14/07/16

14 Juli 2016 (Kamis)

Finally... Kembali ke pekerjaan domestik.
Seharian ini cuci baju, setrika, sampe berapa ronde. Disambi nyapu, ngepel, masak, dan cuci piring.
Alhamdulillah... Bisa makan malam lauk tempa tahu, ikan asih, dan pecel bumbu wijen.

Nikmat mana lagi yang kudustakan.

27/04/16

Hanan Today...


Awalnya ngga mau sekolah pagi ini. Tapi setelah dibujuk Ibu dengan beberapa cara, berangkat juga sekolah. Tampaknya Hanan senang banget di sekolah hari ini. Main sama teman-temannya, Valisa dan Kaisa. Sempat diajak menengok adik nya Althaf yang baru lahir.

Ternyata, dari sekolah Hanan membawa playdo. Sepulang sekolah, Hanan asyik membuat bentuk bentuk dari playdo. Seperti cacing, orang, dan robot. Ibu bantu membuat bentuk kura-kura dan kupu-kupu. Kemudian minta dibuatkan ikan, rumput laut, dan lain-lain.

Sambil menonton film Inside Out, masih juga dimainkan itu playdo. Sampai tertidur.
Sorenya, setelah bangun tidur, Hanan asyik bermain dengan kucing. Teman temannya, Amigo dan Dinka ikut bergabung bersama Hanan bermain kucing. Hihi… lucunya mereka.

Setelah maghrib, masih saja ceria. Masih ingin keluar bermain sama kucing. Masih tertawa-tawa. Sampai akhirnya masuk kamar Ayah Ibu, dan naik ke kasur. Sudah mau tidur aja. Sempat tidak mau sikat gigi. Tapi setelah digoda oleh Ayah Ibu, akhirnya mau juga sikat gigi. Ayah kasih hadiah istimewa karena Hanan sudah mau sikat gigi. Diayun ayun pakai sarung. Hahaha….

Sebelum tidur, Hanan minta dibacakan buku cerita. Alhamdulillah… hari yang cukup menyenangkan ya, Hanan…


Mudah-mudahan Hanan tidur membawa perasaan gembira ya, Nak…. 
Ibu sayang Hanan.

26/04/16

Bu, Kenapa Harus Ada Hari Kartini?

Beberapa hari yang lalu, Zhafi tiba-tiba mengajak diskusi tentang ‘kenapa harus ada Hari Kartini’.

“Bu, kenapa sih Hari Kartini harus ada? Kenapa harus dirayakan? Memangnya apa jasanya?”

Ya kujawab dengan jawaban standar. Pasti tahu, ya.

“Tapi kenapa justru Kartini yang dimuliakan? Dia muslimah bukan? Kenapa ngga berhijab?”

“Menurut yang Ibu baca, pada waktu dan tempat Kartini hidup saat itu, belum ada Alqur’an yang diterjemahkan. Para guru agama pun tidak ada yang mengajarkan makna Alqur’an, tapi hanya mengajarkan untuk membacanya aja. Tidak boleh diubah ke bahasa lain. Termasuk bahasa Jawa.

Sampai suatu ketika, Kartini bertemu dengan seorang Kyai yang memberikan ulasan tentang makna Al Qur’an. Kepada Kyai tersebut, Kartini menyampaikan keresahannya. Kenapa muslim diwajibkan membaca kitab yang kita tidak boleh tahu artinya. Apa gunanya. Hal itu menyadarkan Kyai. Lalu Kyai tersebut membuat terjemahan Al Qur’an dan memberikannya kepada Kartini. Namun sayang, Kyai tersebut baru menterjemahkan sampai juz 17, tapi kemudian sudah dipanggil menghadap Ilahi.

Perintah untuk menutup aurat ada di surat An Nuur yang ada di Juz  24. Itu alasannya kenapa Kartini tidak memakai hijab. Karena dia belum mendapatkan terjemahan juz berikutnya. “

Namun Zhafi tidak puas dengan penjelasan itu.

“Lalu kenapa harus dijadikan hari khusus? Kenapa pahlawan pahlawan muslim lainnya tidak dijadikan hari Khusus?”

“…”

“Bu, kok ngga jawab?”

“ Tidak semua tokoh pahlawan harus punya hari khusus.”

“ Lha terus kenapa Kartini punya? Menurutku, kita ngga perlu merayakan hari Kartini”

Pada titik ini, emosi dan egonya sudah terasa meningkat intensitasnya. Kalau sudah seperti ini, aku hanya perlu jadi pendengarnya, menyetujui pendapatnya, sambil tetap terus memasukkan pesan moral sejauh yang aku mampu.

“Mas Zhafi benar. Kita mungkin tidak perlu merayakan Hari Kartini. Banyak pahlawan –pahlawan lainnya yang mungkin lebih berjasa bagi negara dan kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Tugas kita adalah, banyak membaca dan banyak belajar dari tokoh-tokoh pahlawan Indonesia. Mengambil teladan dari perjuangan mereka.”

Dan diskusi pun mereda.


22/11/15

Proyek untuk Hari Guru



Zhafi idenya boleh juga tuh. Waktu aku tanya, mau bikin apa nih kita, untuk hari Guru. 

Jawabnya,’’O iya yaa… apa ya?”

Lanjutnya lagi, “ sebenernya mau rakit lego trus ada tulisannya ‘selamat hari guru’, tapi belum kebayang gimana bikinnya.”

Aku mikir, wah kalau legonya dikasih juga sayang dong, hihihi *pelit

Tapi, idenya bisa tetep dipakai, dengan material lain, batinku. Sebelum aku utarakan ide ini, Zhafi ternyata punya pemikiran sama.

“Sebenernya bisa juga sih, bikin tiruan lego, tapi dari apa dan gimana bikinnya.”

“Hmm, dari playdough mungkin?” sahutku.

“Oiya, bener tuh,” serunya.

Lalu dia kembali asik merakit legonya, dan si Ibu ini pun lagi membayangkan gimana bentuknya nanti.

Well, at least udah ada ide. Ada mbah google, kita bisa mulai dari situ.

Semogaaaa berhasil!

21/11/15

What's New About Hanan



Paling senang banget itu kalau mendapati ada hal baru yang kutemui dari Hanan. Ada keterampilan atau kebisaan baru yang ia tunjukkan.

Sekarang di rumah ada dipan susun untuk tidur anak-anak. Zhafi di dipan atas, Hanan di dipan bawah. Sebenarnya, dengan Zhafi di atas itu, aku dan ayahnya ingin memberi ruang privasi untuk Zhafi melakukan kegiatan ‘tenang’nya, seperti menggambar atau membaca. Tapii… kalau Hanan liat mas nya di atas, dia pengen ikutan. 

Nah, problem Hanan masih seputar kekuatan tangan dan kakinya yang belum optimal. Jadi ini kesempatan untuk Hanan melatih otot tangan dan kakinya. Awal-awalnya memang minta dibantu, lalu dia semangat naik turun dipan yang tangganya itu vertical. Sambil aku jaga dari belakang (tanpa memeganginya), Hanan naik sendiri. Awalnya dibantu kursi, lalu tanpa kursi, dan sekarang dia sudah lebih lincah naik turun sendiri. 

Mari kita lihat nanti, apa latihan naik turun itu berpengaruh sama kemampuan mengayuh sepedanya. Karena sekarang ini dia mengayuh masih serdek. Itu istilah jawanya. Maksudnya, yang dipakai mengayuh ke depan baru kaki kanannya. Belum mau bergantian. Sudah beberapa hari ini, belum kulihat dia naik sepeda. Semoga, ada perubahan baik nanti.

Itu soal motorik kasarnya.

Untuk motorik halusnya, yaitu keterampilan mewarnai, kemarin terlihat juga udah lebih rapi. Masih keluar garis juga sih. Tapi maksudnya, ngga seperti dulu, yang masih asal coret-coret ngga beraturan. Dan belum mau dikasih tahu. Aku ngga masalah sih, awalnya. Karena yang penting ekspresi nya tersalurkan dulu. Tapi, karena ini tujuannya untuk koordinasi motorik halus, jadi aku ajari dia mengontrol gerakannya ketika mewarnai agar lebih terarah. Kemarin malam, aku coba lagi ajak dia mewarnai. Hanan cukup kooperatif mendengarkan arahanku. Dengan kombinasi warna pilihannya sendiri, hasilnya keren. 

Lalu kemampuan ekspresi bahasanya.

Belakangan ini, Hanan seneng banget nyanyi-nyanyi lagu kereta api, cicak-cicak, dan beberapa lagu lain. Ya, jangan dulu berharap dia menyanyi dengan nada yang tepat dan kata yang terucap fasih. Tapi, sudah bisa tahu lah… kalau dia nyanyi itu, lagu yang lagi dinyanyiin apa. Hehe.
Hal baru lagi adalah, dia udah bisa menyebut nama kakaknya. Hihi. Biasanya kalau memanggil kakaknya, hanya dengan sebutan ‘mas’ aja. Sekarang dia sudah bisa menyebut ‘mas Zhafi’. Wuih… keren yaa. Masyaa Allah. 

Cuma, ada hal yang bikin aku sedih. Beberapa bulan belakangan ini, dia bolak balik pilek batuk. Baru aja sembuh bat pil 1 minggu, eh sekarang udah batuk pilek lagi. Padahal jarang jajan, jarang minum es juga. Batuk pilek yang terakhir itu, bahkan sampai 2 bulan lebih. Yang terakhir sampai demam-demam dan ngga mau makan. Kalau sekarang batuk pilekny dia masih aktif, masih ceria, masih nafsu makan banget. Moga-moga ngga lama-lama ya sayang batuk pileknya.


23/10/15

Puasa Sunnah, Anaknya Belajar, Ibunya Juga Belajar



Malam Kamis, setelah Isya’ terjadi percakapan ini:
(Sepulang dari musholla, Zhafi yang memakai kostum pergi, mau berganti pakaian rumah/ tidur.
Ibu         : Zhafi ngga usah ganti baju, kita mau ke rumah sakit, periksain Adek ke Dokter.
Zhafi      : Yah, besok Zhafi mau puasa.
Ibu         : Puasa? Tadi Bunda Sari ngajak puasa sunah (Tasu’a) besok ya?
Zhafi      : Nggak, kata Pak Ustadz tadi, besok puasa.
Ibu         : Oo… 

Syukur #1: Zhafi konsisten sholat di mesjid setiap Maghrib dan Isya’
Syukur #2: Zhafi ikut mendengarkan kajian di mesjid bersama Ayahnya
Syukur #3: Zhafi mengikuti ajakan berpuasa sunnah besok harinya.

Tentang Anak berpuasa

Bulan Zulhijjah yang lalu, kami sekeluarga berniat banget untuk menjalankan puasa Arafah. Alhamdulillah nggak seperti tahun-tahun sebelumnya, rasa-rasanya tahun ini himbauan untuk berpuasa Arafah jauh lebih intens. Sepertinya, karena udah bergabung di banyak grup WA, dan kebanyakan grup itu berkali-kali mengirimkan reminder tentang puasa Arafah. Tahun sebelumnya… mudah sekali terlupa. Selain itu, sekolah Zhafi juga memberi anjuran supaya anak-anak ikut berpuasa. Sehingga sekolah pun berlangsung hanya sampai jam 11 saja (biasanya sampai jam 14.00).

Tanggal 9 Zulhijjah, aku semangat membangunkan Zhafi dan ayahnya untuk sahur. Paginya menyiapkan kebutuhan sekolah dan kantor seperti biasa, minus menyiapkan bekal. Siang jam 11, dia pun pulang sekolah. Kelihatannya lemas. Aku ajak dia ganti baju dan tidur. Zhafi sempat minta minum, tapi aku Tanya, apa yakin mau berbuka sekarang? Yahh, ibunya ini berharap Zhafi bisa puasa sehari penuh. Zhafi ngga menjawab. Dan akhirnya tertidur.

Singkat cerita, setelah melihat kondisi Zhafi, aku beri dia minum air putih dan pisang. Ternyata asam lambungnya naik. Ngga lama setelah makan dan minum, perutnya mual dan akhirnya muntah. Kuberi makan  pisang dan susu kedelai. Muntah lagi. Kuberi air kelapa, muntah lagi. Terakhir aku beri jus timun. Alhamdulillah, keminum setengah gelas – Zhafi  belum  jatuh cinta sama sayur, nii, semoga nanti. Setelah itu tampaknya perutnya enakan, dan mulai bisa makan nasi.

Begitulah… kejadian itu sedikit meninggalkan rasa was was.

Waktu dia minta ikut puasa kemarin, jadinya  aku pun sedikit ngga yakin. Aku ngga bangunkan dia sahur. Tapi rupanyaaa…, pas bangun pagi, Zha marah. Keliatannya kesal dan menyesal karena ngga bangun sahur. Itu berarti dia ngga bisa puasa, pikirnya. Aku bujuk Zhafi, boleh berpuasa, karena sedang belajar, ngga papa sahur sekarang, nanti berbuka sore atau maghrib. Zhafi ngga mau, katanya, itu bukan puasa namanya. Lalu ayahnya ajak dia bicara. Ayahnya menenangkan Zhafi dan memberi saran, kalau Zhafi mau tetap puasa, boleh saja. Cuma pagi ini paling tidak minum air putih saja. Nanti tetap bawa bekal ke sekolah.  Jadi kalau Zhafi merasa ngga kuat, bisa berbuka di sekolah. Ayahnya juga menenangkan aku. Hehe. Zhafi pengen puasa bu. Zhafi kuat in syaa Allah.

Ya, akhirnya aku pasrah. Setelah berpikir ulang, lebih baik aku ikhlasin saja apapun yang terjadi. Ketika si anak punya keinginan kuat untuk puasa, apa pantas orangtua melarang. Pasrahkan saja sama Allah. Sambil tetap berdoa terus mohon Allah jaga  anakku. Jangan karena kejadian puasa Arafah yang sudah lalu, kemudian jadi kapok membiarkan anak belajar berpuasa. Selain itu, ini juga pembelajaran buat Zhafi (dan juga aku), untuk menentukan sikap dan tindakannya sendiri. Kalau yang dilakukannya baik, harusnya didukung. Dan beri kepercayaan kalau dia bisa melakukannya.
Setelah itu, aku bisa melepaskannya pergi sekolah dengan tenang. Toh sudah disiapkan bekal juga buat jaga-jaga. Teteeup.  #emakrempong.

Siangnya, seperti biasa dong, aku jemput Zhafi jam 2 seperempat siang di tempat biasa dia turun dari angkot. Ada sekitar 15 menit nunggunya. Biasanya,  dia turun dari angkot  bersama temen-temen sekolahnya. Nah, ketika akhirnya ada angkot yang lagi nurunin anak-anak SAT (sekolah Alam Tangerang), berharap Zha ada di antaranya. Ternyata ngga ada. Wa, pikirku, apa selisipan di jalan, ya. Maksudnya, apa dia udah jalan pulang duluan, tapi ngga berpapasan di jalan. Langsung jalan balik ke rumah sambil lihat kanan kiri. Ternyata sampai rumah ngga ada. Akhirnya aku jemput ke sekolah. Ternyata ngga ada juga.

Telepon security di komplek, katanya belum lihat Zha pulang. Mulaaaiii deeeh muncul pikiran-pikiran buruk. Tangan mulai berkeringat. Detak jantung mulai terasa lebih kencang.
Laluuu, ketika aku masih dalam perjalanan dari sekolah menuju tempat pemberhentian angkot, ayahnya telpon. Ayahnya mengabari kalau tadi Bunda Sari (guru kelas Zha) kirim pesan lewat WA. Zha pulang jam 3. Baaaaru deh legaaa. Saat itu jam 3.15 siang. Jadi kemungkinan ZHa memang baru aja turun dari angkot. Benar aja, begitu aku sampai di tempat pemberhentian angkot, aku lihat Zha di sana.

Setelah ngobrol-ngobrol di mobil dalam perjalanan ke rumah, baru deh tau…
Ternyata, alasan kenapa dia pulang jam 3 adalah, karena dia tidur di UKS. Kenapa? Karena badannya lemas, ngga kuat puasa, tapi juga ngga mau berbuka. Saat bangun dari UKS, dan merasa ngga kuat jalan ke depan, dia akhirnya berbuka dengan bekalnya (setelah di sarankan oleh bunda Sari). Baru deh, punya tenaga untuk jalan.

Zhafiii… Ibu bangga padamu, Naak… calon imam dan hafidz yang sholeh ;*

Cerita diatas memang ngalor ngidul. Tapi setidaknya, aku menuliskan ini sebagai pengingat diri sendiri.
1. Puasa itu ajang belajar buat anak juga ibunya. Anak belajar menahan hawa nafsu. Ibu belajar untuk tidak menyerah mengajarkan hal-hal baik apapun tantangan dan resikonya. Ibu juga belajar untuk membiarkan anak menentukan sikap. Jika baik dan positif, ya dukung, walau kelihatannya di awal  terasa ada rintangan dan halangan.

2. Betapa bersyukurnyaaa aku ini harusnyaaaa lhoooo..... anak dekat dengan Islam, walau setahap demi setahap.




05/10/15

Membentuk Kebiasaan Baik



Zhafir rajin ke mesjid, menunaikan shalat berjamaah. Di waktu ashar, maghrib, dan Isya.
Ashar masih bolong-bolong shalat di mesjidnya. Kadang karena pulang sekolahnya terlambat, atau sedang ada kegiatan, atau karena sedang menurun saja motivasinya. 

Semua karena ayahnya sudah jadi contoh yang baik. Ayahnya selalu mengusahakan untuk sholat di mesjid di setiap awal waktu sholat. 

Semakin bertambah rajinnya ketika kami menerapkan sistem bintang. Kami akan memberikan 1 bintang untuk setiap kebiasaan dan perbuatan baik yang dia lakukan. Bintang itu harus dia kumpulkan, dan di akhir bulan, bisa ditukarkan dengan apa yang jadi keinginannya. Tentunya setelah melalui hasil filter kami.  Bisa berupa mainan, buku (diluar buku yang kami memang anjurkan dia untuk membaca), bermain di game zone, atau bepergian, atau barang lain yang dia inginkan. 

Buku bintang Zhafir
Aku awalnya hanya cari ide untuk memotivasi dia untuk membentuk kebiasaan baik. Rulesna, 1 kebiasaan baik = 1 bintang. Bintang dikumpulkan lalu ditukar. Lalu ayahnya menambahkan ide, 1 bintang = Rp 1000. Supaya jelas nilai barang yang ditukar dengan bintangnya. Secara periodik akan dievaluasi, mana kebiasaan baik yang disasar mana yang ngga perlu di kasih reward bintang lagi. 

Kebiasaan baik yang ingin aku sasar adalah terutama bangun pagi dan sholat subuh di awal waktu. Huah… untuk yang bangun pagi ini masih belum bisa konsisten. 

Komik favorit Zhafir

Tapi Alhamdulillah, kebiasaan untuk sholat di mesjid di awal waktu sudah terbentuk.
Kebiasaan lain yang sudah jadi hobinya juga adalah membaca. Ada buku komik  tentang Muhammad Al Fatih. Dan dia suka membacanya. Semoga ibroh dari buku itu bisa sampai ke dia. Aamiin. 


Dapat Insight untuk My Life Project

Life Project itu adalah berkebun.  Bukan karena hobi, ini awalnya aku mau serius berkebun Udah lama aku punya mimpi pengen punya kebun sayur...