Tampilkan postingan dengan label Cerita Zhafir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Zhafir. Tampilkan semua postingan

23/10/21

Liburan Singkat Zhafi

Oktober ini mulai tanggal 14, Zhafi dapat libur 10 hari. Dia izin ikut beberapa temannya ke Pemalang. Di sana dia nginap di rumah teman-temannya bergantian. 

Hari Sabtu, ayahnya dan Hanan jemput Zhafi ke Pemalang dengan mobil. Bener-bener cuma jemput lalu langsung balik ke Jakarta. Sampai Rawasari masih jam 4 sore. 

Kepulangan Zhafi bikin senang. Senang lah pastinya Keluarga Rawasari bisa kumpul lagi lengkap. Tapi ada prihatinnya juga. Anak pesantren itu rentan kena penyakit kulit yang bikin kulit koreng-koreng. Nah, begitulah sekarang kondisi kulitnya. Sedih lihatnya... Waktu liburan sebelumnya 2 bulan di Tangerang juga begitu. Tapi karena waktunya panjang bisa diobati jadi kondisinya lumayan walau berangkat masih ada bekasnya. Sekarang waktu liburan hanya sebentar. 

Ya Allah, semoga ada jalan buat kesembuhan penyakit kulitnya, dan semoga Kau berikan dia kesehatan yang paripurna di samping juga ilmu yang berkah dan bermanfaat.

Yangti pingin ajak sekeluarga semua pergi piknik mumpung Zhafi di sini. Jadilah kita semua pergi makan dan main di Joglo Bekasi. Alhamdulillah Zhafi bisa piknik barang sebentar, walaupun awalnya sempat males ikut pergi karena bingung biasa pake sarung dan peci kemana-mana. 

Hari Jumat tanggal 22 Oktober, tiba waktunya Zhafi balik ke pondok. Diantar ayahnya ke terminal Tanjung Priok lalu naik bis Pahala Kencana langsung ke Sarang. Alhamdulillah paginya udah dikabarin kalau udah sampai dengan selamat. Semoga Zhafi senang liburan kemarin. Dan semakin semangat dan hidup dan belajar mandiri di pondok. 


04/09/20

Melepas Anak Nyantri di Kala Pandemi

Jumat lalu, akhirnya Zhafi kembali nyantri. Jangan tanya gimana rasanya. Sedih, khawatir tapi juga merasa tenang. Khawatir karena harus melepas di masa pandemi sementara nyantrinya jauh di Rembang. Tenang karena Zhafi kembali ke suasana belajar yang insya Allah kondusif. Sedihnya ... Ya siapa lah yang ga sedih... Ngga bisa ketemu anak untuk beberapa lama. 

Berangkat dari Kelapa Gading, pamit ke Yangkung dan Yangti, juga semuanya. Yangkung ngga kuasa nahan haru dan sedih. Kuakui ada sedikit rasa bersalah, karena mendadak mengabari kepastian Zhafi berangkat nyantri. Jujur, sebenarnya aku berharap rencana Zhafi nyantri di Rembang hanya wacana yang entah kapan berangkatnya. Setidaknya setelah kondisi pandemi ini mereda. Karena sekarang sedang naik-naiknya. Tapi ayahnya bersikeras berangkat, dan Zhafi tampak udah siap. Aku hanya bisa mewek di belakang diam-diam. Udah ngga bisa ngomong apa-apa lagi. 
Allah sebaik-baik penolong, Allah sebaik-baik pelindung. Aku harus bisa ngalahin nafsu untuk bangun malam mendoakan dia dan semua keluarga juga pastinya. Supaya dijauhkan dari keburukan dan wabah ini. Dan Allah sebaik-baik murobbi... Semoga Allah tuntun hati dan akalnya untuk menuntut ilmu dan mengamalkan ilmunya sebaik mungkin.

30/08/18

Nonton Event Asian Games

Zhafi entah kenapa tertarik banget dengan event Asian Games. Beberapa pertandingan rajin dia tonton. Terutama bulu tangkis, sepak bola dan ada beberapa. Sampai pengen banget nonton langsung pertandingannya. Aku yang tadinya mehh.... Ngapain sih, Mas. Nonton aja di TV. Tapi... Setelah dipikir-pikir bener juga nih. Mumpung eventnya di Indonesia, ye kaan. Trus juga ngga ada salahnya ngasih pengalaman buat Zhafi nonton live pertandingan kelas Internasional antara negara-negara Asia langsung di depan mata. 

Sebenarnya dia pengen nonton 2 - 3 cabang. Tapi karena kurang memungkinkan akhirnya yang ditonton adalah pertandingan cabor atletik di Gelora Senayan. Waktunya seharian, dari pagi sampai malam. Itu di hari sekolah pulak. Sampai izin sama bunda Guru. Jujur aja izinnya mau nonton Asian Games. Untuk hal ini  kurasa sekolah Zhafi ngga paham. Ya, namanya sekolah Alam, kan yang diutamakan adalah supaya anak kaya pengalaman. Bukan cuma diartikan belajar di alam, tapi juga supaya kaya pengalaman. 

Akhirnya kami berdua nontonlah. Berangkat naik Transjakarta, pulang naik Transjakarta lanjut taksi. Karena udah malam, jam 10, Transjakarta ngga banyak yang operasi. Hanan ngga ikut karena ya itu... Bakalan sampai malam dan takut dia ngga betah. Tapi belakangan dia sedikit kecewa ngga diajak. 

Jadi apa hasil pertandingannya... Di cabor ini Indonesia ngga dapat medali apa-apa. Ya sedikit kecewa. Walau begitu lega bisa nonton langsung pertandingannya. Apakah Zhafi senang... Mudah-mudahan ya, Mas Zhafi ... Dia kalau senang mukanya flat aja sih. Kalau ditanya, yaa seneng. Hihi...

06/08/17

Math Adventure Day #10

Sedang menunggu KRL di stasiun Batuceper, Tangerang. 

Ibu: Mas, kira-kira berapa ya panjang peron stasiun ini?

Zhafi diam memperhatikan kondisi peron stasiun. Dia lalu berdiri dari tempat duduk,  dan mulai menghitung langkah kaki dari salah satu tiang ke tiang berikutnya. Lalu, dihitungnya ada berapa berapa ruas di stasiun. Ruas ditandai dengan tiang bercat hijau.
Dia dapati ada 60 ruas.  Sementara panjang tiap ruas ada 3 m.

Zhafi: 180 m!

Bertepatan dengan itu,  kereta pun datang. Nggak sempat memastikan benar atau salah jawabannya. Tapi, tampaknya Z sudah melakukan strategi yang cukup baik.

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Math Adventure Day #9

"Mas,  kamu tau kira-kira ada berapa keramik di bawah tempat tidur ibu?"
Z lalu menghitung keramik di sisi panjang,  kemudian keramik di sisi lebar.
"42!"
"Wah,  tepat!"

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

23/07/17

Math Adventure Day #3


Di suatu siang...

"Mas Zhafi, berapa menit sih kita dari rumah ke sekolah naik motor atau mobil sendiri?"
"10 menit."
"Biasanya,  berapa km/jam ya kecepatan kita?"
"Hmmm...  30?"
"30, ya..."
"Berarti, berapa km jarak dari rumah ke sekolah?"

"Hmmm,  10 menit ituuu,  berapa jam ya?" "Hayooo,  berapa jam? Kalau 1 jam 60 menit, berarti gimana hitungnya?"
"Dibagi ya,  Bu?"
Ibu menunggu...

"Berapa, yaaa?" keningnya mulai berkerut.
"60/10 berapa?" Ibu kasih clue.
"6."
"Berarti..., 10 menit itu 1/6 bagian dari 60,  bukan?"
"Oya. Berarti...  1/6 jam ya?"
Lalu lanjutnya lagi,
"Jadi jaraknya..."
"Jarak, kaan, kecepatan x waktu."
"Jadi, 30 x 1/6 sama dengaaan...  5 km,  dong... "

Siip...!
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

25/05/17

Greeting Ramadhan

#komunikasiproduktif
#melatihkemandirian
#melakukanprojectkeluarga
#memahamigayabelajar
#menerapkanilmubundasayang 

Hari ini, menyiapkan project sederhana untuk menyambut Ramadhan. Zhafi dan Hanan, ibu ajak untuk membuat dekorasi rumah supaya suasana Ramadhan lebih ceria tahun ini.
Menanggapi ide ini, awalnya baik zhafi maupun Hanan sama- sama ngga antusias. Yang Z lagi asik gegoleran sambil baca, yang H asik dengan mainannya sehari-hari yaitu kereta-keretaan.
Ibu pantang menyerah. Tapi juga ga mau ngotot. Woles aja lah.
Pertama, ibu colek si Z. Kalau ngga mau bikin ngga papa, tapi kasih ide aja deh butuh apa aja yaa, kalau mau bikin dekorasi.
Dengan wajah ngga semangat, Z bilang begini, "Dirancang dulu mau kaya apa."
Wah iya, bener juga!
"Iya, ya... Ada ide ngga, rancangan yang buat dekorasinya?"
"Ihh, masa Mas Zhafi sih. Kan ibu yang mau bikin..."
"Yaa... Siapa tau mas Zhafi ada ide..."
"Ya udah, ibu dulu habis itu mas Zhafi."
"Ohh... Oke deh, ibu coba bikin dulu yaa."
Setelah rancangan sederhana bikinan ibu selesai, giliran Zhafi yang bikin coretan desainnya. Lengkap dengan daftar bahannya.
"Lha, bagus tuh. Oke kita pake ini aja."
"Tapi mas Zhafi ga mau bikin, ya. Ga mau belanja juga. Lagian buat apa juga, sih. Kan yang liat kita sendiri..." Hihi... Masih protes aja. Ya si Ibu maklum aja. Orang ini juga baru pertama kalinya bikin2 dekorasi menyambut Ramadhan.
"Iya, yang belanja nanti ibu, yang bikin juga ibu. Mungkin nanti Adek mau ikut bantu bikin.
Ibu ada ide bikin dekorasi Ramadhan ini biar Adek nanti ikut seneng, ikut semangat ibadah Ramadhan."
Ibu langsung belanja bahan-bahannya. Setelah semua bahan terkumpul, begitu sampai rumah, Ibu langsung memulai kerajinan tangan ini. Awalnya ibu sendiri gunting-gunting. Karena Hanan main di luar dan Zhafi lebih tertarik bantu si Ayah menata ulang letak mesin cuci.
Tapi... Lama -kelamaan tanpa diminta, baik Z maupun H udah pengen ikutan gunting dan ngelem. Malah mereka semangat berebutan. Alhamdulillah.
Dan akhirnya dekorasi menyambut Ramadhan pun jadi. Setidaknya untuk tahap 1. Masih sederhan soalnya. Jadi pengen bikin yang lebih seru lagi, insyaaAllah.
Hikmah dari project ini:
1. Zhafi suka terlibat asalkan tidak berupa paksaan. Ketika melihat ibu asyik menggambar, menggunting, menempel, tampaknya Zhafir pun jadi tertarik.
2. Zhafi agaknya merasa karya rancangannya dihargai dan diapresiasi, karena begitu bikin rancangannya, sang Ibu langsung eksekusi.
3. Ibu harus pandai-pandai melihat moment- moment anak. Ketika not in a good mood, ya ikhlas aja. Tetep ceria, tetap semangat. Tunjukkan antusiasme tanpa dibuat-buat.

22/05/17

Liburan di Perpustakaan

Zhafir lagi dalam suasana libur UN.

Hari pertama liburan, diisi dengan kunjungan ke perpustakaan daerah di Taman Ismail Marzuki. Setelah Hanan pulang dari rumah tahfidz, kami berangkat.

Berangkat naik moda transportasi kereta. Dari Batuceper, berpindah kereta 2 kali yaitu di stasiun Duri dan Stasiun Manggarai, dan turun di stasiun Cikini. Dari sana, kami naik ojek ke TIM.

Sampai di dalam perpustakaan, sudah masuk waktu dhuhur. Di dalam perpustakaan di lantai 1 disediakan tempat sholat yang cukup nyaman.

Usai sholat, zhafir langsung melahap buku-buku itu dengan khusyuk. Hanan lebih tertarik bermain mainan kayu edukatif di area bermain. Setelah puas main, Hanan pun ikutan memilih buku. Buku yang di pilihnya tidak jauh dari tema tranportasi yang disukainya, yaitu tentang keselamatan di jalan. Ibu menunggui sambil merajut.

Setelah 3 jam 'ngadem' di dalam perpustakaan, kami keluar dari perpustakaan dan langsung menuju stasiun cikini naik kopaja. Kami mampir untuk beli makan siang di mini market.

Setelah mendapat tiket, tidak lama, kereta sudah datang. Kebetulan hari itu, kami ngga perlu lama menunggu kereta datang, sejak dari stasiun pertama maupun di dua stasiun tempat kami transit. Sampai rumah masih jam 16.30. Alhamdulillah.

22 Mei 2017

23/04/17

Kebaikan Z dan H Hari Ini

Kebaikan anak
1. Zhafi menyetrika pakaiannya sendiri dan pakaian hanan
2. Hanan mengambilkan bantal utk yangti yang lagi tiduran di lantai ruang tivi

05/03/17

Hari Ke 9 Berlatih Mandiri

#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day9

Jumat 3 Maret 2017

Hanan masih berlatih mandi sendiri berikut handukan, dan berpakaian sendiri. Sebenarnya sudah bisa, hanya saja fokusnya masih perlu dilatih. Sering sekali kalau dibiarkan sendiri untuk berpakaian, hingga 15 menit belum juga selesai. Karena mudah terdistraksi dengan hal lain.

Zhafir masih belum banyak aktivitas. Alasannya masih perlu istirahat menghilangkan sisa capeknya. -_-

Hari Ke 8 Berlatih Mandiri

#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day8

Rabu 1 Maret 2017

Masih berkutat dengan Hanan yang belajar mandi sendiri. Perlu kesabaran memintanya untuk fokus meyabuni dan menggosok badannya secara merata. Masih ada yang bagian tubuh yang terlewat.

Namun alhamdulillah tetap semangat.

Zhafir memasuki hari kedua camping. Belum ada kabar dari guru yang mendampingi anak anak camping. Semoga lancar dan berjalan baik.

Hari Ke 7 Berlatih Mandiri

#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day7

Rabu 1 Maret 2017

Masih berkutat dengan Hanan yang belajar mandi sendiri. Perlu kesabaran memintanya untuk fokus meyabuni dan menggosok badannya secara merata. Masih ada yang bagian tubuh yang terlewat.

Namun alhamdulillah tetap semangat.

Zhafir memasuki hari kedua camping. Belum ada kabar dari guru yang mendampingi anak anak camping. Semoga lancar dan berjalan baik.

27/02/17

Hari Ke 4 Berlatih Mandiri

#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian
#day4
Zhafir
Seharian ini, Zhafir masih dengan persiapan campingnya. Paginya, dia bersama teman-teman berjualan makanan untuk menambah uang saku selama camping.
Siangnya, Zhafi melakukan packing hingga selesai dan siap dibawa (final check). Karena ransel daypacknya sudah harus dikumpulkan di sekolah hari Senin. Camping sendiri berlangsung hari Selasa, Rabu, Kamis.
Ada hal menarik ketika saya berniat membantu untuk mengecek ulang kelengkapan bawaannya. Saya melihat kertas daftar barang yang dibawa. Di setiap poin barangnya ada 3 tanda checklist (VVV). Ketika saya tanyakan apa maksudnya, ini penjelasannya. Checklist pertama untuk menandai barang yang sudah ada di rumah, checklist kedua untuk menandai barang yang sudah disiapkan tapi belum dimasukkan ke daypack, checlist ketiga untuk menandai barang yang sudah masuk ke daypacknya.
Ketika saya tanya, diajari siapa cara itu. Jawabnya, mas Zhafi sendiri.
Hal kecil seperti itu saya sampaikan apresiasi untuknya. Itu adalah hasil dia belajar untuk 'aware' dengan keperluan-keperluannya sendiri.
Semangat Zhafi
Hanan
Masih dengan perjuangan untuk bisa mandi sendiri. Kadang si Ibu masih suka ngga yakin sudah bersih belum. Terutama bagian-bagian lipatan, dubur, dan kemaluan. Disitulah tantangannya, untuk bisa menahan diri. Menahan diri untuk ngga mengintervensi proses mandi sendiri. Apalagi Hanan menikmati proses belajarnya. Semakin aware dengan anggota-anggota tubuhnya yang selama ini belum hapal namanya.
Semangat Hanan!

Hari Ke 3 Berlatih Mandiri

#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#day3
Catatan latihan kemandirian hari ini:
Zhafir
Hari hari menjelang camping bersama sekolah membuat Zhafir makin semangat melakukan persiapan-persiapan. Bisa dibilang, 75% persen dari keseluruhan persiapan dilakukannya sendiri. Dari mulai mempersiapkan barang-barang yang akan dipacking sesuai daftar, sampai memasukkannya ke dalam ransel daypacknya.
Termasuk menyiapkan uang saku sendiri dengan berjualan makanan. Memang dari sekolah, bagi kelas 4, uang snack dan uang saku untuk camping haruslah dicari sendiri dengan cara berjualan.
Ayah hanya perlu membantu mencarikan atau mengantarkannya mencari barang yang belum ada. Ibu membantu menyiapkan makanan untuk Zhafi berjualan.
Hari ini, Sabtu, dia pun berinisiatif menyeterika pakaiannya sendiri. Suatu kali, jauh sebelum hari ini, pernah terjadi percakapan ini:
Ibu: Mas, mau belajar nyetrika?
Zhafi: Aku udah tau kok caranya nyetrika. Kan udah pernah.
Hm... Mulailah si Ibu ceramah (duh...), bahwa keterampilan apa aja termasuk menyeterika dipelajari ngga sampai sebatas aku tahu. Untuk terampil, harus latihan dan dilakukan berulang-ulang.
Dan yaah... Namanya cuma diceramahi, Zhafi hanya menjawab, "Iyaa."
Oke, dia belum ada kebutuhan untuk belajar menyetrika tampaknya. Mungkin masih merasa menyeterika itu mudah.
Ketika Zhafi hari ini mulai menyetrika pakaiannya sendiri, tampak dia mulai paham bahwa walaupun hanya menyeterika, untuk bisa menghasilkan setrikaan pakaian yang rapi itu perlu belajar trik-triknya.
Hanan:
Masih dengan latihan keterampilan dasar: mandi sendiri.
Masih terus semangat untuk mandi sendiri. Ketika si Ibu agak gregetan ingin 'membetulkan' cara mandi, Hanan protes. Pokonya mandi sendiri. Hihihi...
Tapi alhamdulillah, cara dia menyabuni dan menggosok badan sudah lebih urut. Yang masih agak sulit adalah ketika mengeringkan badan. Dan seringnyabketika mulai memakai baju, fokusnya mudah teralih ke hal hal lain. Jadi sering sekali dia sudah berlarian ke sana kemari dengan baju masih belum terpakai.
Soal fokus dan konsentrasi ini memang PR buat Si Ibu dan Hanan.

07/02/17

Harta Karun Rahasia Mas Zhafi

Selama seminggu ke depan, dari tanggal 6-10 Februari, sekolah Mas Zhafi, Sekolah Alam Tangerang mengadakan pekan literasi. Salah satu kegiatannya adalah belajar menulis puisi.

Kemarin dapat laporan dari guru wali kelas Mas Zhafi. Ada 2 karya puisi dari 2 siswa kelas 4 yang menarik perhatian pemandunya.  Salah satunya adalah puisi karya Mas Zhafi.

Puisinya berjudul "Gag". Gaya penulisannya jenaka dan jujur, begitu komentar Kak Rahma, yang memandu mereka berkarya menghasilkan puisi.

Saya, ibuknya, jujur suka terkaget sendiri. Beberapa kali saya mendorong dia untuk menulis. Menuliskan apa saja. Resume buku, atau resume film atau video yang dia tonton, atau pengalaman dia sehari hari. Tapi tampaknya Mas Zhafi belum minat menulis. Sesekali saya sedikit memaksa dia menulis sesuatu. Apa saja. Karena hanya sekedar ajakan, dorongan, tampaknya dia belum tergerak. Tapi memaksa pun juga khawatir jadi kontraproduktif.

Dia sukaa sekali membaca. Apa saja di baca. Dan alhamdulillah yanh dibaca bukan buku komik jepang lho. Tapi cerita anak, sejarah nabi, komik klasik seperti Tintin, pengetahuan umum, dan novel. Gurunya bilang, kesukaannya membaca bisa jadi dasar mengembangkan diri menjadi penulis. Harapan besar buat kami. Hanya saja, kami masih belum menemukan cara bagaimana menumbuhkan minat menulisnya.

Di kelas 4 ini, seluruh siswa didorong untuk banyak menulis. Salah satu challenge nya adalah, setiap anak harus memiliki buku harian dan jurnal. Di rumah, setiap sore atau malam, atau pagi sebelum berangkat sekolah, mas Zhafi tampak asyik menulis jurnal kegiatannya.

Dan projectnya minggu ini adalah mengirim email ke "kakak inspiratif" di luar negeri.

Semoga,  semoga, ini memantik potensi dan motivasi Mas Zhafi dalam bidang tulis menulis.

Saya dan Ayahnya juga berharap, Mas Zhafi bisa jauh lebih semangat berkarya yang lebih banyak dan lebih baik lagi.

26/04/16

Bu, Kenapa Harus Ada Hari Kartini?

Beberapa hari yang lalu, Zhafi tiba-tiba mengajak diskusi tentang ‘kenapa harus ada Hari Kartini’.

“Bu, kenapa sih Hari Kartini harus ada? Kenapa harus dirayakan? Memangnya apa jasanya?”

Ya kujawab dengan jawaban standar. Pasti tahu, ya.

“Tapi kenapa justru Kartini yang dimuliakan? Dia muslimah bukan? Kenapa ngga berhijab?”

“Menurut yang Ibu baca, pada waktu dan tempat Kartini hidup saat itu, belum ada Alqur’an yang diterjemahkan. Para guru agama pun tidak ada yang mengajarkan makna Alqur’an, tapi hanya mengajarkan untuk membacanya aja. Tidak boleh diubah ke bahasa lain. Termasuk bahasa Jawa.

Sampai suatu ketika, Kartini bertemu dengan seorang Kyai yang memberikan ulasan tentang makna Al Qur’an. Kepada Kyai tersebut, Kartini menyampaikan keresahannya. Kenapa muslim diwajibkan membaca kitab yang kita tidak boleh tahu artinya. Apa gunanya. Hal itu menyadarkan Kyai. Lalu Kyai tersebut membuat terjemahan Al Qur’an dan memberikannya kepada Kartini. Namun sayang, Kyai tersebut baru menterjemahkan sampai juz 17, tapi kemudian sudah dipanggil menghadap Ilahi.

Perintah untuk menutup aurat ada di surat An Nuur yang ada di Juz  24. Itu alasannya kenapa Kartini tidak memakai hijab. Karena dia belum mendapatkan terjemahan juz berikutnya. “

Namun Zhafi tidak puas dengan penjelasan itu.

“Lalu kenapa harus dijadikan hari khusus? Kenapa pahlawan pahlawan muslim lainnya tidak dijadikan hari Khusus?”

“…”

“Bu, kok ngga jawab?”

“ Tidak semua tokoh pahlawan harus punya hari khusus.”

“ Lha terus kenapa Kartini punya? Menurutku, kita ngga perlu merayakan hari Kartini”

Pada titik ini, emosi dan egonya sudah terasa meningkat intensitasnya. Kalau sudah seperti ini, aku hanya perlu jadi pendengarnya, menyetujui pendapatnya, sambil tetap terus memasukkan pesan moral sejauh yang aku mampu.

“Mas Zhafi benar. Kita mungkin tidak perlu merayakan Hari Kartini. Banyak pahlawan –pahlawan lainnya yang mungkin lebih berjasa bagi negara dan kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Tugas kita adalah, banyak membaca dan banyak belajar dari tokoh-tokoh pahlawan Indonesia. Mengambil teladan dari perjuangan mereka.”

Dan diskusi pun mereda.


22/11/15

Proyek untuk Hari Guru



Zhafi idenya boleh juga tuh. Waktu aku tanya, mau bikin apa nih kita, untuk hari Guru. 

Jawabnya,’’O iya yaa… apa ya?”

Lanjutnya lagi, “ sebenernya mau rakit lego trus ada tulisannya ‘selamat hari guru’, tapi belum kebayang gimana bikinnya.”

Aku mikir, wah kalau legonya dikasih juga sayang dong, hihihi *pelit

Tapi, idenya bisa tetep dipakai, dengan material lain, batinku. Sebelum aku utarakan ide ini, Zhafi ternyata punya pemikiran sama.

“Sebenernya bisa juga sih, bikin tiruan lego, tapi dari apa dan gimana bikinnya.”

“Hmm, dari playdough mungkin?” sahutku.

“Oiya, bener tuh,” serunya.

Lalu dia kembali asik merakit legonya, dan si Ibu ini pun lagi membayangkan gimana bentuknya nanti.

Well, at least udah ada ide. Ada mbah google, kita bisa mulai dari situ.

Semogaaaa berhasil!

23/10/15

Puasa Sunnah, Anaknya Belajar, Ibunya Juga Belajar



Malam Kamis, setelah Isya’ terjadi percakapan ini:
(Sepulang dari musholla, Zhafi yang memakai kostum pergi, mau berganti pakaian rumah/ tidur.
Ibu         : Zhafi ngga usah ganti baju, kita mau ke rumah sakit, periksain Adek ke Dokter.
Zhafi      : Yah, besok Zhafi mau puasa.
Ibu         : Puasa? Tadi Bunda Sari ngajak puasa sunah (Tasu’a) besok ya?
Zhafi      : Nggak, kata Pak Ustadz tadi, besok puasa.
Ibu         : Oo… 

Syukur #1: Zhafi konsisten sholat di mesjid setiap Maghrib dan Isya’
Syukur #2: Zhafi ikut mendengarkan kajian di mesjid bersama Ayahnya
Syukur #3: Zhafi mengikuti ajakan berpuasa sunnah besok harinya.

Tentang Anak berpuasa

Bulan Zulhijjah yang lalu, kami sekeluarga berniat banget untuk menjalankan puasa Arafah. Alhamdulillah nggak seperti tahun-tahun sebelumnya, rasa-rasanya tahun ini himbauan untuk berpuasa Arafah jauh lebih intens. Sepertinya, karena udah bergabung di banyak grup WA, dan kebanyakan grup itu berkali-kali mengirimkan reminder tentang puasa Arafah. Tahun sebelumnya… mudah sekali terlupa. Selain itu, sekolah Zhafi juga memberi anjuran supaya anak-anak ikut berpuasa. Sehingga sekolah pun berlangsung hanya sampai jam 11 saja (biasanya sampai jam 14.00).

Tanggal 9 Zulhijjah, aku semangat membangunkan Zhafi dan ayahnya untuk sahur. Paginya menyiapkan kebutuhan sekolah dan kantor seperti biasa, minus menyiapkan bekal. Siang jam 11, dia pun pulang sekolah. Kelihatannya lemas. Aku ajak dia ganti baju dan tidur. Zhafi sempat minta minum, tapi aku Tanya, apa yakin mau berbuka sekarang? Yahh, ibunya ini berharap Zhafi bisa puasa sehari penuh. Zhafi ngga menjawab. Dan akhirnya tertidur.

Singkat cerita, setelah melihat kondisi Zhafi, aku beri dia minum air putih dan pisang. Ternyata asam lambungnya naik. Ngga lama setelah makan dan minum, perutnya mual dan akhirnya muntah. Kuberi makan  pisang dan susu kedelai. Muntah lagi. Kuberi air kelapa, muntah lagi. Terakhir aku beri jus timun. Alhamdulillah, keminum setengah gelas – Zhafi  belum  jatuh cinta sama sayur, nii, semoga nanti. Setelah itu tampaknya perutnya enakan, dan mulai bisa makan nasi.

Begitulah… kejadian itu sedikit meninggalkan rasa was was.

Waktu dia minta ikut puasa kemarin, jadinya  aku pun sedikit ngga yakin. Aku ngga bangunkan dia sahur. Tapi rupanyaaa…, pas bangun pagi, Zha marah. Keliatannya kesal dan menyesal karena ngga bangun sahur. Itu berarti dia ngga bisa puasa, pikirnya. Aku bujuk Zhafi, boleh berpuasa, karena sedang belajar, ngga papa sahur sekarang, nanti berbuka sore atau maghrib. Zhafi ngga mau, katanya, itu bukan puasa namanya. Lalu ayahnya ajak dia bicara. Ayahnya menenangkan Zhafi dan memberi saran, kalau Zhafi mau tetap puasa, boleh saja. Cuma pagi ini paling tidak minum air putih saja. Nanti tetap bawa bekal ke sekolah.  Jadi kalau Zhafi merasa ngga kuat, bisa berbuka di sekolah. Ayahnya juga menenangkan aku. Hehe. Zhafi pengen puasa bu. Zhafi kuat in syaa Allah.

Ya, akhirnya aku pasrah. Setelah berpikir ulang, lebih baik aku ikhlasin saja apapun yang terjadi. Ketika si anak punya keinginan kuat untuk puasa, apa pantas orangtua melarang. Pasrahkan saja sama Allah. Sambil tetap berdoa terus mohon Allah jaga  anakku. Jangan karena kejadian puasa Arafah yang sudah lalu, kemudian jadi kapok membiarkan anak belajar berpuasa. Selain itu, ini juga pembelajaran buat Zhafi (dan juga aku), untuk menentukan sikap dan tindakannya sendiri. Kalau yang dilakukannya baik, harusnya didukung. Dan beri kepercayaan kalau dia bisa melakukannya.
Setelah itu, aku bisa melepaskannya pergi sekolah dengan tenang. Toh sudah disiapkan bekal juga buat jaga-jaga. Teteeup.  #emakrempong.

Siangnya, seperti biasa dong, aku jemput Zhafi jam 2 seperempat siang di tempat biasa dia turun dari angkot. Ada sekitar 15 menit nunggunya. Biasanya,  dia turun dari angkot  bersama temen-temen sekolahnya. Nah, ketika akhirnya ada angkot yang lagi nurunin anak-anak SAT (sekolah Alam Tangerang), berharap Zha ada di antaranya. Ternyata ngga ada. Wa, pikirku, apa selisipan di jalan, ya. Maksudnya, apa dia udah jalan pulang duluan, tapi ngga berpapasan di jalan. Langsung jalan balik ke rumah sambil lihat kanan kiri. Ternyata sampai rumah ngga ada. Akhirnya aku jemput ke sekolah. Ternyata ngga ada juga.

Telepon security di komplek, katanya belum lihat Zha pulang. Mulaaaiii deeeh muncul pikiran-pikiran buruk. Tangan mulai berkeringat. Detak jantung mulai terasa lebih kencang.
Laluuu, ketika aku masih dalam perjalanan dari sekolah menuju tempat pemberhentian angkot, ayahnya telpon. Ayahnya mengabari kalau tadi Bunda Sari (guru kelas Zha) kirim pesan lewat WA. Zha pulang jam 3. Baaaaru deh legaaa. Saat itu jam 3.15 siang. Jadi kemungkinan ZHa memang baru aja turun dari angkot. Benar aja, begitu aku sampai di tempat pemberhentian angkot, aku lihat Zha di sana.

Setelah ngobrol-ngobrol di mobil dalam perjalanan ke rumah, baru deh tau…
Ternyata, alasan kenapa dia pulang jam 3 adalah, karena dia tidur di UKS. Kenapa? Karena badannya lemas, ngga kuat puasa, tapi juga ngga mau berbuka. Saat bangun dari UKS, dan merasa ngga kuat jalan ke depan, dia akhirnya berbuka dengan bekalnya (setelah di sarankan oleh bunda Sari). Baru deh, punya tenaga untuk jalan.

Zhafiii… Ibu bangga padamu, Naak… calon imam dan hafidz yang sholeh ;*

Cerita diatas memang ngalor ngidul. Tapi setidaknya, aku menuliskan ini sebagai pengingat diri sendiri.
1. Puasa itu ajang belajar buat anak juga ibunya. Anak belajar menahan hawa nafsu. Ibu belajar untuk tidak menyerah mengajarkan hal-hal baik apapun tantangan dan resikonya. Ibu juga belajar untuk membiarkan anak menentukan sikap. Jika baik dan positif, ya dukung, walau kelihatannya di awal  terasa ada rintangan dan halangan.

2. Betapa bersyukurnyaaa aku ini harusnyaaaa lhoooo..... anak dekat dengan Islam, walau setahap demi setahap.




05/10/15

Membentuk Kebiasaan Baik



Zhafir rajin ke mesjid, menunaikan shalat berjamaah. Di waktu ashar, maghrib, dan Isya.
Ashar masih bolong-bolong shalat di mesjidnya. Kadang karena pulang sekolahnya terlambat, atau sedang ada kegiatan, atau karena sedang menurun saja motivasinya. 

Semua karena ayahnya sudah jadi contoh yang baik. Ayahnya selalu mengusahakan untuk sholat di mesjid di setiap awal waktu sholat. 

Semakin bertambah rajinnya ketika kami menerapkan sistem bintang. Kami akan memberikan 1 bintang untuk setiap kebiasaan dan perbuatan baik yang dia lakukan. Bintang itu harus dia kumpulkan, dan di akhir bulan, bisa ditukarkan dengan apa yang jadi keinginannya. Tentunya setelah melalui hasil filter kami.  Bisa berupa mainan, buku (diluar buku yang kami memang anjurkan dia untuk membaca), bermain di game zone, atau bepergian, atau barang lain yang dia inginkan. 

Buku bintang Zhafir
Aku awalnya hanya cari ide untuk memotivasi dia untuk membentuk kebiasaan baik. Rulesna, 1 kebiasaan baik = 1 bintang. Bintang dikumpulkan lalu ditukar. Lalu ayahnya menambahkan ide, 1 bintang = Rp 1000. Supaya jelas nilai barang yang ditukar dengan bintangnya. Secara periodik akan dievaluasi, mana kebiasaan baik yang disasar mana yang ngga perlu di kasih reward bintang lagi. 

Kebiasaan baik yang ingin aku sasar adalah terutama bangun pagi dan sholat subuh di awal waktu. Huah… untuk yang bangun pagi ini masih belum bisa konsisten. 

Komik favorit Zhafir

Tapi Alhamdulillah, kebiasaan untuk sholat di mesjid di awal waktu sudah terbentuk.
Kebiasaan lain yang sudah jadi hobinya juga adalah membaca. Ada buku komik  tentang Muhammad Al Fatih. Dan dia suka membacanya. Semoga ibroh dari buku itu bisa sampai ke dia. Aamiin. 


23/12/14

Belajar Berani dan Mandiri: Bersepeda ke Tempat Les



Zhafir ikut les piano sudah 3 bulanan ini. Sebelumnya ikut les menggambar. Tempatnya sama. Jadi sudah sekitar 1 tahunan dia les di tempat itu. Namanya Koas Art. Letaknya masih di dalam perumahan tempat kami tinggal. Lebih asyik kalau naik motor. Kalau naik mobil ngga masalah sih, Cuma sayang bensinya aja. Lagi ribet, keluar masukin mobil untuk antar-pulang-jemput-pulang les. Karena motor dipakai Ayah ke kantor, otomatis hanya mobil dan sepeda aja kendaraan yang ada di rumah. 

Ceritanya nih, Ibu pingin Zhafi ke tempat les naik sepeda aja. Beberapa kali Ibu sarankan, tapi Zhafi masih belum mau, karena dia masih takut nyeberang di jalan boulevardnya. Sebenarnya ngga ramai sih, tapi memang tetap harus hati-hati. Waktu awal-awal, aku juga belum mau memaksanya. Masih khawatir juga. Tapi … semakin lama, kayanya perlu banget deh Zhafi ke tempat les naik sepedanya sendiri. Bukan hanya karena alasan ribetnya tadi, tapi karena Zhafi udah cukup hapal lah jalan ruma ke tempat les. Dia perlu melatih keberanian dan kemandiriannya. Bisa aja kan sekali waktu, ngga ada mobil atau motor, entah karena lagi dibetulin atau diservis. Masak karena alasan itu, dia jadi ngga les. 

Terus, alasannya ala emak-emak, ya karena harga BBM yang udah makin ngga bersahabat. Hehehe.
Tapi beneran nih, alasan utama karena dia perlu berani dan lebih mandiri. 

Akhirnya di suatu kesempatan, aku bilang, kali ini Ibu antar. Tapi akan tiba suatu hari *tsaah* Zhafi harus belajar untuk ke tempat les naik sepeda. Zhafi diam dan mengangguk aja. Datanglah kesempatan itu. Awal bulan Desember, aku niatkan untuk mendampingi Zhafir naik sepeda ke tempat lesnya. Aku pakai sepeda lipat punya Si Ayah, sambil membonceng Hanan, menemani Zhafir naik sepede BMXnya. 

Dia ngga mau awal-awalnya. Marah-marah, sampai bilang begini, “nanti kalau Mas Zhafi ketabrak gimana?” 

Aku jawab, “Kita berhati-hati sebisa mungkin. Sebelum berangkat kita berdoa, lalu sebisa mungkin kita berhati-hati supaya nggak tertabrak.”

“Sebisa mungkin? Berarti kan tetep bisa aja ketabrak?”

“Kecelakaan, ketabrak, itu bisa aja terjadi kapan aja, dimana aja. Mau naik sepeda, naik mobil, naik motor, naik pesawat, kalau udah kehendak Allah, kecelakaan bisa terjadi. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha dengan berhati-hati supaya ngga ketabrak.  Yuk!”

Aku sengaja ngga mau kasih kesempatan lagi untuk berdebat. Karena saat ini yang dia perlukan hanya mencoba, menantang keberaniannya. Sepanjang perjalanan, mukanya cemberut. Ada salah sedikit, dia marah. Aku senyum aja.

Sampai di tempat kami menyebrang, aku ingatkan lagi dia, “Nah, yuk sekarang perhatikan jalan, ngga usah buru-buru. Kasih tangan. Yuk, nyebrang.”

Alhamdulillah sampai. Aku janji akan jemput dia untuk menemani dia pulang. Setelah dia mengunci sepeda dan masuk ke tempat lesnya, aku pun pulang ke rumah.

Ternyata, sampai di rumah, aku baru sadar kalau ban sepedanya kempes. Aku coba pompa , ternyata, pentil ban sepedanya termasuk unik, mau aku pompa, malah jadi kempes, sekempes-kempesnya. Akhirnya, nyerah deh. Habis mandi, aku jemput dia naik mobil *tepokjidat, mana katanya mau ngirit bensiiin*. Kadung udah janji jemput.

Karena kelamaan urusan memompa tadi, ditambah dengan mandi dan mandiin Hanan, waktu menjemputnya ngepas banget. Lesnya hanya 1 jam, sih. Aku segera memacu mobilku ke tempat lesnya. Sampai di sana aku ngga lihat sepedanya terparkir di depan tempat lesnya. Deg! Sepedanya mana? Setelah kutanyakan ke Mbak Ike, admin Koas Art, ternyata Zhafi udah pulang naik sepedanya. Waduuhh…. Udah sampai mana ya? 

Aku berniat mau kasih reward atas keberaniannya mencoba. Langsung kubelikan 2 bungkus es krim. Satu untuk Zhafi, satu untuk Adiknya (supaya ngga terjadi perang nantinya, hehe). Setelah es krim di tangan, aku segera menuju pulang. Ternyata Zhafi sudah sampai di depan pintu kompleks.

“Haiiii, Mas Zhafiiii!” Dia tanpa ekspresi. Hehe. Mungkin rada kesel kali ya.
Sampai rumah, sepertinya dia udah keliatan marah.

“Kok ibu naik mobiill?!”

“Iyaaa, ban rodanya kempeees, ngga bisa dipompa. Maaf yaaa. Yukk,cepetan masuk, ibu ada es krim buat anak yang berani!”
Ekspresi wajahnya langsung berubah. Dia bergegas memarkir sepedanya, lalu masuk rumah. Hehe, langsung lupa marahnya.

“Iniii diaaa. Es krim. Hadiah untuk anak yang berani mencoba hal baru. Naik sepeda sendiri ke tempat les! Hadiah juga buat Adek, yang udah temenin mas Zhafi ngantar ke tempat les naik sepedaaa!”
Keduanya pun asik menikmati es krimnya masing-masing.

Minggu berikutnya dia pun naik sepeda ke tempat lesnya. Dan bener kaan berguna banget keberaniannya itu. Minggu lalu, mobil harus istirahat karena ‘sakit’. Motor juga dibawa ayahnya ke kantor. Tapi aku bisa santai, karena Zhafi udah bisa ke tempat lesnya sendiri naik sepeda. Alhamdulilllahhh.

Tapi jujur sih, suka masih muncul rasa khawatir juga. Seperti kemarin nih, les jam 3, harusnya jam 4 seperempat udah sampai rumah. Tapi sampai jam setengah 5, belum juga sampai. Langsung ku telpon Mbak Ike. Ternyata tadi memang terlambat mulainya. Dan baru aja jalan semenit lalu. Weh, belum lama aku tutup telponnya, Zhafi udah sampai. Lhooo… jangan-jangan ngebut nih. Waktu kutanyakan, “iya, hehehe.” #Haddeehhh.


Dapat Insight untuk My Life Project

Life Project itu adalah berkebun.  Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...