Tampilkan postingan dengan label Cerita Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Ibu. Tampilkan semua postingan

30/12/24

Dua Minggu yang Melelahkan

Dua minggu terakhir ini melelahkan jiwa. Dimulai dari ibu yang dirawat di RS, sikap suami yang ngga sesuai harapan, sikap Hanan yang juga semakin membuat lelah, dan terakhir perasaan negatif yang muncul karena ada kesan anak perempuanku seolah 'dinomorduakan' oleh kakak sepupunya. Wow, terkesan menyedihkan sekali ya.... Tapi sebenarnya aku menulis ini bukan untuk memojokkan siapa pun. Aku hanya mencoba menyalurkan ekspresi emosiku, mencoba untuk memahani diriku dengan jalan menulis. Pada akhirnya, aku mendapatkan pelajaran juga dari semua pengalaman ini. 

Jadi begini ceritanya... 

Dua minggu yang lalu, sekitar tanggal 13 Desember, dapat kabar kalau Ibu sakit. Awalnya kupikir batuk dan flu biasa. Tapi waktu video call, aku lihat wajah ibu kok bengkak. Mulai deg-degan. Singkat cerita benar aja, hari Sabtu pagi ibu lemas dan demam, dan dibawa ke UGD. Ternyata saturasinya rendah dan harus pakai oksigen. Ya Allah, rasa khawatir langsung mengaliri tubuhku. 

Kondisi ibu masih ngga stabil sampai hari Kamis (19 Desember) dan belum ketahuan apa sebenarnya penyakit Ibu. Malah di hari Rabunya (18 Desember), Ibu sempat ngedrop banget kondisinya, karena rasa lemas dan sesak yang intens. Ibu sampai nitipin amanah untuk menyerahkan uang tabungan alumni SMA nya yang selama ini dipegang Ibu, untuk diserahkan ke temannya. Aku iyakan saja, dan aku selesaikan amanah itu supaya Ibu juga ga kepikiran hal lain yang mengganggu. Alhamdulillah mulai hari Jumat, setelah Ibu mendapat fisioterapi, yaitu latihan mengembangkan paru-paru, kondisi Ibu kelihatan lebih segar dan stabil. Walau kadang masih lemas dan belum sepenuhnya lepas oksigen, tapi kelihatan lebih segar. Di hari itu, mulai ada diagnosa yang jelas tentang penyakit Ibu. Ibu kena Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Hari Sabtunya, dokter spesialis penyakit dalam sudah kasih ijin Ibu untuk pulang, tapi dokter spesialis Paru masih harus mengurangi dosis obat ibu secara bertahap, jadi Ibu baru bisa pulang hari Senin. 

Selain Ibu yang sedang sakit, ada beberapa kejadian yang cukup membuat kondisi emosiku kurang oke selama sekitar 2 minggu ini.

Jadi mulai Rabu (18 Desember), aku menunggui Ibu di pagi sampai sore hari, bergantian dengan mba Sania yang menunggui Ibu di malam hari. Ngga ada masalah dengan ini, karena suami udah oke, dan alhamdulillah Fariha juga sudah bisa diberi pengertian (ya dengan sedikit reward mainan juga, sih). Adikku, Dek Vivi, juga mau berbaik hati dititipkan untuk mengurus anak-anak, terutama Fariha. Kondisi suami sebenarnya ngga fit. Ya... entahlah... kondisinya sering kurang sehat, memang. Mungkin karena sudah tiga tahun ini harus bolak-balik kantor rumah dengan jarak waktu tempuh kurang lebih 3 jam dengan sepeda motor setiap harinya. 

Aku sempat mengalami hal yang tidak aku harapkan. Pada hari Jumat, suami lagi pusing sepulang dari kerja, dan setelah makan dia sudah rebahan dan tidur. Fariha awalnya masih asyik main, nyemil, dan minum susu di ruang keluarga. Tahu-tahu di rewel dan langsung nangis dan teriak. Ya kubawa ke kamar. Aku tahu ayahnya lagi pusing, jadi aku berusaha menenangkan dia dengan lembut, sambil aku bawa ke kamar mandi untuk pipis. Di kamar mandi Fariha masih teriak-teriak, dan tiba-tiba pintu kamar terbuka, ada suara bentakan, "Ibu!". Aku pikir itu Hanan. Teriakan dan tangisan Fariha masih ngga mau berhenti. Aku mulai agak jengkel dan khawatir Ayahnya semakin terganggu dengan tangisan dan teriakan Fariha, ditambah 'Hanan' yang kupikir tadi keluar manggil aku. Aku mulai lebih keras ke Fariha. Tapi bukan ngebentak keras, cuma aku turunin aja dari gendongan, dan aku akan gendong asal diam. Tapi Fariha masih aja nangis dan berteriak. Pintu terbuka lagi, dan kali ini suamiku memanggil aku dengan suara keras, memarahi aku karena aku dianggap bikin Fariha nangis sampai teriak. Aku langsung ngga terima. Justru aku tuh khawatir ayah keganggu dan berusaha menenangkan Fariha, malah aku yang kena bentak! Aku ngga terima sikap kaya gitu. Dan ternyata, yang kupikir tadi Hanan bentak aku itu ternyata suamiku. Makin kesel dan ngga terima aku. Fariha akhirnya diem sendiri karena aku dan ayahnya berdebat. Ngga lama sih berdebatnya. Sampai akhir malam, ngga ada kata maaf keluar dari mulutnya. Ya udah aku berusaha ikhlas aja. Berusaha paham dia lagi pusing dan karena pusing jadi mudah terpicu emosi.

Keesokan harinya, hari Sabtu, ketika aku bangun, sebenarnya aku ngga ngerasa marah walaupun inget kejadian tadi malam, malah aku ambilin minum buat suami. Tapi ngga tau kenapa, aku tuh masih berharap, setidaknya minta maaf ya tadi malam ngebentak aku. Aku tuh ngelihat Hanan susaah banget minta maaf kalau dia buat salah. Aku tuh pengen gitu dia lihat contoh kalau minta maaf itu ngga papa. Ngga usah gengsi. Ngga usah ngerasa jadi lebih rendah derajatnya. Malah itu bentuk kebesaran hati. Aku berharap Ayahnya bisa contohin itu. Tapi sampai aku mau berangkat ke RS, ngga ada juga dia minta maaf. Jengkel, kesel, marah muncul lagi ngga terbendung, sampai aku nyanyi keras-keras di kamar mandi. Selama di RS aku merenung, berusaha memulihkan hati, menenangkan diri, memulihkan perasaan. Ya berkurang sih marahku. Tapi, ngerasa kayanya suamiku kaya ga terima dengan sikap marahku. Ya silakan aja sih. Siapa saja berhak marah. Yang jelas perasaan negatif ini kurasakan sampai hari Sabtu, sampai aku nulis status WA yang hanya bisa dibaca dia aja. Dan kayanya dia baca besoknya. Tetap aja ngga ada maaf, malah mungkin kesel kali dia karena aku bikin status begitu. Ya maaf ya,,, aku juga belum hilang keselnya. Aku baper banget ngga sih? Tapi besok Minggunya aku udah sembuh, sih. Hanya saja pas nulis jurnal ini tadi sempet berasa lagi intensitas emosinya dan sekarang udah normal lagi. 

Nah, di hari Senin, ada kejadian lain, Hanan mengalami kecelakaan di kamar mandi. Hari itu aku ngga ke RS. Karena: pertama, Ibu akan pulang, tapi belum tau jam berapanya. Kedua, aku mau antar Hanan ke klinik juga, karena dia udah 2 hari ini ngga enak badan. Harusnya hari minggu kemarinnya, dia sama ayahnya periksa, eh ayahnya lemes, ngga jadi berangkat periksa. Jadi aku antar Hanan hari ini, sementara adikku, dek Vivi gantian yang ke RS bareng Bapak. Gantian aku bantu ngurus anak-anaknya Dek Vivi, karena Babanya WFH. Di situlah aku perhatikan sikap Hanan yang negatif, dan aku mulai pusing dengan sikap Hanan yang aneh ke Mba Puput (ART rumah). Sebenernya aku tau Hanan sekarang-sekarang ini sensitif dan gampang terganggu dengan kegiatan si ART ini. Ngga cuma ke mba Puput, ke Bu Tati di rumah kan juga gitu. Cuma kali ini kaya lebih intens aja, dan aku takut dia bisa tiba-tiba ngga terkendali. Dan terjadilah kecelakaan. Hanan mau mandi, lalu dia membawa sendiri panci berisi air panas yang tutupnya beling. Aku ngga tau itu, sampai terdengarlah ribut-ribut teriakan Hanan di kamar mandi. Rupanya dia jatuh, lalu tersiram air panas, dan tutup pancinya pecah kecil-kecil. Dan aku langsung tau itu bisa terjadi karena dia ngga fokus. Jadi aku bantu dia duduk, bersihin beling-beling, sambil memberi tahu dia dengan agak emosional, supaya lebih fokus kalau melakukan sesuatu. Setelah dia mandi, baru ketahuan kalau ada luka bakar di punggung kaki dan di pantatnya. Selain itu, ada luka-luka kecil di telapak kakinya karena ngga sengaja menginjak pecahan kaca. Aku ke apotik dan baru kasih obat salepnya setelah 1 jam dari kejadian, jadi sudah mulai mlendung luka bakarnya. Begitulah kejadian hari itu. Alhamdulillah, malam hari itu juga Ibu Akhirnya sudah pulang ke rumah. 

Hari Selasa, ada kejadian yang sempat bikin aku sedih. Awalnya karena beranteman anak-anak yang endingnya Gara nangis. Beberapa waktu kemudian, baru aku sadari, si Kakak Alesha ini, kayanya lagi deket dan sayangnya sama Gara dan Gendis, jadi dia kesal sama Hanan dan (anehnya) ke Fariha juga. Dia seolah-seolah bersikap menjauhi dan memusuhi Hanan dan Fariha. Dan kalau aku ajak ngomong juga bete mukanya. Aku ngga mau berlama-lama deh melihat Fariha dicuekin dan diabaikan sama Alesha, jadi aku bilang maaf yang kalau tadi Hanan atau Fariha atau Bulik ada kesalahan. Setelah itu, situasi menjadi cair kembali. 

Hari Rabu, terjadi sesuatu yang bikin deg-degan. Di awali dengan paginya Hanan lagi-lagi rungsing karena rasa terganggunya itu ke ART. Alhamdulillah, Dek Vivi ngajak jalan-jalan ke TMII. Di TMII, awalnya cukup menyenangkan walau sedikit hujan. Tapi tiba-tiba setelah makan siang, Gendis mendadak kejang demam. Itu bikin kita semua lumayan panik. Langsung kita ke klinik dan setelah menunggu sebentar, akhirnya diputuskan Dek Vivi, Tondi, dan Gendis ke RS, sementara aku dan anak-anak tetap melanjutkan jalan-jalan karena tiket sudah dibeli. Sampai perjalanan pulang semua lancar alhamdulillah. 

Hari Kamis, aku sedih lagi, karena aku lihat banget, gimana Fariha dinomorduakan lagi oleh si Kakak di beberapa kali kejadian. Ngga salah si Kakaknya. Aku juga ngga marah ke Si Kakak. Wajar aja kan seseorang cenderung lebih sayang dengan satu orang dibanding lainnya. Ngga bisa dipaksain juga. Memang masalahnya di aku. Ada sedikit rasa sakit di hati, karena aku punya trauma waktu kecil, aku sering jadi orang yang dinomorduakan atau bahkan dianggap ngga ada di dalam pergaulan. Ditinggalkan. Rasanya sedih dan sakit. Jadi aku sedih kalau Fariha harus merasakan itu juga, walaupun kalau kuperhatikan dia belum terlalu mengerti dan merasakan itu. Ya paling ada satu moment, dia nangis karena pengen ikut Kakak Alesha, sementara Si Kakak pergi ikut Gara dan Babanya naik motor beli makan siang. Babanya sempat menawarkan naik mobil aja supaya bisa ikut semua. Aku hargai itu, api aku merasa ngga perlu, toh Garanya pengennya naik motor. Fariha akhirnya berhenti nangis setelah aku bujuk dia untuk makan sambil nonton youtube. Aku cuma bisa mencoba melegowokan hati. Alhamdulillah, hari ini waktunya aku pulang, jadi aku bisa memulihkan kelelahanku sejenak. Selama perjalanan, di mobil dari rumah ibu ke Tangerang, aku meditasi dipandu oleh video di youtube. Aku merasa lebih ringan dan mindful.

Tapi sampai rumah, ketika Hanan diajak ayahnya merakit lego, Ayahnya shock dan kehilangan kesabaran dengan Hanan yang sesulit itu bekerja sama untuk merakit lego. Sampai dia ngomong, ngga usah lagi ke rumah Rawasari kalau Hanan jadi ngga kekontrol kegiatannya. Aku berusaha tenang. Alhamdulillah kebantu dengan meditasi di mobil tadi. Kalau ngga, mungkin aku akan bersikap defensif. Tapi saat itu aku merasa berkesadaran penuh untuk mengambil jarak dari permasalahan, dan berusaha bersikap rasional menghadapi kemarahan ayahnya Hanan dan menenangkan Hanan. Dan sebelum tidur aku sempat ngobrol dengan tenang ke Ayahnya. 

Hari Jumat siang, Fariha demam. Suhunya 38,7 dercel. Padahal besoknya ada rencana mau antar Hanan pesantren kilat di Bandung. Sempat minum obat parasetamol siang dan malam hari mau tidur.

Hari Sabtu, alhamdulillah sepertinya Fariha ngga demam lagi. Tapi Hanan dan Ayah kurang sehat, jadi tetap gagal ke Bandung. Akhirnya mereka berdua merakit lego di rumah. 

Alhamdulillah semua itu sudah kulalui. Walau masih ada perasaan-perasaan negatih tersisa yang intensitasnya kecil. 

Kesimpulan dari seluruh pengalaman itu semua tadi apa? Kesimpulannya adalah.... ya aku memang masih punya luka batin. Luka batin ini bikin aku rapuh, mudah tercetus emosi, mudah merasa sakit hati, dan sulit move on. Tapi sebenarnya mungkin aku bisa menghindari perasaan-perasaan itu kalau aku konsisten melakukan kebiasaan-kebiasaan baik seperti meditasi dan jurnaling. Kebiasaan itu memberi kesempatan aku untuk menarik napas panjang, lebih mudah mengambil jarak dari permasalahan, mereframing ulang pikiran, supaya bisa lebih punya pandangan yang netral dan tidak mudah terbawa pikiran negatif. 

Ayo deh, Rie, jangan berhenti berdzikir, bermeditasi, benerin sholat, dan journaling!







15/05/23

Perjalanan Menyapih Fariha

Untuk Fariha, anak ketiga ini, aku inginnya menyapih dengan cara yang baik. Ideal. Weaning with love gitu. Tapi pada akhirnya, aku harus pasrah menerima proses menyapih yang ngga berjalan sesuai harapan. Maafin Ibuk, ya, Fariha. 

Ngga ada yang bisa aku ceritakan di sini selain usahaku untuk bisa menyapih dengan cara yang baik.

Awalnya usia 12 bulan lebih aku mulai ga kasih nenen di siang hari. Atas saran dokter anak karena BBnya kurang sesuai kurva normal, nenen di siang hari ditiadakan. Supaya siang hari diutamakan MPASI supaya nutrisinya cukup dan BB bisa naik dengan bagus. 

Praktis nenen hanya di malam hari. Mulai dari sejak maghrib sampai pagi jam 6.  

Lalu sejak usia 18 bulan aku mulai sounding ke Fariha untuk berhenti nyusu atau nen. Mendekati 24 bulan, lebih sering sounding. 

Sebulan menjelang Fariha usia 2 tahun aku mulai kurangi nenen di malam hari. Sounding ke Fariha tampak tidak berefek sesuai yang diharapkan. Masih minta nenen sampai nangis teriak. 

Dua minggu setelah ulang tahun, suami dan keluarga mulai support untuk menyapih. Oke aku akhirnya Siap. 

Hari pertama menyapih itu sabtu malam. Masih Sounding dengan agak mengiltimatum. Hehe. Fariha..  Hari ini hari terakhir nenen ya. Besok Fariha udah ga nenen lagi ya. Fariha udah berhenti nenennya ya. 

Hari kedua, mulai deh diberlakukan. Pas dia minta aku ga kasih. Aku ingetin yang aku omongin ke dia kemarinnya. Apakah beliau mau mengerti? Cencu tydhagg! Dia berusaha meminta dengan menangis, teriak, meraung, berontak. 

Cukup lama akhirnya suami bilang... Coba buk, itu nenennya dikasih lipstik kaya Bik Engkoy (yang suka urut Fariha). Aku ngga mau... Awalnya. Karena aku masih berharap bisa menyapih tanpa harus bohongin Fariha kalau nenenku ada apa-apanya. 

Tapi... Setelah setengah jam lebih raungan dan tangisan belum ada tanda-tanda berhenti, akhirnya aku menyerah. 

___15/05/2023___ Bersambung …

Aku olesi puting dengan sesuatu yang membuat Fariha langsung berhenti menangis minta nenen dengan seketika. Aku inget Fariha sempat menanyakan sesuatu dengan suaranya yang lucu dan menggemaskan. Sampai akhirnya dia ngga bertanya lagi dan tertidur di gendonganku. 

Ada rasa lega akhirnya Fariha berhenti menangis dan merengek. Tapi terselip juga perasaan kasihan dan bersalah karena harus berhenti dengan cara seperti ini. Belum lagi aku harus melakukan ini untuk sekitar 1 minggu sampai Fariha ngga lagi minta nenen. 

Maasya Allah, Fariha, Ibuk nulis ini jadi ngerasa mellow sendiri. Masa menyusui Fariha itu kenangan sangat indah sekali buat Ibuk. Apalagi di 6 bulan pertama. Semoga buat Fariha juga, ya. Maafin Ibuk ya, kalau mengakhirinya mungkin di saat Fariha belum bener-bener siap. Tapi ada beberapa alasan yang bikin ayah sama Ibuk memutuskan untuk mengakhiri masa menyusui ini. Di antaranya adalah masalah berat badan Fariha. Bismillah, semoga Fariha ridho ya. 

___16/07/2023___


29/09/21

Bisakah Kami Memperbaikinya?

Anak nomor duaku sungguh menjadikan aku bercermin dan belajar. 

Sejak awal tahun-tahun kehidupannya sungguh bikin aku belajar. Umm... tapi ada banyak waktu yang kubuang sia-sia yang membuat aku semakin ngerasain akibat buruknya.

Karena kebodohanku, aku melewatkan banyak periode emas untuk mengoptimalkan potensi dan kualitas dirinya yang mungkin masih bisa diasah. Sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa H kemudian harus struggle dengan ketertinggalannya. Dan aku juga harus bersabar untuk dampingi dia. Semua ini membuat aku sering frustrasi. 

Aku dengan bodohnya berekspektasi H akan bisa tumbuh dan berkembang normal layaknya anak seusia dia. Padahal aku tau dari sejak awal bahwa dia alami keterlambatan dalam tumbuh dan kembangnya, tapi kami ngga segera memberi intervensi yang dibutuhkannya.

Ekspektasi kami ngga dibarengi dengan usaha yang maksimal. Iya memang H udah terapi, tapi ngga tuntas dan sedikit terlambat. Ekspektasi itu bertemu dengan kenyataan kalau H butuh bantuan dan kesabaran ekstra untuk mengejar ketertinggalannya. Padahal, kesabaran itu adalah hal yang mewah buatku. Lengkap sudah...

Ekspektasi tinggi, ketidaksabaranku, kemampuan belajarnya yang ngga secepat anak seusianya, tritmen yang salah, terapi yang ngga adekuat, kombinasi dari semuanya kemudian membuat H di usia 11 tahun ini jadi anak yang masih rendah kemauan belajarnya, takut mencoba hal baru, ngga percaya diri, sensitif, mudah meledak emosinya sehingga sering marah-marah yang bisa bikin kaget dan bahkan pernah bikin marah dan nangis orang-orang di rumah. 

Aku sampai nangis merindukan tingkah H yang lucu, polos, dan penyayang pada waktu usia 2-9 tahun dulu. Iya, emosinya yang meledak-ledak dan sikapnya yang semakin membuat senewen itu mulai kelihatan sejak usia 10 tahun, berbarengan dengan beberapa bulan setelah pandemi dimulai dan sekolah dilakukan di rumah.

Kombinasi dari usianya yang masuk pubertas, lalu belajar di rumah yang itu berarti aku yang setiap hari mengajarinya, dan keterbatasan untuk bisa eksplorasi dunia luar karena pandemi, mungkin membuat kondisi psikologis dan emosionalnya kurang berkembang dengan baik. 

Beberapa minggu terakhir ini... cukup membuat lelah menghadapi ledakan emosi Hanan. Hal-hal kecil dan remeh secara ngga terduga bisa bikin H marah-marah atau mengamuk dan membuat aku sendiri takut. Takut ledakan emosinya itu membahayakan eyang-eyangnya atau sepupu-sepupunya yang masih kecil-kecil. Tapi aku sadar itu semua buah dari pengasuhanku sendiri yang memang banyak lalai dan abai. Dosaku sendiri. 

Tapi oke... ngga ada gunanya kan nyalahin diri sendiri terus-terusan. Aku bener-bener harus-harus membayar semuanya. Mudah-mudahan dengan ijin, ridho, dan pertolongan Allah, H dan aku juga ayahnya bisa sama-sama memperbaiki ini semua. Sebenarnya ... aku ingin melibatkan psikolog secara profesional untuk bantu kami menemukan akar masalah dan memandu langkah-langkah perbaikannya. Tapi... tampaknya ayahnya belum sreg dengan ide itu karena alasan tertentu. Jadi aku dan ayahnya kudu belajar dan berbuat ekstra untuk memperbaiki ini. 

Dan yang terutama adalah kelola emosiku sendiri. Kelola pikiranku sendiri. 



06/09/20

Liburan Seminggu di Rumah Bapak Ibuku

Seminggu ini, setelah ayahnya nganter Zhafi ke Rembang, aku sengaja minta untuk ngga buru-buru jemput. Agak khawatir juga karena selama di sana dia ngga selalu pakai masker. Di foto-fotonya, maskernya dibuka. 

Aku minta dia rapid test. Ya walaupun tau akurasinya di bawah 50%, at least ada upaya untuk antisipasi. Tapi ternyata ngga dilakukannya juga. Agak kecewa sebenernya. Aku berharap dia lebih berhati-hati dengan kondisi sekarang. Apalagi aku lagi hamil. 

Seminggu ngga ada kabar yang aneh-aneh dari ayahnya, alhamdulillah, baiklah saatnya harus pulang. 

Selama menginap di Kelapa Gading, aku ngerasa agak mual, kembung, sering merasa perut kosong padahal udah makan. Mungkin bawaan hamil juga ya. Alhamdulillah masih ngga masalah untuk bantu-bantu cuci piring dan nyiapin makan sedikit-sedikit. 


03/01/19

Kecanduan Acara TV

Beberapa waktu lalu, selama beberapa bulan, aku sempat kecanduan suatu program TV. Seharian bisa beberapa kali nonton acara itu. Baik di tv ketika acara itu tayang, lanjut lagi di You Tube lihat rekaman acara di channel-nya. Sehari bisa 4 episode nonton itu sampai begadang. Pagi waktu anak-anak sekolah habis dipakai nonton program. Masih lanjut setelah anak-anak tidur. Suami saat itu lagi belajar di Swedia untuk beberapa bulan. Mulai Agustus 2018 - Januari 2019.

Kecanduan acara itu sebuah guilty pleasure. Ada rasa bersalah pastinya menghabiskan banyak waktu untuk acara itu. Tapi daya tariknya sulit dibendung. Yaitu dua host yang mengawal acara itu. Aku sempat ngefans dengan mereka. Habis waktu juga untuk stalking dan browsing tentang 2 host itu. 

Tapi aku inget lagi dengan terapi Qur'an. Ingat pelajaran kalau mengidolai seseorang secara berlebihan itu ya..  ngga baik. Aku ngga mau jadi terlalu mengidolai seseorang yang sebenarnya bukan panutan. Bukannya karena mereka ngga baik ya... Sebagai manusia ya baik, pasti ada sisi baik dan positif yang bisa kita contoh. Tapi setiap orang juga punya sisi baik kan? Jadi ngga baik lah ngidolain seseorang. Idola yang baik adalah yang bisa dijadikan panutan. 

Akhirnya aku berusaha untuk kembali merutinkan diri berdzikir, memohon dilepaskan dari hasrat mengagumi orang lain secara berlebihan. 

Alhamdulillah... Sebelum tahun 2018 berakhir aku sudah ngga terlalu ngidolain dan habiskan waktu nonton program atau acara-acara mereka. Masih suka kepo sesekali. Tapi hanya saat luang aja. 

Mau tau acara apa itu? Tonight Show. Hehe ... Kadang masih suka nonton. Tapi kalau pas bintang tamunya menarik aja. Itu juga ngga sampai habis nonton 1 episode. 

08/05/18

Menulis Adalah Terapi #1

Sepanjang hidupku, aku merasa pergolakan tak pernah henti. Konflik tak pernah jemu berkecamuk dalam hati, dalam jiwa. Mempertanyakan siapa aku sebenarnya. Apa impianku dalam hidup. Apa yang ingin kucapai. Seberapa berharganya aku? Mampukah aku? Layakkah aku mendapatkan apa yang aku inginkan.

Aku selalu patah hati setiap kali kumerasa tak kudapat dukungan dari orang-orang terdekatku. Aku selalu merasa salah langkah salah bicara salah sikap. Aku hampir selalu merasa benci diriku. Aku hingga saat ini belum bisa menerima diri ini sepenuhnya. Aku hampir selalu merasa kehabisan energi. Untuk diriku sendiri dan tak tersisa lagi energi untuk orang-orang yang seharusnya aku kasihi. 

Bukan... Bukan ingin mengeluh. Hanya ingin menuliskan demi menemukan tempat ku bisa melepaskan kegundahanku. Kegundahan yang sama terjadi tahun demi tahun. Dari sejak usia kanak-kanak, remaja, beranjak dewasa, hingga sudah hampir paruh baya. Sungguh tersiksa rasanya. Tak ada sahabat, tak juga teman bicara, suami pun tak bisa sepenuhnya memahamiku. Bukan salahnya. Tak ada yang bisa memahamiku, aku memang sulit dimengerti, bahkan oleh diriku sendiri. 

Siapa sahabat yang bersedia hadir sepenuh hati menemaniku? Tak ada. Bahkan suamiku bisa jadi adalah orang tersabar di dunia karena mampu bertahan hidup denganku hampir dua belas tahun. 

Yang membuatku sedih adalah... Aku selalu takut karena sudah mewariskan kegundahan ini ke anak-anakku. Aku tidak ingin mereka tumbuh dewasa dengan kondisi seperti diriku. Aku ingin, aku berharap, mereka tumbuh dewasa, menjadi penebar manfaat, menjadi pribadi yang matang, yang optimis, penuh syukur dan bahagia menjalani kehidupannya, serta bersemangat mengejar akhirat yang baik.  

Aku ingin jadi baik. Aku ingin jadi pemberi manfaat. Aku berharap Allah memberiku kemudahan, kekuatan, dan semangat bagiku berbuat kebaikan terus menerus. 

04/05/18

Al Qur'an Adalah As Syifa - Sharing Pengalaman

Ada sedikit memori di akhir 2017 kemarin. Sedikit cerita pengalaman tentang Al Qur'an dan doa sebagai penyembuh (As Syifa).

Beberapa waktu lalu, Hanan kena cacar air. Di hari ke 9, sakitnya bersambung dengan batuk pilek. Sebelum batuk pilek, sempat demam tinggi. Sempat muntah dan diare juga. Penyakit-penyakit yang umum terjadi sama anak-anak. Tapi,  kalau demam tinggi tanpa asupan cairan yang cukup, resikonya dehidrasi. Dan itu pernah terjadi dulu yang berujung dirawat di ICU (Intensive Care Unit). 🙁

Sejak Rabu malam, suhu tubuhnya panas tinggi. Beberapa kali terbangun dari tidur, mungkin akibat rasa nyeri dan pusing yang menyertai demamnya. Si Ayah mengkompres dengan air hangat terus menerus. Saya bujuk minum air putih tapi hanya beberapa teguk air saja yang mau diminumnya. Saya bujuk untuk minum obat penurun panas, dijawabnya dengan gelengan kepala dan mulut yang ditutup rapat. 

Setelah mencoba terjaga untuk mengompres dan memantau kondisinya, juga karena dia terbangun beberapa kali, akhirnya obat dipaksa masuk. Baru bisa tidur akhirnya. 

Keesokan harinya, sepanjang pagi hanya mau tidur saja. Sesekali berceloteh tapi matanya sayu dan tubuhnya lemas bikin saya khawatir. Berkali-kali saya bujuk untuk minum lebih banyak dan minum obat penurun panas. Tapi kuat sekali penolakannya. Untungnya, ia masih mau makan walau hanya beberapa suap. Sekali minum lumayan banyak, dan obat berhasil masuk, tidak lama kemudian dimuntahkannya bersama makanan. 

Saya bawa untuk cek darah dan konsul dokter. Dokter menyatakan hasil tes baik, menandakan hanya infeksi virus saja. Suhu tubuhnya saat itu 38 dersel. Menurut dokter, ia mulai dehidrasi ringan. Memang waktu malam, suhu tubuhnya lebih tinggi. Mungkin banyak kehilangan cairan saat itu. Lalu memberi resep cairan pengganti elektrolit yg hilang. Seperti sudah diduga, ia tidak mau meminumnya bahkan sedikitpun. Ia kelihatan tambah lesu hingga tertidur. Sore itu, saya mulai panik. Istighfar ngga berhenti dalam hati dan dengan lisan. Saya putuskan akan membawanya ke rumah sakit karena kondisi yang sudah mulai mengkhawatirkan. Saya telpon suami untuk segera pulang. 

Sambil menunggu, saya hubungi teman yang juga guru Bahasa Arab saya, bunda Nia Firnie, mohon supaya beliau mendoakan. Saya sungguh butuh saran apa yang harus saya lakukan dengan kondisi seperti itu. Olehnya, saya diingatkan untuk bermuhasabah, berpasrah, sambil membuatkan air ruqyah untuk Hanan. Dalam kondisi yang masih panik, saya jalankan nasihatnya sambil mencoba untuk berpasrah dan terus berdoa.

Alhamdulillah, Hanan mau minum walau sedikit-sedikit. 

Ketika di perjalanan menuju RS, saya raba leher dan keningnya, suhu tubuhnya sepertinya turun. Tapi mobil kami tetap menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan apapun. Sesampainya di UGD, seorang perawat memeriksa suhu tubuhnya, dan angka menunjukkan 36.5 dersel. Dokter bertanya ada keluhan apa. 

Lalu berceritalah saya kepada dokter. Tentang demam tingginya tadi malam, tentang dokter klinik yang menyatakan Hanan mulai dehidrasi, tentang lesunya sepanjang hari ini, tentang kurangnya asupan minuman yang masuk, dan obat yang sulit masuk. Lalu dokter meminta hasil cek darah yang memang hasilnya normal. Alasan kami membawanya ke RS adalah khawatir akan dehidrasi. 

Lalu dokter mengatakan, "Ibu, suhunya normal, hasil cek darah juga baik, jadi tidak ada indikasi harus dirawat."
"Tapi dokter, tadi dokter klinik bilang sudah mulai dehidrasi."
"Iya, bu. Kalau gitu kita lihat 2 hari lagi, ya. Karena kalau sekarang ngga ada alasan anak ibu harus dirawat."

Perasaan saya saat itu bercampur antara bingung tapi juga lega. Sewaktu berangkat Hanan dalam keadaan tidur, ketika perjalanan pulang dia berceloteh seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. 

Dalam hati saya membatin... 
 "Ini semua kuasa Allah, menyembuhkanmu melalui Al Qur'an dan doa guruku yang shalihah."

Rukyah itu sebenernya berkaitan dengan Tazkiyatun nafs, atau mensucikan  diri.
Merukyah diri berarti meminta perlindungan kepada Allah dari segala hal negatif.

29/04/18

Lamaran Tante Vivi



Kemarin itu hari yang berbahagia buat kami sekeluarga besar Eyang Kamal. Adiknya Ibuk, Tante Vivi, dipinang Om Tondi, teman sekantornya. 

Acara dihadiri keluarga besar Eyang Kamal, yaitu keluarga Abdul Madjid Harsolumakso, dan keluarga besarnya Yangti Wiwik, yaitu keluarga Mangundiwiryo. 

Beberapa teman kantor dan teman lama tante Vivi juga hadir. 

Alhamdulillah acara lancar, cuaca juga cerah. Semoga proses persiapan dan pelaksanaan dilancarkan dan dimudahkan. 

27/03/18

Sesak Itu...

Sesak itu, ketika mendapati kabar seorang yang baru saja kita bertemu dalam keadaan sehat, ternyata telah berpulang ke Rahmatullah. 

Terlebih ia telah kita kenal cukup lama, kenal pula dengan keluarganya (istri dan anaknya). 

Semoga Allah lapangkan kuburnya, ampuni dosanya, terima amal solehnya. 
Semoga Allah tabahkan istrinya, Allah kuatkan anaknya.... 

22/03/18

Menyimpan Baju Yang Awet Rapinya


Mendapati laci bajunya anak-anak rapinya awet itu seneng. Sejak mengubah cara melipat dan mengubah posisi meletakkan baju beberapa bulan lalu, sampai sekarang masih lumayan rapi, belum dibongkar-bongkar lagi. 

Dulu, melipatnya konvensional, lalu naruhnya juga konvensional alias ditaruh posisi mendatar. Masuk laci, ngga ada sehari udah berantakan lagi ngga ada bentuknya. Namanya anak-anak, apalagi laki-laki, milih baju, ketemu, langsung tarik aja. Ngga ada lah cerita baju yang di atasnya dikeluarin dulu, ambil, lalu taruh lagi yang rapih. Meski sudah diingetin. 

Lalu lihat di you tube, baca buku Mari kondo, meniru cara bebenah. Walau belum sepenuhnya diterapin. Minimal soal penyimpanan baju aja ini udah kelihatan hasilnya. Mudah ambil bajunya, dan tetap rapi. Itu kalau pakai laci ya. 

Memang lebih suka simpan baju di laci seperti ini juga sih. Karena rumah juga masih pindah pindah, masih nomaden. Punya laci model begini praktis kalau mau pindahan. Isi baju ngga perlu dikeluarkan. Angkut saja laci seisinya, taruh di losbak a.k.a mobil pikep. 
Beres.... 

10/11/17

Mengenali Kebutuhan Diri

Dalam menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga, merasakan kejenuhan dan kebosanan adalah hal yang tak terhindarkan. Inginnya bisa mengerjakan semua pekerjaan tapi serasa 24 jam itu ngga cukup. Terkadang,  kejenuhan itu coba ditepis dan diabaikan. Mau mengeluh kepada suami, rasanya ngga tega karena suami juga sudah bekerja plus kuliah. Mau minta supaya ada asisten rumah tangga yang bantu cuci setrika dan bebersih, ternyata upah ART jaman now juga udah tinggi. Ngga tega minta suami keluar uang lagi untuk ART. Kalau ada waktu, alhamdulillah ayah bantu mencuci dan bebersih. Tapi tentu ngga bisa setiap hari, menyesuaikan dengan waktu luangnya.

Cara diri ini mengabaikan jenuh itu adalah dengan terus mengerjakan rutinitas ini seadanya, dan hasilnya sering ngga maksimal. Kalau pas iman sedang naik, bisa lebih ikhlas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan, dan lebih rapi. Tapi subhanallah yaa, memang iman manusia itu naik turun, hati itu mudah bergoncang. Ketika hati entah diselimuti mood swing yang tak terkendali, ku hanya bisa terus berdoa dan mengerjakan seadanya, semampunya.

Alhamdulillah suami orang yang sabar, baik, dan ngga pernah mengeluh atau protes dengan rumah yang berantakan, masakan yang seadanya, dan istri yang ngga dandan cantik. Walau seharusnya suami mendapati hal yang sebaliknya, yaitu rumah yang rapi, masakan yang enak, dan tampilan istrinya yang menarik.

Tapi tubuh dan batin kalau udah teriak jadinya mogok. Burn out. Susah diajak kerjasama. Mau ngerjain apa-apa udah lemes duluan. Lihat setrikaan segunung, rumah berantakan, masakan belum siap, rasanya mau nangis. Bagaimana mau membersamai anak dengan hati gembira kalau sebenarnya pengen menjerit. Mau curhat, ngobrol, dan minta Me Time tapi kok ya itu tadi... Suami juga jangan-jangan lebih butuh me time juga karena kegiatan kerja dan kuliah.

Ditambah lagi, diri ini punya urusan yang belum selesai. Aktualisasi diri yang belum pernah tercapai, kebutuhan intimasi yang jarang terpenuhi, keterampilan komunikasi yang masih belum baik (terutama caraku berkomunikasi dengan pasangan), dan kepercayaan diri yang masih rendah. Makin berat rasanya. Intimasi di sini maksudnya kedekatan dan kelekatan hubungan. Hehe, dulu dengan Bapak dan Ibu sepertinya ngga bisa bebas curhatan. Sama kakak laki-laki juga ngga akrab. Alhamdulillah sama adik lebih akrab walau jarang juga curhatan.

Kalau boleh aku making wishes, ada beberapa hal yang kuinginkan bisa kudapatkan.

1. Ngga terikat pekerjaan cuci, setrika, bebersih rumah dan halaman, tapi rumah bisa selalu rapi, bersih, dan tertata.

2. Bisa punya semangat dan tenaga menyiapkan makanan sehat, juga berolahraga.

3. Bisa fokus membersamai Zafi dan Hanan ngobrol, beraktivitas, dan belajar dengan semangat, hati gembira, dan tanpa merasa dikejar waktu.

4. Bisa punya waktu yang cukup untuk sendirian, sekedar membaca dan atau membuat tulisan.

5. Bisa punya waktu yang cukup untuk tadarus, ibadah, menghapal.

Selain itu, ingin bisa lebih dekat, nyaman, dan menyenangkan dengan suami.

6. Ada kesempatan jalan berdua aja untuk sekedar ngobrol, bercanda, gandengan tangan, rangkulan.

7. Berusaha untuk saling bersikap hangat satu sama lain.

8. Saling bercanda dengan satu sama lain, dan dengan anak-anak.

9. Sama-sama terbuka untuk ngobrolin segala hal tentang mimpi dan harapan masing-masing.

Tapi yang namanya wishes belum tentu bisa dipenuhi semuanya. Apalagi berkaitan dengan kebiasaan dan karakter yang sulit diubah.

Tapi semoga, di hari Jumat ini, keinginanku bisa menjadi doa yang diijabah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

31/10/17

Me Time Ku Itu...

Merujuk pada pemaparan Elma Fitria di blognya tentang Me Time, saya lalu mencoba mengindentifikasi hal-hal yang membuat saya merasa:
Terhibur (sejenak)
Tenang
Senang
Berkembang


Dalam Me Time itu ada dua fungsi, relaksasi dan aktualisasi diri. Selama ini seringnya saya sih terjebak di fungsi relaksasi yang ujung-ujungnya jadi sekedar lazy time aja. Untuk membuat tenang, keluar dari suasana burn out, awalnya saya harus mencari kondisi tenang dulu. Tenang bagi saya itu kalau saya bisa menyendiri dan menemukan aktivitas untuk kepuasan sendiri. Di sini ini, saya lalu sering terpeleset ke aktivitas yang hanya menghibur diri yang ngga produktif kalau lupa mengcut.

Aktivitas yang membuat saya:
Terhibur (sejenak):
  1. Buka-buka medsos cuma untuk stalking atau scrolling status bikin terhibur sejenak, tapi hati ngga tenang.
  2. Nyemil ngga sehat (gula, gluten, gorengan), terhibur sejenak, tapi merasa bersalah.
Tenang:
  1. Menulis curahan hati.
  2. Sholat dan bermunajat.
  3. Mereorganisasi dan merekonstruksi life goal, life plan, dan life schedule.
  4. Belajar (parenting, agama, tentang pola makan sehat, pelestarian lingkungan, dsb).
  5. Utak-atik blog, reorganizing file dan foto.
Senang:
  1. Berhasil mengalahkan kemalasan dan keengganan mempraktekkan (mengamalkan) ilmu yang sudah  dipelajari, sehingga merasa produktif dan bermanfaat. Misal, sudah mempraktekkan ilmu berkebun, praktek resep baru, mengamalkan prinsip parenting, dsb.
  2. Berhasil merapikan rumah (organize, categorize)
  3. Berhasil menyelesaikan tulisan, terutama tulisan artikel atau feature
  4. Mereorganisasi dan merekonstruksi life goal, life plan, dan life schedule.
Berkembang:
Kalau konsisten melakukan aktivitas-aktivitas yang bikin tenang dan senang

30/10/17

My Purpose of Life

Lama berpusing dengan apa tujuan hidup saya, lalu  saya sadari minat yang tumbuh sejak 17 tahun lalu dan masih terpendam sampai sekarang. Minat yang bermula dari keresahan memandang apa yang terjadi di bumi ini,  di negeri ini.

1. Pendidikan. Utamanya pendidikan anak-anak,  keluarga, parenting.

2. Pelestarian lingkungan. Terkait dengan itu adalah daur ulang sampah, prinsip reuse-reduce-recycle, gardening, pemanfaatan air.
Lalu sejak 7 tahun lalu, menaruh minat pada:
3. Pola makan sehat.

Pada akhirnya, Ketiganya terkait satu sama lain. Pola makan sehat dan pelestarian lingkungan adalah hal-hal yang juga penting ditanamkan dalam pengasuhan atau pendidikan anak dan keluarga. Pola makan sehat terkait dengan mengonsumsi makanan yang tidak terpapar zat kimia yang merusak ekosistem tanah dan air.

Bismillah, ingin berkomit dengan itu, semata-mata karena ingin menunaikan tanggung jawab dan tugas sebagai makhluk ciptaan Allah yang harus rahmatan lil alamin, yang memakmurkan  bumi, yang tunduk pada aturan Nya,  dan kelak akan mempertanggungjawabkan segala apa yang kita perbuat kepadaNya.

Tapi jalan saya masih panjang. Saya bahkan berada di titik minus. Banyak yang harus saya ubah, terutama kemalasan dan ketakutan-ketakutan yang masih bersarang dalam diri.

24/07/17

Hutang Puasa Ramadhan Lunas

Hanya sebagai pengingat aja. 
Puasa tahun ini bolong 8 hari.
Sudah kulunasi.
Semoga Allah terima ibadahku ini. 

Aamiin...

10/07/17

Catatan Liburan Lebaran 2017

Catatan Liburan Lebaran  2017
Sabtu, 24 Juni
Malam Idul Fitri yang syahdu, terasa penyesalan begitu Ramadhan semakin mendekati akhir.  Di sayup-sayup gema takdir, air mata tak terbendung. Apakah Ramadhan kali ini sudah kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya? Akankah masih bertemu dengan Ramadhan berikutnya?
Malam Idul Fitri ini,  kami berangkat ke rumah Bapak Ibu di Rawasari, untuk menyambut zed idul fitri bersama esok hari.
Minggu,  25 Juni
Taqabalallahu minna wa minkum.
Selamat Idul Fitri 1438 H.
Kami awali Idul Fitri dengan sholat ied bersama di lapangan Arsisi,  Cempaka Putih. Lalu bersalaman dan bermaafan dengan Bapak,  Ibu,  dan semuanya.
Lalu kami menerima kedatangan keluarga besar Mangundiwiryo.
Senin,  26 Juni
Keesokan harinya, Zulkarnain's Family siap ke Pasuruan. Dari rumah menuju ke bandara Sukarno Hatta jam 3 malam. Take off dengan maskapai Air Asia ke Surabaya. Dari Surabaya,  memakai armada Grab Car ke Bangil. Kami bertemu keluarga adik-adik Ayah,  lalu keliling silaturahim keluarga almarhum Mbahkung Syafii dan almarhumah Uti Yayuk yang tinggal di Bangil. Setelah maghrib,  kami 'pulang' ke rumah jujugan,  di Pasuruan, dan tidur di sana.
Selasa, 27 Juni
Besok harinya, setelah takziyah ke makam Mbahkung, Uti, dan mbah buyut, kami melanjutkan keliling silaturahim keluarga di Bangil dan Pasuruan. Malam harinya, Zulkarnain's Family berangkat ke Solo.  Dari rumah Pasuruan jam 9, ke Terminal Bungur Asih Surabaya.  Dari terminal,  bis Eka berangkat jam 23.00. Berhenti untuk tukar kupon makan di rumah makan di Ngawi,  dan perjalanan berlanjut hingga tiba di Solo sebelum subuh.
Rabu, 28 Juni
Terminal Tirtonadi Solo bagai bandara.  Bersih,  nyaman,  luas. Ayah dan anak-anak sholat di Mesjid Hidayah yang terletak di dalam terminal. Mesjidnya pun bersih dan nyaman.  Setelah duduk-duduk santai menunggu terang,  kami lalu naik taksi ke rumah Om dan Tante di di Keprabon. 
Rumah Keprabon ini tadinya adalah rumah mbah kakung Abdul Madjid dan mbah putri.  Kami hampir selalu habiskan liburan di rumah ini.  Rumah aslinya berbentuk joglo dengan pembagian ruangan yang khas.  Lalu setelah keduanya meninggal,  rumah ini dibeli oleh salah seorang anak Mbah Abdul Madjid, yang hasil penjualannya dibagikan kembali ke anak-anaknya.  Alhamdulillaah rumah ini tetap dapat menjadi rumah jujugan keluarga besar Abdul Madjid setiap ke Solo. 
Acara di Solo adalah halal bi halal keluarga besar Abu Kasan, di rumah adik Bapak yang lainnya  di Mojosongo. Keluarga Abu Kasan itu orangtua dari Mbah Putri. Jadii di generasi saya panggilnya Mbah Buyut.
Selesai acara di Mojosongo, berangkatlah kami ke Tawangmangu. Di sinilah pertemuan khusus keluarga besar Abdul Madjid. Kami menginap di kawasan agrowisata Amanah. Ini kawasan wisata yang terbilang lengkap. Penginapan, agrowisata, arena outbond, kolam renang dan waterboom, challenge-challenge unik, berkuda,  arena bermain wahana, dan lainnya. Kami menikmati makan malam sambil beranjangsana,  bertukar kabar,  dan mendengarkan musik.
Kamis, 29 Juni
Selepas subuh,  kami tracking dan jalan-jalan di area agrowisata dan outbond. Setelah sarapan,  kami bebas eksplorasi menikmati fasilitas yang ada. Anak-anak memilih berenang di waterboom. Kami check out jam 12.00  lanjut menikmati makan siang di resto Kemuning, baru kemudian kembali ke Solo.
Di Solo,  Zulkarnain's dan Kamal's check in di Grand Orchid Hotel. Makan malamnya nasi liwet,  dan beli oleh-oleh kue artis - yang ngakunya khasp  Solo: Solo Fluffy. 
Jumat, 30 Juni
Acara diawali takziah ke makam Mbah kakung dan Mbah Putri, lalu sarapan di warung Sate Buntel Man Gullit. Kehabisan sate buntelnya,  sih.  Tapi sate,  tongseng,  dan apa satu lagi yaa... Yang serba kambing,  enaak.  Selesai sarapan,  The Zulkarnain's pamit-pamitan mau ke Jogja.
Di Jogja,  transit di rumah orangtua teman kantor Ayah,  di Kasihab,  Bantul. Ayah, dan para cowok sholat Jumat di Mesjid yang lagi viral, yaitu Jogokaryan. Selepas itu,  makan siang di lesehan dekat situ.
Lalu kami pamit mau silaturahim. Tujuan pertama keluarga almarhumah Bude Sri di Green Garden, Godean.  Sayang,  pas kami kesana, rumah kosong. Lalu kami ke Piyungan,  Bantul.  Ketemuan sama Mila dan Kumi. Lalu,  kami ke penginapan Awangga Residence untuk istirahat. Tapi,  sebelumnya kami main dan silaturahim dulu ke rumah keluarga almarhum Pakde Yusman dan ketemu sama Mbak Sari n family yang ada di seberang penginapan.
Sabtu, 1 Juli
Hari ini,  agenda kami ke rumah keluarga Almarhum Pakde Sumar. Alhamdulillaah bisa ketemu Mas Danan, Mas Sur n family,  Mas Bas n family, juga Mbak Bening n family.
Lalu,  The Zulkarnain's check out dan cari oleh-oleh. Lanjut  main ke rumah keluarga Maminya Mora di daerah Jembatan Kewek. Nengokin Mora yang baru saja khitan.
Dari situ,  kami ke Mangunan. Mau main ke kawasan wisata hutan pinusnya. Jelang maghrib,  kami kembali masuk Jogja, makan Gudeg Basah Mbok Mandheg di jalan Parang Tritis. Yummy tuh. Setelah itu,  kami mampir sowan ke rumah dosen kami dulu di Psiko UGM, Bu Indati. Ngobrol santai dan numpang selonjoran. Jam 22.30 kami jalan keluar Jogja.
Minggu,  2 Juli
Jam 00.00, kami berhenti untuk istirahat di Purworejo. Sejam kemudian jalan lagi dan berhenti di sebuah Mesjid di Ajibarang. Waktu itu sekitar jam 3.30am. Kami mandi-mandi di mesjid itu,  karena kemarinnya kami ngga mandi sore.  Hihi...
Setelah subuh,  kami jalan lagi dan berhenti beberapa kali di beberapa tempat. Alhamdulillaah, jelang maghrib, kami sudah sampai di rumah Tangerang.
Selesailah liburan part 1. Eh... Emang masih ada part 2? 

19/02/17

Keran Komunikasi Kami...?

Anak anak udah pada tidur. Lagi berduaan aja dengan suami. Tapiii... Suami lagi pegang hp, saya pun lagi ngelanjutin rajutan. Tetiba pengeeennn banget ngobrol berkualitas.

Jiaah... Selama ini ngobrol memang ga berkualitas?

Yaa... Gimana ya? Ngobrolnya lebih sering sambil lalu. Nanya hal yang teknis-teknis. Jarang bicara dari hati ke hati. Entahlah, saya itu perempuan, tapi tipe yang ngga banyak ngomong.
Kadang memang males ngomong, kadang memang ga bisa ngungkapinnya.

Akhirnya, lagi-lagi berusaha dengan keras memberanikan diri memulai pembicaraan.
"Pengen ngobrool".
"Iya, ada apaa?"

Sebenernya banyak yang ingin diobrolin. Tapi ada beberapa topik pembicaraan yang saya belum berani menyampaikannya.

Nah loo... Semoga hubungan pernikahan kami ngga dibilang aneh yaa karena hal itu. Tapi..  Setiap orang bebas aja sih menilai.

Iya... Keran komunikasi di antara kami memang ngga selancar yang kuharapkan. Kendalanya... Sebagian besar mungkin dari saya. Saya ngga biasa cerita, ngga biasa ngobrol, masiih juga sering sulit bagaimana mengekspresikan dengan baik apa yang saya rasakan dan pikirkan. Khawatir salah cara saya menyampaikan.

Dari kecil, saya memang orangnya pendiam dan pemalu. Cenderung ngga percaya diri. Baru lumayan bisa teratasi waktu kelas 3 SMU, berkat teman perempuan sebangku saya, dan beberapa teman segeng. Hiks... jadi kangen pengen ketemuan.

Walaupun begitu, sifat asli saya yang masih ngga pedean dan ngga bisa banyak ngomong ini masih melekat. Masih sering canggung ketika berhadapan dengan orang orang tertentu.

Singkat cerita, obrolan dengan suami tadi curhat tentang keinginan mengembangkan diri dengan keterampilan crafting yang baru kupelajari plus kegiatan berkebun. Butuh dana, ambil dari pos mana. Karena saya belum punya penghasilan sendiri. Hanya kadang kadang saja dapat komisi dari menjualkan produk orang lain.

Kesimpulannya, suami akan siapin dananya, harapannya bisa dijadikan modal, dan keterampilannya juga bisa memberikan pendapatan.

Alhamdulillah... Lega karena dua hal. Satu, karena sudah tersampaikan kebutuhan untuk ngobrol. Dua, karena suami mau siapkan dananya (baca: modal).

Tinggal tantangan lain nih: konsisten!

14/02/17

Tantangan Membersamai Hanan

#komunikasiproduktif
#bundasayang
#berusahakonsiten

"Mengajak Hanan murojaah itu tantangan tersendiri buatku"
Aku membuka pillow talk dengan suami.
Ya... Mendidik anak adalah tantangan seorang ibu (dan ayah) selama usia mereka masih di bawah tanggung jawab orangtua.
Untuk kasus Hanan, tantangan kesabarannya adalah, menerima dengan ikhlas bahwa Hanan memiliki kecepatan belajar yang berbeda dengan anak-anak lain pada umunnya.
Perlu ada tambahan perlakuan dan terapi. Bukannya kami tidak pernah mengusahakannya. Hanya saja, kami masih mencari terus mana yang terbaik.
Dan setelah menyampaikan ke suami, mengenai tantangan tantangan yang kuhadapi selama membimbing Hanan dengan belajar mengajinya, lega hati ini karena beban sudah terkurangi.

10/02/17

Kesadaran

Menyadari bahwa aku telah banyak berbuat dosa ke anak anak selama ini. Aku bertekad mengubah diri.

Bonding yang selama ini alpa kujalin dengan anak-anak, komunikasi yang selama ini cenderung satu arah dan otoriter, kemalasanku dan ketidak sabaranku menjalani perankubsebagai ibu, ketidakbersadaranku menjalani tanggung jawabku.
Betapa akubsudah menjadi ibu yang buruk selama ini.

Terlalu malas, terlalu cuek, terlalu abai.

Lihatlah Hanan sekarang... Di usianya yang ke 6 ini, fitrah keimanannya belum terbentuk. Lihatlah Zhafi, di usia yang ke 10 ini, aku masih harua menghadapi sikap tidak dewasa.

Yaa... Bahkan sampai usia ku yanh ke 34, aku masih seperti anak-anak. Masih belum dewasa.

Bertekad, untuk semakin mendekat kepada Allah. Berazam, untuk menjalankan peranku dengan penuh kesadaran. Bahwa menjadi ibu memang berpeluh. Tak perlu cari enaknya di dunia. Karena lelah yang kucoba nikmati sebagai ibu, ins yaa Allah menjadi jalanku ke surga. Harapanku.

Ikhlas... Sekali lagi ikhlas. Segala kebaikan yang kulakukan kelak menjadi sedekahku. Bismillah ...
Bismillah...
Kuazamkan, untuk menjalani lelah sebagai ibu hanya untuk mendapatkan rahmatmu.

Tolong jangan cabut kesadaran ini dariku lagi ya Allah!

24/01/17

Perlu Belajar Komunikasi Produktif... Bismillah

Pagi tadi, aku mengajak diskusi zhafi. Tentang tugas yang diberikan oleh gurunya. Home challenge nya adalah, mencuci pakaian sendiri, dari mulai merendam hingga menyetrika. Ada juga tugas yg dikerjakan bersama orangtua, yaitu menanam pohon buah dari biji buah yg dimakan sendiri.

Tampaknya, zhafi lagi ngga terlalu suka (atau belum) dengan aktivitas berkebun. Selama seminggu ini aktivitas di sekolah memang berkebun. Dan dia merasa berat melakukan aktivitas berkebun juga di rumah. Semacam, "Yah, lagi lagi berkebun. Berkebun lagi berkebun lagi". Gitu deh.

Zhafi sampai sedikit tinggi emosi marahnya. Aku berusaha menanggapinya dengan tenang, meski harus sedikit emosi menanggapi argumennya. Akhirnya aku sampaikan, tidak apa kalau memang tidak mau. Tapi sudah siap dengan konskuensinya. Karena ini tugas sekolah, akan ada laporannya. Kalau tidak kumpulkan laporan, apa kira kira konsekuensi dari gurunya.

Aku lanjutkan kegiatanku. Sempat ditegur suami, kenapa hal seperti ini aja berdebat.

Aku mungkin salah cara menyampaikannya. Lalu aku minta maaf ke Zhafi.

Yaah... Kemampuan komunikasiku memang banyak sekali yang perlu diperbaiki.

Bukannya ngga mau berusaha. Sulit. Sulit karena sudah jadi karakter yang terbentuk sejak kecil.

Laa haula wala quwwata illa billah. Terus belajar, dan memohon pertolongan kepada Allah supaya diilhamkan kepada diri ini, hati dan lisan yang lembut dan menyejukkan, namun tegas dan bijaksana.

09/12/16

Pencapaian Tahun 2016

Pencapaian tahun 2016
1. Menyelesaikan produk-produk rajut. 1 tas, 1 dompet, 1 topi anak perempuan, 4 peci. Thanks to Mi Lilis.
2. Bisa panen sayur dr kebun sendiri walau masih sedikit-sedikit. Sedikit kangkung, sedikit kacang panjang, sedikit bayam. Thanks to Rani.
3. Sudah bisa membuat kalimat-kalimat sederhana dalam bahasa arab. Dan bisa lebih mudah menghapal ayat ayat al Qur'an. Thanks to Bunda Nia

Dapat Insight untuk My Life Project

Life Project itu adalah berkebun.  Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...