14/07/16

Cerita Mudik dan Liburan Lebaran 2016

Mudik tahun ini terlamaa...
Dua minggu. Biasanya paling hanya 10 harian aja. Sama perjalananannya kalau jalan darat ya... 11-12 hari.
Berangkat tanggal 30 Juni 2016, menaiki armada Akas Asri dari terminal Rawamangun. Pertama kali menginjakkan kaki di terminal ini lagi setelah renovasi.
Berangkat jam 2 siang, perjalanan relatif lancar, meski melewati jalur horor (aka - brexit). Walau sempat harus berhenti karena ban pecah, untungnya tidak butuh waktu lama pak supir dan kondektur memperbaikinya. Puasa kami pun alhamdulillah bisa tertunaikan hingga maghrib.
Iyaa... Hari itu, belum banyak yang memulai perjalanan mudik. Tapi besoknya, denger-denger sih, memang mulai padat.
Kami berbuka di daerah ... Di sebuah rumah makan perhentian bus AKAP.
Lanjut perjalanan juga relatif lancar. Ketika waktunya sahur, kami sudah tiba di ...
Sekitar pukul 7, kami sudah tiba di kota tujuan mudik yang pertama. Pasuruan, kota kelahiran si Ayah.
Dua tahun lalu, mudik ke Pasuruan, masih bisa sungkem ke Mbah Kung dan Uti (orang tua Ayah). Setahun lalu, mudik ke Pasuruan masih bisa ketemu Uti dan bantu-bantu beliau masak persiapan lebaran. Tahun ini, kami mudik disambut oleh adik-adiknya si Ayah, juga para keponakan. Al Fatihah untuk Mbah Kung dan Uti :'(.
Selama 5 hari jelang lebaran, kami relatif ngga banyak ke mana-mana. Paling hanya cari oleh-oleh, atau ajak anak dan ponakan nonton kereta dan lihat kapal perahu. Yeaa... Pasuruan belum jadi kota tujuan wisata, karena memang belum banyak tujuan wisata yang bisa didatangi. Paling dekat ya ke Kebun Binatang di Pandaan, atau wisata ke Malang. Tapi...ngga kesana juga lah kita. Malang walau dekat, tapi jarak tempuhnya bisa sampai 2 jam lebih karena macet. Lagi pula, itu masih di bulan Ramadhan, jadi yaa...kurang pas kalau mau piknik.

Baru pada hari lebaran pertama, tanggal 6 Juli, setelah sholat ied, kami keliling dari pagi sampai jelang maghrib. Di rumah pun kedatangan keluarga besar. Alhamdulillah...
Kuliner hari ini:
‌Bakso
‌Lontong opor, dan...
‌Rawooon.... Yang ditunggu!
Hari lebaran kedua, dini hari sekitar jam 2, tanggal 7 Juli, kami diantar adiknya Si Ayah ke terminal ... , Surabaya. Kami akan cabut ke Jogja dengan bus Patas Eka. Setelah sholat subuh, bus yang kami tumpangi berangkat melalui rute Lamongan, Gresik, dst. Bukan melewati Mojokerto seperti rute biasanya, karena konon kondisinya macet.
Perjalanan relatif lancar, dan sempat berhenti makan siang di Ngawi. Mulai terjebak macet ketika memasuki Klaten sampai masuk Jogja. Saking sudah ngga sabar sampai Jogja, karena mau menghadiri acara pertemuan keluarga di sana, sampai ngga ingat yang lain. Pengennya cepet sampai ajalah gitu. Dan ketika akhirnya kami sampai di tempat berhenti, kami turun di Janti, tidak ke terminal Giwangan. Begitu turun dan bis sudah jalan lagi, Ayah berseru, "Astaghfirullah...!"
Perasaanku ngga enak. Kupikir apa yang ketinggalan? HP Ayah? Dompet?
"Apa, Yah?! Ada apaa?!", teriakku panik.
"Koper!!"
Whaaat!!??
Dan aku jadi lebih panik.
Untungnya saat itu sudah datang mobil jemputan. Langsung kami minta pak Supir untuk antar kami ke Terminal Giwangan. Syukuur alhamdulillah... Masih rezeki kami itu koper dan segala isinya. Duh duh... Aeng aeng wae... -_-!
Setelah mampir di sebuah masjid untum sholat-sholat dan ganti pakaian, kami langsung ke lokasi pertemuan.
Rencananya, kami ketemu sama Yangti, Yangkung, dan Tante Vivi di Jogja, dan langsung menghadiri acara pertemuan keluarga besar Mangundiwiryo, keluarga dari Yangti. Alhamdulillah... Masih sempat bertemu dengan kakak-kakak sepupu, para ponakan, dan ... cucu. Hehe. Cucunya sepupu sih. Hihihi.
Kuliner hari ini:
‌Bakmi jawaa.... Dan nasi goreng
Lebaran hari ketiga, tanggal 8 Juli 2016. Agenda kami, bersama Yangti, Yangkung, dan Tante Vivi, adalah ke Solo, tempat kelahiran Yangkung. Di sana akan ada pertemuan keluarga besar Abdul Madjid, keluarga dari Yangkung. Tapi sebelum ke sana, kami mengunjungi Museum Ullen Sentalu. Museum kebudayaan Keraton yang dikelola oleh beberapa keluarga keraton. Museum yang unik. Sayang, tidak boleh ambil gambar di dalamnya.
Setelah puas menikmati museum dan berselfie ria, lalu sholat Jumat yang laki-laki, kami langsung check out dari penginapan, dan berangkat ke Solo. Tidak lupa membawa oleh-oleh jadah tempe Mbah Carik dan bakpia pathok.
Setelah kembali terjebak macet di Klaten, kami tiba di Solo sekitar jam 7 malam, dan menginap di rumah yang menjadi 'basecamp keluarga'.
Kuliner hari ini:
‌Bakso Telkooom
‌Nasi liweeet .... Ohh heaven
Lebaran hari ke empat, 9 Juli.
Hari ini adalah acara pertemuan keluarga besar Abdul Madjid. Acara silaturahmi sungkeman sekaligus pertemuan per tiga bulanan.
Menyenangkan banget, bisa ngobrol sama sepupu-sepupu, juga om dan tante, adik adik dari Yangkung. Dengar kabar-kabar terbaru, ketemu ponakan yang belum pernah ketemu karena tinggal di pulau seberang. Alhamdulillah acara lancar.
Kuliner hari ini:
‌Nasi liwet
‌Ketan kelapa bubuk kedeleee....!
‌Bakso (lagi)
Tanggal 10 Juli... Udah bukan lebaran kali yaaa...
Hari ini, ayah akan balik ke Jakarta, ngikut adiknya Yangkung naik mobil. Aku dan krucils extent liburannya dan akan berada di Jogja sampai tanggal 13, karena baru dapat tiket pesawat tanggal segitu.
Aku dan krucils ngikut balik ke Jogja bareng Yangkung, Yangti, dan Tante Vivi. Dalam perjalanan ke Jogja, kami mampir di Kalasan, tempat peternakan lele milik saudara sepupuku. Di sana kami diajak melihat kolam-kolam ternak lele sambil nabur pakan ikan. Senengnya si Zhafi, karena setiap pakan ikan ditebar, si lele-lele itu gerubyukan berebut makanan sampai air kolam nyiprat ngga karuan.
Setelah puas lihat mentahnya, kami disuguhi matengannya, sambil ngobrol-ngobrol.
Kuliner hari ini:
‌Bubur gudeg krecek
‌Soto daging triwindu
‌Mangut lele
Tanggal 11 Juli.
Yangkung, yangti, dan tante Vivi balik ke Jakarta nih. Yaahh... Makin sepi dehh...
Setelah anter Yangkung dan lainnya ke bandara, aku dan krucils ke Kebun Binatang Gembira Loka. Selama kuliah di Jogja, ngga pernah sekalipun aku masuk ke kebun binatang ini. Dan ini memang yang pertama kalinya aku ke sini. Direkomendasiin sama anak pemilik penginapan tempat kami menginap. Katanya Gembira Loka yang sekarang udah lebih bagus pengelolaannya. Wahana bermainnya juga lebih atraktif. Jadilah kami bermain main di GL Zoo. Selain melihat binatang liar dari dekat, Zhafi nyobain naik ATV, naik bumper boat berdua sama Hanan, lalu kita naik kereta keliling dan naik kapal bareng-bareng. Adzan Dhuhur, kami sudah keluar dari Kebun binatang. Ternyata Zhafi pengen jalan jalan lagi, akhirnya kita ke Taman Sari.
Taman Sari yang terakhir dulu kami kunjungi masih belum dicat, tempat pemandiannya juga ngga ada airnya. Sekarang sudah lebih bagus. Sudah dicat warna bata, kolamnya bersih dan airnya jernih dengan air mancurnya.
Zhafi penasaran dengan mesjid bawah tanah. Setelah melihat lihat dan foto-foto, jam 4, kami sudah keluar dari taman sari.
Kuliner hari ini:
‌Nasi Gudeg Yu Djum
‌Soto Pak Marto
‌Nasi goreng sea food
Tanggal 12 Juli.
Pagi-pagi, aku ajak krucils ke kawasan kampus UGM. Keliling-keliling kampus dan piknik di Grha Sabha Pramana (GSP). Setelah itu foto-foto di Masjid Kampus UGM.
Setelah sesiangan gegoleran aja di kamar penginapan, sorenya kami main ke Taman Lampion Pelangi di Monjali (Monumen Jogja Kembali). Di sana kami disuguhi pemandangan lampion aneka bentuk dan warna yang bisa jadi backgrouns selfie. Dan sempat juga kami sewa hellycak buat seru-seruan anak-anak.
Tanggal 13 Juli (last day).
Main ke Museum Dirgantara. Anak anak belajar segala macam tentang dunia penerbangan Indonesia dan sejarahnya. Bermacam-macam pesawat, helikopter, alutsista, diorama, dipamerkan menjadi media belajar yang memancing ketertarikan Zhafi dan Hanan. Apalagi, kita diperbolehkan untuk naik ke salah satu pesawat dan helikopter yang ada di sana.
Selesai dari sana, kami check out dari penginapan, pamit dengan keluarga Jogja, kami dijemput teman kuliahku. Aku janjian dengan beberapa teman kuliah yang sekarang menetap di Jogja, untuk ketemuan, reuni sekaligus nilik'i teman yang baru aja babaran (lahiran).
Alhamdulillahh... Bisa ketemu, tukar cerita, walau beberapa jam aja. Memberi energi dan semangat baru. Cieeh!
Akhirnya, waktunya pulang ke Jakarta, eh Tangerang. Penerbangan kami harusnya jam 6.50 sore. Tapi terlambat jadi 7.50. Dan entah kenapa pesawat baru landing sekitar jam 10, dan masih harus menunggu bagasi. Alhasil, kami keluar dari bandara baru jam 11, dan sampai rumah jam 12.
Cuappekk.
Kuliner hari ini? Ngga istimewa ... Seputaran nasi goreng penginapan, Hokben, dan nasi goreng a la resto bandara 
Alhamdulillah tiba di rumah dengan selamat. Walau sempat ngalamin moment ngga enak karena suami kelamaan nunggu di bandara, udah gitu nunggunya di terminal 1, ternyata landingnya di terminal 3. Padahal Li**, biasanya di terminal 1. 
Duuh maaf ya, Ayah.... 

14 Juli 2016 (Kamis)

Finally... Kembali ke pekerjaan domestik.
Seharian ini cuci baju, setrika, sampe berapa ronde. Disambi nyapu, ngepel, masak, dan cuci piring.
Alhamdulillah... Bisa makan malam lauk tempa tahu, ikan asih, dan pecel bumbu wijen.

Nikmat mana lagi yang kudustakan.

27/04/16

Hanan Today...


Awalnya ngga mau sekolah pagi ini. Tapi setelah dibujuk Ibu dengan beberapa cara, berangkat juga sekolah. Tampaknya Hanan senang banget di sekolah hari ini. Main sama teman-temannya, Valisa dan Kaisa. Sempat diajak menengok adik nya Althaf yang baru lahir.

Ternyata, dari sekolah Hanan membawa playdo. Sepulang sekolah, Hanan asyik membuat bentuk bentuk dari playdo. Seperti cacing, orang, dan robot. Ibu bantu membuat bentuk kura-kura dan kupu-kupu. Kemudian minta dibuatkan ikan, rumput laut, dan lain-lain.

Sambil menonton film Inside Out, masih juga dimainkan itu playdo. Sampai tertidur.
Sorenya, setelah bangun tidur, Hanan asyik bermain dengan kucing. Teman temannya, Amigo dan Dinka ikut bergabung bersama Hanan bermain kucing. Hihi… lucunya mereka.

Setelah maghrib, masih saja ceria. Masih ingin keluar bermain sama kucing. Masih tertawa-tawa. Sampai akhirnya masuk kamar Ayah Ibu, dan naik ke kasur. Sudah mau tidur aja. Sempat tidak mau sikat gigi. Tapi setelah digoda oleh Ayah Ibu, akhirnya mau juga sikat gigi. Ayah kasih hadiah istimewa karena Hanan sudah mau sikat gigi. Diayun ayun pakai sarung. Hahaha….

Sebelum tidur, Hanan minta dibacakan buku cerita. Alhamdulillah… hari yang cukup menyenangkan ya, Hanan…


Mudah-mudahan Hanan tidur membawa perasaan gembira ya, Nak…. 
Ibu sayang Hanan.

26/04/16

Bu, Kenapa Harus Ada Hari Kartini?

Beberapa hari yang lalu, Zhafi tiba-tiba mengajak diskusi tentang ‘kenapa harus ada Hari Kartini’.

“Bu, kenapa sih Hari Kartini harus ada? Kenapa harus dirayakan? Memangnya apa jasanya?”

Ya kujawab dengan jawaban standar. Pasti tahu, ya.

“Tapi kenapa justru Kartini yang dimuliakan? Dia muslimah bukan? Kenapa ngga berhijab?”

“Menurut yang Ibu baca, pada waktu dan tempat Kartini hidup saat itu, belum ada Alqur’an yang diterjemahkan. Para guru agama pun tidak ada yang mengajarkan makna Alqur’an, tapi hanya mengajarkan untuk membacanya aja. Tidak boleh diubah ke bahasa lain. Termasuk bahasa Jawa.

Sampai suatu ketika, Kartini bertemu dengan seorang Kyai yang memberikan ulasan tentang makna Al Qur’an. Kepada Kyai tersebut, Kartini menyampaikan keresahannya. Kenapa muslim diwajibkan membaca kitab yang kita tidak boleh tahu artinya. Apa gunanya. Hal itu menyadarkan Kyai. Lalu Kyai tersebut membuat terjemahan Al Qur’an dan memberikannya kepada Kartini. Namun sayang, Kyai tersebut baru menterjemahkan sampai juz 17, tapi kemudian sudah dipanggil menghadap Ilahi.

Perintah untuk menutup aurat ada di surat An Nuur yang ada di Juz  24. Itu alasannya kenapa Kartini tidak memakai hijab. Karena dia belum mendapatkan terjemahan juz berikutnya. “

Namun Zhafi tidak puas dengan penjelasan itu.

“Lalu kenapa harus dijadikan hari khusus? Kenapa pahlawan pahlawan muslim lainnya tidak dijadikan hari Khusus?”

“…”

“Bu, kok ngga jawab?”

“ Tidak semua tokoh pahlawan harus punya hari khusus.”

“ Lha terus kenapa Kartini punya? Menurutku, kita ngga perlu merayakan hari Kartini”

Pada titik ini, emosi dan egonya sudah terasa meningkat intensitasnya. Kalau sudah seperti ini, aku hanya perlu jadi pendengarnya, menyetujui pendapatnya, sambil tetap terus memasukkan pesan moral sejauh yang aku mampu.

“Mas Zhafi benar. Kita mungkin tidak perlu merayakan Hari Kartini. Banyak pahlawan –pahlawan lainnya yang mungkin lebih berjasa bagi negara dan kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Tugas kita adalah, banyak membaca dan banyak belajar dari tokoh-tokoh pahlawan Indonesia. Mengambil teladan dari perjuangan mereka.”

Dan diskusi pun mereda.


22/11/15

Proyek untuk Hari Guru



Zhafi idenya boleh juga tuh. Waktu aku tanya, mau bikin apa nih kita, untuk hari Guru. 

Jawabnya,’’O iya yaa… apa ya?”

Lanjutnya lagi, “ sebenernya mau rakit lego trus ada tulisannya ‘selamat hari guru’, tapi belum kebayang gimana bikinnya.”

Aku mikir, wah kalau legonya dikasih juga sayang dong, hihihi *pelit

Tapi, idenya bisa tetep dipakai, dengan material lain, batinku. Sebelum aku utarakan ide ini, Zhafi ternyata punya pemikiran sama.

“Sebenernya bisa juga sih, bikin tiruan lego, tapi dari apa dan gimana bikinnya.”

“Hmm, dari playdough mungkin?” sahutku.

“Oiya, bener tuh,” serunya.

Lalu dia kembali asik merakit legonya, dan si Ibu ini pun lagi membayangkan gimana bentuknya nanti.

Well, at least udah ada ide. Ada mbah google, kita bisa mulai dari situ.

Semogaaaa berhasil!

21/11/15

What's New About Hanan



Paling senang banget itu kalau mendapati ada hal baru yang kutemui dari Hanan. Ada keterampilan atau kebisaan baru yang ia tunjukkan.

Sekarang di rumah ada dipan susun untuk tidur anak-anak. Zhafi di dipan atas, Hanan di dipan bawah. Sebenarnya, dengan Zhafi di atas itu, aku dan ayahnya ingin memberi ruang privasi untuk Zhafi melakukan kegiatan ‘tenang’nya, seperti menggambar atau membaca. Tapii… kalau Hanan liat mas nya di atas, dia pengen ikutan. 

Nah, problem Hanan masih seputar kekuatan tangan dan kakinya yang belum optimal. Jadi ini kesempatan untuk Hanan melatih otot tangan dan kakinya. Awal-awalnya memang minta dibantu, lalu dia semangat naik turun dipan yang tangganya itu vertical. Sambil aku jaga dari belakang (tanpa memeganginya), Hanan naik sendiri. Awalnya dibantu kursi, lalu tanpa kursi, dan sekarang dia sudah lebih lincah naik turun sendiri. 

Mari kita lihat nanti, apa latihan naik turun itu berpengaruh sama kemampuan mengayuh sepedanya. Karena sekarang ini dia mengayuh masih serdek. Itu istilah jawanya. Maksudnya, yang dipakai mengayuh ke depan baru kaki kanannya. Belum mau bergantian. Sudah beberapa hari ini, belum kulihat dia naik sepeda. Semoga, ada perubahan baik nanti.

Itu soal motorik kasarnya.

Untuk motorik halusnya, yaitu keterampilan mewarnai, kemarin terlihat juga udah lebih rapi. Masih keluar garis juga sih. Tapi maksudnya, ngga seperti dulu, yang masih asal coret-coret ngga beraturan. Dan belum mau dikasih tahu. Aku ngga masalah sih, awalnya. Karena yang penting ekspresi nya tersalurkan dulu. Tapi, karena ini tujuannya untuk koordinasi motorik halus, jadi aku ajari dia mengontrol gerakannya ketika mewarnai agar lebih terarah. Kemarin malam, aku coba lagi ajak dia mewarnai. Hanan cukup kooperatif mendengarkan arahanku. Dengan kombinasi warna pilihannya sendiri, hasilnya keren. 

Lalu kemampuan ekspresi bahasanya.

Belakangan ini, Hanan seneng banget nyanyi-nyanyi lagu kereta api, cicak-cicak, dan beberapa lagu lain. Ya, jangan dulu berharap dia menyanyi dengan nada yang tepat dan kata yang terucap fasih. Tapi, sudah bisa tahu lah… kalau dia nyanyi itu, lagu yang lagi dinyanyiin apa. Hehe.
Hal baru lagi adalah, dia udah bisa menyebut nama kakaknya. Hihi. Biasanya kalau memanggil kakaknya, hanya dengan sebutan ‘mas’ aja. Sekarang dia sudah bisa menyebut ‘mas Zhafi’. Wuih… keren yaa. Masyaa Allah. 

Cuma, ada hal yang bikin aku sedih. Beberapa bulan belakangan ini, dia bolak balik pilek batuk. Baru aja sembuh bat pil 1 minggu, eh sekarang udah batuk pilek lagi. Padahal jarang jajan, jarang minum es juga. Batuk pilek yang terakhir itu, bahkan sampai 2 bulan lebih. Yang terakhir sampai demam-demam dan ngga mau makan. Kalau sekarang batuk pilekny dia masih aktif, masih ceria, masih nafsu makan banget. Moga-moga ngga lama-lama ya sayang batuk pileknya.


23/10/15

Puasa Sunnah, Anaknya Belajar, Ibunya Juga Belajar



Malam Kamis, setelah Isya’ terjadi percakapan ini:
(Sepulang dari musholla, Zhafi yang memakai kostum pergi, mau berganti pakaian rumah/ tidur.
Ibu         : Zhafi ngga usah ganti baju, kita mau ke rumah sakit, periksain Adek ke Dokter.
Zhafi      : Yah, besok Zhafi mau puasa.
Ibu         : Puasa? Tadi Bunda Sari ngajak puasa sunah (Tasu’a) besok ya?
Zhafi      : Nggak, kata Pak Ustadz tadi, besok puasa.
Ibu         : Oo… 

Syukur #1: Zhafi konsisten sholat di mesjid setiap Maghrib dan Isya’
Syukur #2: Zhafi ikut mendengarkan kajian di mesjid bersama Ayahnya
Syukur #3: Zhafi mengikuti ajakan berpuasa sunnah besok harinya.

Tentang Anak berpuasa

Bulan Zulhijjah yang lalu, kami sekeluarga berniat banget untuk menjalankan puasa Arafah. Alhamdulillah nggak seperti tahun-tahun sebelumnya, rasa-rasanya tahun ini himbauan untuk berpuasa Arafah jauh lebih intens. Sepertinya, karena udah bergabung di banyak grup WA, dan kebanyakan grup itu berkali-kali mengirimkan reminder tentang puasa Arafah. Tahun sebelumnya… mudah sekali terlupa. Selain itu, sekolah Zhafi juga memberi anjuran supaya anak-anak ikut berpuasa. Sehingga sekolah pun berlangsung hanya sampai jam 11 saja (biasanya sampai jam 14.00).

Tanggal 9 Zulhijjah, aku semangat membangunkan Zhafi dan ayahnya untuk sahur. Paginya menyiapkan kebutuhan sekolah dan kantor seperti biasa, minus menyiapkan bekal. Siang jam 11, dia pun pulang sekolah. Kelihatannya lemas. Aku ajak dia ganti baju dan tidur. Zhafi sempat minta minum, tapi aku Tanya, apa yakin mau berbuka sekarang? Yahh, ibunya ini berharap Zhafi bisa puasa sehari penuh. Zhafi ngga menjawab. Dan akhirnya tertidur.

Singkat cerita, setelah melihat kondisi Zhafi, aku beri dia minum air putih dan pisang. Ternyata asam lambungnya naik. Ngga lama setelah makan dan minum, perutnya mual dan akhirnya muntah. Kuberi makan  pisang dan susu kedelai. Muntah lagi. Kuberi air kelapa, muntah lagi. Terakhir aku beri jus timun. Alhamdulillah, keminum setengah gelas – Zhafi  belum  jatuh cinta sama sayur, nii, semoga nanti. Setelah itu tampaknya perutnya enakan, dan mulai bisa makan nasi.

Begitulah… kejadian itu sedikit meninggalkan rasa was was.

Waktu dia minta ikut puasa kemarin, jadinya  aku pun sedikit ngga yakin. Aku ngga bangunkan dia sahur. Tapi rupanyaaa…, pas bangun pagi, Zha marah. Keliatannya kesal dan menyesal karena ngga bangun sahur. Itu berarti dia ngga bisa puasa, pikirnya. Aku bujuk Zhafi, boleh berpuasa, karena sedang belajar, ngga papa sahur sekarang, nanti berbuka sore atau maghrib. Zhafi ngga mau, katanya, itu bukan puasa namanya. Lalu ayahnya ajak dia bicara. Ayahnya menenangkan Zhafi dan memberi saran, kalau Zhafi mau tetap puasa, boleh saja. Cuma pagi ini paling tidak minum air putih saja. Nanti tetap bawa bekal ke sekolah.  Jadi kalau Zhafi merasa ngga kuat, bisa berbuka di sekolah. Ayahnya juga menenangkan aku. Hehe. Zhafi pengen puasa bu. Zhafi kuat in syaa Allah.

Ya, akhirnya aku pasrah. Setelah berpikir ulang, lebih baik aku ikhlasin saja apapun yang terjadi. Ketika si anak punya keinginan kuat untuk puasa, apa pantas orangtua melarang. Pasrahkan saja sama Allah. Sambil tetap berdoa terus mohon Allah jaga  anakku. Jangan karena kejadian puasa Arafah yang sudah lalu, kemudian jadi kapok membiarkan anak belajar berpuasa. Selain itu, ini juga pembelajaran buat Zhafi (dan juga aku), untuk menentukan sikap dan tindakannya sendiri. Kalau yang dilakukannya baik, harusnya didukung. Dan beri kepercayaan kalau dia bisa melakukannya.
Setelah itu, aku bisa melepaskannya pergi sekolah dengan tenang. Toh sudah disiapkan bekal juga buat jaga-jaga. Teteeup.  #emakrempong.

Siangnya, seperti biasa dong, aku jemput Zhafi jam 2 seperempat siang di tempat biasa dia turun dari angkot. Ada sekitar 15 menit nunggunya. Biasanya,  dia turun dari angkot  bersama temen-temen sekolahnya. Nah, ketika akhirnya ada angkot yang lagi nurunin anak-anak SAT (sekolah Alam Tangerang), berharap Zha ada di antaranya. Ternyata ngga ada. Wa, pikirku, apa selisipan di jalan, ya. Maksudnya, apa dia udah jalan pulang duluan, tapi ngga berpapasan di jalan. Langsung jalan balik ke rumah sambil lihat kanan kiri. Ternyata sampai rumah ngga ada. Akhirnya aku jemput ke sekolah. Ternyata ngga ada juga.

Telepon security di komplek, katanya belum lihat Zha pulang. Mulaaaiii deeeh muncul pikiran-pikiran buruk. Tangan mulai berkeringat. Detak jantung mulai terasa lebih kencang.
Laluuu, ketika aku masih dalam perjalanan dari sekolah menuju tempat pemberhentian angkot, ayahnya telpon. Ayahnya mengabari kalau tadi Bunda Sari (guru kelas Zha) kirim pesan lewat WA. Zha pulang jam 3. Baaaaru deh legaaa. Saat itu jam 3.15 siang. Jadi kemungkinan ZHa memang baru aja turun dari angkot. Benar aja, begitu aku sampai di tempat pemberhentian angkot, aku lihat Zha di sana.

Setelah ngobrol-ngobrol di mobil dalam perjalanan ke rumah, baru deh tau…
Ternyata, alasan kenapa dia pulang jam 3 adalah, karena dia tidur di UKS. Kenapa? Karena badannya lemas, ngga kuat puasa, tapi juga ngga mau berbuka. Saat bangun dari UKS, dan merasa ngga kuat jalan ke depan, dia akhirnya berbuka dengan bekalnya (setelah di sarankan oleh bunda Sari). Baru deh, punya tenaga untuk jalan.

Zhafiii… Ibu bangga padamu, Naak… calon imam dan hafidz yang sholeh ;*

Cerita diatas memang ngalor ngidul. Tapi setidaknya, aku menuliskan ini sebagai pengingat diri sendiri.
1. Puasa itu ajang belajar buat anak juga ibunya. Anak belajar menahan hawa nafsu. Ibu belajar untuk tidak menyerah mengajarkan hal-hal baik apapun tantangan dan resikonya. Ibu juga belajar untuk membiarkan anak menentukan sikap. Jika baik dan positif, ya dukung, walau kelihatannya di awal  terasa ada rintangan dan halangan.

2. Betapa bersyukurnyaaa aku ini harusnyaaaa lhoooo..... anak dekat dengan Islam, walau setahap demi setahap.




Dapat Insight untuk My Life Project

Life Project itu adalah berkebun.  Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...