19/12/18

Kagum Pada Beliau

Saya mengagumi Pak Anies Baswedan jauh sebelum beliau masuk ke dunia politik. Satu program yang membuat saya semakin respect terhadap beliau adalah program Indonesia Mengajar. 

Sewaktu beliau akhirnya masuk ke dunia politik, saya sedikit menyayangkan. Tapi waktu itu saya tidak terlalu mempersoalkan. Tampaknya memang beliau harus masuk ke dunia politik supaya bisa membuat kebijakan yang lebih baik.

Waktu pilpres 2014 saya milih Jokowi, salah satu alasannya yang membuat yakin karena ada beliau dalam tim sukses Jokowi. Dan kemungkinan besar beliau akan dijadikan menteri pendidikan membuat masa depan pendidikan terlihat lebih cerah. Haha. 

Pada akhirnya Jokowi terpilih, dan benar Pak Anies menjadi menteri pendidikan, ada beberapa kebijakan yang baik sekali dari Kemendiknas. 

Lalu kemudian saya kaget, kenapa belum ada setahun, beliau direshuffle. Emang kenapa dengan Anies? Waktu itu, saya mulai skeptis dengan pemerintahan Jokowi. Dan semakin lama semakin saya  berseberangan dengan Jokowi karena banyak sekali faktor. Bukan hanya karena pemecatan Anies sebagai menteri. Dan tulisan ini bukan membahas tentang itu. 

Pada Pilgub DKI 2017, saya sebagai warga DKI menggunakan hak pilih. Dan saya memilih beliau. 

Dan pilihan saya insyaallah benar. Alhamdulillah. Belum ada satu tahun kepemimpinannya di Provinsi DKI, janji-janji penting di kampanyenya sudah terealisasi. Beberapa di antaranya Reklamasi dan DP 0%. Dan ternyata DKI Jakarta sudah banyak menerima penghargaan. Masyaa Allah tabarakallah ..  semoga semakin berkah Jakarta di bawah kepemimpinan Pak Anies. Semoga semakin berlimpah keberkahan juga untuk Pak Anies dan seluruh jajaran di Provinsi DKI Jakarta.

Oya, ini sekedar opini dan ekspresi bahagia saya sebagai pribadi dan masyarakat awam. Tidak usah diperdebatkan. Pendapat saya bisa aja salah menurut pembaca. Tapi pendapat saya bisa juga benar. Tidak ada kebenaran 100%. Kebenaran 100% ada di Al Qur'an.  

Kebiasaan dan Rutinitas Hanan

Beberapa hari terakhir ini bahagia hatiku, karena perkembangan perilaku Hanan. Masyaa Allah.

Pola rutinitas mulai kebentuk dan sejauh ini dia bisa mengikuti. Cukup baik lah dan menunjukkan kemajuan yang cukup baik menurutku, untuk ukuran Hanan.

Rutinitas Harian Hanan
Berikut ini rutinitasnya Hanan:

Pagi
Sholat subuh di musholla, lanjut main sepeda, mandi, dan Bersiap ke sekolah. Berhubung ini udah masuk musim liburan jadi agak santai. Sehabis mandi dan sarapan bisa main lagi. 

Siang 
Pulang sekolah, Hanan belajar di rumah atau les Bimba kalau pas lagi jadwalnya. Kalau pas libur gini, bisa ikut sholat dhuhur di musholla atau di mesjid. 

Sore
Sholat Ashar di musholla, mandi trus main. Atau kebalikannya. Kalau ngga ya, aku ajak aktivitas lagi di rumah. Menjelang Maghrib udah kuajak untuk makan malam. 

Malam
Sehabis sholat Maghrib, kuajak ngaji setelah itu belajar. Ngerjain PR Bimba atau PR sekolah, atau ngerjain lembar printable. Setelah sholat isya, kalau masih seger belum ngantuk, lanjut belajar. Kalau udah ngantuk, persiapan tidur dimulai. Sikat gigi, BAK, lalu berdoa sebelum tidur. 

Tentang sholat, ngaji, dan belajar, memang ngga selalu lancar tiap hari. Ada masanya gampang untuk diajak, ada masanya dibujuk dulu, ada masanya mogok tapi pada akhirnya aku upayakan untuk tetap dilakukan. Supaya terbangun jadi kebiasaan baik, dan ngga terbiasa mogok kalau lagi ngga mood. 

Nah ini PR ibunya juga untuk tetap konsisten dan Istiqomah. 

Sholat Subuh di Musholla
Alhamdulillah, 2 hari ini Hanan berangkat sendiri dengan kemauan sendiri untuk sholat subuh di musholla. Padahal aku bangunin Zhafir, yang bangun duluan Hanan. 

Yang bikin hati bahagia itu, untuk sholat Maghrib dan Isya, Hanan sudah ngga terlalu sulit lagi untuk diajak sholat. Malah beberapa hari yang lalu, Hanan yang ngajak duluan. Masyaa Allah... 

Cuci Tangan Sebelum Makan
Bentuk kebiasaan lain yang bikin hati adem karena sepertinya udah terbentuk adalah kebiasaan cuci tangan sebelum makan. Kalau ingat dulu mencoba bangun kebiasaan ini lumayan bikin tarik urat. Alhamdulillah sekarang tinggal diingatkan sekali aja. Malah kadang-kadang udah dilakukannya dengan kesadaran sendiri. Begitu juga kebiasaan membaca basmallah setiap mau minum dan makan. 

Yang masih on progress adalah membiasakan berdoa sebelum tidur, keluar rumah, dan masuk kamar mandi. Hanan udah tahu harus berdoa sebelum tidur, tapi masih banyakan lupanya. 

Hingga hari ini, aku sangat bersyukur atas semua itu. Semua terjadi atas kehendak Allah... Semoga semakin hari semakin banyak lagi kebiasaan baik yang tertanam di dirinya. 

30/08/18

Nonton Event Asian Games

Zhafi entah kenapa tertarik banget dengan event Asian Games. Beberapa pertandingan rajin dia tonton. Terutama bulu tangkis, sepak bola dan ada beberapa. Sampai pengen banget nonton langsung pertandingannya. Aku yang tadinya mehh.... Ngapain sih, Mas. Nonton aja di TV. Tapi... Setelah dipikir-pikir bener juga nih. Mumpung eventnya di Indonesia, ye kaan. Trus juga ngga ada salahnya ngasih pengalaman buat Zhafi nonton live pertandingan kelas Internasional antara negara-negara Asia langsung di depan mata. 

Sebenarnya dia pengen nonton 2 - 3 cabang. Tapi karena kurang memungkinkan akhirnya yang ditonton adalah pertandingan cabor atletik di Gelora Senayan. Waktunya seharian, dari pagi sampai malam. Itu di hari sekolah pulak. Sampai izin sama bunda Guru. Jujur aja izinnya mau nonton Asian Games. Untuk hal ini  kurasa sekolah Zhafi ngga paham. Ya, namanya sekolah Alam, kan yang diutamakan adalah supaya anak kaya pengalaman. Bukan cuma diartikan belajar di alam, tapi juga supaya kaya pengalaman. 

Akhirnya kami berdua nontonlah. Berangkat naik Transjakarta, pulang naik Transjakarta lanjut taksi. Karena udah malam, jam 10, Transjakarta ngga banyak yang operasi. Hanan ngga ikut karena ya itu... Bakalan sampai malam dan takut dia ngga betah. Tapi belakangan dia sedikit kecewa ngga diajak. 

Jadi apa hasil pertandingannya... Di cabor ini Indonesia ngga dapat medali apa-apa. Ya sedikit kecewa. Walau begitu lega bisa nonton langsung pertandingannya. Apakah Zhafi senang... Mudah-mudahan ya, Mas Zhafi ... Dia kalau senang mukanya flat aja sih. Kalau ditanya, yaa seneng. Hihi...

19/08/18

Selamat Belajar, Yah...

Ayahnya anak-anak memulai pengalaman belajar di negeri orang untuk kedua kalinya. Setelah dulu di Singapura selama 1 bulan, sekarang di Swedia untuk selama 4 bulan. 

Belajar di Swedia ini adalah follow up dari kelas internasional yang diikutinya untuk program kuliah master di UGM. 

Pergi diantar aku, anak-anak, dan temen-temennya yang juga tetangga rumah. Aku dalam hati rada bingung gimana ya ngejalaninnya tanpa ada suami selama 4 bulan. Yah tapi jalanin aja bismillah. 

Hanan yang paling sedih ditinggal Ayahnya. Sampai pulang ke rumah dia masih mewek sampai ketiduran. Aku cuma bisa kasian lihat dia dan menenangkannya. Sementar kakaknya, udah asyik lihat pembukaan Asian Games 2018 di TV. Ya memang bertepatan dengan event Asian Games. 

Keesokannya Hanan bangun juga masih mellow sambil lihat foto ayahnya diusap-usap. Udah macam di sinetron. 😅 Antara lucu, tapi juga ikutan sedih. 



11/06/18

Status FBku Hari Ini 5 Tahun Lalu



Ngga mudah mengubah sikap dan sifat negatif, yang sudah bertahun-tahun lamanya menjadi bagian dari diri seseorang.

Tapi saya kok sekarang percaya, semakin sering orang mendapatkan masukan yang baik, motivasi, pola pikir yang baik, dorongan positif, energi positif, informasi positif, akan membantu orang itu mengarah pada perubahan yang positif juga.

Bukan perubahan yang mendadak sontak  seperti di sinetron-sinetron. Karena proses setiap orang berbeda, mungkin naik turun juga. Kalaupun kita merasa hanya sesaat aja tergerak oleh motivasi positif misalnya, mungkin memang belum cukup, karena ngga sebanding dengan masukan negatif yang selama ini membentuk sifat negatif itu.

Makanya, pernah dengar dalam 1 kelas parenting yang saya ikuti di sekolah anak saya, dikatakan ...ketika anak mendapat 1 masukan negatif, idealnya diimbangi dengan 14 masukan positif. hm... #sekedar sharing

08/05/18

Menulis Adalah Terapi #1

Sepanjang hidupku, aku merasa pergolakan tak pernah henti. Konflik tak pernah jemu berkecamuk dalam hati, dalam jiwa. Mempertanyakan siapa aku sebenarnya. Apa impianku dalam hidup. Apa yang ingin kucapai. Seberapa berharganya aku? Mampukah aku? Layakkah aku mendapatkan apa yang aku inginkan.

Aku selalu patah hati setiap kali kumerasa tak kudapat dukungan dari orang-orang terdekatku. Aku selalu merasa salah langkah salah bicara salah sikap. Aku hampir selalu merasa benci diriku. Aku hingga saat ini belum bisa menerima diri ini sepenuhnya. Aku hampir selalu merasa kehabisan energi. Untuk diriku sendiri dan tak tersisa lagi energi untuk orang-orang yang seharusnya aku kasihi. 

Bukan... Bukan ingin mengeluh. Hanya ingin menuliskan demi menemukan tempat ku bisa melepaskan kegundahanku. Kegundahan yang sama terjadi tahun demi tahun. Dari sejak usia kanak-kanak, remaja, beranjak dewasa, hingga sudah hampir paruh baya. Sungguh tersiksa rasanya. Tak ada sahabat, tak juga teman bicara, suami pun tak bisa sepenuhnya memahamiku. Bukan salahnya. Tak ada yang bisa memahamiku, aku memang sulit dimengerti, bahkan oleh diriku sendiri. 

Siapa sahabat yang bersedia hadir sepenuh hati menemaniku? Tak ada. Bahkan suamiku bisa jadi adalah orang tersabar di dunia karena mampu bertahan hidup denganku hampir dua belas tahun. 

Yang membuatku sedih adalah... Aku selalu takut karena sudah mewariskan kegundahan ini ke anak-anakku. Aku tidak ingin mereka tumbuh dewasa dengan kondisi seperti diriku. Aku ingin, aku berharap, mereka tumbuh dewasa, menjadi penebar manfaat, menjadi pribadi yang matang, yang optimis, penuh syukur dan bahagia menjalani kehidupannya, serta bersemangat mengejar akhirat yang baik.  

Aku ingin jadi baik. Aku ingin jadi pemberi manfaat. Aku berharap Allah memberiku kemudahan, kekuatan, dan semangat bagiku berbuat kebaikan terus menerus. 

04/05/18

Al Qur'an Adalah As Syifa - Sharing Pengalaman

Ada sedikit memori di akhir 2017 kemarin. Sedikit cerita pengalaman tentang Al Qur'an dan doa sebagai penyembuh (As Syifa).

Beberapa waktu lalu, Hanan kena cacar air. Di hari ke 9, sakitnya bersambung dengan batuk pilek. Sebelum batuk pilek, sempat demam tinggi. Sempat muntah dan diare juga. Penyakit-penyakit yang umum terjadi sama anak-anak. Tapi,  kalau demam tinggi tanpa asupan cairan yang cukup, resikonya dehidrasi. Dan itu pernah terjadi dulu yang berujung dirawat di ICU (Intensive Care Unit). 🙁

Sejak Rabu malam, suhu tubuhnya panas tinggi. Beberapa kali terbangun dari tidur, mungkin akibat rasa nyeri dan pusing yang menyertai demamnya. Si Ayah mengkompres dengan air hangat terus menerus. Saya bujuk minum air putih tapi hanya beberapa teguk air saja yang mau diminumnya. Saya bujuk untuk minum obat penurun panas, dijawabnya dengan gelengan kepala dan mulut yang ditutup rapat. 

Setelah mencoba terjaga untuk mengompres dan memantau kondisinya, juga karena dia terbangun beberapa kali, akhirnya obat dipaksa masuk. Baru bisa tidur akhirnya. 

Keesokan harinya, sepanjang pagi hanya mau tidur saja. Sesekali berceloteh tapi matanya sayu dan tubuhnya lemas bikin saya khawatir. Berkali-kali saya bujuk untuk minum lebih banyak dan minum obat penurun panas. Tapi kuat sekali penolakannya. Untungnya, ia masih mau makan walau hanya beberapa suap. Sekali minum lumayan banyak, dan obat berhasil masuk, tidak lama kemudian dimuntahkannya bersama makanan. 

Saya bawa untuk cek darah dan konsul dokter. Dokter menyatakan hasil tes baik, menandakan hanya infeksi virus saja. Suhu tubuhnya saat itu 38 dersel. Menurut dokter, ia mulai dehidrasi ringan. Memang waktu malam, suhu tubuhnya lebih tinggi. Mungkin banyak kehilangan cairan saat itu. Lalu memberi resep cairan pengganti elektrolit yg hilang. Seperti sudah diduga, ia tidak mau meminumnya bahkan sedikitpun. Ia kelihatan tambah lesu hingga tertidur. Sore itu, saya mulai panik. Istighfar ngga berhenti dalam hati dan dengan lisan. Saya putuskan akan membawanya ke rumah sakit karena kondisi yang sudah mulai mengkhawatirkan. Saya telpon suami untuk segera pulang. 

Sambil menunggu, saya hubungi teman yang juga guru Bahasa Arab saya, bunda Nia Firnie, mohon supaya beliau mendoakan. Saya sungguh butuh saran apa yang harus saya lakukan dengan kondisi seperti itu. Olehnya, saya diingatkan untuk bermuhasabah, berpasrah, sambil membuatkan air ruqyah untuk Hanan. Dalam kondisi yang masih panik, saya jalankan nasihatnya sambil mencoba untuk berpasrah dan terus berdoa.

Alhamdulillah, Hanan mau minum walau sedikit-sedikit. 

Ketika di perjalanan menuju RS, saya raba leher dan keningnya, suhu tubuhnya sepertinya turun. Tapi mobil kami tetap menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan apapun. Sesampainya di UGD, seorang perawat memeriksa suhu tubuhnya, dan angka menunjukkan 36.5 dersel. Dokter bertanya ada keluhan apa. 

Lalu berceritalah saya kepada dokter. Tentang demam tingginya tadi malam, tentang dokter klinik yang menyatakan Hanan mulai dehidrasi, tentang lesunya sepanjang hari ini, tentang kurangnya asupan minuman yang masuk, dan obat yang sulit masuk. Lalu dokter meminta hasil cek darah yang memang hasilnya normal. Alasan kami membawanya ke RS adalah khawatir akan dehidrasi. 

Lalu dokter mengatakan, "Ibu, suhunya normal, hasil cek darah juga baik, jadi tidak ada indikasi harus dirawat."
"Tapi dokter, tadi dokter klinik bilang sudah mulai dehidrasi."
"Iya, bu. Kalau gitu kita lihat 2 hari lagi, ya. Karena kalau sekarang ngga ada alasan anak ibu harus dirawat."

Perasaan saya saat itu bercampur antara bingung tapi juga lega. Sewaktu berangkat Hanan dalam keadaan tidur, ketika perjalanan pulang dia berceloteh seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. 

Dalam hati saya membatin... 
 "Ini semua kuasa Allah, menyembuhkanmu melalui Al Qur'an dan doa guruku yang shalihah."

Rukyah itu sebenernya berkaitan dengan Tazkiyatun nafs, atau mensucikan  diri.
Merukyah diri berarti meminta perlindungan kepada Allah dari segala hal negatif.

Dapat Insight untuk My Life Project

Life Project itu adalah berkebun.  Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...