚒🚒🚒🚒🚒🚒🚒🚒🚒🚒

Cerita ini dibuat spontan waktu melihat ada dua mobil damkar dr karton tergeletak di kursi. Ibuk panggil Hanan, mengajaknya duduk sambil mendengarkan cerita duo mobil pemadam.

Hanan yang memang minatnya pada alat transportasi, kelihatan bersemangat dan banyak tertawa mendengarkan cerita. Malah ikut bercerita, dan ikut menjalankan mobil-mobil damkarnya.

Pesan moralnya, mengingatkan untuk selalu berdoa di setiap memulai kegiatan, dan mengucap syukur atas kenikmatan yang Allah berikan.

03/12/17

Grab Your Imagination #3

Di sekolah saat jam istirahat, Mira terlihat lesu tak bergairah. Mukanya terlihat menahan sakit.

Ibu Guru menghampiri Mira, dan bertanya, "Mira, kamu baik-baik saja?"

Mira menoleh dan menjawab dengan lesu, "Emm... Perut Mira sakit, Bu Guru."

"Mira belum makan?"

"Sudah, Bu Guru. Tapi Mira tadi mau buang air besar ngga bisa."

Bu Guru mengerti sekarang apa masalahnya. Mira sedang sembelit.

"Oh, itu namanya Mira sedang sembelit. Mira tahu, kenapa bisa sembelit?"
Mira menggeleng.

Bu Guru lalu mengambil minyak kayu putih dari dalam tasnya.

"Ibu oleskan minyak ini ke perut Mira ya."
Mira mengangguk sambil membuka sedikit baju bagian perut supaya tangan Bu Guru bisa mengusapkan minyak ke perutnya.

"Mira, Bu Guru mau tanya, ya. Mira suka makan buah dan sayur?"

"Mira ngga suka, Bu Guru. Banyak buah yang rasanya asem, trus sayur rasanya ngga enak."

"Ah, kata siapa buah rasanya asam? Memang ada buah yang rasanya asam, tapi lebih banyak lagi buah yang rasanya manis dan enak, asalkan sudah cukup matang. Contohnya, pisang, mangga, jeruk, pepaya, buah naga. Itu semua manis lho kalau sudah matang."

"Mira dulu pernah makan mangga tapi rasanya asam. Habis itu, Mira ngga pernah mau makan lagi,"

"Nahh, kebetulan nih, Ibu tadi beli mangga. Kita kupas yaa. Ibu juga punya pisang. Salah satu penyebabnya Mira sembelit karena kurang serat di tubuh Mira. Jadi sisa makanan yang harusnya keluar jadi susah dibuangnya. Harus ada serat yang membantu pembuangan sisa makanan. Kalau dibiarkan, perut jadi sakit seperti Mira, lalu lama-lama kotorannya jadi racun di tubuh. Bikin Mira sakit nanti. Mira ngga mau kan jadi sakit?" cerita Bu Guru sambil memberikan kepada Mira pisang dan mangga potong dalam kotak makan Bu Guru.

"Ngga mau, nanti aku ngga bisa main sama teman-teman."

"Nah, kalau gitu, ayo dicoba makan mangga dan pisangnya. Hmmm... Ini manis lhooo!" kata Bu Guru sambil memakan potongan mangga.

Mira memperhatikan Bu Guru. Kelihatannya enak ya. Mira mau mencoba tapi ragu-ragu. Lama kelamaan, diambilnya potongan paling kecil lalu dicicipinya. Hmm manis, pikirnya. Mira lalu terus mengambil sepotong demi sepotong mangga sampaiii...habis.
Bu Guru tersenyum.

"Gimana, Mira. Enak kan?"

"Iya ya,  Bu Guru. Ternyata mangga itu enak banget. Mira suka sekarang."

"Nah, mulai sekarang, Mira harus berani mencoba buah-buahan yang lain. Kalau ada yang asam, belum tentu semuanya asam."

Mira mengangguk mengerti.

"Selain buah, makan sayur juga ya. Dan banyak minum air putih. Supaya lancar buang air besarnya."

"Iya, Bu Guru."

Bu Guru lalu ijin meninggalkan Mira untuk ke kantor guru. Tak berapa lama ketika bel masuk berbunyi, Mira memanggil Bu Guru dengan ceria.

"Bu Guru, perut Mira udah ngga sembelit lagi. Sudah ke kamar mandi tadi."

"Wah, syukurlah. Tuh jadi lancar kan. Itu nikmat dari Allah. Allah ciptakan buah dan sayur untuk dimakan manusia, pasti bermanfaat."

🍠🥕🍅🍉🍈🍇🥒🍆🥑🥝🍍🍓🍒🍑

Cerita ini dibuat karena ingin memotivasi Hanan yang agak susah makan buah dan sayur.

02/12/17

Grab Your Imagination #2

Ciku Si Burung Coklat

Ciku Si Anak Burung sedang murung. Dia merasa tidak beruntung. Dia tidak suka dengan bulunya yang berwarna coklat gelap. Baginya, bulunya kelihatan jelek. Dia berharap bisa memiliki bulu berwarna putih bersih, seperti milik Pak Merpati.

Induk Burung menghampiri Ciku, "Ada apa Ciku? Kenapa terlihat murung?"

Ciki bercerita, dan Induk Burung mendengarkan dengan seksama.

Induk Burung tersenyum.

"Wah, jadi kamu tidak suka warna bulumu sendiri?"
Ciku mengangguk.

Induk Burung lalu mengajak Ciku terbang mencari makan. Ketika sedang berhenti di suatu tempat untuk mencari makanan, terdengar suara gemerisik diantara dedaunan semak. Ciku dan Induk Burung mencari dari mana asal suaranya. Tak lama mereka menemukan seekor burung berwarna putih yang terjatuh. Ternyata sayapnya luka.

"Aduh, kasihan sekali, bu. Burung itu sayapnya luka," kata Ciku.

Ternyata, Si Burung Putih terkena peluru pemburu. Setelah memberikan pertolongan kepada Si Burung Putih, Ciku dan Induk Burung melanjutkan mencari makan dan kembali pulang.

Induk Burung berkata pada Ciku, "Kasihan ya, Si Burung Putih. Mungkin sementara  ini dia tidak bisa terbang sampai sayapnya sembuh. Tidak bisa mencari makan sendiri. Alhamdulillah ya, kita dalam keadaan sehat, sayap kita masih lengkap untuk terbang, bisa mencari makan sendiri sesuai keinginan kita"

"Kita beruntung yaa... Walau mungkin bulu kita tak seindah bulu yang dimiliki burung lain, tapi kita diberikan Allah kesalamatan," lanjut Induk Burung.

Ciku pun tersadar. Iya, ya. Keselamatan Ciku adalah pemberian yang tak ternilai harganya dari Allah. Ciku pun bisa kembali tersenyum dan bersyukur. Tidak lagi merisaukan warna bulunya.

🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

Awalnya, Ibuk ingin membuat cerita yang pesan moralnya anak rajin sholat. Tapi ngga kunjung menemukan ide untuk menyampaikannya dengan bahasa yang yang menggurui.

Lalu kok malah teringat sama cerita keluarga burung kemarin. Alhamdulillah bisa memanfaatkan dongeng kemarin dengan mengambil Si Ciku, saudaranya si Sasi, sebagai tokoh utama kali ini.

Pesan moralnya sudah jelas, ya... Mengajak anak untuk bersyukur dan berbahagia dengan apa yang sudah diberikan Allah kepada kita.

Grab Your Imagination #1

Sasi Siap Terbang

Sasi adalah seekor burung yang tinggal di atas sebuah dahan pohon. Sasi baru saja keluar dari cangkang telur bersamaan dengan saudara-saudaranya. Seperti saudara-saudaranya, Ciku dan Mimu, saat baru keluar segera mencari sosok induknya. Sang induk datang tepat pada waktunya, setelah seharian mencari makan untuk dibawa ke sarang.

Ciap ciap ciap, sambut ketiga anak burung ketika melihat induknya membawakan ulat lezat untuk mereka.

Semakin hari, Sasi dan kedua saudaranya tumbuh semakin besar. Sang Induk Burung mulai mengajak ketiga anaknya untuk belajar terbang. Ciku dan Mimu sangat bersemangat belajar terbang. Wah, tapi dimana Sasi? Sasi ternyata bersembunyi di balik dedaunan.

"Kenapa kamu bersembunyi di situ, Sasi? Ayo kita belajar terbang bersama... " Sang Induk menghampiri Sasi.
"Aku tidak mau belajar. Aku mau di sarang saja!" jawab Sasi.
"Kenapa kamu tidak mau? Lihat serunya Ciku dan Mimu mencoba untuk terbang. Kamu tidak mau merasakan serunya?" bujuk Sang Induk.
"Ngga mau!"
"Ya, sudah. Tidak apa-apa kalau Sasi belum siap."

Beberapa hari kemudian, Ciku dan Mimu sudah bisa terbang dengan baik. Makin hari makin jauh perginya. Setiap hari, Ciku dan Mimu pergi terbang entah kemana. Sepulangnya, selalu membawa oleh-oleh cerita seru.

"Ibuu... Tadi aku terbang ke taman bunga. Aku melihat banyaaak sekali bunga cantik berwarna-warni. Ada merah, biru, ungu, kuning, juga warna jingga. Bentuknya juga lucu-lucuuu. Aku suka melihatnya dari atas, Bu. Inddaah sekali, " cerita Mimu suatu kali.

"Ibu, Ibu..., tadi di pinggir sungai itu ada ada suara nyanyian yang lucu. Ternyata ada banyak katak di situ yang sedang bernyanyi. Mereka kelihatannya senang karena hujam sudah turun. Aku tadi hampir kehujanan, lalu aku berteduh di sebuah pohon, " Ciku tak kalah seru bercerita.
Begitu seterusnya Ciku dan Mimu bercerita pengalaman yang ditemui saat terbang menjelajah tempat-tempat baru. Sang Induk mendengarkan dengan seksama cerita mereka.
"Wah, pasti menyenangkan yaa, bisa melihat tempat baru dan hal baru."

Sasi ikut mendengarkan cerita saudara-saudaranya dengan penuh kekaguman. Lalu timbul rasa sedih karena ia belum pernah melihat secara langsung apa yang sudah dilihat oleh saudara-saudaranya.

Sang Induk menghampiri Sasi yang sedang bersedih.
"Ada apa, Sasi?"
"Aku sedih, Bu... Ciku dan Mimu bisa pergi ke berbagai tempat. Mereka bisa menemukan banyak hal seru dan menarik. Tapi aku cuma ada di sarang ini. Tidak tau bagaimana caranya bisa ke tempat-tempat yang indah dan menarik. " jawab Sasi dengan muka sedih. Sang Induk lalu tersenyum dan memeluk Sasi dengan lembut.
"Sasi, kamu ingin bisa merasakan pengalaman seperti Ciku dan Mimu?" Sasi mengangguk.
"Yuk kita coba terbang. Kamu sudah coba?"
"Tapi, aku takut, Bu... "
"Jangan khawatir, Ibu akan menemani Sasi untuk memulai."
Sejenak Sasi berpikir, lalu bertanya," memangnya kenapa aku harus belajar terbang, Bu? "
"Karena dengan engkau terbang dan menjelajahi angkasa, kau akan bisa melihat dunia, melihat serunya ombak berkejaran di pantai, indah warna-warninya bunga. Kamu akan mendengar banyak nyanyian indah yang tidak biaa kamu temukan di sarang ini. Jadi, ayuk kita terbang. "

Sasi mulai membayangkan dirinya mengangkasa dengan kedua sayapnya, dan menemukan berbagai hal menarik.

Lalu dengan mantapnya, Sasi berkata,
"Aku siap terbang, Bu! "

🔰🔰🔰🔰🔰🔰🔰🔰🔰🔰🔰🔰🔰🐦🐦🐦🐦
Dongeng ini tercipta adalah karena inspirasi dari apa yang Ibuk alami di rumah. Yaitu, Hanan yang belum bersemangat belajar membaca.

Alhamdulillah ide menulis dongeng ini mengalir lancar, sehingga bis selesai dalam waktu satu jam. Kemudahan dari Allah. Padahal selama ini merasa udah menyerah duluan untuk urusan menulis fiksi.

Dapat Insight untuk My Life Project

Life Project itu adalah berkebun.  Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...