02/08/10

Sudah Akikah

Lega sudah, karena kemarin sudah menunaikan sunah Rasul, yaitu mengakikahkan anakku yang kedua, Hanan. Kalau dulu Zhafi baru diakikahkan waktu umurnya 2 tahun, karena alasan financial. Alhamdulillah, Allah mengijinkan kami untuk bias segera melaksanakannya sebelum usia Hanan 40 hari.

Bener-bener lega. Walau kemarin masnya Hanan (Zhafi) rewel sekali dari pagi sampai sore. Banyak nangisnya. Aku kasian sama Ayahnya dan Utinya. Ayahnya yang mau ngga mau kebagian tugas menenangkan Zhafi. Sampai aku liat dia hamper hilang kesabarannya menghadapi watak keras Zhafi kalau sudah rewel. Sementara Utinya, datang dari Pasuruan eh..malah melihat cucunya yang lagi rewel. Untungnya Hanan anteng dan menyenangkan.

Nah…sekarang tinggal mikirin gimana caranya bias beli rumah (lho?).

30/05/10

Kunci Meraih Rezeki


Dalam sebuah buku yang sangat menginspirasi, yaitu tentang meraih Kunci Rezeki, disebutkan ada langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk bias memperoleh rezeki yang melimpah serta diberkahi Allah SWT.

Langkah-langkah tersebut adalah
1. Berdoa
Allah SWT banyak memerintahkan hamba-hambanya untuk berdoa dan memohon padaNya, dan menjauhkan diri dari sikap sombong. Berdoa merupakan ibadah yang paling mudah dilakukan dan memiliki banyak manfaat bagi yang melakukan. Berdoa dengan sungguh-sungguh dan Allah menjanjikan akan memperkenankan doa hambanya.
Seperti yang dijanjikan Allah dalam Qur’an surat Ghafir ayat 60:
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘berdoalah kepada-ku niscaya aka Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-ku (berdoa padaKu) akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”

2. Beristighfar
Istighfar hakikatnya adalah memohon ampun kepada Allah dengan perkataan dan tindakan. Ini berarti seorang hamba Allah yang berucap astaghfirullahal adzim saja tanpa disertai perbuatan sama saja dengan berdusta. Perbuatan apa saja yang dimaksud, terkait dengan pengertian bertobat. Tapi mari kita perdalam sedikit beberapa dalil yang menyebutkan kaitan beristighfar dengan rezeki yang melimpah dan barakah dari Allah. Dalam al Qur’an Surat Nuh ayat 10-12, Allah berfirman:
“Maka aku katakan kepada mereka ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yanglebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan sungai-sungai”.

3. Bertobat
Bertobat mengandung arti menjauhkan diri dari dosa karena keburukannya, menyesali dosa-dosa yang telah dilakukannya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi dosa-dosanya. Ditambah juga melakukan sesuatu tindakan untuk mengganti dosa yang telah dilakukan dengan tindakan kebaikan.

4. Bersyukur
Selalu kita mendengar nasihat semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak Allah memberikan nikmat dan rezeki yang barakah kepada hambanya. Mengucapkan alhmadulillah adalah langkah yang sangat mudah untuk menunjukkan rasa syukur kita. Nabi pernah bersabda, bahwa lafaz alhamdulillah itu memenuhi timbangan amal kebaikan. Namun perlu diiringi juga dengan kesungguhan hati meyakini bahwa semua yang kita dapatkan itu datangnya dari Allah, kendati kadang kita tidak merasakannya.

Bersyukur, selain diucapkan secara lisan, diyakini sesungguhnya dalam hati, juga perlu ditampakkan dengan perilaku, yaitu dengan menggunakan anggota badan kita untuk hal-hal yang diridhai Allah, dan mencegahnya dari hal-hal yang dimurkai Allah. Ibadah bersyukur menjadi lebih sempurna dengan bersikap qanaah terhadap rezeki yang telah diperolehnya, sehingga seseorang akan semakin diberkahi dan dilimpahkan rezekinya, dan ia akan menjadi orang yang paling bersyukur.dan menghargai nikmat Allah sekecil apapun.

5. Beriman dan bertaqwa
Beriman berarti berucap secara lisan, yakin secara hati, dan beramal secara gerakan badan. Sedangkan bertaqwa, artinya menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dengan cara meninggalkan segala larangan, menjalankan ketaatan kepadaNya, dan menjauhi kemaksiatan terhadapNya.

Dengan bertaqwa, Allah akan membalas dengan 2 kebaikan, yaitu:
- Allah memberikan jalan keluar baginya untuk segala kesulitan yang dihadapinya,
- Allah memberikan rezeki dari sumber yang tidak disangka-sangka.

Sumber gambar:
senandunghidup.blogspot.com

21/05/10

Keutamaan Bertobat dan Syaratnya

Tulisan ini tentang bertobat dan bagaimana syarat tobat yang diterima olehNya. Fungsi tulisan ini sekedar berbagi apa yang baru saja saya baca dari sebuah buku tentang Mencari Kunci Rezeki Yang Hilang, yang ditulis oleh Zaenal Abidin Bin Syamsudin. Mungkin karena saya menganggap tulisan beliau ini penting bagi saya, maka saya pun ingin membaginya di sini, bukan berarti saya ingin menggurui atau saya sudah menjadi hamba yang benar-benar saleh, saya di sini justru sedang belajar menuju dan mencapai ke sana, yang mana bagi saya ini mungkin tidak mudah, tapi harus dilakukan untuk menjadi insan yang lebih baik, insya Allah.

Tanpa basa-basi lagi, dalam bukunya ini, disebutkan bahwa bertobat itu adalah salah satu langkah untuk memperoleh atau mendapatkan kunci rezeki. Bertobat itu intinya adalah:
  • meninggalkan dosa karena keburukannya,
  • menyesali dosa yang telah dilakukannya,
  • bertekad kuat untuk tidak mengulanginya serta
  • berusaha melakukan apa yang bisa menjadi penggantin dari kebaikan.
Jika maksiat atau dosa itu hubungannya antara seseorang dengan Allah, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi supaya tobatnya diterima oleh Nya:
  • menjauhi maksiat tersebut
  • menyesali kesalahannya
  • bertekad untuk tidak mengulangnya lagi.

Dan jika dosa itu hubungannya antara sesama manusia, selain tiga syarat di atas, orang yang berbuat dosa harus menyelesaikan urusannya kepada orang yang dizhaliminya atau orang yang dirugikannya. Kalau menyangkut harta atau barang, berarti ia harus mengganti harta atau barang tersebut, jika menyangkut perbuatan, maka ia harus berlapang dada menerima pembalasan dan meminta maaf secara tulus pada orang yang dizhaliminya.


Setelah melakukan syarat-syarat tersebut di atas, apa yang membuat kita yakin bahwa tobat kita diterima? Ada 3 hal, yaitu:
  • hatinya menjadi lapang, tenang, dan qonaah
  • mudah melaksanakan ketaatan dan kebaikan
  • cinta kepada kebenaran dan benci pada kebatilan.

Selain itu, dengan bertobat yang sungguh-sungguh, Allah juga akan melapangkan nikmat dan menganugerahi dengan rezeki yang banyak, seperti firmanNya yang tertuang dalam surat Huud ayat 3:
"Dan hendaklah kamu meminta ampun pada Tuhanmu dan bertobat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa di Hari Kiamat."

18/02/10

Hati-Hati Zona Nyaman

Setiap kali terbentur masalah, terutama ketika menghadapi anakku, aku merasa gagal sebagai orangtua. Tapi saat itu pula semangatku untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik justru lebih terasa.

Seperti kali ini, hari ini aku merasa menjadi orangtua paling egois terhadap anakku sendiri. Malu rasanya mengingat apa yang sudah kuperbuat hari ini, dan semakin kecewa rasanya mendapati sikap dan perilaku anakku yang kurang menyenangkan, mungkin sebagai akibat dari sikapku sendiri. Di saat-saat seperti ini aku seperti dicambuk. Aku merasa semuanya sudah keliwat batas. Tapi...untuk hal-hal menyangkut parenting ini, untungnya aku ngga mau membiarkan semuanya terlalu lama. Mencari solusi, merenungkan apa yang telah dan harus kuperbuat di kemudian hari untuk memperbaikinya, dan melakukannya segera. Lalu keadaan menjadi terkendali, menjadi menyenangkan. Sayangnya...keadaan menyenangkan itu selalu membuatku terlalu nyaman hingga lupa apa yang harus kupertahankan....Lalu aku kembali lupa untuk terus belajar untuk melakukan hal yang lebih baik setiap harinya....

Tapi rasanya...kali ini semuanya harus diakhiri.... Aku tahu itu.




13/02/10

Musium Mini Untuknya

Hal yang paling mengasyikkan dari mempunyai anak adalah ketika kita bisa mengetahui saat-saat anak kita menunjukkan kemajuan hari demi hari, bulan demi bulan. Terutama ketika kita pertama kali melihat anak kita menunjukkan kemajuan itu.

Kertas putih yang duluuu sekali hanya didiamkan saja, malah dia asik mainan bolpen, beberapa hari kemudian telah berubah menjadi kertas dengan coretan-coretan tak beraturan menunjukkan dia sedang bereksplorasi dengan kertas dan bolpennya, lalu beberapa bulan kemudian kertas itu menjadi bentuk-bentuk yang bisa dikenali, hingga akhrinya kertas putih itu menjadi kertas dengan gambar yang 'bercerita', buah hasil dari pembelajaran anak kita terhadap kertas, alat tulis, juga benda-benda yang dilihatnya dan disukainya.
Menghias botol dengan glitter
Jika tak ingin kehilangan setiap kenangan dan moment tentang semua 'saat pertama' itu, simpanlah semua hasil karyanya. Mungkin masih berupa coretan tak berarti bagi orang lain, tapi sesungguhnya itu menunjukkan suatu sejarah baginya, dan juga bagi kita, bagaimana dia bertumbuh, belajar, dan berproses. Buatlah musium mini untuk semua hasil karyanya. Biarkan dia sendiri pun tahu setiap karya dan hasil belajarnya adalah berharga. Seperti halnya dia sangat berharga bagi kita, orangtuanya. Biarkan dia menemukan dan mempelajari dirinya sendiri dari sejarahyang dia buat sendiri.
Gambarnya Zhafi

Yah....aku bersyukur anakku tumbuh sehat dan cerdas, terlepas dari hal-hal lain yang kuanggap sebagai kekurangan, aku selalu takjub setiap kali dia membuat kemajuan yang mengesankan buatku. Seperti hari ini, tiba-tiba dia memiliki ide untuk membuat pola berbentuk pesawat terbang hanya dengan menggunakan lembaran-lembaran kertas block note seukuran folio. Mungkin suatu saat....dia bisa membuat konstruksi pesawat terbang dari kardus....lalu merancang pesawat terbang masa depan... Who knows...:)


31/01/10

Mas Zhafi 36 Bulan


Sudah setengah bulan lewat. Zhafi sekarang 36 bulan.
Kemampuan bahasa:
1.Menceritakan dengan antusias pengamatannya tentang transportasi. Di luar itu, dia tidak banyak cerita. Berceritanya juga masih bersifat pengulangan.
2. Kosakata semakin banyak, termasuk phrase 3 kata, seperti 'tuk pemadam tebatayan' (truk pemadam kebakaran)

Kemampuan Sosio emosional
1. Ingin selalu terlibat dalam pembicaraan orang lain, walau selalu nyambungnya ke topik transportasi.
2. Mau berbagi (meminjamkan mainan, memberi kue) untuk sesuatu yang tidak terlalu diinginkannya.
3. Sukarela melakukan 'tugas' yang menjadi kewajibannya, Mandi, minum obat.
4. Perlu di support untuk lebih berani misalnya: berjalan di tempat tinggi, naik tangga perosotan, melompat tinggi.
5. Mengenal konsep sederhana dari menyayangi, melalui perbuatan mencium, mengelus
6. perlu didukung untuk lebih banyak berinteraksi dengan banyak orang, minimal bertemu dengan lebih banyak orang setiap hari, juga dalam memberi pengalaman baru.
7. terkadang mengalami tantrum.

Kemampuan motorik
1. Motorik halus: Bisa makan sendiri, membereskanmainan, mengancingkan pakaian, memakai celana (tapi pakai baju sendiri belum mau belajar)
2. Motorik kasar: berlari (masih belum mau mencoba melompat tinggi), mengayuh sepeda roda empat.

Kemampuan lainnya
1. Suka berimajinasi dan kreatif mencari-cari sesuatu untuk bermain 'pura-pura', pura2 setir mobil, pura-pura mengerjakan sesuatu, apapun yang baru saja dia amati, atau yang sedang dia ingat.

16/10/09

Me, Zha, and 'Tantrum'

Ha…hh bingung cari judul. Ini aja kali yah. Well sebenernya ngga terlalu lesson-lesson banget sih. Cuma…aku rada-rada dapat pencerahan hari ini, tentang bagaimana menghadapi anakku semata wayang itu yang punya hobi…”rewind” dan lagi dalam masa kritis “tantrum”. Ini based on my experience ya, with my little buddy. Ngga pake bahasa ilmiah, soalnya bukan mau kuliah psikologi perkembangan anak. Ya...tau teori...tapi prakteknya tetep terkaget-kaget dan kudu belajar lagi....
Kuncinya…
  1. Tenang dan ikhlas. Bukan sabar yaa….karena kalau memaksakan untuk sabar…susah… Tapi biarkan sabar itu keluar secara otomatis dari hati yang ikhlas. Dan tenang aja, kelakuan negatif seperti itu bukan dia maksudkan untuk menyerang orangtuanya, tapi karena justru dia sendiri sedang merasa tidak nyaman, dan butuh pelampiasan, karena dia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Nah…peran orangtua di sini adalah….menerima kondisi itu, ikhlas…karena kita ini sedang dititipi amanah oleh Allah, jadi sikap negatif itu ya biarkan saja sebagai pelampiasan untuknya. Tapi…bukan terus membiarkan begitu saja. Oke, cek poin kedua.
  2. Cari alternatif untuk mengalihkan perhatian dan mengambil jarak sebentar untuk meredakan emosinya. Ini supaya marah dan permintaan anehnya tidak keterusan. Kalau dia sedang tantrum atau marah ngga jelas (karena dia sendiri tidak tau mau marah terhadap apa, dan tambah kesal kalau orangtua atau pengasuhnya tidak bisa meredakan perasaannya yang tidak nyaman), cari cara untuk bisa pergi sejenak dari tempat kejadian perkara. Alasan harus masuk akal. Bukan mengancam meninggalkan dia seperti, “udah ah…ibu capek…kalau belum selesai…tak tinggal dulu” (jujur...I once did it :-[ ). Itu jelas-jelas bagi dia adalah kalimat penyerangan, yang olehnya diartikan kira-kira begini, “kok ngga ngerti sih…kalau aku lagi bete, malah ditinggalin gini”. Jadi gimana cara meninggalkan dia, alasannya misalnya, “bentar ya…ibu mau ambil jemuran….udah kering tuh, nanti malah pada terbang”, atau “bentar ya…ibu mau minum dulu, haus nih…nanti balik lagi…”. Kuncinya…nada bicara juga tidak bernada menyerang, tapi lebih pada menunjukkan seakan ibu pergi untuk keperluan yang harus dipenuhi atau dilakukan, bukan sengaja meninggalkan karena capek nungguin dia. Nah…setelah ‘berhasil’ keluar dari tempat kejadian perkara, ambil jeda sejenak…sekitar 5 menit, dan sepertinya si anak sudah tenang, kembali ke TKP sambil membawa sesuatu yang dirasa efektif mengalihkan perhatiannya. Tapi…biasanya…ketika ditinggal itu, dia sudah bisa menenangkan diri. Jadi objek pengalih perhatian mungkin tidak diperlukan lagi.
  3. Setelah bertemu lagi di TKP, dan dia sudah terlihat tenang, ajak bercanda…jangan ungkit dulu kejadian sebelumnya, karena mungkin dia akan meledak lagi.
  4. Nah…di saat saat tenang…saatnya nih…kita mulai ajak dia diskusi…beri pemahaman tentang perasaan dia ketika sedang tantrum itu apa namanya, rasanya seperti ini, cara menyalurkannya seperti ini, kasih contoh. Tapi…semua diskusi itu ngga akan berhasil kalau orangtuanya sendiri tidak bisa menjadi teladan atau tidak memberi contoh yang sesuai. Orangtua juga harus nunjukin bagaimana bersikap ketika menghadapi perilaku menjengkelkan anak. Dari situ dia akan melihat dan mencontoh sikap positif yang dicontohkan orangtuanya ketika dia menghadapi orang lain yang bersikap menjengkelkan atau negatif. Sebaliknya kalau orangtua menunjukkan sikap defensif atau keras, atau main fisik ketika anak berperilaku menjengkelkan, itu juga yang akan dia contoh nanti, dan itu bakal mengakumulasi sikap tantrumnya.
Wah…aku bilang ‘kunci’ ya…tapi kok kuncinya panjang-panjang. Yah sudahlah…pokoknya begitu yang dapat kusimpulkan hari ini. Tapi…lain anak bisa lain cerita. Bukan berarti itu aturan saklek. Bisa saja lain atau berubah 'teori'nya. Tapi kunci utamanya tetep: ikhlas pangkal sabar, tenang pangkal sikap positif. Begituuuu ganti.
(Zha..., your the best teacher for me...)

Dapat Insight untuk My Life Project

Life Project itu adalah berkebun.  Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...